Setelah ditinggalkan oleh pacarku, aku menjadi bosnya. Bukan bos dalam perusahaan atau kantor, melainkan organisasi mafia yang bernama Mata Hitam.
Awalnya aku tidak menduga, kalau anggota baru di organisasi mafiaku adalah Gilang. Dia merupakan kekasih yang pernah mencampakkanku. Gilang meninggalkanku demi gadis yang katanya adalah cinta pertamanya.
Aku sangat membenci Gilang! Karena dia tega meninggalkanku di saat terpuruk. Kejadian itu terjadi tiga tahun lalu. Ketika kedua orang tuaku mengalami insiden kecelakaan. Bukan hanya itu, aku juga harus membayar banyak hutang sepeninggalan ibu. Parahnya Gilang menghilang dengan cara membawa tabunganku satu-satunya.
"Oh... jadi dia anggota baru kita?" aku menatap Gilang dengan penuh kebencian.
Sementara Gilang sibuk bersimpuh. Wajah tampannya tampak babak belur. Dia habis bertanding melawan salah satu bawahan terbaikku. Kebetulan Gilang menang. Makanya dia bisa menemuiku secara pribadi.
"Re-regina... a-apa itu benar kau? Bagaimana..." Gilang yang sedari tadi terdiam, akhirnya bersuara. Pupil matanya bergetar tak percaya. Nada bicaranya pun tergagap-gagap. Entah karena takut atau merasa kesakitan.
"Tidak usah banyak basa-basi. Pecundang sepertimu cocok aku jadikan sebagai penjaga koleksi mobil-mobilku di basemen!" tanggapku santai. Dalam keadaan melipat tangan di depan dada.
"Maksud Bos, dia akan menjadi tukang parkir?" salah satu pengawal setiaku bernama Pram bertanya. Dia bertubuh gempal, namun kekuatannya terbilang hebat.
"Ya," jawabku singkat. Pram dan dua bawahanku yang lain tergelak lepas bersamaan.
"Hahaha, untuk apa bersusah payah bertarung. Kalau akhirnya akan menjadi tukang parkir," komentar Pram. Dia meneruskan tawanya. Sampai perutnya yang buncit bergerak naik turun.
"Regina, maafkan aku... jika apa yang kau lakukan sekarang, berkaitan dengan masa lalu kita." Gilang perlahan berdiri. Menyebabkan Pram sontak meraih pistol dari pinggangnya.
"Pram!" aku memerintahkan Pram untuk menurunkan pistol. Lalu berjalan mendekati Gilang.
"Keputusanku tidak ada sedikit pun berkaitan dengan masa lalu. Jika kau ingin menjadi bagian anggota mafia Mata Hitam, lebih baik terima saja tugas pertamamu!" tegasku sembari menampakkan mimik wajah serius.
"Baiklah... aku tidak masalah dengan itu. Tetapi aku benar-benar meminta maaf dengan tulus..." tutur Gilang.
Aku tak peduli, dan menyuruh Pram untuk membawa Gilang keluar dari ruangan. Dia benar-benar mendapat tugas sebagai penjaga parkir.
***
Hari demi hari berlalu. Gilang selalu berada di basemen menjaga koleksi mobil-mobil mewahku. Aku pasti akan bertemu dengannya jika hendak pergi keluar markas.
Di suatu waktu, ketika aku hendak masuk ke mobil. Aku melihat setangkai bunga mawar putih tergeletak di atas kap mobil. Terdapat secarik kertas bertuliskan, 'Maaf, Regina. Aku dulu memang pecundang. Sekarang pun tetap menjadi pecundang.'
Sudut bibirku tertarik ke atas. Sepertinya Gilang tidak lupa kalau bunga favoritku adalah mawar putih. Aku menatap tajam Gilang yang berdiri dengan binaran penuh harap.
"Ya, kau memang pecundang sejati. Karena itu, menjauhlah dariku!" hardikku sembari melemparkan mawar serta secarik kertas ke lantai. Lalu segera beranjak menggunakan mobil.
Keesokan harinya, lagi-lagi aku mendapatkan setangkai bunga mawar putih. Kulihat Gilang terus memperhatikanku dari kejauhan. Tiba-tiba terlintas sebuah ide dalam benakku.
Aku lantas menyuruh Gilang untuk mendekat. Dengan senyuman girang, Gilang berlari menghampiri. Dia tampaknya senang mendapatkan perhatianku.
"Ada apa? Apa kau butuh sesuatu?" tanya Gilang.
"Tidak ada. Aku hanya ingin mengatakan, bahwa aku akan memaafkanmu jika kau bisa merubah mawar putih ini menjadi merah. Andai kau mampu melakukannya, maka aku juga akan memberimu tugas yang lebih baik dibanding menjadi penjaga mobil-mobilku," jelasku dengan gaya arogan. Harus aku akui, aku memang lebih kaya dan hebat dibanding seorang Gilang yang pernah mencampakkanku.
Gilang terdiam sejenak. Kemudian merekahkan senyuman. Dia menjawab, "Baiklah... Aku juga akan pastikan kau akan selalu mengingatku."
Aku hanya merespon dengan mengangkat dua bahuku bersamaan. Lalu pergi meninggalkan Gilang begitu saja.
***
Tiga hari terlewati. Selama itu juga sosok Gilang tak terlihat. Tidak ada lagi mawar putih yang terletak di atas kap mobil.
Tanpa terasa, aku berdiri mematung menatap kap mobil. Saat itulah suara derap kaki terdengar kian mendekat. Aku sontak menoleh ke arah sumber suara.
Mataku langsung membulat sempurna. Aku sangat kaget menyaksikan Gilang berlumuran darah. Di belakangnya terlihat gerombolan anak buahku yang mengikuti.
"Ada apa ini? Apa kalian yang melukai Gilang?" tanyaku kepada semua bawahanku.
"Benar! Tetapi itu atas kemauan Gilang sendiri. Dia bilang, membutuhkan banyak darah yang keluar dari tubuhnya." Pram memberikan penjelasan.
Setelah mendengar keterangan Pram, aku bergegas menghampiri Gilang. Ada perasaan cemas dan marah bercampur aduk dalam diriku.
"Apa yang kau lakukan, bodoh?!" geramku dengan dahi yang berkerut. Apalagi kala menyaksikan Gilang memegang setangkai mawar ditangannya.
"Aku akan perlihatkan, kalau aku bisa merubah mawar putih menjadi merah..." lirih Gilang sembari menahan sakit. Namun dia tetap tersenyum.
Kini Gilang sudah berdiri di hadapanku. Dia memperlihatkan mawar putih yang telah berubah menjadi kemerahan. Ada bau amis yang menguar jelas. Sebab Gilang mewarnai mawar putih dengan darahnya sendiri.
Aku sedikit kaget ketika melihat jari telunjuk dan jari tengah Gilang buntung. Darah terus menetes dari sana. Gilang belum sama sekali mengobatinya.
"Sial! Apa kau sengaja membuatku merasa bersalah?!" pungkasku.
"Aku hanya ingin menunjukkan betapa pencundangnya aku. Diriku memang pantas mendapatkan rasa sakit. Bahkan lebih dari ini," ungkap Gilang.
"Cukup! Sudahlah. Kau memang selalu mempesona." Aku segera memeluk Gilang. Kami saling mendekap dalam sesaat.
Seluruh bawahanku yang ada otomatis bubar. Mereka tentu tidak mau melihat kegiatan pribadiku dengan Gilang.
Aku bisa melihat jelas satu tangan Gilang perlahan meraih pistol dari saku celana. Sebelum dia melakukan serangan lebih dahulu, aku dengan cepat mengambil pisau lipat dari kantong jaket.
Tautan bibirku langsung terlepas dari mulut Gilang. Pisau segera kuhujamkan ke dada lelaki itu. Kemudian menendang pistol yang dipegangnya. Mata Gilang sontak terbelalak. Dia kesakitan.
"Kau mata-mata dari kubu mafia Iluminati bukan?" ujarku yang sudah berhasil membuat Gilang tumbang ke lantai. Aku melangkah mengambil pistol milik Gilang yang terjatuh.
"Maaf, Gilang. Aku tidak sebodoh dulu. Dan ingat satu hal, aku adalah Ratu Mafia, sedangkan kau hanya si pecundang!" kataku seraya berseringai puas. Setelahnya, kutekan pelatuk pistol.
Dor!!
Satu peluru sukses menghamburkan darah beserta otak dari kepala Gilang. Aku tersenyum, lalu melenggang santai masuk ke mobil. Aku bahkan melindas tubuh Gilang yang tak berdaya dengan mobil yang kukendarai.
~TAMAT~