Setelah ditinggalkan oleh pacarku, aku menjadi bosnya.
Malam itu pacarku mengajakku bertemu, disebuah tempat dimana kami biasa menghabiskan waktu luang bersama.
Aku tak pernah mengira bahwa pertemuan itu adalah awal dari perpisahan kami, hanya dengan sebuah kata maaf, dia meninggalkanku begitu saja.
Hati siapa yang tak luka? bila cinta yang telah bertahta didalam hatinya, kini hancur tak bersisa, kecuali serpihan hati yang terkoyak perih, lebam membiru.
Musim berganti bulanpun berlalu, minggu-minggu kelabu pun aku tempuh dengan perasaan kosong dan hampa.
Sampai disuatu saat, dimana aku berada pada titik lelahku.
Aku lelah menangisi dia, dia yang bahkan tidak pernah memikirkan bagaimana sakitnya perasaanku, ditinggalkan tanpa alasan yang jelas.
Aku lelah memikirkan dia, orang yang bahkan tak memiliki keperdulian padaku. Bahkan dengan sengaja, ia memamerkan kemesraannya dengan wanita lain.
Sampai akhirnya aku katakan pada diriku sendiri.
"Baiklah Tia, kamu tidak boleh menyia-nyiakan waktumu, hanya untuk memikirkan laki-laki yang tidak pernah memikirkanmu."
Aku mulai membuka lembaran baru hidupku, aku mengubur semua kenanganku bersamanya dalam-dalam, dan mulai fokus pada masa depan dan cita-citaku.
Beberapa tahun aku lalui, dengan luka dan perih yang aku balut dan ku obati sendiri. Sampai tiba saat yang aku tunggu-tunggu. Aku menyelesaikan kuliahku dan memulai bisnis dengan sebuah perusahaan ternama.
Berkat semangat dan kerja kerasku, kerja sama tim serta dukungan dan doa dari kedua orangtuaku. Perusaan tempatku bekerja kini berhasil melebarkan sayapnya, dengan mendirikan beberapa cabang perusahaan di beberapa kota yang berbeda.
Atas prestasi kerja yang aku miliki, bos besar perusahaanku pun menunjukku untuk menjadi atasan atau bos disalah satu cabang perusahaannya.
Aku bersyukur, usahaku untuk bangkit dari keterpurukan kini mulai menuai hasil yang menjanjikan.
"Selamat siang bu Tia." Kata seorang security di kantor baruku.
"Ada yang ingin melamar pekerjaan bu, sebagai office boy atau OB." Lanjut security itu.
"Serahkan CV nya pada bagian HRD untuk segera dilakukan interview." Kataku.
Singkat cerita si pelamar pekerjaan itupun mendapatkan posisinya dan sudah diterima menjadi office boy di kantor yang aku pimpin.
Keesokan harinya, seperti biasa aku selalu meminta disiapkan secangkir kopi dimeja kerjaku untuk menemani pagiku.
Tok tok tok!
Bunyi pintu ruang kerjaku diketuk.
"Masuk..." Kataku mempersilakan.
"Maaf bu, saya mau antar kopi pesanan ibu." Kata seorang office boy kepadaku.
Office boy itu tampak masih canggung dan sungkan kepadaku.
"Oke, taruh saja disitu, makasih ya." Kataku sembari menunjukkan tempat, dimana kopiku harus diletakkan.
Tanpa menoleh padanya, aku tetap fokus pada pekerjaanku, dan memeriksa beberapa dokumen yang harus aku tanda tangani.
Seperti ada yang aneh, aku merasa ada yang terus memprhatikanku sejak tadi. "Apakah dia office boy itu?" Gumamku dalam hati.
Karena merasa risih akupun mengambil sebuah benda didekatku.
*Plak plak dug jeder...
Ku pukulkan sebuah kayu pemukul yang aku pegang saat itu.
"Ampun bu Tia, sakit bu, jangan pukul saya lagi bu!" Ucap office boy itu memohon.
Sambil menahan sakit karena aku pukuli, office boy itu membungkukkan badannya dan terus meringis.
"Kamu ngapain ngawasin saya?" Kataku dengan suara lantang.
Office boy itu hanya diam dan terus menunduk.
"Jawab!" Kataku sedikit membentak.
"Ma..maaf Tia, ini aku Ferdy." Kata office boy itu.
Tiba-tiba nafasku menjadi sesak, dadaku terasa sebak mendengar nama itu lagi.
"Ka..kamu." Kataku terbata.
Ya, dia adalah laki-laki yang telah mematahkan hatiku tanpa perasaan beberapa tahun yang lalu.
"Iya Tia, ini aku." Katanya menegaskan.
"Kamu hebat ya sekarang, menjadi bos disebuah perusahaan besar kayak gini." Tutur Ferdy memujiku.
Aku hanya terdiam tanpa sepatah katapun yang terucap dari mulutku saat itu.
"Maaf, kalau sudah selesai silakan keluar. Pekerjaan saya masih banyak!" Hanya kalimat itu yang keluar dari mulutku.
Dengan wajah yang lesu, Ferdy pun bergegas meninggalkan ruangan kerjaku.
Hari-hari berlalu aku lewati sebagai seorang bos dari Ferdy, sang mantan kekasihku yang hingga kini belum ada yang bisa menggatikkan posisinya.
Aku dan Ferdy bagaikan dua orang asing yang tidak pernah saling mengenal sebelumnya.
Sampai disuatu hari aku mendengar sebuah fakta yang tidak pernah aku ketahui.
"Assalamu"alaikum bu, gimana keadaan ibu?" Kata Ferdy bicara dengan seseorang disebuah sambungan telepon.
"Ibu jangan khawatir, Ferdy sudah kerja lagi sekarang, kenapa bu? bos Ferdy? beliau baik sekali bu alhamdulillah, ibu tenang saja jangan banyak pikiran, Ferdy disini baik-baik aja kok. Kata Ferdy lagi, yang sepertinya mendapat beberapa pertanyaan deteleponnya itu.
Tak lama kemudian, Ferdy menutup telepon dan menyudahi pembicaraannya.
"Eh bu Tia, maaf bu tadi saya angkat telepon dari ibu saya." Kata Ferdy yang terkejut menyadari kehadiranku.
Aku hanya menganggukkan kepala dan bersikap dingin.
Tiba-tiba ada rasa penasaran dalam diriku untuk bertanya, dan mengetahui apa sebenarnya yang terjadi pada hidup Ferdy.
"Ibu kamu sakit?" Kataku bertanya.
"Iya bu." Jawab Ferdy singkat.
Sepertinya Ferdy sudah mulai terbiasa dengan sikap dinginku.
"Kalau saya boleh tau, ibu kamu sakit apa?" Tanyaku penasaran.
"Ibu saya punya riwayat sakit jantung." Jawab Ferdy dengan wajah sedih.
"Oh gitu, semoga cepet sembuh ya." Kataku prihatin.
Ferdy hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
"Em...pulang kerja nanti, kamu ada acara gak?" Tanyaku lagi.
"Gak ada bu." Kata Ferdy menjawab seperlunya.
"Oke, kalau gitu saya mau kamu temenin saya ngopi di café X." Kataku lagi.
"Dan saya tidak menerima alasan atau penolakkan." Tegasku sembari bergegas meninggalkan ruang pantry.
Ketika waktu pulang tiba, Ferdy sudah berdiri di parkiran kantor, nampaknya dia sudah menungguku.
Akupun menghampiri Ferdy, dan memberikan kunci mobilku agar dia mengemudikannya.
Lima belas menit kemudian, kamipun sampai di café X.
Kami memesan dua cangkir kopi dan mulai mengobrol kesana kemari.
"Gak nyangka ya kita bisa ketemu lagi." Kataku disela-sela obrolan kami.
Untuk beberapa saat Ferdy terdiam tanpa kata.
"Mungkin Tuhan memberikan jalan, untuk sebuah masalah yang belum selesai." Jawab Ferdy serius.
"Belum selesai? bukannya kamu yang mengakhiri semuanya?" Kataku coba mengingatkan Ferdy.
"Itu karena bu Tia gak tau, apa yang sebenarnya terjadi dibalik semuanya." Lanjut Ferdy lagi.
"Ini udah diluar jam kerja kali, jadi jangan panggil aku ibu, panggil namaku aja." Ujarku.
"Iya Ti...Tia, Kamu gak tau kan kenapa aku mutusin kamu? padahal jelas-jelas waktu itu kita udah saling cocok dan perasaanku sama kamu...ah sudahlah. Sepertinya akan percuma sekalipun aku menjelaskannya sama kamu." Tutur Ferdy.
"Lho kenapa? kamu gak mau aku tau? kamu gak mau masalah yang belum selesai itu menemukan ujungnya?" Kataku mencecar Ferdy.
"Oke, aku akan cerita, tapi aku harap kamu gak akan marah ataupun menyesal mendengar ini." Kata Ferdy.
ceritapun dimulai!
"Jadi seminggu sebelum aku nemuin kamu dan mutusin kamu, papa kamu datang menemui kedua orangtuaku, papamu mengancam akan membuat hidup kedua orangtuaku hancur kalau aku tetap berhubungan sama kamu." Terang Ferdy.
"Papa kamu juga bilang, kalau aku gak pantas menjadi kekasih, apalagi menantu dari keluarga terpandang seperti keluarga kamu. Sampai akhirnya ayahku jatuh sakit karena terus kepikiran, karena itu, dengan berat hati aku terpaksa ninggalin kamu." Terang Ferdy lagi.
Sementara aku masih setia mendengarkan cerita dan penjelasan Ferdy.
"Enam bulan setelah kejadian itu, Ayahku meninggal karena penyakit yang dideritanya, sedikit harta yang kami punyapun perlahan habis digunakan untuk pengobatan ayah. Menerima kenyataan pahit itu, ibuku sempat mengalami serangan jantung. Akhirnya aku memilih berhenti kuliah dan bekerja apa saja selagi halal, untuk membantu memenuhi kebutuhan ibu dan juga aku." Air mata Ferdy mulai membias membasahi pipinya.
"Itulah alasanku ninggalin kamu dulu, karena aku tidak mau menjadi beban pikiran untuk kedua orangtuaku. Meski kini hanya tersisa ibuku saja." Lanjut Ferdy lagi.
Melihat Ferdy menitikkan air mata, tangisku pun ikut pecah tak dapat ku bendung.
"Sekarang kamu udah dengar kan penjelasanku? Aku harap kamu bisa memaafkan aku, walau tidak mungkin untuk kita bersama sebagai seorang pasangan lagi, setidaknya aku lega karena kamu udah tahu yang sebenarnya.
Aku tertunduk dan terdiam sejenak.
"Tapi Fer, bukannya saat itu kamu mesra-mesraan sama Selena ya? dia pacar kamu kan setelah aku?" Tanyaku.
"Dia adalah orang pertama yang tau, tentang kedatangan papa kamu ke rumahku. Karena saat itu Selena sedang mengantarkan baju untuk dijahit oleh ibuku. Terlepas dari semua itu, Selena sendiri adalah adik sepupuku." Jawab Ferdy.
"Jadi semua itu.....?" Kataku terhenti.
"Semua itu hanya pura-pura, agar kamu membemciku dan melupakanku dengan mudah." Kata Ferdy.
"Dan sampai detik ini, belum ada yang bisa menggantikan posisi kamu dihati dan hidupku Fer." Ucapku seraya menangis tersedu.
Ferdy menyeka air mataku dengan tangannya, dan aku langsung menghamburkan diri kedalam pelukkan Ferdy.
Satu tahun kemudian kamipun menikah, dengan perjuangan yang tak mudah, kami harus meraih restu papaku, sampai akhirnya keajaiban datang dan keadaan berpihak pada kami.
Papa menyerah dan berhenti memepertahankan egonya, papa sadar, bahwa harta dan tahta bukanlah sebab utama bagi kebahagiaanku.
Terimakasih ya Allah, kini aku bahagia bersama Ferdy yang telah resmi menjadi suami sahku. Walau badai sempat menerjang kisah asmara kami dengan sangat kencang, namun aku bersyukur, karena pada akhirnya aku dan Ferdy dapat bersatu kembali.
Itulah secarik cerita dari lembaran kisah asmaraku.
Terimakasih sudah membaca,
With love
Author.