Setelah ditinggalkan pacarku,Aku menjadi bosnya dan dia baru mengetahuinya setelah Aku memecatnya.
Hari ini kebetulan Aku ingin mengunjungi toko sembako milikku yang kupercayakan pada seorang sahabatku.Rudi,teman sejak kecil yang sudah kuanggap sebagai saudaraku membantuku mengendalikan semua perputaran barang di toko yang baru 3 tahun ini Aku rintis.Semua itu lantaran Aku sibuk dengan usaha kuliner yang sudah lebih dulu Aku tekuni.
Aku sangat percaya pada sahabatku itu.Kami sama- sama besar dari kampung kecil disebuah desa terpencil.Dulu Aku hanya seorang kuli serabutan di kampung yang penghasilanya tak seberapa.
Bapakku sudah tua dan sakit-sakitan sehingga membutuhkan banyak biaya untuk berobat.Ibuku pun tidak bekerja karena kakinya sering sakit,asam urat,begitu diagnosa dokter waktu Aku periksakan.
Kami tinggal di sebuah gubug reot yang sudah lapuk termakan usia.Dindingnya yang terbuat dari anyaman bambu sudah bolong di sana-sini sehingga terasa dingin saat musim hujan tiba.Ingin rasanya Aku memperbaiki dan membuatnya menjadi layak huni,namun apa daya bisa memberi makan orang tuaku 3 kali sehari saja sudah bersyukur.
Hingga suatu hari Bapak harus meninggalkan kami untuk selamanya.Memang kematian adalah takdir,tapi seandainya Aku memiliki uang yang banyak mungkin Bapak tidak akan pergi secepat ini.Karena Aku bisa membawanya berobat ke rumah sakit. Bak disambar petir,Aku sangat terpukul karena kepergianya.Aku selalu menyalahkan diriku atas kepergian Bapak.Namun Ibu senantiasa menguatkanku."Ini semua sudah jalanya nak,kamu harus kuat untuk melanjutkan hidupmu yang masih panjang ."Begitu nasihatnya.
Sebulan sepeninggal Bapak Aku berniat merantau ke kota untuk merubah perekonomian kami.Saat kuutarakan niatku itu,Ibu sempat melarangku.Namun Aku meyakinkanya dengan sabar.Ditambah kesediaan Rudi untuk membantu menjaga Ibu membuatku sedikit lega jika harus meninggalkan beliau untuk waktu yang lama.
Rumah Rudi bersebelahan dengan rumah kami.Selama ini keluarga Rudilah yang sering membantu kami saat kami kesusahan.
Dua tahun merantau di kota akhirnya Aku beranikan diri untuk membuka warung makan sederhana.Dengan modal secukupnya yang Aku kumpulkan dari uang gajiku setelah sebagian Aku kirim untuk Ibu di kampung,Serta berbekal pengalamanku selama bekerja disebuah rumah makan sejak 4 tahun silam.Usaha kuliner yang Aku rintis tidak serta merta berjalan mulus.Sempat mengalami keterpurukan.Namun berkat kegigihan dan kerja keras akhirnya warung sederhanaku bisa berkembang hingga menjadi sebuah restoran.Itu semua juga tidak lepas dari do'a Ibuku serta dukungan Rudi sahabatku.
Dari hasil restoran itu Aku mampu membangun gubug reot peninggalan Bapak menjadi sebuah rumah besar yang nyaman.Meskipun Aku sudah memiliki tempat tinggal di kota,Ibu tidak mau Aku ajak tinggal bersama karena beliau tidak ingin pergi dari rumah yang penuh kenangan itu.Karena restoran juga tidak bisa Aku tinggalkan akhirnya mengharuskanku seminggu sekali berkunjung menengoknya.Sekalian memantau toko sembako yang Aku bangun di jalan raya menuju kampungku.Sejak awal buka,toko sembako dikendalikan Rudi.Sengaja sebagai balas budiku padanya karena sudah banyak membantuku dan Ibu.Pengalamanya dibidang perniagaan tak bisa diragukan lagi.Terbukti toko sembako yang dikelolanya semakin lengkap dan menghasilkan keuntungan yang besar.Karena sebelum memegang toko sembako milikku dia sudah memiliki toko sembako di depan rumahnya.Namun karena musibah kebakaran yang menimpa,Rudi harus kehilangan satu-satunya mata pencaharianya.
Setiap jum'at restoran kuliburkan.Selalu kumanfaatkan momen itu untuk menemui Ibu sekalian mengecek lapiran toko.Itu sudah menjadi rutinitas beberapa tahun ini.
Sengaja kali ini Aku mampir dulu ke toko sebelum mengunjungi Ibu.Ada hal penting begitu yang dikatakan Rudi tadi ditelepon.
Saat Aku memarkirkan mobil di depan toko,dari dalam mobil Aku melihat seorang wanita sedang memaki seorang ibu berpakaian lusuh yang sedang menggendong anak kecil.Aku segera menghampiri mereka."Mulai hari ini Aku tidak ingin melihatmu lagi di sini !!"Sarkasku pada wanita yang melarang ibu berpakaian lusuh itu masuk toko.
"Maaf Anda siapa ya ?,berani-beraninya memecat saya.Lagi pula ibu ini tidak pantas masuk toko ini,lihat saja pakaianya saja compang-camping.Mana mungkin dia punya uang untuk belanja di sini !"Sinisnya panjang lebar,membuatku semakin geram dengan tingkah pegawai satu ini.
Kericuhan itu membuat semua orang yang ada di dalam toko keluar karena penasaran.Tak terkecuali Rudi yang dari tadi terlihat sibuk melayani pembeli.
"Ada apa ini ?,egh kamu sudah datang rupanya Andi !".Ucapnya setelah melihatku yang masih berdiri di depan toko.
"Andi,ini kamu.Apa kamu masih ingat Aku ?"Imbuh Lastri,salah satu pegawai toko yang baru saya pecat.Aku terdiam sejenak.Kuhembuskan nafas dengan kasar saat ingatanku tertuju pada peristiwa 6 tahun silam.Semakin jengah Aku melihat wanita itu.Wanita yang pernah menjalin asmara denganku,wanita yang pernah berjanji akan hidup bersamaku dalam suka dan duka.Namun hanya karena ada laki-laki kaya yang meminangnya,dia tega meninggalkanku.Memakiku karena kemiskinanku.Tepat dihari Bapak menghembuskan nafas terakhirnya.Ibarat sudah jatuh tertimpa tangga.Sungguh sakit hatiku saat itu,bagai disayat sembilu.Namun dari peristiwa menyakitkan itu Aku mampu bangkit dan menjadi orang yang berhasil.
"Ya,Aku ingat."Balasku malas
Segera Aku perintahkan pegawai lain untuk mengajak ibu dengan anak kecil digendonganya masuk toko dan membiarkanya mengambil semua yang diperlukan.
"Andi,sebaiknya kita selesaikan masalah ini di dalam saja." Sela Rudi mencairkan suasana.Pria itu juga baru tahu kalau Aku mengenal Lastri,pegawai yang baru 2 bulan bekerja di toko.Pasalnya Aku tidak pernah menceritakan hubunganku dulu dengan Lastri kepada Rudi maupun orang tuaku.Rencananya Aku akan cerita saat Aku akan melamar gadis itu.Namun sayang,sebelum Aku mengenalkan Lastri pada keluargaku gadis itu malah meninggalkanku.
Wajah Lastri pucat saat Rudy menjelaskan bahwa Aku adalah pemilik toko ini.Dia sangat menyesal dan berusaha merayuku agar Aku menarik kembali kata-kataku.Namun nasi sudah menjadi bubur,perlakuannya tidak bisa Aku maafkan.Wanita sombong itu harus diberi pelajaran agar bisa menghargai orang lain.Dan tidak merendahkan orang miskin.