Dan di sinilah akhirnya aku berada. Tepat disamping pria yang telah lama bertahta di hatiku. Sejak empat tahun lalu, saat kami masih belum saling mengenal, saat kami masih sama-sama berstatus sebagai mahasiswa baru.
Wajahnya terlihat pucat dengan mata yang sembab dan hidung yang memerah.
Tangannya masih memegang sebuah buku yang diberikan oleh sahabatku, Winda.
Aku merasa bersalah telah membuatnya menangis.
Aku tersenyum tipis saat melihat tangan kanannya mulai bergerak membuka buku diary hitam berukuran A5 yang telah menemani hari-hari ku selama lima tahun ini. Tebalnya buku itu, hanya bertuliskan curahan hatiku yang tak sanggup aku ceritakan pada siapapun termasuk ke lima sahabat ku.
Tatapan matanya begitu nanar melihat tiap kata yang aku rangkai menjadi kalimat, yang tersusun menjadi sebuah paragraf ditiap lembaran kertas putih beradu garis hitam itu.
********
21 Maret 2017
Dear-Diary
Untuk pertama kalinya aku jatuh hati pada seseorang. Dia sekelas denganku. Dan cowok paling tinggi di kelasku. Dan terutama, aku suka dengan sikapnya yang tenang dan damai.
Atau apa mungkin itu hanya first impression saja padanya?
Namun jujur, setelah dua tahun tidak membuka hati untuk laki-laki, ini pertama kalinya aku tertarik dengan seseorang.
Hanya saja, sayangnya aku belum tau nama cowok itu.
Diary, apa aku benar-benar jatuh hati padanya?
********
Jemarinya bergerak membuka lembar berikutnya lagi.
********
22 Maret 2017
Dear-Diary
Hari ini kelas dimulai dengan perkenalan. Aku sudah tau nama cowok itu.
Malik Syahputra.
Namanya keren. Seperti orangnya hihi.
Diary, sepertinya benar. Aku memang menyukainya.
********
Pria itu tersenyum simpul dengan bibir yang bergetar menahan tangisannya. Jemarinya masih saja bergerak membuka lembar demi lembaran buku diary yang aku tulis di tahun 2017.
Hingga akhirnya lembaran itu berpindah pada curhatan ku di tahun 2018.
Sesekali dahinya berkerut, entah sedang memikirkan apa.
********
3 Agustus 2018
Dear-Diary
Menjelang hari kemerdekaan, jurusanku mengadakan lomba debat yang harus di ikuti oleh semua kelas. Masing-masing kelas mengirim 3 orang peserta.
Salah satunya dia, Malik.
Dari bangku penonton, aku tak bisa berhenti berdecak kagum dengan segala argumen yang dia lontarkan.
Satu kelebihan yang bisa aku lihat darinya yaitu dia adalah laki-laki yang cerdas.
********
20 Agustus 2018
Dear-Diary
Tepat setahun lebih empat bulan berlalu, perasaanku padanya tak kunjung pudar.
Jujur saja aku capek karena telah lama menyukainya dalam diam. Namun aku juga tak bisa mengakui perasaanku.
Aku terlalu malu untuk mengatakannya.
********
25 September 2018
Dear-Diary
Ada mahasiswi pindahan di kelasku. Dia gadis yang cantik dan juga Sholehah.
Dari tutur katanya terdengar cerdas.
Dan terutama dia rajin salat.
Bukan berarti aku juga tidak rajin salat.
Tapi masalahnya, ia terlihat dekat dengan si Malik.
Mereka berdua terlihat sepadan.
*********
Masih saja terasa sakit, kala mengingat kedekatan mereka yang hanya bisa aku pandangi dari jauh. Selalu saja yang aku pertanyakan "Kenapa bukan aku tapi malah dia?"
Tapi aku juga cukup tau diri.
Malik terus membaca setiap isi buku diary ku.
*********
15 Juni 2019
Dear-Diary
Detik berganti menit, menit berganti jam, jam berganti hari, hari berganti bulan dan bulan berganti tahun.
Semua kian berubah.
Tapi semakin berjalan waktu, ada satu yang aku sadari tak pernah berubah. Yaitu perasaan ku.
*********
20 Juli 2019
Dear-Diary
Ada seseorang yang mengajak aku untuk ta'aruf.
Dia bahkan berniat untuk segera melamar ku setelah proses ta'aruf itu.
Bagaimana ini diary? Aku bahkan tak bisa melirik pria lain selain dia.
**********
26 Juli 2019
Dear-Diary
Setelah bercengkrama pasal ta'aruf itu dengan keluarga ku. Mereka menolak dengan halus niat baik pria itu dengan alasan aku yang masih sekolah.
Dan dia juga mengerti, namun yang aku khawatirkan, dia siap menunggu untuk aku.
**********
20 Agustus 2019
Dear-Diary
Sedih rasanya ketika tau, mereka telah menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih.
Pantas saja selama ini mereka terlihat sangat akrab. Walau masih menjaga batas akan norma Agama.
Bagaimana ini diary? Apa memang sesakit ini untuk mencintai seseorang?
*********
2 September 2019
Dear-Diary
Pria itu kembali menghubungi ku.
Dia mengatakan lagi keseriusannya untuk melamar ku.
Dia bahkan mengatakan siap untuk membiayai sekolahku hingga aku lulus.
Apa yang harus aku lakukan diary? Aku masih terselimuti oleh perasaan sepihak ini.
*********
10 September 2019
Dear-Diary
Aku putuskan untuk menolak pria itu (lagi).
Jujur takut juga untuk menolak seseorang yang telah berniat baik. Tapi mau bagaimana lagi?
Aku tidak ingin menjalin hubungan saat perasaanku hanya tertuju pada orang lain.
Egoiskah aku?
*********
"Maafkan aku, fiq," ujarnya pelan tapi masih bisa terdengar olehku.
Aku menggeleng pelan seraya tersenyum padanya, "Bukan salahmu," balasku. Dia masih terus membuka lembar demi lembar kertas itu.
*********
3 Januari 2020
Dear-Diary
Kembali lagi aku bertemu dengan ruangan yang serba putih ini.
Ruangan yang dulu sempat membuat aku gila karena harus terkurung di dalamnya selama sepuluh hari, dengan segala pengobatan yang harus aku terima.
Sakitku kian parah, kata dokter.
Tapi aku tetap yakin, suatu saat aku akan sembuh total.
Banyak pasien kanker diluar sana yang rajin berobat dan masih bisa terus menjalani aktivitas diluar sana.
Beberapa tahun ini, aku merasa telah membaik. Lalu kenapa harus jatuh sakit lagi Tuhan?
*********
3 Februari 2020
Dear-Diary
Hai, lama tidak menulis diary lagi.
Tak terasa juga, telah lama aku berada di rumah sakit ini.
Jika kalian bertanya, bagaimana kuliahku?
Jawabannya, semua berjalan sesuai takdir Tuhan.
Aku mengerjakan segala tugasku dari rumah. Beruntung dosen-dosen ku mengerti akan kondisiku saat ini.
Thanks to God.
*********
25 Februari 2020
Dear-Diary
Entah sudah berapa kalinya aku menjalani kemoterapi.
Rambutku yang dulunya lebat, kini kian menipis bahkan hampir botak.
Rasa sakitnya yang kadang tak bisa ku tahan sering membuat aku kehilangan kesadaran.
Semakin lama disini, semakin aku bisa melihat gurat kesedihan dari keluarga ku. Walau aku telah meminta mereka untuk tetap tersenyum.
Aku akan baik-baik saja. Aku yakin.
*********
21 Maret 2020
Dear-Diary
Apa kabar kamu?
Semoga Tuhan selalu melindungimu.
Kau tau, kian lama, aku kian merasa takut.
Takut akan hari dimana aku harus kembali ke sisi Tuhan.
Meski awalnya aku selalu semangat untuk sembuh, tapi jujur saja, rasa takut juga selalu menghantuiku.
Aku takut harus meninggalkan orang-orang yang aku sayangi. Paman, Bibi, kakak, keluarga besarku, sahabat-sahabatku, dan Malik.
Benar! Aku masih mencintainya hingga saat ini.
Jangan tertawakan aku karena kebodohan ini.
Aku berharap dan selalu mendoakan agar dia dan perempuan itu akan selalu berbahagia dengan hubungan mereka.
********
Malik mengepalkan tangannya hingga memerah, kala membaca kalimat terakhirku pada tanggal 21 Maret itu. Aku tidak tau kenapa.
Hanya saja, aku merasa dia berusaha untuk menahan emosinya.
Aku hanya bisa menatapnya dengan tersenyum tipis.
Dia melanjutkan kembali membaca isi diary ku hingga masuk ke bulan April. Di sana, ada ungkapan perasaan ku untuk terakhir kalinya pada orang-orang yang aku sayangi, termasuk dia.
********
3 April 2020
Dear Malik.
Jika kamu membaca kata-kata ku ini, itu berarti aku telah berada jauh dari kamu.
Maafkan aku yang telah mencintai mu selama ini tanpa izin.
Sejak awal, aku tak bisa menghapus perhatian ku dari dirimu.
Maafkan aku yang selalu menyebut namamu dalam sujud ku.
Aku selalu berusaha meminta balasan perasaan darimu pada Tuhan kita. Tapi mungkin aku memang tidak ditakdirkan untukmu.
Mengetahui hubungan mu dengan Tiara adalah cerita yang menyedihkan bagiku. Sangat sesak bagiku setiap kali melihat kalian berdua.
Bodoh kan aku?
Tapi itu kenyataannya. Sekali lagi, maafkan aku.
Semoga kamu selalu bahagia, jangan pernah lupa kewajiban kita sebagai hamba Tuhan.
Aku mencintaimu, adalah pernyataan yang aku harap bisa aku lisankan saat Tuhan merestui kita bersatu dalam hubungan suci.
Terimakasih telah menjadi cinta terakhirku selain cinta pada Tuhan dan Ayahku.
*********
Malik meneteskan air matanya. Tanpa sadar aku pun ikut menangis.
Aku menangisi nasib yang telah Tuhan gariskan di hidupku ini. Kehilangan seorang Ayah diusia belia. Ditelantarkan oleh ibu kandungku saat dia memilih keluarga barunya. Dihadiahi penyakit ganas yang merusak bagian otak ku. Dan diberi rasa cinta sepihak yang terpendam selama bertahun-tahun.
"Maafkan aku rafiqah. Maafkan aku," ujarnya yang kesekian kalinya.
Dia menutup buku diary berwarna hitam itu dengan tangan yang bergetar. Curahan hatiku berhenti pada tanggal 3 April tahun 2020.
Tahun dimana seharusnya aku bisa menggapai gelar Sarjana Strata 1, kini gelarku hanya sebagai seorang Almarhumah.
Satu yang ku sadari, apapun yang kita punya di dunia, termasuk perasaan sekalipun, hanya akan sampai berada di dunia. Tak ada gunanya di akhirat.
Malik menatap nisan dari tempat terakhir ku dengan lekat. Entah apa yang sedang pria itu pikirkan. Hingga, perhatiannya teralihkan padaku.
Aku terkejut melihat tatapan matanya itu.
"Apa dia sadar ada aku di dekatnya?"
"Apa dia bisa melihatku?"
Segala pertanyaan muncul di benak ku.
Dia hanya diam membisu dan masih tetap menatapku dengan lekat. Hingga perlahan bibirnya bergerak melisankan sesuatu tanpa suara.
"Aku juga mencintaimu, Rafiqah."
Seketika aku tak bisa menahan air mataku. Mereka lolos begitu saja dipipi saat aku bisa membaca gerak bibirnya.
Itulah pernyataan yang selalu aku idamkan akan terlontar dari mulutnya.