Sore itu aku dan beberapa teman ku sedang berlibur di suatu pulau. Pulau yang begitu indah namun tempat itu terpencil. Dan tanpa kita ketahui bahwa ternyata pulau itu adalah pulau terlarang.
“Gila, view nya indah banget!” seru ku sambil merentangkan tangan menikmati suasana di tepian sungai yang begitu indah.
Sungai dengan beberapa air terjun kecil, serta beberapa bunga bunga warna warni menghiasi sekeliling pinggiran sungai itu.
“Grace, kita berapa hari disini?” tanya Dira, salah satu sahabat ku. Oh iya, aku datang ke pulau ini atas rekomendeasi dari beberapa teman ku yang juga sudah pernah datang kemari. Mereka mengatakan bahwa pulau ini sangat indah, pemandangan nya sangat emmanjakan mata, namun menurut info dari teman nya juga, pulau ini sedikit angker. Tapi, aku tidak perduli, menurut ku yang tidak mempercayai hal mistis seperti itu jadi tidak terpengaruh.
Aku pecinta alam, dan aku sangat menyukai pegunungan, apalagi ada air terjun seperti ini. Huh, rasanya aku tidak ingin pulang.
“Bagaimana kalau tiga hari?” tawar ku sambil bermain air.
“Lo yakin tiga hari?” tanya Mawar. Ah aku lupa, kami disini berlima. Tiga perempuan dan dua laki laki. Aku, Dira, Mawar, Raka dan Dewa. Awalnya mereka takut saat memasuki pulau ini, tapi mereka malu karena aku begitu berani.
Lagian aku heran, apa sih yang di takutin. Hanya seperti ini, aku yakin pasti ini si doni sengaja mengatakan pulau ini angker karena dia ingin menikmati view ini sendirian. Memang teman lucknat dia.
Selesai menikmati perjalanan, akhirnya kami tiba di suatu tempat yang tanah nya sedikit lapang. Di kelilingi oleh beberapa pepohonan rindang yang lumayan besar. Ada sisa sisa bekas api unggun, aku berfikir pasti ini bekas Doni dan teman teman nya beberapa waktu lalu. Kami pun segera mendirikan tenda karena hari sebentar lagi gelap. Kami menikmati setiap momen dan waktu di pulau itu. Sungguh, pemandangan sangat indah dan selama hampir tiga hari, kami tidak menemukan adanya keanehan, dan ini membuat ku yakin bahwa Doni hanya ingin menakut nakuti kami.
“Nah kan, mana gak ada apa apa disini. Emang si Doni kampret itu anak, mau nakut nakutin kita. Lihat aja nanti pas kita udah balik ke Jakarta, gue hajar tuh anak!” sungut ku sedikit kesal.
“Udah lah Grace, ayo kita beres beres. Gila aja ini malem jumat loh,” saran dari Dara sedikit menahan takut.
“Astaga Ra, mau malam apa juga sama aja. Lo jangan percaya begituan kenapa sih.” Kata ku agak kesal.
“Kalian kenapa malah ribut sih.” Lerai Dewa menggelengkan kepala nya.
“Dah lah, kalian beberes aja dulu, gue mau pipis bentar.” Kata ku dengan membawa jaket yang aku ikatkan di pinggang.
“Lah malah mau pipis kemana woy!” teriak Mawar saat langkah ku sedikit jauh.
“Ke sungai lah, emang kemana lagi. Ya kali gue mau pipis disini biar jadi tontonan si Dewa sama Raka gitu!” cetus ku lalu aku melenggang begitu saja menuju sungai.
Setelah selesai dengan pembuangan kemih, aku pun segera bergegas untuk kembali ke tenda. Cukup lama karena memang jarak sungai dan tenda lumayan jauh. Sekitar sepuluh menit perjalanan. Namun, saat hendak kembali aku merasa sedikit aneh, jarak nya terasa begitu agak jauh dari waktu aku berangkat.
Aku juga merasa ada beberapa pasang mata yang melirik ke arahku, namun aku mencoba berfikir positif, aku masih berusaha bersikap cuek dan tak perduli. Mungkin, itu hanya penduduk sekitar. Entah juga, apakah di pulau itu ada penduduk atau tidak, namun dua hari yang lalu aku memang merasa seperti mendengar suara beberapa obrolan beberapa orang dan saat di tengah malam aku seperti mendengar suara musik yang ku kira itu adalah suara pesta adat, mungkin.
Aku terlalu sibuk memikirkan siapa dan dimana suara suara orang itu, juga sesekali aku melirik ke arah jam tangan ku yang ternyata aku sudah berjalan lebih dari tiga puluh menit, namun aku juga tak urung sampai ke tenda. Padahal aku ingat dengan jelas, bahwa ini memang jalan yang ku lewati tadi. Hingga, beberapa saat kemudian aku tak sengaja bertabrakan dengan seorang gadis yang sepertinya usia nya tak berapa jauh dariku.
Bruk
“Maaf aku tidak sengaja,” ucapku sopan, namun gadis itu sama sekali tak merespon ku, dia malah menatapku dengan sinis.
“Hey, aku sudah meminta maaf.” Ucap ku lagi, namun gadis itu masih tidak merespon ku, tatapan nya semakin sinis, seolah gadis itu snagat membenci ku. Tapi why? Kenapa? Aku bahkan tidak emngenal nya.
Beberapa kali aku mencoba mengajak nya berbicara namun dia tetap sinis padaku, akhirnya aku memutuskan untuk segera prgi melanjutkan perjalanan ku kembali ke tenda.
Astaga, mengapa aku belum juga melihat tenda ku, aku sudah lelah. Fix ini aku tersesat. Tapi aneh nya, jalan ini masih sama dan aku masih ingat dengan jelas bahwa aku melewati jalan ini tadi. Tapi kenapa aku tidak juga sampai sampai. Karena merasa lelah, aku pun akhirnya memutuskan untuk berhenti istirahat.
Pluk!
Sebuah tangan tiba tiba hinggap di pundakku hingga membuat ku langsung terkejut. “
“Hay,” sapa nya.
“Oh hay, sorry tadi kaget.” Jawab ku, lalu aku mempersilahkan dia duduk disamping ku.
“Kenapa disini?” tanya nya, sambil mendudukkan dirinya di dekat ku. Aku melihat nya dengan intens. Siapa laki laki ini, kenapa seolah dia mengenal ku, apakah dia juga pendaki atau dia penduduk pulau ini. batin ku, namun aku berusaha terus ramah karena aku seorang pendatang.
“Tadi aku habis dari sungai, mau balik ke tenda tapi capek.” Keluh ku sambil sesekali menyeka keringat di dahi ku, “Ah iya kenapa kamu ada disini, maksud ku kamu darimana? Perasaan dari kemarin aku disini sepi deh.” Tanya ku heran.
“Sepi?” tanya nya dengan mengerutkan dahi, “Jelas disini rame, disini perkampungan, bahkan di ujung sana ada pasar,” katanya sambil menunjuk suatu tempat.
“Hah, benarkah disini ada pasar?” tanya ku sedikit terkejut, dan akhirnya terjawab sudah suara suara yang ku dengar malam itu. Memang ini pulau di tinggali, ini bukan pulau kosong. Batin ku bersorak senang.
“Iya, apa kamu mau kesana?” tanya nya. Aku sempat terdiam sebentar, aku berfikir bagaimana nanti kalau teman teman ku mencari, tapi setelah aku pikir mateng – mateng lagi, seperti nya tak apa. Aku ingin ke pasar untuk mencari oleh oleh, boleh juga pikir ku.
“Boleh, aku mau,” Aku pun akhirnya memutuskan untuk mengikuti laki laki tadi. Ternyata orang nya sangat asik dan humble. Aku merasa sedikit beruntung krena menemukan teman disini. Aku tidak merasa takut lagi, batin ku.
“Ah iya, nama ku Alex,” katanya mengulurkan tangan untuk berkenalan.
“Ah iya, aku sampai lupa” jawab ku terkekeh, “Nama ku Grace,” imbuh ku sambil menerima uluran tangan nya.
Sepanjang jalan, kami bercerita dan sesekali bercanda. Meski beberapa orang ada yang meihat sinis kepada kami, tapi Alex terus meyakin kan aku untuk tidak perlu perduli. Abaikan saja dan terus berjalan, itulah kata Alex .
Brukk!
“Auww!” pekik ku karena kaki ku kesleo.
“Kamu gapapa?” tanya nya langsung khawatir, akhirnyadia pun tanpa banyak berkata langsung mengangkat tubuh ku dan menggendong ku ala brydal style.
“Alex, jangan begini aku malu.” Cicitku pelan, karena aku semakin merasa di lihat banyak orang.
“Tak apa, kaki kamu sakit.” Jawab nya tersenyum, entah mengapa, aku selalu tersepona saat melihat senyuman nya. Sejak dari pertama bertemu tadi, aku rasa aku sudah jatuh cinta pada laki laki ini. Tapi, aku juga tidak mau asal mengatakan cinta karena kami baru saja bertemu.
“Alex, itu siapa?” tanya ku sambil menunjuk salah satu gadis yang terus saja mengikuti kami, yah aku merasakan itu. Aku tahu bahwa dia memang mengikuti ku dan Alex. Tapi tatapan gadis itu sama dengan tatapan gadis yang ku temui sebelumnya.
“Hiaraukan saja, apakah kamu terganggu?” tanya Alex dengan lembut.
“Sedikit,” cicitku pelan.
“Baiklah, kita buat dia tidak mengikuti kita lagi.” Katanya sedikit ambigu, menurutku.
“Bagaimana caranya?”
Tanpa menjawab lagi, Alex tiba tiba langsung mencium bibir ku hingga membuat aku sangat terkejut. Dia tidak hanya mencium, namun dia juga melumat nya, dan lidahnya langsung masuk berselancar di dalam mulut ku.
Hingga setelah beberapa saat aku terlena dan mengikuti alur ciuman nya. Untuk sesaat kami hanyut, namun beberapa detik kemudian, aku tersadar dan sengera melepaskan pagutan kamu.
“Iks, kamu ini.” ucap ku cemberut sambil mengusap bibir ku yang terdapat beberapa tetes saliva kami berdua.
“Maaf, habis kamu begitu manis. Dan aku langsung menyukainya,” jawab nya terkekeh membuatku langsung tersipu. Tak bisa ku pungkiri, wajah Alex begitu tampan, wajah nya putih bersih walau sedikit pucat, memiliki lesung pipit dan kumis tipis. Rahang nya kokoh, dan tubuh nya begitu kekar dan gagah. Oh Tuhan, mengapa ada ciptaan mu yang begitu sempurna seperti ini, batin ku.
“Oh iya, kamu sudah melihat air terjun yang terkenal disini?” tanya Alex saat kami tengah duduk berdua menikmati teh manis hangat di sebuah warung.
“Aku tadi sudah melihat air terjun kecil tiga di bawah sana. Saat aku mau buang air kecil, apakah ada air terjun lain?’
“Ada, ayo, aku akan membawa mu ke sana. Di sana pemandangan nya lebih indah.” Tanpa menunggu jawaban ku, Alex kembali berjongkok di depan ku dan menggendong ku di belakang. Kami berjalan cukup jauh, hingga tiba lah di sebuah air terjun yang begitu tinggi menjulang dengan kederasan air yang lumayan.
“Wow, sangat menakjubkan,” gumam ku pelan menatap ujung air terjun di atas sana, namun hampir tak terlihat karena begitu tinggi dan terhalang oleh kabut. Bunga disini jauh lebih banyak dari di bawah tadi, sungguh ini benar benar surga nya mata.
“Bolehkan kita ke sana?” tanya ku menunjuk sebuah bebatuan besar di bawah tebing, yang dimana sekeliling itu berada sebuah bunga yang teramat banyak.
Mungkin karena lembab, maka dari itu disini banyak bunga tumbuh, namun aku juga tidak tahu pasti karena bunga bunga disini sangat asing atau aku yang emmang tidak hafal dengan jenis bunga.
“Baiklah, ayo. Coba merem deh, aku bisa sulap.” Kata Alex membuat ku terkekeh, namun aku pun menuruti nya, aku memejamkan mata, dan aku merasakan tubuh ku sedikit bergoyang. Pasti dia lari, batin ku terkekeh geli.
“Bisaan banget ya kamu lari di air begitu,” ujar ku lagi saat kami sudha sampai di seberang dan ya memang baju nya basah mungkin karena berlari sambil emnggendong ku.
“Aku sudah biasa,” jawab nya lalu kami tertawa bersama.
Kami melewati waktu sepanjang hari, namun aku merasa kenapa waktu terasa sangat lama di sana. Setiap kali aku melihat jam, hanya baru terlewat beberapa menit sjaa. Hingga akhirnya mendung dan hujan dengan begitu deras.
“Kita neduh di sana dulu,” teriak Alex dan membawa ku ke dalam sebuha rumah yang tak jauh dari air terjun tadi.
“Huum,” jawab ku yang memnag sudha basah kuyub, aku kedinginan. Bibir ku membiru begitu pun dengan Alex yang wajah nya semakin terlihat pucat.
Jangan sampai sakit, batin ku karena anak orang bisa bisa aku yang di tuduh mencelakai nya, pikir ku sedikit takut.
“Aku akan menyalakan api unggun,” kata Alex lalu ia pergi mencari beberapa kayu dan menemukan sebuah korek. Ia segera menyalakan api dan membuat tubuh kami sedikit menghangat. Alex juga memberikan ku selembar kain yang lumayan tebal.
“Pakai ini, bila perlu, buka baju kamu biar aku jemur di sana. Jadi besok pagi sudah kering, dan bisa di pakai agi,” kata Alex sambil membuka bajunya sendiri.
Glek!
Aku menelan saliva saat melihat perut Alex yang kini terekspos tepat di depan mataku. Astaga, laki laki ini benar benar sempurna, perut six pack dnegan dada yang begitu bidang. Dan lihat lah lengan nya yang begitu kekar, pantas saja dia begitu kuat menggendong ku sepanjang hari. Batin ku.
“Jangan menatap ku seperti itu, atau kau akan jatuh cinta padaku,” ucap Alex menggoda ku dan membuat ku langsung berdecak namun aku juga mengulum senyum. Tak bisa ku pungkiri, sepertinya aku memang sudah jatuh cinta padanya.
‘Oh Tuhan, inikah yang di namakan cinta pada pandangan pertama,” batin ku berteriak.
Seolah mendengar jeritan hatiku, tiba tiba saja Alex menghampiri ku dan mendudukkan dirinya di samping ku.
‘Aku juga sudah jatuh cinta padamu,’ bisik Alex tepat di telinga ku seketika membuat ku langsung mendongakkan kepala karena merasa geli.
‘Grace, apakah kamu juga memiliki rasa yang sama dengan ku?’ bisik nya lagi, dan entah mengapa aku semakin terlena hanya dengan mendengar bisikan bisikan serak yang keluar dari bibir manis nya.
‘Hem, a- aku mencintai mu Alex,’ jawab ku sedikit mendesah saat ku rasakan tangan Alex kini mulai menjelajahi tubuh ku. Dan entah sejak kapan dan siapa yang memulainya, kini tubuh kami sudah polos, dan tanpa sadar kami melakukan itu. Untuk pertama kalinya, aku menyerahkan kehormatan ku pada laki laki yang baru saja aku kenal, belum genap satu hari.
“Terimakasih,” bisiknya pelan, aku tak mampu menjawab nya lagi karena malu, namun entah mengapa aku sama sekali tidak merasakan penyesalan sedikitpun karena sudah menyerahkan mahkota ku padanya. Aku peluk erat tubuh nya yang begitu gagah, dan jangan lupakan dada bidang nya yang selalu membuatku begitu hangat.
Hingga saat pagi hari aku terbangun aku sudah tidak menemukan Alex di dekatku. Aku berusaha mencarinya namun tidak menemukan nya. Kemana dia sepagi ini? pikir ku, aku pun segera memakai pakaian ku kembali, lalu beranjak dan mencari nya, mungkin saja di di luarkan.
“Alex,” panggil ku beberapa kali, namun aku tidak mendapatkan jawaban sama sekali dari nya, “Iks, kemana sih dia. Apa dia mencarikan ku makanan? Uuh so sweet hihihi,” gumam ku terkekeh sendiri. Saat aku baru mendudukkan diri ku di sebuah kursi, tiba tiba aku mendengar suara teman teman ku dan beberapa orang sedang berteriak memanggil nama ku, aku pun ikut berteriak untuk memberi tanda bahwa aku ada di dalam rumah itu.
“Grace!”
“Grace!”
Aku pun segera keluar dari rumah, dan aku melihat ternyata di luar sudah sangat ramai, wow ada apa ini? pikir ku. Mereka menghampiri ku dan aku melihat Mama dan papa ku menangis sambil memeluk ku dengan erat.
Why? Kenapa? Aku bingung sambil melihat beberapa orang melihat ke arah ku dengan tatapan khawatir. Jujur aku di buat bingung sendiri, kenapa mereka sampai begini? Lagi pula, ini baru semalam aku menginap ketiduran di rumah itu, mengapa mereka seheboh ini. Dan kenapa sampai mama dan papa mencariku, padahal perjalanan dari rumah ku ke pulau ini bisa lebih dari 12 jam.
“Kok Mama sama Papa bisa disini?” tanya ku membuka suara.
Plakk!
Seketika aku merasakan tangan Mama ku memukul bahu ku, “Dih Mama kenapa malah mukul sih, orang di tanya juga!” kataku cemberut kesal.
“Pertanyaan kamu ini pertanyaan bodoh tahu gak. Gimana mama sama Papa gak kesini, kamu hilang sudah hampir satu minggu, kamu tahu teman teman kamu pada panik dan khawatir sama kamu!” Seru Mama ku seketika langsung membuat aku melongo.
'What the fucckk! Seminggu? Wow, mereka yang ngelindur apa gimana?Masa sih sudah seminggu, padahal jelas jelas aku baru semalam menginap di sini. Gila gila gila dan gila, kayaknya mereka gak punya jam apa kalender kali yah. Astaga, aku memijit pelipis ku pelan.
“Sudahlah, ayo cepet pulang!” Papa menuntun ku dan mengajak pulang.
“Oh iya, Alex mana Mah?” tanya ku saat kami hendak meninggalkan rumah tersebut. Sehingga membuat orang tuaku dan beberapa orang lain nya langsung menatap ke arah ku.
“Siapa Alex?” tanya papa nampak mengerutkan dahi.
“Alex , dia anak desa sini. Kemarin dia yang udah bantuin aku jalan sampai sini Pah, dia baik orang nya. Grace mau berterimakasih padanya,” ucap ku membuat beberapa orang di sana terdiam.
“Lebih baik kita bahas nanti saja saat sudah di bawah. Mari silahkan,” ucap salah seorang warna lalu mengajak kami untuk segera pergi dari sana.
“Tapi gimana nanti kalau Alex datang dan mencari aku Mah, Pah. Dia kayaknya lagi cari makan sebentar, kita tunggu sebentar lagi ah,” pinta ku kepada orang tua ku, namun mereka malah diam dan terus memaksa ku untuk terus berjalan meninggalkan kawasan hutan itu.
‘Alex, semoga suatu saat kita bisa ketemu lagi,’ gumam ku dalam hati sambil sesekali menoleh ke belakang melihat ke arah rumah yang semalam sempat aku tinggali.
'Kita pasti akan bertemu lagi.' gumam seorang laki laki yang sejak tadi menatap kepergian Grace dan beberapa orang dari dalam rumah. Sejak tadi ia di sana, melihat kebingungan Grace dengan terkekeh, dan saat hendak menemui Grace, ia melihat beberapa orang datang membuatnya mengurungkan niat untuk menampakkan diri. Ia memilih berdiam diri dan mengintip Grace dan beberapa orang di sana dari balik jendela.
'Manusia manusia itu terus mengusik hidupku!'
Setelah Grace dan orang orang itu pergi, ia merasa sangat marah dan memilih menghilang menjadi kepulan asap putih.
TAMAT!
Maaf kalau gaje, ini adalah cerpen pertama saya 🙏🥰🥰🥰