Rianti menghela nafasnya melihat isi apartemennya Daniel Sturridge. Tunangannya, lelaki itu melamarnya dua pekan lalu dengan memberikan cincin emas model sederhana, sesuai karakter dia saat Daniel Sturridge menyematkan cincin itu di jarinya kala itu. Rianti hanya tersenyum saat melihat cincin itu. Tentu saja bahagia namun entah mengapa ada rasa ragu menyergap namun ia tetaplah menerima cintanya Daniel Sturridge. Tangannya bergerak mengumpulkan pakaian-pakaian tersebut serta ia menata bantal-bantal Sofanya juga yang bertebaran dimana-mana, tangannya menggantung di udara saat di tumpukan boxer ada benda yang sama dikenakannya namun jelas bukan miliknya. Keningnya berkerut melihatnya. Pikirannya berkecamuk dia ingat bisik-bisik rekan setimnya waktu itu di toilet kantor. Dia duduk di closed karena waktu itu dia sedang sakit perut. Dia bukannya bermaksud untuk menguping pembicaraan mereka, namun yang di bahas semuanya tentang Daniel Sturridge kekasihnya.
"Pak Daniel Sturridge keren. Kemaren saya di ajak makan siang bersama, wow dia memilih resto yang lagi hitz di dekat mall, kalian tahu kan ? Dia rekomen menu yang Ok. Hatiku meleleh di buatnya, katanya dia belum punya kekasih, weekend ini dia ngajak ngedate. Senengnya." Riuhnya gerombolan wanita berteriak heboh.
"Yakin deh. Mana mungkin dia berkencan dengan karyawan biasa seperti kita?"
"Dia bahkan bilang kalau tidak menuntut kriteria."
"Maksudmu?"
"Iya , katanya asal pinter di dapur juga pinter di ranjang.." cuiwit riuhnya gerombolan itu hingga mereka meninggalkan tempat itu. Dan Rianti baru keluar dari bilik itu yang sebelumnya mencuci tangan di wastafel dan kemudian dia kembali ke meja kerjanya.
Kemudiannya dia menaruh semua pakaian kotornya di tempat mesin cuci lalu memprogram. Setelah itu dia melihat pantry dan menelisik perabotan makan dan kotoran bekas bungkusan makanan, ia juga melihat ada gelasnya bernoda lipstik. Dia pun langsung mencuci piring dan lain-lain tanpa komentar dan terus bekerja membersihkan seluruh ruangan pantry. Setelah selesai gadis itu menuju ke kamarnya dan banyak bekas tisu dia bermaksud mengambil keranjang sampah di sudut ruangan namun matanya terbelalak melihat bekas alat itu dengan dua kotak kemasannya. Ada beberapa alat itu dan ada isinya. Sungguh menjijikkan ! Ternyata kamu type cowok seperti itu ! Batinnya menahan amarahnya. Dia pun mengambil peralatan menyapu dan penjepit makanan untuk mengambil bekas-bekas percintaan itu. Karena di sana tidak ada sarung tangan. "Ini hadiah terakhir aku. Puaskan nafsu mu hingga akhirnya suatu hari akan menjadi bumerang bagi kamu, Gumamnya. Setelah itu ia pun berlalu dan bertekad untuk tidak melakukan hal itu lagi.
Sorenya menjelang malam Rianti asyik dengan kertas-kertas dan pensilnya menggambar design sebentar lagi kompetisi untuk tender proyek Epc Taman kota akan tiba. Tim nya di bagi tiga untuk menunjukkan karya, karena hanya karya terbaik yang akan digunakan untuk perwakilan perusahaan tempat dia bekerja. Suara notifikasi phonsel nya menunjukkan pesan singkat dari Daniel Sturridge.
"Terimakasih sayang kau terbaik. I love you!"
Rianti melempar phonsel nya di mejanya dan meneruskan gambarnya tanpa ingin membalasnya.
Di apartemen Daniel masih bertelanjang sehabis pergulatan panasnya dengan pasangan barunya. Lelaki ini sering berganti pasangan karena memang dia tidak suka berkencan jangka panjang, sebab akan melibatkan perasaan dan lelaki itu tidak mencintai siapapun yang menjadi pasangan bermain ranjang. Dia hanya mencari gadis sederhana untuk melanjutkan keturunan dan hobinya akan pasti tetap berjalan. Dan pilihan itu pada Rianti, gadis sederhana bahkan gadis itu lebih banyak mengenakan pakaian kasual dan sepatu kets. Bahkan gadis itu minim sosialisasi. Maka amanlah posisinya.
"Sayang sedang apa?"
"Hanya mengecek pekerjaan. Mhm... sekali lagi yuk.." Daniel Sturridge pun langsung memulai kegiatannya intimnya. Wanita itu menjerit kesenangan.
Rianti terbangun dari tidurnya, rupanya dia tertidur saat menggambar semalaman. Ia pun berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Kemudian dia bersiaplah untuk ke kantor, ia juga mengemas makanan untuk sarapan dan makan siang. Yang simpel dan tahan lama. Gadis itu jarang sekali ikut berkumpul dengan teman sekantor biarpun hanya untuk makan siang atau minum teh di pantry kantor.
Makan siangnya dia habiskan di roof top kantor yang tidak sengaja dia temukan dan disana ada bangku panjang. Dia selalu ada di sana untuk makan siang, ia tidak mengetahui ruangan apakah di sampingnya itu, karena kaca tebal dan gelap. Ia asyik dengan dunianya sendiri. Karena dia selalu terluka dengan orang-orang di sekitarnya. Ibunya yang meninggal karena kdrt ayah tirinya. Kemudian sahabatnya yang pernah memfitnahnya mencuri, dan masih banyak lagi, entah kebetulan atau nasibnya yang buruk. Gadis itu selalu waspada dan berhati-hati, sekarang kekasihnya. Dia sekolah mendapatkan beasiswa, ayah tirinya juga memberikan uang padanya. Karena lelaki itu juga hidup sendirian. Namun untuk satu atap dengan beliau Rianti tidak memiliki keberanian karena nasib ibunya mati di tangannya. Lelaki itu selalu menemuinya di sekolah, dan terkadang di gunakan seseorang untuk membuat fitnah yang tidak benar.
Akhirnya pengumuman hasil seleksi diumumkan. Tim nya yang di pilih oleh perusahaan untuk perwakilan. Gambar design itu menarik sang CEO, sehingga lelaki itu ikut datang dalam rapat tersebut dan beliau juga yang mengumumkan dan memberikan jabatan tangan mengucapkan kata "Selamat Anda Terpilih ! Tetap semangat dan berkarya."
Jujur inilah pertama kali Rianti gugub dan tergagab berjabat tangan dengan sang pimpinan. Dan juga beberapa pejabat di perusahaan tersebut juga turut mendampingi sang CEO juga menyalaminya. Apalagi rekan setimnya menjadi heboh saat mereka masuk di ruang kerja mereka.
"Wah ..Kita bakalan menjadi perwakilan untuk tender proyek Epc Taman kota ? Ini seperti mimpi."
"Kita kan bukan tim solid, secara kita anak kemarin sore gitu?"
"Katanya Pak Andi siapapun siapapun kita tetap karyawan perusahaan ini. Yang membedakan antara kita adakan pengalaman. Kita tetap melibatkan senior, bukan begitu?" Rianti memberikan penjelasan agar tidak takabur. Dan selalu fokus.
Pak Andi selaku pimpinan Divisi tim design mengangguk mengerti. Ternyata rekomen dia ke CEO tidak salah. Insting nya mengatakan Design Rianti unik dan fresh, dan perlu banyak bimbingan dan kesempatan. Nyatanya sang CEO puas melihat hasil kerjanya. Untuk pertama kalinya dia tidak menyebutkan secara langsung nama-nama yang mengusulkan gambar desain tersebut. Dan sang CEO terkejut karena pilihannya adalah milik pegawai training bukan karyawan tetap, apalagi seniornya. Sungguh kebetulan yang tidak dia sangka. Dan mengenai keputusan tersebut Daniel Sturridge sudah mendengarnya. Karena lelaki itu menjabat Kepala Divisi HRD, dan kebetulan sang pimpinan meminta data tentang Rianti, makanya dia mengetahui tentang itu.
Dua bulan berlalu Daniel Sturridge berusaha menelponnya juga mengirimi pesan singkat, namun tidak direspon oleh Rianti. Bahkan gadis itu memblaklist nomor Daniel. Namun nasibnya tidak dapat menghindarinya mereka berpapasan di koridor kantor.
"Sayang kita harus berbicara." Katanya.
"Maaf. Aku sibuk, kebetulan kita bertemu. Aku hanya ingin memberikan ini." Rianti mengembalikan cincin itu ke tangannya. Daniel Sturridge bingung menatap gadisnya.
"Aku sudah mengetahui semuanya, bukti di tempat sampah dan di jemuran cucian mu ! Ingatlah dan lihatlah sendiri ! Mulai sekarang perkerjakan lah tukang bersih-bersih dan jangan temui aku lagi. Kita putus !" kemudian Rianti berlalu.
Keputusannya sudah bulat hanya berkarir dan mengumpulkan uang untuk membeli rumah kecil untuk ayah tirinya itu dan baginya. Walaupun lelaki itu temperamen namun ia tidak pernah lalai kewajibannya sebagai orangtuanya. "Terimakasih ayah. Terimakasih Tuhan atas semuanya, batinnya.