Baru beberapa hari yang lalu mereka menginap dan sekarang keadaannya seperti di terjang topan.
Mainan bergeletakan dimana-mana. Sudah tiga hari ini. Keluarga Alia mengungsi disini. Karena mansion mereka banyak maid terserang flu.
Yasudahlah. Aku membereskan mainan druwdut. Tak mau lagi aku menginjak butiran lego yang menyakitkan.
"Pagi," Mateo dengan mengantuk ia membuat susu untuk Bonbul. Ayah yang siaga. Patut diacungi jempol.
"Hoam pagi"
"Mau sarapan apa?" Tanyaku.
"Apa ajalah kita ikut" aku mengangguk. Mengeluarkan bahan, saat aku mendengar bel pintu berbunyi.
"Comiiing..."
"Pagi sayang, aku bawa sarapan" Cayden mengangkat kantong dikedua tangannya. Penuh.
"Pagi, Aw manis banget sih kamu" kukecup dia. "Untung aku belom masak" membukakan pintu apartemenku lebih lebar.
"Wih bapak Cayden, pagi buta udah bawa sarapan aja" Mateo menuangkan susu asi pada botol.
"Hoaaammm pagiii~" suara cempreng, menubruk punggungku.
"Kamu pulang jam berapa semalam?"Tanya Mateo pada adik perempuannya ini.
"Semalam?! Gak mungkin, subuh kali pulangnya" Alia datang menggendong Bonbul. Yang subuh selalu bangun duluan.
"Anak papá, Bonita my Bonita" Mateo berjoget menggoyangkan botol susu pada anaknya. Membawanya kekamar. Diikuti Mona mau menggoda Druwdut yang masih tidur.
Ia merengkuh Bonbul pada gendongannya, dan memberikan susunya. "Sayang kamu sarapan dulu"
Alia mengangguk mengambil susu hangat dari tangan Cayden.
Ia berjalan ke kamar menyusul suaminya.
Cayden membawakan beberapa sandwich dan tortila.
Aku mengambil burito. Melahapnya. Karena setelah ini masih banyaknyang harus dibereskan.
"Yang, Bunda bilang kamu mau buat nasi kuning ya,"
Aku mengangguk dengan mulut penuh burito. Masih ngantuk sebenernya aku.
"Nanti bunda mau ikut keasian store, mau aku antar" aku menggeleng, melahap gigitan besar burito.
Cayden mengecup sudut bibirku. Kunyahanku melambat. Menghabiskannya lalu meneguk susu hangat.
Sekarang giliranku. Enak aja dia main kecup aku mau lebih. Eh...
Kulihat Cayden telah selesai sarapan juga. Kuraih tengkuknya dan kulumat bibir manis itu. Aku tersenyum. Cayden memperdalam lumatannya.
"Hei kalian! Cepetlah nikah sana!" Teriak Alia. Aku melepaskan pangutan kami. Menyeka saliva yang ada dibibir Cayden.
"Morning kiss" kekehku. Cayden meraih tubuhku. Membenamkan wajahnya pada curuk leherku. Mengendusi. Mengecupi.
Waduuuhhh tahan... Arn... "Sayang nikah yuk" Ajaknya selalu. "Masih belum ya" Tanyanya wajahnya mengecupi leherku lagi.
"Astaga! Gak dikamar, gak didapur pada mesum semua. Woi ini ada anak perawan jomblo, gak kasian apa?" Omel Mona.
Ia kembali kekamarnya "Ya Tuhan kapan giliranku dibucinin kayak mereka, Ya Tuhan, capek hati ini hanya jadi penonton" gumanan kerasnya sengaja.
Aku dan Cayden hanya terkekeh.
*****
Sedih rasanya melihat Wajah Cayden, saat pertanyaan berulang keluar dari mulutnya.
Aku bingung dengan diriku sendiri. Samapi di Masion keluarga Cayden. Masion Massimo.
"Pagi Bun" aku mengecup pipinya. "Pagi juga sayang." Bunda mengamati beberapa foto. Aku mengintip. Foto ku.
"Itu foto Arn kan Bun?" Bunda hanya tersenyum.
"Udah ayo kita berangkat. Nanti kesiangan, katanya kamu mau beli pernak pernik yang lain" Bunda memasukaan fotoku dalam amplop coklat.
Aku masih penasaran tapi sepertinya Bunda tak mau membahasnya.
"Bun aku sudah? Bunda gimana?"
"Sama Bunda juga udah, yuk bayar"
"Arnas" kepalaku menengok, pada sosok yang menyebutkan namaku.
"Arnas" Dia. Kala.
Kucengkram erat tali tasku. Kala maju, mendekat. Aku dengan cepat mundur. Dan memeluk lengan Bunda. Ingin cepat menjauh.
"Arnas" Tiar, datang dari belakang Kala. Aku memandang, tajam pada mereka. Aku merasa sangat sangat bodoh. Dulu mereka selalu keluar kota bersama.
Mengingat itu membuatku jijik. "Kamu kemana aja, Ar" Tiar mendekat, aku hanua diam. "Udah bun? Ayo pulang" bilang aku gak sopan. Aku dengan cepat mendorong troliku.
Aku tak mau satu ruangan dengan mereka. "Ar" panggil Tiar keras. "Arnas kamu kenapa?" Dia mencekal tanganku. Matanya mulai mengembun. "Kenapa tiba-tiba menghilang?" Halah palsu!
Aku hempaskan tangannya, ia terpelanting.
"ARNAS!" Bentak Kala. Aku menatapnya dingin.
"Udah Kal, jangan bentak sahabatku, aku nggak papa" Muak. Dia kira dia siapa!
"Aw!"
"Kamu nggak papa Yar" Khawatir Kala.
Aku dibantu Bunda memasukan belanjaanku. Tak memperdulikan aktingnya. Seorang satpam mendekat. Bunda menjelaskan ini hanya kesalah pahaman saja. Si satpam pun pergi.
"Mereka siapa?" Tanya Bunda disela memasukan belanjaan kami.
"Orang yang membuat aku berada disini."Bunda hanya mengangguk.
Sedari tadi Tiar dan Kala memandangiku, yang satu dengan tatapan tajamnya, yang satu dengan tatapan penuh dramanya.
"Ayo Bun!" Aku masuk kedalam mobil. "Tak apa mereka kita tinggal" Aku menjalankan mobil perlahan. Tiar berusaha mengejar mobilku. Gila mendarah daging.
"Mereka sudah gede, dari indonesia kesini aja bisa."
"Bukan maksud Bunda, kamu gak mau ngetapel mereka berdua peka zaitun busuk?" Terkekeh. Aku pun ikut terkekeh.
"Maaf bunda, we time kita jadi keganggu"
"Its okay kan masih ada besok besok"
"Kamu beneran gak mau ketapel mereka, gak tau liat yang cewek nangis-nangis, kayak tadi malah hilang respek bunda."
*****
"Ya Om"
"Kamu mulai besok bersiap ya, sebulan lagi ada rapat pemengang saham juga para patner."
"Okay" jawabku
Setelah acara pengenalanku itu, aku mulai belajar tentang perusahaan ini dan belajar bisnis.
Walau sempat membuat frustasi diawal. Tapi segalanya sekarang menyenangkan.
Aku mempunyai teamku sendiri. Selama ini aku bukan hanya healing tapi juga mempelajari perusahaan Daddy. Dibantu Om Mario.
Aku menerimanya. Selama ini aku hanya mementingkan egoku, ingin bekerja dekat dengan Kala. Menolak untuk memimpin usaha Daddy.
Sebenarnya tanpa pengenalan seperti kemarin juga tak apa. Aku sudah secara resmi menjalankan tigas yang diberikan Om Mario.
Lumayan aku membuat gebrakan. Pemilik saham inti pun sudah merasakan kerja kerasku selama aku disini.
Menghela nafas. Deringan dari orang yang sama, Kala. Aku pikir dengan bertemu dengannya aku akan kembali ke diriku yang lama.
Tidak. Yang ada hanya jijik dan marah. Moodku hari itu berantakan. Mana Cayden tak bisa dihubungi membuatku gusar.
Aku menelponnya berkali. Tak ada panggilanku yang dijawab. Hingga hari berikutnya juga tak ada kabar.
Aku lampiaskan semua kegelisahaan ini untuk beberes. Selalu. Membatasi diri buat mikir yang gak karuan. Dan it's work!
Si keluarga yang suka merecokiku itu telah kembali kesarang mereka. Meninggalkan kekacauan. Segalanya berantakan dan berantakan.
Sekarang sudah seperti semula. Aku melemparkan diriku ke sofa dengan tangan menggenggam lap juga kemoceng.
Ponselku berdering lagi. Tak bosankah mereka berdua. Uang membuatnya merendah seperti ini. Aku tak menyangka. Kala akan seperti itu.
Deringan berhenti. Aku meraih ponselku. Melihat tak ada kabar dari Cayden. Apa dia mulai lelah? Aku belum menjawab lamarannya.
Aku konsultasi pada Alia. Mateo ikut nimbrung dan ia keceplosan. Tentang perjodohan Cayden sebelum aku bertemu dengan mereka.
Ini meresahkan. Aku tak mau kehilangannya. Apa aku harus kekantornya? Kesal dengan deringan ponselku.
"Ayo bertemu"
Aku mematikannya dan mengirim teks tempat pertemuannya. Harus segera selesai.
*****
Duduk disalah satu kursi dikafe. Tempat pertemuanku dengan Kala. Menunggu.
Meminum latteku. Lama kali ini siapa yang pengen ketemu sih.
"Maaf telat!"
"Mau ngomong apa" tak usah basa basi, sekarang aku ingin cepat menyelesaikan semua dengan mereka.
Kala hanya diam menatapku. Aku balas menatapnya dingin.
"Kemana saja kamu selama ini? Pergi diam diam membuat semua cemas"
Aku menghela nafas panjang.
"Sekarang kamu tahu aku disini kan" pengulangan pertanyaan sama seperti pasangannya.
"Aku kecewa, kamu berubah" Wow dia bisa berakting juga rupanya. Malas mendengarkan.
"Kalau kamu cuma mau ngomongin ini, aku sibuk" aku mengambil tasku. Berdiri.
"Tunggu" Kala menahan tanganku.
Aku menatapnya, mengernyit. Kala tahu. Aku tak suka. Ia melepaskan cekalan tangannya.
"Tunggu, duduk dulu" aku pun duduk kembali.
"Ayo kembali, kita mulai ulang hubungan kita"
"Aku nggak tahu apa yang membuatmu kabur, Ayo kita mulai lagi dari awal"
"Aku akan menurutimu, kamu mau apa? Pernikahan? Ayo kita lakukan"
"Kita teruskan perjodohan kita"
Aku terkekeh. Mengambil lagi tasku, "kamu ngomong apa? Perjodohan yang mana? Ngelantur, heh!" Aku menggeleng kepalaku. Siap untuk beranjak dari sana.
"Tunggu, kita terikat, kamu menyetujuinnya saat itu"
"Hanya aku, tidak kamu, jadi aku pikir perjodohan itu tak ada, tidak ada, apa itu, terikat?!" Miris. Aku pergi. Namun sekali lagi Kala mencekal tanganku.
"Lepas! Tak ada yang ingin aku bahas"
"Masih! Kita belum selesai"
Kekehan Miris "Kita? Tak ada Kita! Perjodohan bahkan hanya lintasan mulut orang tua, dan semuanya tidak kamu pedulikan ya kan, lalu buat apa sekarang?"
"Lepas!"
"Kamu berubah! Kalau kami tak peduli kami tak mencarimu, kemana mana,"
Halah, aku tahu yang mencariku bukan kamu, tapi mama tirimu itu.
Aku berdecih. Menghempaskan tanganku. Berbalik pergi dari pertemuan tak berguna. Kala mengejarku.
Aku terpaku pada pintu kafe yang baru terbuka. Cayden. Berjalan dengan wanita. Memeluk pinggangnya. Mesra.
Alia benar mungkin Cayden sudah lelah denganku. Aku tak tahu hubungan apa yang aku jalani dengannya.
Aku kira tanpa kata cinta, dengan kedekatan juga lamaran aku mengira kami pasangan.
Aku menatap kemesraan itu. Cayden mengecup pipi wanita itu. Wanita itu pergi ke mejanya.
Cayden mengandengnya dengan lembut. Mata kami bertemu. Beberapa saat. "Arn" Cayden memutuskan pandangannya. Bendungan air mataku mulai bergumpal.
Cayden kembali fokus pada wanita itu. Aku tak mau melihat itu lagi. Aku pergi.
Sampai diparkiran. Membuka pintu mobil. Tanganku bergetar tak bisa memasukan kunci pada kontaknya.
Pintu mobilku terbuka. Kala. Kecewa. Cayden tak mengejarku rupanya.
"Aku antar kamu" Kala menarikku keluar. Mendorong pelan ke arah kursi penumpang. Aku pasrah.
Aku terdiam. Kala mengotak-atik gpsku mencari alamat yang sering aku tujuh.
Bodohnya itu adalah Apartemen Cayden. Kala memarkirkan mobilku di pelataran depan Apartemen.
Disitu aku melihat mobil Cayden baru masuk. Ia memarkirkan mobil didepan lobby memberi kuncinya pada valet.
Cayden turun, tidak sendiri. Ada wanita yang sama, yang aku lihat di kafe.
Perih. Melihat mereka memasuki apartemen Cayden. Apa aku salah menaruh hatiku. Kenapa rasanya begitu sakit.
"Jalan" menatap jalanan. Seperti ini lagi? Aku ingin pulang.