Setelah ditinggalkan oleh pacarku ,aku jadi bosnya ?. Lelucon macam apa yang kini terjadi di hidupku. Baru seminggu yang lalu aku di putuskan oleh kekasihku dengan alasan klasik." Sudah tidak ada kecocokan". Dan kini aku berdiri di hadapannya sebagai atasan baru di tempat kerjanya ?. wow luar biasa . Entah aku harus bangga dengan capaian ku yang selangkah di atasnya. Atau harus bersedih karena harus berada satu tempat dengan orang yang telah menorehkan luka.
" Selamat pagi semua,perkenalkan saya Vanya Adellia . Di sini saya menggantikan posisi ibu Fika yang kini di pindah tugaskan. Semoga saya bisa bekerja sama dengan baik di sini. Mohon kerjasamanya dari rekan-rekan sekalian " ucapku yang ku akhiri dengan sebuah senyuman.
Aku berusaha profesional dengan mengabaikan lelaki yang berdiri tertegun menatapku. Ada gurat kekagetan di wajahnya. Mungkin tak menyangka aku akan berada di sini sebagai atasannya. Sama halnya diriku yang kaget karena ternyata aku di pindah tugaskan di sini.
Tiga hari yang lalu aku diminta menemui bosku dan ia mengatakan akan memindahkan ku di kantor cabang yang lain. Selama setahun aku menjalin hubungan dengan Mario,aku tak tahu jika ia bekerja dalam naungan perusahaan yang sama denganku. karena posisiku di kantor sebelumnya hanya staf yang tidak pernah mengikuti rapat para atasan. Membuatku kurang paham cabang-cabang yang lain . Mendapat promosi untuk jabatan yang sekarang ini memang sudah dari sebulan lalu. Tapi aku belum tahu akan di tempatkan dimana. Ternyata aku disini. Sebuah kejutan yang luar biasa .
Setelah memperkenalkan diri dengan beberapa staf yang bekerja denganku. Aku diantar masuk ruangan ku oleh wanita yang memperkenalkan dirinya bernama Gita.
" Ini ruangan Bu Vanya,kalau ada yang perlu ibu tanyakan bisa tanya saya".
" Oke,tolong siapkan berkas-berkas projek yang sedang ditangani tim ini. Saya mau mempelajarinya sebelum kita mengadakan rapat". ucapku seraya berjalan kearah kursi yang menjadi tempat duduknya .
" Baik Bu,kalau gitu saya permisi". sahutnya dan pamit undur diri dari ruangan ku.
Aku duduk di kursi meja kerjaku. Ada sesak yang aku rasakan menghimpit dadaku. Yah,aku belum melupakan rasa cintaku untuk Mario. Terlalu cepat jika aku mengatakan aku sudah move on. Setahun tak mungkin hilang dalam seminggu.
Suara ketukan pintu membangunkan lamunanku.
" Masuk !" titahku. Tak berselang lama muncul wajah itu. Wajah yang sesungguhnya belum ingin kulihat saat ini. Karena rasanya luka ini semakin perih saat harus bertemu tatap dengannya.
" Ada apa ?" tanyaku dingin saat Mario berdiri di hadapanku.
" Gak ada apa-apa,aku cuma gak paham kok kamu disini ?" tanya Mario dengan tatapan bingungnya. Ia duduk di kursi di seberang ku meski tak ku persilahkan. Aku tersenyum sinis sebelum menjawab.
" Kenapa ?, kaget ?, ".
" Jangan bilang kamu keluar dari perusahaan kamu yang dulu dan masuk ke sini gara-gara aku putusin kemarin ".
" Wow percaya diri sekali anda pak Mario,kamu pikir aku cinta mati gitu sama kamu. Terus jadi followers kamu gitu ?, hei...sadar. seberapa hebat anda ?. Aku di sini karena kantor tempat kerja kamu ini salah satu cabang dari kantor tempat kerjaku" . jelasku dengan menatapnya. Mario tampak menggeleng pelan seakan tak percaya .
" Kalau urusan anda sudah selesai silahkan keluar,saya di sini mau bekerja. Bukan untuk nostalgia,silahkan anda kembali ke ruangan anda".
" Kok gitu sih Van ?"
" Kok gitu yang gimana ?" balasku dengan dahi mengernyit.
" Kayak aku orang asing aja" protesnya,aku menatap tajam padanya.
" Memang buat aku kamu udah asing,di sini kamu bawahan aku dan aku atasan kamu. Ngerti ". ucapku yang pasti terdengar sombong. Tapi terkadang kita tak perlu memikirkan perasaan orang lain untuk sekedar menutupi rasa kita sendiri .
Mario tak lagi berucap,ia menatapku seolah tak percaya mendapat ucapan kasar dariku. Keluar dari ruangan , meninggalkan ku yang menatap punggungnya sebelum menutup pintu. Dan rasanya ingin ku menangis lagi. Tapi aku tak boleh selemah itu. Aku harus tunjukan meski tanpa dia aku bisa. Aku baik-baik saja.
Dan sampai jam istirahat aku bergelut dengan bermacam-macam berkas yang harus aku pelajari. Membuatku melupakan sejenak tentang rasa sakit yang masih ada di hati ini.
⭐⭐⭐
Kantin kantor sudah cukup ramai saat aku menginjakan kaki di sana. Aku mengamati sebentar keadaan di kantin. Sepertinya harus membawa makanan sendiri. Karena tak tampak ada pelayan yang melayani.
Aku ikut mengantri sejenak karena ternyata masih ada beberapa karyawan yang belum mendapat pesanan mereka. Setelah mendapat menu makan siang ku,aku menatap sekeliling kantin. Penuh. Aku menghela nafas ,bingung harus duduk dimana.
" Mbak maaf" tiba-tiba suara seseorang mengagetkanku. Lelaki yang mungkin seumuran ku kini berdiri di hadapanku dengan sebuah senyum di bibirnya.
" Ya,kenapa mas ?" tanyaku bingung.
" Mmm di sana ada tempat mbak". ucapnya seraya menunjuk salah satu meja yang hanya terisi seorang lelaki yang ternyata sedang menata kearah ku.
Aku kembali menatap lelaki di hadapanku dengan senyum hambar.
" Kelihatan bingung ya akunya ?"
" Maklum mbak, baru kan di sini ?" ucapnya seraya memberi isyarat dengan tangannya untuk mengikuti.
" Kok tau aku baru ?" tanyaku yang mengekor di belakang lelaki yang belum ku tahu namanya.
" Soalnya baru sekali aku lihat kamu".
" Wow berarti kamu hafal setiap muka karyawan di sini yang segini banyaknya ya. Soalnya bisa tau kalau aku wajah baru". kataku yang disambut tawa renyahnya.
" Silahkan mbak duduk di sini" perintah lelaki itu mempersilahkan aku duduk di hadapan lelaki lain yang tampak rapi dengan stelan jasnya. Dan rambutnya pun tertata begitu rapi. Tampilannya terlihat begitu mahal. Aku tersenyum sambil mengangguk kecil sebelum duduk di hadapannya. Ia menyambut seraya ikut mengangguk .
" Silahkan" ucapnya ramah.
" Kalau begitu saya pamit".
" Lho " kaget ku karena lelaki yang tadi menghampiriku justru pergi. Tak menunggu protes ku lelaki itu telah berjalan menjauh.
" Santai saja makan,gak usah tegang gitu. Kenalkan saya Rafa ". ucapnya masih dengan senyum ramah sambil mengulurkan tangan Aku menyambutnya dan berusaha senyum seramah mungkin.
" Vanya" sahutku .
Diam,selama kami menikmati makan siang kami. Aku juga bingung harus memulai pembicaraan dari mana karena lelaki bernama Rafa itu terlihat sibuk dengan hpnya. Akhirnya ku putuskan Dian saja,menikmati makan siangku.
" Sayang,maaf kerjaanku banyak banget jadi telat makan siangnya ". suara di seberang ku berjarak satu meja. Tapi cukup jelas terdengar. Dan aku hanya bisa mengernyit saat aku melihat pada siapa wanita cantik nan seksi itu memanggil sayang.
Tanpa sadar seringai senyum sinis muncul di bibirku. Sayang ?, secepat itu ?.
" Hey,kenapa ?" suara Rafa mengagetkan ku.
" Gak apa-apa" jawabku cepat .
" Siapa ?" tanyanya lagi, sepertinya ia mendapati diriku yang sedang menatap kearah Mario.
" Maksudnya ?" aku balik bertanya berpura-pura tak mengerti .
" Gak usah pura-pura,mantan ?" selidiknya,aku hanya bisa tersenyum getir.
" Udah lama putus ?" sambungnya,aku menggeleng seraya mengaduk es jeruk di hadapanku.
" seminggu"jawabku singkat.
" What ?, baru seminggu dan udah ada yang panggil sayang?" ucapnya terdengar begitu takjub.
" Aku aja kali yang be go,gak sadar udah di begoin ama dia."
" Oke kamu ikutin permainanku". ucap Rafa yang tiba-tiba berdiri dan mengulurkan tangannya padaku. Aku mengernyit ,tak paham. Tapi senyum Rafa mengisyaratkan untukku menyambut uluran tangannya.
Ragu-ragu aku menyambut uluran tangannya.
" Aku anterin kamu keruangan dulu. Inget nanti sore tungguin aku. kita pulang bareng." apa ini. Tiba-tiba saja ia membuat kalimat yang tak ku pahami. Suaranya pun cukup menyita orang-orang di sana. Hampir semua orang di sana melihat kearah kami. Sudut mataku pun menangkap Mario yang juga melihat kearah ku.
Aku hanya bisa tersenyum,dan mengikuti langkah Rafa yang masih menggenggam tanganku. Melewati banyak karyawan yang menatap dengan tatapan yang tak ku mengerti. Bahkan aku tak tahu siapa lelaki yang kini menggandengku. Mencoba menjadi penyelamat harga diriku yang kemungkinan besar telah di selingkuhi oleh Mario. Yang ku tahu dia hanya Rafa itu saja. Lelaki tampan berwajah tanpa cela.
⭐⭐⭐
Brakk !!!
Suara pintu ruangan ku terbuka tanpa di ketuk dulu. Mario tampak berjalan masuk dengan wajah marahnya. Aneh, kenapa dengan ekspresi wajah itu ?, apa salah yang ku buat. Dulu saat aku masih bersamanya raut wajah itu muncul ketika aku dekat dengan lelaki lain.
" Maksud kamu apa ?" ucap Mario sedikit berteriak sambil berdiri di dekat meja kerjaku.
" Apanya yang apa ?" tanyaku balik dengan nada sesantai mungkin.
" Ya kamu,kenapa deketin Rafa,mau bikin aku cemburu. Mau nunjukin kalau kamu bisa dapet yang lebih dari aku ?, iya ?" .
Aku hanya bisa tersenyum sinis. Untuk apa dia cemburu bahkan bisa di pastikan dia telah menduakan aku sebelum memutuskan ku seminggu lalu .
" Pertama,kamu gak punya hak buat cemburu. Kedua,hak aku mau deket sama siapa. Karena kita udah gak ada hubungan apa-apa. Dan ketiga,jelas aku bakal dapetin yang lebih dari kamu. Lebih segalanya. Oh ya,selamet udah punya pengganti ku semoga cocok." ucapku pelan berusaha tak terpancing emosinya .
Mario terlihat hendak menyahut lagi,namun di saat itu Gita masuk ruangan ku.
" Maaf Bu Vanya di panggil ke ruangan pak Direktur".
" Oh ya ,makasih Git". jawabku ramah. Gita masih berdiri di ruangan ku seakan menungguku keluar ruangan.
" Oh ya pak Mario,jika keperluan anda sudah selesai silahkan kembali bekerja". ucapku formal yang tak mendapat jawaban darinya. Karena ia langsung pergi dengan wajah masih di tekuk.
" Maaf Bu Vanya,dari pada saya penasaran mending tanya ke ibu langsung aja. Pak Mario itu siapanya ibu ". kepo Gita. Saat kami melangkah menuju ruangan direktur.
" Mantan" sahutku singkat sambil tersenyum.
" Hah ?" kaget Gita. " Dari Ibu Vanya yang cantik dan berkelas begini kok sekarang jatuhnya ke Wika yang....." ucap Gita menggantung.
" Kamu kenal pacar barunya Mario."
" Kenal,ibu sudah lama putus sama Mario ?"
" Belum baru seminggu"
" Hah, berarti ?"
" Berarti aku di selingkuhin ya ?" tanyaku santai . " Udah berapa lama mereka deket ?" sambung ku.
" Setahuku sih udah ada tiga bulanan kali ya. Maaf ya Bu,jadi bahas ginian".
" gak apa-apa,santai aja. i'm ok" ucapku meyakinkan Gita yang tampak tak enak hati.
Selanjutnya kami menaiki lift menuju lantai atas dimana ruang direktur berada.
Masih dalam diam aku dan Gita keluar dari lift menyusuri lorong. Sampai di sebuah pintu besar Gita berhenti.
" Saya nganter sampai di sini Bu,ini ruang direktur nya " ucap Gita.
" Makasih ya Git" ujarku pada wanita yang sepertinya lebih muda dariku. Setelah kepergian Gita aku mengetuk pintu yang tertutup itu.
Sahutan seorang lelaki dari dalam menyuruhku masuk. Perlahan kubuka pintu itu .
" Selamat siang pak" sapa ku pada lelaki yang sedang menunduk di depan laptop.
" Siang,masuk Van !"
Hah,serius lelaki yang sedang tersenyum itu ?, lelaki tampan itu ?. Direktur ternyata .
" Anda ?"
" Kamu ,kamu aja gak usah formal-formal amat. Duduk Van !" Rafa yah,ternyata pak Direktur nya adalah Rafa lelaki yang tadi menggandengku dan tak mau melepaskan sampai ruangan ku.
Aku mengikuti titah Rafa untuk duduk di sofa . Iapun duduk di depan ku terhalang sebuah meja. Aku masih sedikit kaget dengan kenyataan ini.
" Selamat bergabung di perusahaan ini,semoga kamu betah. Maaf tadi tidak menyambut, soalnya aku ada rapat di luar tadi pagi" ucap Rafa panjang .
" Iya , " sahutku pendek karena jujur saja aku shock . Bagaimana mungkin aku yang baru saja masuk sudah di gandeng pak direktur. pantes tadi di kantin semua orang yang aku lewati menatapku sepeti itu. Skandal ini sih.
" Hey jadi bengong gitu ?" tegur Rafa dengan senyum yang sedari tadi tak lepas dari bibirnya.
" Jujur saya shock lho pak". ucapku yang di balas tawa renyah dari Rafa.
" Santai sajalah,santai". sahut Rafa kemudian terdengar ketukan pintu dari luar. Setelah Rafa menyuruh masuk terlihat lelaki yang tadi membawaku duduk di hadapan Rafa saat di kantin berjalan menuju arah kami yang duduk di sofa.
" Nah ini asisten aku namanya Kemal ,kalau kamu ada yang gak ngerti bisa tanya ke dia,atau sama aku langsung gak apa-apa". aku mangut-mangut.
Setelahnya ku bertiga berbincang soal pekerjaan dan beberapa aturan yang mungkin sedikit berbeda dari kantorku yang dulu.
Sejak saat itu aku semakin dekat dengan Rafa. Beberapa kali dia keruangan ku sekedar untuk mengajakku makan di luar. Dan soal Mario,beberapa kali ia masih menunjukan kecemburuannya. Tapi apa peduliku. Dia yang melepaskan untuk menggenggam tangan wanita lain.
Beberapa bulan berlalu,satu yang sedikit mengganggu perasaan,saat rasa nyaman,tenang dan rasa terlindungi hadir mengusik hatiku. Menumbuhkan sebuah rasa sayang dan ingin memiliki seorang yang terasa jauh dari jangkauan. Rafa dia yang selalu ada dan barbagi cerita serta senyum lembutnya. Diam-diam masuk ke dalam hatiku.
Namun kejutan tak terduga ketika tiba-tiba lelaki itu bukan menyatakan cinta untuk menjadikanku pacarnya. Justru dua tiba-tiba datang padaku dengan sebuah cincin dan mengajakku menikah. Bahkan belum genap setahun aku di pilihnya untuk menjadi pelabuhan terakhir. Aku tak bisa menolak ketika hati ini pun memilihnya.
Dan untuk Mario tanpamu aku bisa bahagia,tanpamu aku baik-baik saja . Tanpamu aku beruntung karena kini tanganku di genggam oleh orang yang tepat, yang memberiku cinta tanpa syarat.
End