Setelah ditinggalkan mantan pacarku, aku menjadi bosnya ....
SPIN OFF [GAME] SEBUAH RENCANA
Rania Anggraeni namaku, usia 25 tahun. Aku anak seorang pemilik perusahaan konstruksi terbesar di Kalimantan. Suatu hari papa dan mama memanggilku ke kamar mereka dan mengajak berbincang. Sebuah perbincangan yang membuatku tak bisa tidur di hari-hari setelahnya.
Perjodohan!
Itulah pembahasan obrolan kami. Kondisi papa memang 3 bulan ini memburuk setelah serangan jantung yang dialami, hingga permintaan itu terlontar. Papa menginginkanku menikah dengan anak seorang teman SMA-nya. Kagetlah aku malam itu.
Apakah aku sudah terlalu tua?
Apakah aku tidak cantik?
Apakah aku tak bisa menentukan hidupku sendiri hingga harus dijodohkan?
Aku merasa sesak saat setiap tanya memutari otak. Bingung mengapa papa sampai mengambil keputusan tanpa meminta persetujuanku.
Aku jelas belum tua!
Aku cantik!
Aku berpendidikan!
Aku seharusnya berhak menentukan takdir cintaku!
Tapi mengapa?
Jahat!
Seperti malam sebelumnya, aku hanya bisa menangis bertopang bantal. Nyatanya ingin papa tak bisa disanggah.
Aku masih berkeras, hingga suatu malam mama datang ke kamarku. Malam itu sebuah kebenaran mengenai kondisi papa terbuka. Perihal usia papa yang diprediksi dokter hanya tinggal 2 bulan lagi bahkan bisa lebih cepat dari perkiraan. Aku menunduk lesu, merasa bersalah sudah berpikir buruk pada keputusan papa. Papa yang sudah bertemu Randi beberapa kali merasa Randi adalah sosok baik dan bertanggung jawab yang kelak bisa menjagaku dan melanjutkan bisnis papa. Akhirnya malam itu kulunturkan ego dan menyanggupi perjodohan itu.
Berhubung kondisi ayah terus memburuk, dua keluarga sepakat dalam sebulan persiapan pernikahanku harus selesai. Pihak keluarga dengan dibantu sebuah even organizer akhirnya bisa mempersiapkan seluruh acara pernikahanku dengan begitu megahnya.
Malam itu aku baru saja dirias untuk persiapan akad pernikahanku dan Randi. Aku masih duduk mematung di depan meja rias menatap betapa cantiknya aku, hingga tiba-tiba kamarku terbuka. Aku melihat seorang wanita dengan pakaian pelayan masuk, aku yang berpikir ia datang untuk memberi kebutuhanku membiarkannya mendekatiku. Ia berdiri sangat dekat dengan tubuhku, menundukkan wajah hingga seketika ia meletakkan sebuah tisu ke mulutku, aku terus berontak saat ia terus menarik tubuhku mendekati lemari. Aku baru saja hendak berbalik, tapi pandanganku tiba-tiba menjadi kabur dan aku tidak ingat lagi yang terjadi setelahnya. (baca [GAME:SEBUAH RENCANA])
Kini satu tahun berlalu setelah kejadian itu terjadi. Seorang lelaki bertubuh tambun dan gagah masuk ke ruanganku. Aku yang memiliki jadwal menginterview pelamar kerja hari itu mengizinkannya masuk. Mataku seketika membulat, bibirku tercekat tak mampu berucap saat kutahu siapa sosok yang baru saja datang dengan map berisi lamaran kerja itu.
Tak kalah terkejut, netra sang lelaki juga tak kalah membulat menatapku. Sesaat ia ingin ke luar dari ruangan, tapi aku menahannya.
"Tetap di sini, Mas Randi!" ucapku membuat langkahnya terhenti, ia masih menatapku lekat dan bingung, hingga akhirnya ia mendekat ke arahku. Ia yang setelah malam itu memutuskan meninggalkan rumah bersama istrinya kini tercekat dan diam membisu.
"Mas ke sini untuk melamar pekerjaan, bukan?"
"Be-tul Ri, tapi sepertinya aku akan mengurungkannya," ucapnya.
"Mengapa?"
"Aku sadar sudah menyakitimu di masa lalu. Aku tak pantas muncul di hadapanmu!" Jawaban diluar ekspektasiku terlontar. Mas Randi nyatanya sadar telah berbuat salah padaku di masa lalu. Kini bahkan ia merasa malu menatapku.
"Kamu sa-dar, Mas?" lontarku. Aku semakin penasaran dibuatnya. Ia mengangguk.
"Aku terpaksa Ri. Sebuah kesalahan telah kulakukan dan aku harus bertanggung jawab. Wanita yang menggantikanmu dan kunikahi malam itu tengah hamil. Mataku membulat. Kututup bibir sebagai reaksi keterkejutanku.
"Jika seperti itu harusnya kamu membatalkan pernikahan kita sejak awal, Mas! Bukan menyakitiku dan keluarga di detik terakhir. Aku sangat kecewa padamu!" gusarku. Ia menunduk dalam.
"Oke kita lupakan cerita kelam masa lalu! Kamu membutuhkan pekerjaan, bukan? Aku akan memberikannya padamu!" Netra mas Randi berkaca, ia terlihat tak menyangka pada ucapanku.
"Sungguh, Ri? Kamu sungguh baik." Aku terdiam menanggapi ucapannya.
"Ikut aku, Mas! Aku akan menunjukkan tempatmu bekerja!" lontarku sambil berjalan ke arah pintu ke luar, kulirik ia mengikutiku. Entah apa yang terjadi pada keluarganya, tapi jelas ia membutuhkan uang.
Kami duduk bersama dalam mobil setelahnya. Kubawa Mas Randi ke tempat di mana ia akan mulai menjalankan pekerjaan. Terlihat ia terus menoleh ke kanan dan kiri merasa bingung aku terus melajukan mobil menjauh dari kantor dan melewati perkampungan penduduk, hingga sepuluh menit perjalanan aku menginjak pedal rem. Netranya membulat melihat ke mana aku membawanya.
"Ri, i-ni____
"Ikut saja, Mas!" Ia menurut. Tetap mengekorku walau kutahu ia pasti bingung. Tak lama aku berhenti di antara dua gundukan. Belum lagi aku bicara ia bersimpuh. Ia terus melontar maaf padaku.
"Rii?"
"Ini tempat bekerjamu, Mas! Andai aku tahu kalau papa sangat memujamu. Setelah kejadian malam itu jantungnya colaps, ia menghembuskan napas yang terakhir sehari setelah malam itu. Keesokan harinya mama tanpa sakit apa pun kutemukan juga tak bernapas pagi itu. Mama memang sangat cinta papa.
"Ma-af, Ri!"
"Semua sudah kuikhlaskan, Mas. Mungkin sudah suratan takdirku!"
"Ri ...." Mata itu jelas rapuh. Tapi kerapuhan itu jelas tak bermanfaat lagi.
"Oke, seperti ucapanku sebelumnya bahwa aku menerimamu berkerja. Inilah pekerjaanmu, Mas! Papaku sangat menyukaimu, hadirmu akan membahagiakannya. Aku ingin kamu selalu datang ke tempat ini setiap hari, membersihkan tempat ini dan berdoa untuk papa dan mamaku, Mas. Kamu setuju dengan pekerjaan yang kutawarkan, bukan?"
Kelanjutan [Game:SEBUAH RENCANA]
Just Story😍
Bekasi, 14/03/2022