Tema: Ruangan yang berantakan
-oOo-
Langit nampak terdiam. Wajahnya memias dan syarat emosi yang menguar dari ekspresinya. Rahangnya nampak mengeras dan kaku, dia hanya menopang dagu sambil mengatupkan kedua tangannya dengan erat, nampak terkepal. Dei hanya tertunduk lesu.
Buku semerah darah itu kini ada di depan meja ruang tengah rumah Dei. Dei telah menimangnya, memutuskan untuk menunjukkan buku itu pada Langit. Berharap, ia tidak salah memilih untuk menunjukkan rahasia ketakutannya selama ini. Tapi, sekarang keraguannya kembali muncul karena ekspresi Langit yang ternyata lebih ‘murka’ dari perkiraannya. Langit bahkan sampai mengamuk dan membuat ruangan di sekeliling mereka berantakan.
“Langit... ,” lirih Dei.
“Diam! Jangan mengatakan apapun,” ucap Langit. Tegas. Dei ingin membuka mulutnya sekali lagi saat telapak tangan Langit terarah padanya, “Ini sudah keterlaluan. Apa ini sebuah lelucon?” tanya Langit dengan wajah keras, menatap Dei dengan tatapan murka.
Dei menarik napas panjang lalu menunduk pasrah. Lemah.
“Aku... aku tidak tahu harus berbuat ap-.”
“Diam! Jangan melakukan hal konyol. Ini konyol. Keterlaluan. Oke. Kamu takut? Oke,” Langit meraih buku itu lalu dengan tegas melangkah menuju dapur.
Dei yang tercekat, seperti robot, ia mengekori langkah Langit. Langit terlihat membanting buku itu ke atas kompor dan dengan cekatan, Langit menyalakan kompor itu dan membiarkan api melahap buku merah darah itu. Lagi.
“Langit!” pekik Dei.
“Apa? Jangan melakukan atau membicarakan hal konyol!” umpat Langit sambil menuding Dei dengan keras dan tajam, “Diam!” erang Langit yang kemudian melangkah meninggalkan dapur, melewati Dei begitu saja setelah menyenggol bahu Dei dengan keras.
Dei menahan diri. Ia mengepalkan tangannya di samping jahitan celananya. Air matanya perlahan menetes. Dan saat ia mendengar deru raungan motor Langit menjauh, Dei bergegas mematikan kompor dan menyelamatkan sebagian buku merah darah yang tersisa tadi. Hampir semua terbakar hangus, namun beberapa lembar berhasil selamat dengan sampul terbakar. Tapi, Dei tahu kalau buku ini tidak akan mudah semudah itu. Dia sudah pernah membakarnya. Dan, dia yakin hasilnya akan sama untuk saat ini. Tapi, dia tidak sempat menjelaskan apapun pada Langit.
Dei terduduk di lantai dengan buku merah darah tadi terjatuh bersama dengannya. Dei menekan dadanya kuat-kuat dan menangis. Ia menangis bukan karena buku itu, dia menangis karena sikap Langit. Untuk pertama kalinya, Langit mengumpatnya. Untuk pertama kalinya, Langit tampak mengerikan. Dan menyakitinya.
‘Ini bukan pertama kalinya khan, Dei? Jujurlah dengan ingatan dan hatimu sendiri.’
Bisikan itu terdengar jelas. Mendayu dan semakin membuat hati Dei sakit. Sebuah hembusan angin kecil, menghentikan tangis Dei. Buku merah darah itu kembali terbuka, tertiup angin dan membuka sebuah lembaran di sana.
Mati.
Ingatannya akan kata ‘mati’ yang muncul dari buku itu membuat Dei tercekat. Dia ingat, terakhir ada kata itu, keadaan semakin kacau dan seseorang akan mati. Dei menatap kepergian Langit dan merasakan tenggorokannya tercekat. Tidak mungkin jika yang dimaksud ‘mati’ kali ini adalah Langit. Dei merasakan air matanya menetes pelan lalu semakin membuncah bersama isak tak terbendung.
“Tidak! Jangan Lagi? kumohon, jangan Lagi! Jangan dia?!” teriak Dei yang kembali tenggelam dalam isak tangis dan rasa marah,”Aaaaaarrgghhhhh!!!”
“Jangan menyentuhnya... aku mohon... Aku mencintainya... ,” isak Dei sekali lagi. memohon entah pada apa. Yang ia tahu, ia berharap agar kata ‘mati’ itu tidak ada.
-oOo-
Semalam, Dei menghabiskan tiga gelas kopi. Demi, menghindari mimpi buruk yang selalu menjadi kenyataan itu. Dia takut, bermimpi tentang kematian Langit. Dei nampak kacau. Rambutnya kusut dan tubuhnya serasa melayang karena rasa kantuk yang semakin tak tertahankan. Dengan gontai dan terkadang nyaris ambruk, Dei bangkit dari sofa ruang tengahnya.
Tidak ada sms atau panggilan dari Langit. Semua pikiran Dei terhenti hingga saat ia melihat Langit menghantamnya dengan palu kemarahan. Sakit.
“Awwww,” erang Dei sambil memijat pelipisnya, sebelah tangannya mencengkeram tepian pintu kamar mandinya.
Kesadarannya mulai menguap, ia serasa kelimpungan dengan tubuh bergoyang seperti pepohonan yang ditiup angin. Dei menghela napas panjang. Sesuatu berkelebat dalam pikirannya.
Sherin, teriakan dan tatapan Sherin. Darah Sherin yang lengket di tangan.
Deka, desisan serta erang kesakitan Deka.
Semua serasa nyata. Mendadak serasa begitu nyata. Dei menatap tangannya yang basah oleh darah kental. Dei tercekat namun saat kesadarannya kembali, darah itu lenyap. Dei terisak kecil dan menyeret dirinya menghadap cermin kamar mandinya. Wajahnya kuyu, berantakan dan konyol. Seperti kata Langit.
Dei termenung. Ia menatap dirinya sendiri dengan isak kecil yang sebisa mungkin ia tahan. Dei hampir melangkah pergi saat ia melihat pantulan dirinya tersenyum.
Dei melotot. Pantulan itu... tersenyum licik!
Gadis itu memekik kecil dan melangkah mundur hingga punggungnya membentur dinding. Pantulan wajahnya yang kuyu nampak menyeringai licik. Sudut bibirnya terangkat sebelah, menunjukkan wajah antagonisnya. Dei melotot tak percaya. Ia memejamkan mata, berharap semua hanya mimpi. Namun, saat ia kembali membuka mata, bayangan itu masih ada. Dirinya di cermin, masih sama. Mengerikan.
Tubuh Dei sempoyongan. Kesadarannya diambang batas. Dan ia terlunglai di atas lantai kamar mandi. Ia semakin terisak.
Jangan lakukan itu. Kumohon, Langit... .
Dua wajah muncul di hadapan Dei yang mulai kehilangan kesadaran. Dua wajah, dua sosok yang bersimbah darah, menatapnya dengan tajam. Sherin dan Deka. Saat itulah Dei menyadari, dirinya berada dalam kubangan darah yang kental. Pingsan.
-Fin-
Cerpen kali ini, aku ambil dari sedikit bagian novel Dear Diary. Selamat membaca. Mampir juga ke novelku ^^
Regards Me
Far Choinice ^^