Setelah aku ditinggalkan pacarku, aku menjadi bosnya salah satu kartel mafia terbesar. Czaren kartel.
Tawaran ini memang sudah disiapkan untukku tapi apa daya, aku lebih memilih hidup normal, seperti gadis lainnya, mengejar cinta bodohku.
Kenalkan aku Renne Czaren, yang dikhianati pacar juga --Yang mengaku-- sahabatku.
"Om aku menerima" Keputusan yang aku ambil setelah dengan tak sengaja melihat secara langsung bahwa, pacarku, Miguel, memanfaatkanku.
Juga dengan keluarganya yang selama ini sangat baik padaku. Ternyata kebaikannnya adalah racun yang mematikan.
Bukan hanya itu, double kill, buatku saat Maria--yang katanya sahabat-- menjadi orang ketiga, juga ingin melihatku hancur.
"Okay, kamu bersiap nanti Om jemput" Bukan tiba-tiba, aku sedari kecil sudah disiapkan menjadi penerus Daddyku.
Syarat hidup bebasku adalah dengan mengikut semua yang dimaui Daddy, beladiri, menembak, segala yangbmemompa adrenalin, aku adalah salah satu alat bunuh berdarah dingin.
Aku harus mengikuti ujian untuk lolos tingkat. Seperti anggota yang lain. Aku juga melakukannya. Aku tahu aku pintar dalam segala, kecuali percintaan. It's suck!
Daddyku ingin pensiun dini, lebih ingin menghabiskan masa tua dengan keluarga toh, uang yang dikumpulkan pun lebih dari cukup.
Om Mario yang notabene adik tiri Daddy, mengantikannya sementara. Mereka membebaskanku untuk tidak memilih dunia gelap. Yang sempat aku pilih.
Tapi Ia juga ingin aku meneruskan kartelnya, dan keputasaannya, terserah diriku. Sekilas kenangan itu berseliweran lagi.
"Nikahi saja anak dari wanita itu, setelah semua kau keruk habis, kau buang" gumpalan air mata. Suara yang aku ketahui adalah ibu Miguel. Galina.
"Seberapa lama lagi, Sayang, segera nikahi dan ceraikan dia, aku tak tahan" Suara yang dibuat manja itu suara Maria.
"Kelakuannya itu sama seperti jalang itu" Dengus suara tua. Oma Dora, nenek Miguel. Teringat, aku mengintip dari pintu ruangan Miguel yang terbuka sedikit itu.
Tak menyangka seorang yang aku anggap malaikat, yang mendukungku ternyata sejahat itu. Ingatan yang membuatku marah.
"Siap"
"Siap" aku mengangguk. Malam ini tak ada lagi Renne yang manis.
"Selamat malam semuannya" Om mario mambuka ruangan rapat. Aku mengikuti dibelakangnya.
Kutatap semua yang disana. Wajah-wajah bengis. Kemeja perlente. Beberapa ada yang menggunakan kalung rantai emas.
"Tak boleh ada keraguan" ucap Om Mario.
Aku menatap semua dengan datar. Aku tahu mereka petinggi di kartel Czaren.
Pengenalan berjalan mulus. Mereka adalah teman Daddy dan Om Mario. Mereka tahu kemampuanku karena mereka jugalah yang mengujiku.
Aku menarik sudut bibirku, tugas pertama menantiku. Aku berada di dalam mobil. Membobol penyimpanan barang sitaan polisi.
"Barang nya ada di gudang no.9" Aku mengendap. Berjalan di balok kegelapan. Dengan gerakan lincah, aku bekuk, dua penjaga berbadan dua kali lipat dariku.
"Beres"
"Beres"
"Clear"
"Bersih"
Kusungging senyum mendengarkan teamku.
"Okay, Siap!" Ini Sukses!
*****
"Pembobolan besar-besar pihak berwenang kehilangan hasil sitaannya..."
Aku melihat hasil kerjaku. Ada Daddy, juga Om Mario. "Okay hadiahnya, nanti ikut Om" aku menaikan alisku.
"Ikut aja, sebenarnya ini masalah teri" aku tak minat. "Tapi kamu akan suka" ketahuan aku sama sekali tak ingin apalagi ia bilang masalah teri.
*****
Kaget diawal. Perusahaan Miguel. Aku tak bertanya. Lebih ikut si Omku ini.
"Silakan pak" Artie tangan kanan Miguel. Juga terkejut melihatku. Aku juga. Siapa sebenarnya Omku ini. Hingga Artie harus menjemputnya. Dia salah satu yang tak suka dengan hubunganku dengan Miguel.
Artie menatapku, mencibirku "bagus juga tangkapanmu sekarang". Sedikit kuangkat sudut bibirku melawan remehannya.
Kalau aku yang dulu, aku akan diam saja tidak untuk sekarang. Kubiarkan Om kumasuk duluan aku harus urus banci satu ini.
Ah dia komplotan Maria, pantas sejak awal Aku dikenalkan dengannya, ia sama sekali tak menyukaiku. Satu spesies toh.
Aku berhenti. Sengaja, biar ketutup pintu didepanku. Berdiri beberapa saat. Cibirannya keluar lagi. "Gak bisa buka pintu sendiri.
Ck! Upik abu pengen jadi nyonya, Mimpi!"
"Salah terus ya, padahal ini udah dandan lho, biar nggak kamu katain udik"
Aku tersenyum sinis. Menghadap kearahnya. Dengan cepat berada didepannya. Artie mundur satu langkah, tangannya melipat didada.
Kucengkram keras dagunya. "Nantikan siksaan nerakamu sebentar lagi". Kueratkan kuku tajamku dikedua pipinya. Lalu menariknya kebawah. Mata Artie melebar tak sangka dengan perlakuanku
"AAAWW!" Rintisnya pipinya tergores kukuku. Tentu. Tak lama derapan pengawalku berdatangan. Ia langsung mengamankan.
"Aw apa apa ini"
"Lepaskan, kalian ini! Atau akan aku adukan ke Tuan Miguel, aku adalah tangan kanannya." Bangganya si banci. Ini baru permulaan.
"Sapu tangan!" Artie melirikku tajam.
"CEPAT!" Seorang pengawalku memberikan sapu tangannya. Aku mengelap kuku-kukuku.
"Sajam" desisku.
Seorang lagi lari mendekat menyerahkan pisau kecil dengan kilat membahayakan. Cocok untuk mengores dengan dalam secara perlahan.
Alat mematikan. Aku mendekat ke Artie. Sejengkal.
"Mau perlahan atau cepat" bisikku, Wajahnya berubah menjadi seputih kertas. Tanpa sadar seringaian muncul dibibirku.
Ah ternyata semenyenangkan ini.
Mengarahkan sajam ke bagian leher yang vital.
"Ah aku malas basa basi, buang waktu, langsung aja ya" kugores, pelan, berkali, lehernya. Sengaja memilih sajam yang tumpul. darah membasahi lantai terciprat kemana-mana.
Teriakkan kesakitan mengema. Senangnya melihat orang yang mengusikmu tergelepar dilantai seperti cacing kepanasan.
"Ambilkan baju ganti!"
"Bereskan semua!" Aku meninggalkan mereka masuk kedalam dengan membersihkan sajamku dari sisa darah.
Hening. Kuangkat kepalaku. Melihat wajah-wajah pucat ketakutan.
"Sowrry telat" berjalan ke dekat Om Mario.
"Kamu ngapain?" Miguel mencengkram lenganku. Bisiknya.
Kusentak tangannya. "Apa ini dimukamu" Miguel menyeka beberapa noda di pipiku.
"Amis, kamu mending keluar sekarang juga" cengkramannya lebih kasar dari yang tadi.
"Bikin malu" Masih kudengar cibiran dari beberapa orang disitu termasuk mama dan neneknya. Mereka menyibir paling keras.
"Artie kamana dia, harusnya tak membiarkan dia masuk" ucap keras Nenek Dora.
"Bilang ke nenek peot itu, yang barusan kau usap dipipiku itu dari si banci"
Kubalik tangan Miguel, kupelintir
KRAK!
"AAARGH!" Teriakkan keras Miguel.
"Opsie daisy, aku hanya membela diri, dia mencengkram tanganku" melepaskan tangan yang kupatahlan itu
"Apa yang kau lakukan pada cucuku lacur!" Teriakan tua bikin pengang. Kugosok telingaku.
"Miguel kenapa nak, kita laporkan pada polisi semua bisa jadi saksi"
"Renee jahat sekali, Miguel ini MANTAN pacarmu"
Maria menekan pada kata mantan, dengan tampang sok polos.
Tak mengindahkannya aku berjalan ke mana Om Mario berada. Kunyalakan alat pengeras yang tersambung disemua ruangan.
"ITU PERINGATANKU, KARNA AKU TAK MAIN MAIN"
"KUMPULKAN SEMUA KARYAWAN, DIAULA, SEMUA! AKU TUNGGU LIMA MENIT DARI SEKARANG!"
"TELAT!"
"PECAT DAN TAK AKAN ADA PERUSAHAN LAIN YANG AKAN MENERIMANNYA!"
"Ah kita belum berkenalan, Saya Renee Czaren"
"Saya yang mengakusisi perusahan ini. Dan akan saya ambil alih kepemimpinannya, ayo kita ke aula."
"Saya tahu jika ada yang berusaha kabur, tanggung sendiri ya resikonya"
Serentak bunyi notifikasi terdengan dari seluruh ponsel mereka.
"Nasib yang ada di video tergantung dengan kalian, satu membelot, bukan hanya keluarganya, tapi semua keluarga kalian akan kena"
*****
"Sudah sebagian datang" Ya tak apa, tapi sayangnya saat ini aku tak segan-segan.
"Kamu sudah dapatkan datanya yang menyepelekan ini"
"Iya QR (re: qi-ar)"
"Aku ingin semua yangbada disini melihat dengan jelas, apa yang akan aku lakukan"
"Mengerti QR"
Pintu aula terbuka. Aku melihat target ku. Pengecut juga.
Dan seperti diruang rapat tadi seluruh ponsel berdering, menampilkan aib mereka.
Wajah mereka pucat pasi. Mentapku ngeri.
Disudut kanan dekat panggung berkumpul Miguel dan kroconya.
Aku langsung panggung,
"Sudah mendapatkan sebagian kecil sin kalian. Nikmati. Bila melanggar, tanggung sendiri akibatnya"
"SAYA MENGAKUSISI PERUSAHAAN INI. PERUSAHAAN MCROP MENJADI MILIK CZAREN GROUP"
"SAYA SEBAGAI PEMEGANG SAHAM TERTINGGI MENCOPOT JABATAN DARI CEO SEBELUMNYA."
"Dan saya bagikan kelicikan apa saja, di kertas yang kalian terima"
Riuh suara aula.
"Gile jadi sebobrok ini pimpinan tuan Miguel"
"Gak nyangka ini Maria"
"Buset buset, semoga lambe gak tau, kalau ikutan ini, modyar saham perusahaan kita"
Tenang bestai ada saia si close friend akan men-toel silambe cuan... cuan... cuan... batin seseorang yang punya sakit hati dengan pelakuan perusahaan padanya.
"Nama yang ada disitu, dipecat tidak terhormat, diblacklist disemua perusahaan"
"Asetnya akan disita,"
Kasak kusuk diseluruh penjuru aula.
"Bawa kesini"
"Tak sengaja bertemu saya ditoilet tadi. Mengajak saya kabur, katanya saya psiko," kuperlihatkan wajah acak acakan wanita itu yang babak belur.
"Bener... dia psiko... pergi... tolong... lepaskan... lepaskan aku... tolong..." tangisnya meraung sambil meronta.
Aku mengode pengawalku untuk melepaskannya. Nanti juga dihabisi didepan.
Dia berlari tak tentu arah. "Cepak kalian hadus kabur dari wanita itu..."
"Miguel... Maria... kau harus cepat kabur, dia akan memburumu" bisik kerasnya. Miguel melirikku tak terima, pastinya ia tahu siapa wanita berantakan itu.
"Nyonya selamatkan diri anda Nyonya" menarik bahu Galina.
"Kau juga Nyonya, dia akan menyiksamu, ayo Nyonya kabur bersama saya" wanita itu menarik kencang tangan Dora.
"Apa yang kau lalukan"
"Lepas" teriak Dora. "Ayo Nyonya" Wanita itu menarik Dora hingga tersungkur.
"Dasar kau wanita gila! Idiot, siapa dia" Dora dibantu beberapa karyawan untuk berdiri.
"Dia Laura, Nyonya, Sekretaris Tuan Miguel" Dora menelan salivanya susah payah saat matanya bertemu denganku, kusungging senyum manisku.
"Ini baru permulaan, Nyonya" mulutku bergerak tanpa suara pada Si nenek peot itu.
"Kenapa Renee? Apa salahku? Aku dan Miguel berpacaran sebelum ia kau rebut"
"Kau mengapa melalukan ini pada perusahaan"
"Miguel lebih memilih bersamaku? Maafkan aku Renee!" Apa lagi ini.
"Kau tahu Maria, aktingmu sangat buruk"
"Bodohnya aku yang tetmakan aktingmu itu" kulihat sudut bibir Maria terangkat sedikit.
"Dia dan Miguel belum melihat ponselnya QR" bisik pengawalku.
"Kemana ponselmu Maria" Mata bekas air mata itu, bingung dengan pergantian topikku.
"Ah kau tak bawa... karena kau tak bawa, aku berbaik hati memperlihatkan disini, dengan layar sebesar ini, menyenangkan sekali menjadi baik!"
Video memutar sebuah tayangan dewasa, Miguel dan Maria... Miguel dengan Laura... Miguel dengan Clarita...
"Sayang... video itu nggak benar" Kulihat pemandangan yang menjijikan. Maria menjauh, tak terima Miguel menyelingkuhinya.
Ini belum selesai honey.
Berganti, video, Maria dan Artie... Maria treesome dengan dua manager tua, Robet dan Ivan... Maria dengan Office boy di toilet kantor... Maria dengan Steven satpam kantor... Maria dengan bodyguard Miguel, Leandro...
"WOW Maria..." tepukan tanganku takjub menggema.
"Muka polosmu itu hanya lelucon, ternyata fetismu menjijikan! Sepertinya kau harus segera periksa Maria, sayang"
"Leandro, kau tahu kan Miguel, mengapa kau berhentikan dia, sebaiknya kau juga periksa sayang, bawa juga gadis polosmu itu" aku tertawa kencang. Karena Maria tak sepolos itu, dia hypersex. Dan sayangnya Miguel tak mengetahui itu.
Aku menyambar pengeras suara lagi "Nyonya Galina, untung saja kau bawa ponselmu"
"Ah Nyonya bukannya kau mau mengadakan pesta ulang tahun? Tak ada niat menggundangku?... Okay tak apa, sebagai mama mantan, aku akan kirimkan hadiah spesial untukmu, ditunggu ya" ia terdiam. Matanya terlihat bergetar. Antar marah juga takut menjadi satu.
Aku tersenyum manis padanya. Mengakhiri pertemuan ini.
Perasaan apa ini, menyenangkan ternyata melihat wajah-wajah ketakutan itu. Wajah-wajah, seputih kertas.
Ternyata aku suka mengejar perlahan, membuat musuhku gelisah juga ketakutan. Wajahnya sungguh membuatku geli. Lucu sekali mereka.
"Kau tak akan tahu sampai kau menyakitinya" Renee Czaren.
🔪🔪🔪🔪🔪