Malam yang indah di penghujung kota, penuh bunga merekah bertabur gemerlap cahaya terang, lampu kerlap kerlip bertaburan semakin menghiasi pancaran cahaya kota yang semakin asri, para pejalan kaki terlihat memadati saling berpegangan tangan memadu kasih, ataupun sekedar menikmati indahnya alam perkotaan, rasa dingin dari hembusan angin menjadi kesejukan tersendiri.
Di persimpangan jalan perkotaan, sebuah lapangan luas nampak begitu diburu dan banyak di padati sekerumunan orang orang dari berbagai tempat orang orang itu berasal. Rupa rupanya di sana terdapat sebuah pertunjukan yang menampilkan beberapa kegiatan hiburan, dengan di lengkapi area permainan, bazar dan lainnya. Semakin malam rupa rupanya acara semakin ramai hingga banyak diburu, terutama para insan muda terlebih muda mudi yang sedang jatuh hati.
Mira dan Defaz tidak mau ketinggalan, di saat kawannya Zidan dan pacarnya mengajaknya ke acara pertunjukan tersebut. Awalnya Mira menolaknya, namun Defaz berhasil membujuknya dan merayunya hingga Mira pun tak dapat menolak ajakan Defaz. Tidak itu saja rupa rupanya kawan kawan yang lainpun ikut serta kesana.
Sungguh luar biasa memang malam itu, keindahannya nampak begitu memukau, hingga dapat menghilangkan rasa kantuk dan lupa akan waktu seakan akan mereka sedang berada di waktu siang hari.
Mira dan Defaz terus berjalan mengintari orang orang yang terus berlalu lalang, bahkan terkadang harus rela berdesak desakan. Sesekali nampak dari kejauhan beberapa rekan kampusnya yang begitu asyik menikmati acara malam itu, Zidan dan pacarnya entah kemana, mereka menghilang dari kerumunan menjelajah tempat tempat yang dirasanya nyaman untuk keduanya.
Mira tertegun mengamati seseorang yang dirasanya sudah sangat femiliar, namun dirinya ragu karena terlampau banyak orang di situ, merasa kalao apa yang di lihatnya hanya sebatas kemiripan saja, namun mengingat banyaknya kawan kawan yang mengunjungi tempat itu, dirinya pun beramsusi ada kemungkinan saja kalao apa yang dilihatnya itu benar benar seseorang yang di kenalnya. Mira terus menatap tajam orang itu seperti tidak ingin kehilangan jejak, takut orang itu menghilang dari pandangannya. Di amatinya terus keberadaan orang tersebut yang nampak sedang mengobrol dengan beberapa kawannya, disana di lihatnya sosok wanita yang juga dirasa di kenalnya namun tidak begitu jelas, selain itu ada sosok pria lainnya. Mata Mira seolah memburu sosok pria yang selama ini membuat hatinya sedikit gelisah.
" Mir, Mir, Mira," sementara Mira yang dipanggilnya merasa agak terganggu, dirinya berusaha untuk tidak mengalihkan pandangannya, namun lagi lagi panggilan terhadapnya tak mampu dirinya abaikan.
" Iya ada apa," jawab Mira hatinya sedikit kesal, karena Defaz terus memanggilnya sehingga membuat pandangannya beralih kepada dirinya.
" Kenapa kamu bengong," tanya Defaz heran.
" Eughh,, tidak kenapa kenapa, aku hanya merasa melihat orang yang aku kenal saja, tapi aku takut salah lihat, makanya aku ingin benar benar memastikannya, mmm sayangnya~" kata kata Mira terhenti.
" Kenapa??" tanyanya lagi Defaz.
" Sayangnya kamu gangguin aku," celoteh Mira agak sedikit menggoda mencubit pinggang Defaz dan berlalu berjalan meninggalkan Defaz, Mira terkekeh sedikit, namun hatinya merasa penasaran dengan sesosok pria yang dilihatnya tadi.
" Heyyy Mir, tunggu, dasar ya kamu, nanti aku balas cubit kamu biar tahu rasa," gerutu Defaz sambil mengejar Mira, merasa takut akan kehilangan jejaknya, mengingat banyak orang di lapangan tersebut.
Acara semakin meriah saja, sorak sorai orang orang, dan alunan musik, serta suara suara mesin dari beberapa area permainan yang juga ramai diserbu peminat, nampak begitu bising hingga sulit sekali untuk sekedar mendengarkan kata kata dari orang terdekat nampaknya harus sedikit mengeluarkan energi agar dapat terdengar, berteriak.
"Mir tunggu aku, jangan jauh jauh nanti terpisah," Defaz nampak bekerja keras mengejar Mira. Mira yang mengetahui hal itu akhirnya terdiam menunggu Defaz, lagian dirinya sendiri merasa takut jika harus terpisah dari Defaz, dirinya merasa tidak ada keberanian untuk menikmati malam itu seorang diri atao pulang seorang diri, mengingat rekan rekannya juga berbaur mencari kesenangan tersendiri.
" Kamu takut aku menghilang ya sayang," gurau Mira, setelah orang yang di tunggunya berada dihadapannya.
" Kamu ternyata bisa nakal juga ya Mir," candanya Defaz lagi.
" Heheheee," Mira terkekeh sambil membekap mulutnya dengan tangannya karena malu.
" Kemana kita?" tanya Mira.
" Mau kamu kemana, terserah kamu sayang," sahut Defaz.
" Kemana ya bingung, cari Zidan pasti lagi asyik sama pacarnya, nanti merasa terganggu lagi, cari Rima juga sama pasti lagi sama temen temen yang lain, euhh kemana ya," Mira merasa kebingungan.
" Kenapa cih kamu udah bagus kita berdua, jadi bisa romantis romantisan gito hehee," timpal Defaz penuh ceria.
" Ya kamu modus ," balas Mira.
" Gimana kalao kita nyobain beberapa permainan, mau gak," ajaknya.
" Cuman berdua," jawab Mira.
" Ya berdua, kita saja, masa ngajakin teman teman yang gak tao di mana, lagian tidak kita saja, banyak orang lain juga yang ikutan, tuh tuh tuh," Defaz menunjukan telunjuknya ke tempat permainan yang banyak di kerumunin orang orang.
" Ohhh iya ya hee," Mira tersimpu malu.
"Gimana mau gak, kalao mau kita mulai dari sana," Defaz menunjukan telunjuknya dengan tangan kanannya, sementara tangan kirinya meraih tangan Mira dan menariknya berjalan mengikuti langkahnya menuju ke sebuah permainan. Akhirnya keduanya bersenang senang dengan mencoba mengikuti permainan permainan yang ada di sekitaran tempat tersebut.
" Wahhh serrruuu juga ya," ucap Mira setelah selesai mengikuti permainan.
" Gimana apa belum puas," tanya Defaz sambil melingkarkan tangannya ke bahu Mira, membuat Mira merasa dadanya berdenyut kencang, prasaannya terbawa suasana malam itu.
Mira membiarkannya tangan Defaz tetap melingkar di bahunya, sambil keduanya berjalan menikmati setiap keindahan dan keramaian suasana malam, sepertinya keduanya tidak mau melewati momen tersebut.
" Mir , lihat di ujung sana dekat panggung, wahhh kayaknya seru sayang, naik yuk," ajak Defaz sambil berusaha mempercepat jalannya, meski harus kadang berdesak desakan untuk menggapai tempat yang dirinya maksud.
" Pelan pelan jalannya Faz," pinta Mira yang merasa sedikit kesulitan berjalan, saat harus berpapasan dengan orang orang atao malah sesekali bertubrukan dengan orang lain. Tapi rupanya Defaz tak bergeming dirinya terus saja memapah Mira meski dirinya sendiri sebenarnya merasakan hal sama karena terlalu banyak orang yang kesana kemari.
Setelah keduanya sampai, mereka tertegun sejenak menunggu giliran, seakan akan yakin mereka akan mengikutinya. Di atas sana terdengar teriakan dan jeritan yang mereka naiki.
" Faz kamu yakin, akan mengajakku naik kincir ini," tanya Mira meyakinkan.
" Yakin, kenapa gitu, kamu tidak suka?" Defaz balik bertanya.
" Bukan itu, masalahnya ini sudah tengah malam, malaham mau hampir pagi, kita pulang saja yuk," ajaknya Mira sambil memutarkan badannya hendak meninggalkan area itu.
Defaz menahannya dengan meraih tangan Mira.
" Kita naik ini dulu, setelah ini kita pulang, aku janji," pinta Defaz dengan mimik memohon.
Mirapun akhirnya menyetujuinya, setelah keduanya yakin dan mendapat giliran naik kincir. Akhirnya keduanya pun ikut menikmati putaran demi putaran kincir tersebut, Defaz memegang erat tangannya Mira dirinya seakan memiliki keberanian untuk bisa lebih dekat dengan Mira dirinya melepaskan semua prasaan yang bergejolak dalam hatinya dengan sikapnya, suasana malam yang romantis mendorongnya untuk bisa berlaku romantis juga terhadap Mira wanita yang di cintainya itu, namun tak mampu di raihnya, tetapi malam yang di penuhi keceriaan seakan memberinya kesempatan untuk bisa mengungkapkan prasaannya meski tidak dengan kata katanya. Mira yang merasakan suasana hati menjadi hangat mengalahkan dingin nya malam, seakan hanyut terbawa prasaan juga, dirinya merasa tak karuan ada rasa deg degan juga rasa cemas, namun dirinya juga tidak dapat menolak setiap laku Defaz pada dirinya yang dirasanya sangat romantis, dirinyapun menikmati setiap momen bersama Defaz.
Defaz semakin erat memagang tangan Mira, bahkan kini dirinya mengalihkan pegangan tangannya ke atas pundak Mira, Mira benar benar merasa panas dingin dan menatap Defaz, Defaz membalas tatapan Mira, hingga keduanya hanyut dalam aliran rasa yang sama dan melupakan keadaan sekitar, keramaian, teriakan dan jeritan serta alunan musik dan lainnya tidak lagi Defaz dan Mira hiraukan, Defaz semakin lekat menatap paras Mira hingga yang di tatap menunduk malu, namun Defat dengan cepatnya meraih dagu Mira dan mengecup bibir Mira hingga keduanya berakhir dengan sebuah ciuman. Defaz dan Mira untuk pertama kalinya berciuman di atas kincir dalam keadaan suasana yang penub keceriaan.