Sepasang kekasih berjalan berpegang tangan sambil menikmati udara lingkungan sekitarnya. Banyak pasangan mata yang menatap mereka terlebih lagi mereka menjadi perhatian orang sekitar karena keromantisan mereka. Kedua pasangan itu tidak mempedulikan orang-orang yang melihatnya seperti itu, mereka bodo amat sama orang-orang itu, yah seperti dunia milik berdua.
Mereka duduk di kursi yang lumayan jauh dari orang-orang, perempuan di samping laki-laki itu menyenderkan kepalanya di bahu laki-laki itu. Adrea, nama perempuan itu dan laki-laki di sampinganya itu Revan. Mereka telah menjalin hubungan selama 4 tahun, lama. Tapi jangan kalian pikir kalau selama 4 tahun itu mereka tidak bertengkar, iya, setiap hubungan pasti di kasih tantangan, yang namanya jodoh itu tidak akan kemana-mana seperti mereka.
"Rev nanti aku mau kerumah nenek sama Abang. Kamu mau ikut? Sekalian minta restu sama nenek, kamu katanya mau minta restu kan sama nenek untuk pernikahan kita bulan depan?"
"Maaf Re, hari ini aku engga bisa aku harus mengantar mamah kerumah sakit untuk check up, hari ini jadwal mamah." Rea mengangguk mengerti, ia tidak boleh egois apa lagi menekankan kehendak Revan untuk ikut ke rumah nenek.
"Iya udah gak papa, titip salam ya sama mamah. Udah ayo kita pulang, bentar lagi mau gelap." ajak Rea untuk pulang, karena hari sudah gelap.
"Ayo!" seru Revan, menggandeng tangan Rea lalu memasukkannya ke kantong Hoodienya dan mengelus tangan Rea dengan jari jempolnya, hal itu yang paling di sukai Rea entah mengapa itu membuat dirinya semakin nyaman dan aman.
Selama di perjalanan kedua pasangan itu tidak membuka suara, hanya ada suara radio yang menemani mereka selama di perjalanan. Mobil Revan berhenti didepan rumah Rea yang tidak terlalu besar.
"Kamu mau mampir?" tanya Rea pada Revan. Laki-laki itu menggeleng kecil.
"Kapan-kapan aja, salam sama Bunda dan Ayah ya." Revan mengacak rambut Rea membuat perempuan itu menghembuskan nafas kasarnya.
"Suka sekali buat berantakan." cibirnya membuat Revan terkekeh lucu.
Rea keluar dari mobil Revan, ia tersenyum manis menatap Revan. "Iya udah balik sana." usirnya dengan tangan yang ia kibaskan.
"Iyaa, bye cantik." pamitnya lalu menjalankan mobil dengan kecepatan sedang. Ia melirik kaca spion yang memperlihatkan Rea telah masuk kedalam rumah, setelah memastikan Rea telah masuk dengan perlahan laki-laki itu menancap gas dengan kecepatan tinggi.
***
"Masih lama Mah? kalau masih aku tinggal sebentar kekantor mau tanda tangan berkas yang belum aku kerjain tadi."
"Iya sudah, kamu ke kantor saja biar mamah pulang sama supir." balas Mamah.
Kini Revan sedang menunggu giliran mamah untuk check up, dan setelah itu mereka bisa pulang tergantung juga dengan mamah.
"Engga nanti mamah telepon aku aja, intinya aku yang jemput mamah!" ucapnya yang tidak ingin di bantah. Setelah itu Revan pamit sama mamah untuk berangkat kekantor yang lumayan jauh dari rumah sakit.
Sesampai Revan di kantor, ia segera berjalan cepat menuju lif lalu memencat tombol lantai 9 karena di sanalah ruangan Revan berada. Lif telah terbuka Revan masuk ke dalam ruangannya terlihat berkas menumpuk di atas mejanya.
Laki-laki itu memijat pelipisnya yang terrasa pusing, "Huff banyak sekali berkas ini. Libur dua hari aja sudah numpuk seperti ini bagaimana libur 1 bulan untuk honeymoon dengan Rea? Ahh, ia tidak bisa bayangkan itu.
Revan mulai membaca berkas dengan teliti, ia tidak boleh ceroboh apa lagi tertinggal satu kata di berkas itu bisa-bisa perusahaannya bangkrut. Tangannya memutar-mutarkan pulpen yang berada di jarinya dengan lincah.
Jam menunjukkan 08.00 sudah satu jam Revan berkutat dengan berkas-berkas yang berada di mejanya, ia baru saja menyelesaikan 10 berkas, terlebih lagi harus ada yang di revisi sedikit.
Handphone genggam Reva berbunyi dan bergetar di atas meja, laki-laki itu melirik layar ponselnya tertara nama Mamah yang meneleponnya. Ia langsung mengangkat panggilan itu.
"Halo mah?"
"Mamah sudah selesai, kamu masih di kantor?" tanya mamah di sebrang sana.
"Masih mah, aku otw jemput mamah tunggu ya." Revan mematikan panggilan tanpa menunggu jawaban dari sang mamah.
Saat berkendara, mata Revan sangat berat. Mungkin dari pagi Revan tidak beristirahat selalu beraktivitas dan menyelesaikan pekerjaannya, siang hari? Ahh itu jadwalnya untuk pergi dengan Rea. Malam ini akan ia habiskan untuk tidur, biarkan saja dengan berkas di kantornya yang masih menumpuk.
Tidak sengaja Revan menutup matanya membuat mobilnya tidak seimbang, berliku-liku. Tiba-tiba lampu hijau berganti dengan lampu merah yang artinya berhenti tapi Revan sangat enggan untuk membuka matanya.
BRAKK
Bunyi yang sangat keras dan kencang itu membuat pengendara berramai-ramai menghampiri mobil Revan. Mereka menghubungi ambulan sebagiannya membantu Revan keluar dari mobilnya. Darah mengalir di kening Revan, tangan yang tergores karena pecahnya kaca depan dengan kaki yang sedikit ketekuk karena bagian depan mobil sudah hancur lebur.
***
Seorang perempuan berlari sangat cepat melewati koridor rumah sakit, air matanya terus mengalir. Ia terus berlari dan tidak mempedulikan orang-orang yang ia tidak sengaja tabrak. Sampai di IGD terdapat Mamah dan Papah menunggu di sana. Rea menghampiri mereka.
"Mamah, Papah." panggilnya, kedua orang itu menoleh karena suara familiar yang memanggil mereka.
"Rea?" mamah memeluk Rea, dan saat itu juga tangis Rea semakin pecah. Mamah mengusap punggung Rea agar calon menantunya berhenti menangis.
"Revan tidak apa-apa, hanya saja kata dokter... Revan lumpuh tidak permanen karena benturan yang tidak terlalu keras. Dan dokter bilang setelah satu minggu Revan keluar dari rumah sakit, Revan harus ikut terapi agar kakinya kembali seperti semula."
Hal itu tentu saja membuat Rea terkejut, "Revan udah sadar mah?" tanya Rea pada mamah. Mamah mengangguk menjawabnya, "Rea masuk dulu ya mah."
Rea membuka pintu dengan perlahan, ia melihat Revan yang menangis terisak tanpa suara. Rea mendekati Revan yang tidak menyadari keberadaannya, tangannya mengusap rambut Revan dari belakang karena posisi Revan membelakanginya.
Merasakan ada sentuhan, Revan menghapus air matanya lalu menoleh ke Rea, laki-laki itu membuang pandangan matanya. Ia tidak tau dengan pikirannya saat ini, mungkin Rea akan meninggalkannya, siapa juga yang mau dengan pria lumpuh? pikir Revan
"Kenapa? Kamu mau membatalkan pernikahan kita kan?" tanya Revan membuat Rea kebingungan dengan pertanyaan yang di lontarkan oleh laki-laki itu.
"Maksdu kamu apa Rev? Aku engga mau membatalkan pernikahan, aku engga mungkin ninggalin kamu di posisi seperti ini. Aku bukan wanita yang seperti kamu pikirkan saat ini," ucap Rea panjang lebar, Revan melirik Rea dengan tatapan teduh.
"Kamu engga malu dengan keadaanku seperti ini?" tanya Revan sambil melihat kakinya.
Rea tersenyum, sebelum ia menjawab ide bagus muncul di pikirannya. "Aku sebenarnya malu sama keadaan mu tapi ya mau gimana lagi." ucapnya dengan datar, tapi siapa sangka Rea berusaha menahan tawanya ketika melihat perubahan muka Revan.
Revan tersenyum kecut, "Hh, benar," gumamnya yang masih bisa di dengar oleh Rea. Cukup Rea tidak bisa melihat Revan seperti ini, ia tidak ingin menyakiti Revan dengan perkataannya.
"Hahahaha.." tawa Rea terlepas membuat Revan kebingungan. "Rev, aku hanya bercanda jangan seperti itu, muka kamu lucu kalau di tekuk hahahaha."
Revan mencebikkan bibirnya kesal, "Gak lucu Rea!!"
"Iya, iya, maaf ya? Calon suami aku yang ganteng ini mana boleh di sia-siakan," ucapnya sambil mendekatkan wajahnya dengan wajah Revan. Lalu mencium kening Revan. "Aku engga akan ninggalin kamu, Engga akan pernah sampai maut memisahkan."
"I Love You"
"I Love You Too. Dan terimakasih telah menerima keadaanku seperti ini."
~TAMAT~
Wouhhh!! Engga sad end lagi kan? Aku mahh baik kali ini aja.
Jangan lupa like dan komen ya!! Lop sekebun buat kalian💖🤍💙🤎♥️🤍💕🖤💜💝💛💗💞💓❣️❤️🧡💘💚🌹🍬🍭🍫