Setelah ditinggalkan oleh pacarku, aku menjadi bosnya. Mungkin Faza tidak tau kalau perusahaan yang ia lamar tempo hari adalah milik keluargaku. Kebetulan aku yang mengelola penuh akan perusahaan tersebut.
"Gan....panggilkan calon karyawan yang bernama Faza Zainudin ya!" perintahku pada Ganda, salah satu orang kepercayaanku di sana.
"Baik Bu Lidya."
Tidak berselang lama, Faza masuk ruangan direktur yang tak lain adalah ruanganku. Kulihat wajahnya berubah seketika, begitu aku mambalikan badan ke arahnya.
"Lidya?" gumamnya.
Aku tersenyum manis seperti biasanya. Sebenarnya aku masih sangat mencintainya. Dia yang memutuskanku secara sepihak dengan alasan yang tidak bisa kuterima.
"Hai Faza...." sapaku.
Dia terlihat kurang nyaman dalam ruanganku, Faza salah tingkah.
"Lid....kamu?" tanyanya gugup.
"Iya....aku pemilik perusahaan ini. Kamu mau melamar jadi manager kan? Kamu bisa mulai kerja kapan?" tanyaku to the poin.
"Ee...ee... anu....aku ga jadi aja Lid. Kamu bisa interview yang lain. Aku pergi!"
Aku bergegas menutup pintu dan menguncinya.
"Bukankah kamu membutuhkan pekerjaan ini? Kenapa pergi? Kita masih bisa memperbaiki hubungan kita Faza Zainudin. Kamu diterima kerja sebagai manager pemasaran, bahkan kamu bisa kerja per hari ini"
Faza memang sedang membutuhkan sekali pekerjaan itu. Mulai dari pengobatan ibunya, sekolah adik-adiknya serta untuk sewa kontrakan. Sejak ayahnya meninggal beberapa tahun lalu, Faza menggantikan posisi ayahnya sebagai tulang punggung keluarganya.
"Baiklah....tapi masalah itu, aku ga bisa janji Lid!"
"Kenapa? Bukankah kamu juga bilang akan segera melamarku? Kenapa keputusanmu begitu tiba-tiba berubah?"
"Kamu tau kenapa aku putus denganmu? Tanyakan semuanya kepada Mamamu Lid!"
Deg!
"Ternyata selama ini, Mama selalu mengikuti aktivitasku. Pantas saja, semua cowok yang dekat denganku, tiba-tiba memutuskan hubunganku dengan tragis, termasuk Faza. Padahal dialah satu-satunya dari sekian banyak pacarku yang paling ganteng dan membuatku nyaman!" gumam Lidya.
"Maafkan Mama,Faza!"
"Tentu aku udah maafin Mamamu, Lid! Tapi andai kamu tau, apa efeknya, ibuku jadi drop karena kedatangannya saat itu, bahkan sampai sekarang kondisi ibu terus memburuk."
Sungguh pada saat itu, aku tidak tau sama sekali apa yang terjadi. Tepat malam minggu, Faza memutuskan hubunganku dengannya begitu saja, tapi akhirnya kini aku tau apa penyebabnya. Entah mengapa aku sungguh tergila-gila padanya.
"Jadi, gimana, kamu bisa kerja hari ini?"
Faza tak mungkin menolaknya, dia mengangguk. Ganda mengantarkannya ke ruang manager. Aku tak meragukan kemampuannya. Faza sangat cocok untuk posisi itu. Bahkan aku bisa memberikan jabatan lebih, andai ia mau menjadi kekasihku lagi. Aku akan membuatnya kembali dalam pelukanku.
Sejak sebulan setelah Faza memutuskan hubungan asmara itu, baru hari ini aku bertemu dengannya. Meski dengan status berbeda, aku yakin akan bisa memacarinya kembali. Hari demi hari hubunganku mambaik, dengan status sebagai atasan dan karyawan.
"Gan...panggilkan manager pemasaran kita yang baru ya!"
"Maaf Bu, pak Faza sepertinya hari ini tidak masuk, sakit."
"Sakit?"
Aku segera kerumahnya, aku tak menemukan siapapun di sana, hanya ada bekas bunga dan jajaran kursi di sekitar halaman depannya.
"Maaf Mas, ini ada apa ya?" tanyaku pada seseorang yang keluar dari rumah itu.
"Ibunya Mas Faza meninggal, baru aja diberangkatkan ke pemakaman. Mbanya siapa ya?"
"Oh saya temannya Faza. Makasih ya."
Aku merasa sangat bersalah atas kematian ibunya Faza. Secara tidak langsung, Mama terlibat di dalamnya.
Dua bulan kemudian......
"Faz....maafkan aku ya!"
"Untuk apa?"
"Semuanya."
"Aku udah maafin kamu sebelum kamu memintanya, kamu bisa meninggalkan ruangan ini Lid. Aku udah denger kabar ga enak tentang kita. Semua karyawanmu melihat ada hubungan spesial antara kita."
"Ayolah Faza.... memangnya kenapa kalo kita ada hubungan spesial? Aku masih menyukaimu Faza!"
Sebenarnya Faza pun sama. Alasannya putus denganku adalah karena sikap Mamaku yang selalu merendahkan Faza.
"Kita backstreet ya!"
"Engga!"
"Atau kamu aku pecat!" ancamku.
Aku adalah tipe cewek obsesi. Dengan semua kekayaanku, aku bisa mendapatkan semuanya. Termasuk hati cowok yang aku suka. Tapi dengan Faza, semua berbeda. Dia bukan lelaki matre seperti kebanyakan mantan pacarku. Dia sangat sulit kudapatkan, itu alasanku sangat tergila-gila padanya.
"Pertimbangkan tawaranku!"
Aku keluar dari ruangan Faza. Dia bingung dengan posisinya. Tak mungkin keluar saat itu juga, tapi jikalau bertahan, gosip miring tentangnya akan semakin menjadi.
***
"Ma... kenapa Mama nglabrak Faza, Mama tau kan aku pacarnya!" bentakku kepada Mama yang baru saja sampai di ruanganku.
"Kamu mau tau alasan Mama?"
"Ya!"
"Kamu tau kematian kakakmu karena apa?"
"Kenapa Mama bawa-bawa kematian Kak Yumna?"
"Yumna itu meninggal akibat Faza!"
"Faza? Mama jangan ngarang Ma!"
"Faza adalah penyebab kematian kakakmu, karena dia dicampakan oleh Faza, setelah laki-laki itu memperkosa Yumna, dia berpacaran dengan wanita lain. Yumna berusaha minta pertanggung jawabn darinya, tapi Faza menolaknya, bahkan menyuruh menggugurkan kandungannya. Faza itu bukan lelaki baik, Lidia.... please, jangan paksa Mama untuk merestui hubungan kalian!"
Aku begitu terkejut mendengar penjelasan Mama, setelah 5 tahun kepergian Kak Yumna, baru kali ini aku benar-benar tau penyebabnya. Parahnya lagi, karena perbuatan Faza, cowok yang membuatku tergila-gila padanya saat ini.
"Aku akan balas dendam untukmu, Kak!" gumamku.
Setelah hari itu, aku benar-benar membenci Faza. Aku berpura-pura untuk terus menggilainya seperti biasanya, tujuanku adalah balas dendam atas kematian kakakku.
"Lid.... kamu yakin kita mau balikan?" tanyanya sepulang kerja.
"Gimana?"
"Ya...mari kita mulai dari awal!" katanya.
Sore itu, tepat sepulang kerja, di lobi kantorku. Aku menerimanya kembali. Dia memberikanku kejutan yang begitu sempurna, dalam lubuk hatiku, aku sangat menyukainya. Aku hampir saja melupakan tujuanku untuk balas dendam kepadanya.
3 bulan aku berpacaran kembali dengannya. Faza memutuskan untuk menikahiku tanpa melamarku terlebih dahulu. Aku menerimanya. Mama terkejut dengan keputusan yang aku buat.
Setelah aku menikahinya, aku membuat sebuah perjanjian tertulis dengannya, " Dilarang menyentuhku, kecuali aku yang memulai". Faza menyetujui tanpa mengajukan pertanyaan.
Setiap malam, aku menggodanya dengan mamakai pakaian dinas yang akan membuat semua laki-laki menjadi gerah karena menahannya. Begitu juga dengan Faza. Dia tidak kuat melihatku, aku terus melakukannya hingga 2 bulan di awal pernikahan kami. Awalnya aku puas melihat Faza menderita karena menahan nafsunya untuk "mengistrikan" aku. Lama-kelamaan, dia menjadi bersikap dingin kepadaku. Sebaliknya, aku menjadi salah tingkah sendiri akibat ulahku yang tak mau di sentuh olehnya.
Satu tahun kemudian.....
Selama satu tahun menikah dengan Faza, sama sekali aku tak disentuhnya. Aku masih perawan.
"Faza... maafkan aku," sambil kurobek perjanjian itu di depan matanya.
Aku memeluknya sambil bersujud di kakinya.
"Kenapa Lid?"
Aku menceritakan semuanya, Faza memakluminya, karena itu memang kesalahannya. Setelah kejadian dengan Yumna, dia trauma dan mencari jalan pertaubatan dengan menikahiku tanpa melamarku terlebih dahulu. Ternyata sebelum aku menceritakan semuanya, Faza tau semuanya. Makanya dia menerima syaratku tanpa bertanya kenapa. Setelah malam itu, aku sudah menjadi istrinya seutuhnya. Aku tidak pedulu lagi dengan balas dendamku padanya.