"Setelah ditinggalkan oleh pacarku, aku menjadi bosnya."
Seorang Pria yang memiliki Background keluarga yang terbilang cukup ternama. Setiap tahun Model Rumahnya pasti selalu berubah. Setiap minggu mobilnya selalu bergonta-ganti semaunya. Pria itu bernama Erik.
Ia bertemu dan mengejar cintaku disaat aku berada dikelas semester 4. Pada waktu itu, Ia satu kelas dan satu jurusan denganku, yaitu Manajemen Pemasaran.
Aku adalah salah satu gadis cantik dan mandiri dikampus tersebut. Demi membiayai perkuliahan, aku sering mengisi diberbagai macam event-event. Secara diam-diam Erik selalu memperhatikanku dan juga sering mengikutiku dikala aku sedang bekerja di Event tersebut.
"Say." Seru sahabatku yang bernama Dina sambil berlari membawa makanan HokBen ditangannya.
"Iya." Aku menjawabnya.
"Ini ada bingkisan buat Lo?" Ucap Dina.
"Dari siapa?"
"Dari seseorang yang mengagumi Lo?"
"Siapa Din?" Ucapku penasaran.
"Masa Lo gak menyadarinya sih Say?" Dina berbalik tanya.
"Ah Lo, Tinggal jawab dari siapa Din?" Ucapku.
"Dari Erik." Ucap Dina.
"Erik si anak Mami itu?"
"Iya." Ucap Dina.
"Dia kayaknya suka sama Lo Say? Dia juga nanyain jam berapa kita pulang?" Ucap Dina.
"Masa Iya sih gw harus jadian sama si Anak Mami itu?" Gumamku.
"Kalo gw jadi Lo Say? Gw udah terima tuh cintanya dia? Enakkan bisa jalan-jalan setiap hari sama dia?"
"Treeeeeet.. Hingga disuatu ketika, Erik telah merebut hatiku dengan berbagai macam caranya..."
Aku telah menjalin percintaan dengan Erik. Sampai Wisuda pun aku masih menjalin hubungan bersamanya.
"Sayank, kapan kamu melamarku? Mamah dan kakak sudah nanyain terus?" Ucapku.
"Aku belum tahu yank." Ucap Erik.
*** Erik berdiskusi dengan Orang Tuanya dirumahnya***
"Maaf sayang mungkin ini akan berat untuk aku dan juga kamu? Tapi aku harus jujur. Mami tidak menyetujui hubungan kita."
"Praaat." Telapak tanganku menapak dipipinya. Aku menamparnya dengan rasa penyesalanku.
Aku merasa menyesal telah memberikan kepadanya sebuah permata yang aku miliki satu-satunya.
Seketika Erik menarik keras pedal mobilnya sangat cepat dan mengebut sangat kencang dijalan raya.
"Gila kamu! Gila! Erik berhentiiiii!!!"
Aku teriak memberhentikan dan juga langsung mengendalikan mobil yang sedang disetirnya.
Tangan erik keram dan sangat kaku. Tidak bisa digerakkan sama sekali. Erik terlihat sangat tertekan dengan permintaanku dan juga orang tuanya. Erik berada di Posisi yang sangat kebingungan.
Hingga akhirnya aku memutuskan untuk berpisah dengannya. Erik menikah dengan seorang gadis yang sederajat dengan status sosial keluarganya. Sementara aku, memutuskan untuk melanjutkan studiku diluar Negri.
Singkat cerita, Aku telah kembali ke Indonesia bersama dengan Dunia baruku. Aku ke Indonesia bersama dengan karirku sebagai HRD disalah satu perusahaan yang lumayan ternama.
Disuatu hari ada seorang pemuda tampan, hitam manis, tinggi, kekar dan lumayan gempal. Yang tidak lain dia adalah Erik.
"Selamat siang Bu?"
"Selamat siang. Silahkan duduk Pak." Ucapku dengan nada suara yang sangat elegan.
Seketika Erik terdiam tanpa kata dan menatap wajahku. Terlihat seperti malu.
"Kenapa Pak?" Ucapku denga nada suara santaiku.
"Oh tidak ada apa-apa Bu." Ucap Erik terlihat gugup.
Erik pun bersikap profesional dengan memanggilku nama Ibu. Begitupun sebaliknya, aku bersikap profesional, dan tetap memperlihatkan keramahanku.
"Silahkan ceritakan keahlian dan pengalaman apa yang kamu miliki? Sehingga kamu merasa percaya diri untuk diterima diperusahaan ini?" Ucapku.
"Erik menceritakan pengalaman dan juga keahlian semasa bekerja di perusahaan Bapaknya sewaktu dulu."
"Baiklah, saya menerima anda. Selamat bergabung dengan perusahaan kami." Ucapku sambil berjabat tangan dengannya.
"Terima kasih Say. Eh Bu?" Erik terlihat bahagia dan terlihat sangat senang.
"Sama-sama Pak."
Dibalik keramahanku, aku memiliki misi dibalik hal tersebut. Aku masih sangat yakin kalau didalam hati Erik sebenarnya masih menyimpan rasa yang begitu besar kepadaku. Terlebih ketika Ia menatapku dengan tatapan yang terlihat merasa kaget. Atau mungkin dia merasa kagum dengan penampilanku yang semakin cantik dan juga modis serta juga dengan karirku saat ini.
Setiap hari Erik selalu menyapaku dan juga mengirimkan bingkisan makanan untukku, sama seperti pertama kalinya Ia mengejar cintaku. Aku pun dengan senang hati menerima bingkisannya.
Setiap kali Ia memberikan bingkisan untukku, setiap kali pula Ia mengintip wajah ceriaku menerima bingkisannya. Tapi aku ingat, Erik pergi meninggalkanku disaat aku sedang sayang-sayangnya kepadanya. Meskipun perpisahan yang terjadi karena orang tuanya, akan tetapi rasa sakit dihatiku sangat membekas.
Hingga akhirnya aku sengaja membuat sebuah kemesraan bersama dengan seorang pria kekar bermata coklat terang keturunan Arab. Yang tidak lain dia adalah calon suamiku.
Setiap hari aku membuatnya memanas dan merasa cemburu. Mungkin Erik pun merasakan sakit yang sangat dalam, sama sepertiku dulu. Hingga disuatu hari Aku pun mengundangnya untuk datang ke acara persepsi pernikahanku.
Sebulan aku sebelum menikah, Ia sering tidak masuk kekantor. Namun aku bersikap biasa saja. Mungkin dia berfikir aku akan mengeluarkannya. Aku bukanlah wanita sekejam itu. Hingga pada saatnya, sebelum aku menjalani persepsi pernikahan, Ia menemuiku.
"Saya ingin mengundurkan diri hari ini."
"Kenapa kamu?" Aku berucap sama seperti aku yang sedang sayang-sayangnya pada dia sewaktu dulu.
Erik terdiam dan segera meminta aku untuk menandatangani surat pengunduran dirinya tersebut. Aku pun mengikuti permintaannya. Setelah itu Ia keluar dari ruanganku bersama dengan rasa penyesalannya.
"Maaf Erik bukannya aku tidak mencintaimu. Aku tahu kehidupan kamu sudah tidak seperti dulu, yang segera telpon Mami dan saat itu juga kamu mendapatkan sesuatu. Aku pun tahu kamu menduda dan perusahaan Ayahmu bangkrut karena telah dirugikan oleh keluarga mantan Istrimu."
"Tapi maaf, hatiku sudah tertutup rapat untuk kamu."