Ela W.
Siapa Aku?
Seperti biasa aku selalu melihat Key duduk termangu di bangku panjang berwarna merah lusuh di belakang sekolah, sesaat setelah lama menunggu ia seperti sedang berbicara dengan orang lain namun tanpa wujud, sebelumnya aku merasa bahwa Key memiliki kelainan jiwa, karena selain sering berbicara sendiri ia kerap sampai tertawa terbahak-bahak. Hal ini dilakukannya setiap jam istirahat sekolah, tapi tidak banyak yang tahu tentang kebiasaannya, mengingat memang tidak ada siswa yang suka menghabiskan waktu di belakang sekolah sama seperti yang selalu Key lakukan.
"Key," pada suatu ketika aku mencoba menyapa dan ingin tahu sebenarnya apa yang sedang ia perbuat dan bersama siapa dirinya di sana.
"Iya?" sahut Key spontan usai melihatku seperti sangat kaget.
"Ada apa?" tanyaku tanpa basa basi,
"Gak ada, gak ada apa-apa." Key terlihat kebingungan dan mencari sesuatu, menoleh kesegala arah namun tidak ada jawaban.
"Kenapa sih?" aku bertambah penasaran.
"Gak, gak apa-apa, eh iya kamu, ada apa?" Key mengembalikan pertanyaanku.
"Gak, emh ... cuma mau ngobrol aja tadinya." aku mencari alasan untuk menyahuti tanyanya.
Key adalah sosok pendiam yang kukenal sejak SD, kami memang selalu sekelas sampai SMA, tapi aku tidak terlalu dekat dengannya, selain memang tidak suka bergaul Key juga tidak banyak bicara, diajak berkomunikasi pun ia lebih banyak diam dan menjawab singkat. Aku tidak tahu kenapa, yang kudengar hanya ia ditinggalkan oleh ibunya sejak dilahirkan dan hidup bersama ayah juga bibinya. Key memang berbeda dari anak pada umumnya kala itu, ia terbilang sangat cekatan dalam menerima pelajaran, kelewat pandai. Bisa dibilang seperti itu karena ia bisa menghafal 3 lembar halaman buku dalam sekali membaca, aku tidak tahu dari mana kelebihan itu ia dapatkan. Key aneh menurutku, ia menjadi sangat pendiam dan tertutup saat dalam keramaian namun bisa tertawa terbahak bahak kala sedang sendiri, aku bahkan kali pertama mendengar tawa lepasnya sejak ia masuk ke sekolah SMA ini.
Hari itu aku sangat penasaran dan mengikuti Key tanpa sepengetahuannya, ia duduk lalu seperti biasa akan membaca buku. Aku bersembunyi dibalik pohon mangga yang tidak jauh dari tempat Key duduk. Sambil memegang sebuah buku ia mulai membaca dan tak lama setelah itu.
"Hai, dari mana aja? Biasanya udah standby." ia membuka pembicaraan seperti telah didatangi seseorang tapi sebenarnya tidak ada siapa pun di sana.
"Aku gak tahu kalau kamu juga hobby baca," ujarnya sambil menatap kesamping kiri dengan senyum semringah yang sebelumnya tidak pernah kutemui darinya.
"Kapan kita bisa jalan?" pintanya mulai bernada manja, bulu kudukku merinding, jangan-jangan ia sedang berbicara dengan mahluk halus. Aku kemudian berjingkrak diam-diam meninggalkan pohon mangga yang mejadi pelindung persembunyianku, aku mulai merasa takut dibuatnya. Tidak sampai di situ aku juga mulai tahu kebiasaan buruk Key bahwa ia senang keluyuran malam tanpa sepengetahuan ayah dan bibinya, yang lebih mencengangkan lagi ia melakukan hal yang tidak pernah kusangka sebelumya. Key ternyata wanita yang sangat liar, aku berniat melaporkan ini pada ayahnya tapi aku belum punya bukti, aku harus kembali membintutinya kapan kapan agar bisa mengambil bukti dari aksinya, namun sebelum itu semua dilakukan aku mesti bertanya terlebih dahulu apa alasan Key sehingga menjadi seganas itu.
"Key, aku kembali mendatangi Key di belakang sekolah saat istirahat sedang berlangaung, ia menoleh sinis kemudian tersenyum, terlihat sekali bahwa senyum itu ia buat sangat terpaksa.
"Iya, kenapa?" katanya setelah bergeser yang artinya ia mempersilahkanku duduk di sampingnya.
"Kamu ... Di sini ngapain sih?" aku berbasa basi.
"Emh, ngadem aja sih, enak gak ribut gak kayak di depan." kami sempat diam karena aku bingung mau bicara apa kepada orang yang memang kurang menanggapi seperti Key.
"Key ...." ia menoleh dan memainkan alisnya.
"Kamu, aku ... Semalam," aku kebingngan.
"Kenapa semalam?" Key masih terlihat santai.
"Aku ngeliat kamu."
"Iya, kenapa aku?"
"Kamu ...." (treeeeeeng) bel sekolah tanda masuk sudah berkumandang membuat percakapanku harus bersambung, Key langsung berdiri dan memunguti bukunya.
"Yuk, udah bell tuh." ajaknya santun. Aku menganggi gugup lalu mengekori langkahnya, kenpa Key tidak terlihat kaget mendengar aku melihatnya, apa yang sebenarnya terjadi pada kejiwaannya, apakah ia memang memIliki kepribadian ganda atau memang aku yang salah lihat. Tapi aku sangat yakin bahwa semalam yang keluar dari jendela kamar Key adalah Key sendiri.
"Lis, kenapa sih akhir-akhir ini kamu lebih sering menyendiri dan suka pergi ke belakang sekolah?" ya, aku biasa dipanggil Lisa. Dian baru saja menegurku karena memang sudah lama aku tidak berinteraksi dengannya, sekitar dua bulanan terakhir mengobrol saat sama-sama mendatangi sebuah acara yang akupun sudah lupa acara apa, yang kuingat hanya setelah pulang dari acara tersebut aku bertemu Andri teman lamaku yang sudah sekitar 4 tahun lamanya kami tidak berjumpa, dan saat bertemu ia menewariku obat pelangsing yang menurutku manjur.
"Lis, Lisa." Dian menghamburkan isi pikiranku, aku tergugu dan lupa akan pertanyaan Dian tadi.
"Kenapa Di, ah udahlah kita masuk kelas aja, udah bell tuh." ujarku mengajak sambil berjalan cepat menjauhi Dian, aku menyadari memang semakin hari aku merasa semakin pelupa, kadang hal yang baru saja kubahas begitu saja dilupakan.
Malam ini aku memiliki misi untuk mengikuti perjalanan Key, tidak lupa kubawa hp untuk merekam segala kejadian dari aksi Key yang kemarin sempat kulihat. Aku sengaja bersembunyi dibalik tumbuhan hias di depan rumahnya untuk bersiap, benar saja tak lama setelah itu Key keluar dari kaca jendela, aku mulai merekam dan mengikuti Key hati-hati agar ia tidak menyadari keberadaanku. Tak lama seperti biasa Key pergi ke warung remang-remang untuk membeli sebotol minuman dan dibawanya ke gubuk sepi yang tidak jauh dari sana kemudian aku melihat ada pria datang menyusul. 1 jam berlalu mereka baru keluar sambil merapikan baju dan rambut, sebelum pergi laki-laki yang bersama Key memberikan uang kertas padanya. Setelah keduanya menjauh aku lantas pergi untuk pulang dan rencananya besok akan kulaporkan perbuatan Key pada ayahnya, ini mungkin akan menyakiti hati om Bayu, orang tua tunggal Key, tapi ia memang harus tahu agar Key bisa diawasi.
Tak menunggu lama pagi-pagi betul aku langsung pergi ke rumah Key dan merelakan untuk bolos sekolah.
"Lis, sarapan dulu," panggil mama sebelum aku berlalu.
"Nanti saja ma."
"Lis tunggu!" mama terlihat sakit, matanya berair dan agak sedikit bengkak.
"Mama kenapa?" tanyaku setelah menolah padanya.
"Nak, akhir-akhir ini kamu hampir gak pernah makan, ada apa sayang, apa kamu sakit?"
"Gak ma, aku cuma gak nafsu untuk makan aja." jawabku dan memilih pergi usai menjelaskan, mama memang tertlihat tidak seperti biasanya, ia sering menangis namun aku tidak pernah sempat menanyakannya.
Tok ... tok ... tok ... Aku mengetuk pintu rumah Key perlahan dan bibi Key datang membuka pintu.
"Hai Lis, tumben kamu, ada apa?" tanya bibi Key padaku.
"Gak apa apa bi, tadi Lisa lewat sekalian mampir, om Bayu ada?" aku basa-basi.
"Ada, Lis kamu kurusan ya."
"Iya bi, Lisa diet. Oh iya bisa panggilin om Bayu, Lisa ada perlu."
"Penting banget ya? Ya udah sebentar ya." bibi pergi meninggalkanku di ruang tamu. Aku merasa de'javu karena sepertinya pernah datang dalam keadaan gelisah seperti ini ke ruang tamu di rumah ini.
"Lisa, apa kabar." om Bayu muncul dengan sapa senyum yang merekah.
"Baik om, om gimana kabar?" aku menjawab pertanyaan om Bayu dengan santun.
"Key udah berangkat om?" tanyaku padanya, bukannya menjawab om Bayu justru terlihat kebingungan dan saling pandang dengan bibi.
"Emh, Lis ...."
"Om, gak usah dijelasin aku paham kok." potongku sebelum om Bayu mengatakan detail.
"Minum dulu Lis," suguh bibi, wajahnya terlihat mulai memucat. Kami sempat diam tanpa bahasa, aku menikmati minuman rasa jeruk yang dibuatkan bibi baru saja untukku.
"Bi ..."
"Lis," om Bayu memotong sapaanku. Aku menoleh kepada om Bayu yang sepertinya ingin mengutarakan sesuatu.
"Lis, Key kan sudah tidak ada sebulan yang lalu, bukankah kamu sendiri yang mengantarkan jenazah Key ke rumah, dia kecelakaan saat pulang sekolah." Aku sedikit ternganga tak percaya.
"Tapi om, Lisa punya buktinya kok." Aku masih beranggapan om Bayu seperti itu karena tidak percaya bahwa putri semata wayangnya bukan wanita baik-baik, om Bayu sudah mendengar dari orang lain sebelumku.
"Bukti apa?"
"Bukti kalau Key masih ada dan semalam Lisa lihat sendiri Key berkelakuan tidak baik di luar rumah." Aku memberikan ponsel dan memutar vidio yang kurekam malam tadi, om Bayu menerimanya, bibi ikut melongo ingin tahu isi tersebut. Tak lama mereka kembali saling pandang merasa ada yang aneh.
"Lis, tapi ini hanya ada jendela kamar Key, dan yang kamu rekam hanya sepanjang jalan komplek yang sepi menuju taman depan. Aku sontak tak mempercayai perkataan om Bayu.
"Lis, kami sudah mengiklaskan kepergian Key, kamupun harus seperti itu, kami tahu kalian teman dekat tapi tidak ada gunanya jika terus menerus diingat." aku melamun, teringat memang sebulan yang lalu aku berada di antara kerumunan teman-teman di sini sambil menangis, tapi aku lupa benerkah aku menangisi kepergian Key, kepalaku sedikit berat memaksa mengingat kekadian bulan lalu. Dan, ya Key memang tertabrak mobil putih di depan gerbang sekolah kala itu, aku yang melihat langsung kejadian tersebut sangat shok dan trauma. Lama mengingat kemudian aku tersenyum, apakah aku sudah separah itu sampai tak ingat sedikitpun tentang Key, lalu siapa sosok perempuan yang kerap kutemui di belakang sekolah. (Deeert deeert) ponselku bersering, nomor mama bertengger. Om Bayu menyerahkannya padaku dan ...
"Hallo?"
"Bisa pulang sebentar nak?"
Di depan rumah kitemui mobil polisi sedang parkir, ada apa? Aku mempercepat langkah dan terburu buru, hawatir terjadi sesuatu pada keluargaku. Aku memasuki liang pintu dengan ketegangan dan kudapati mama sedang menangis.
"Ma," sapaku. Mama meraih tubuhku dan memeluknya begitu erat.
"Ada apa?" aku masih bingung.
"Maaf mba anda terduga kasus pemakai narkoba, nama mba tercatat di buku costumer Andrian." ujar salah satu polisi menjelaskan padaku Andrian adalah teman baikku saat SMP dulu namun terpisah setelah menginjak bangku SMA, sebulan yang lalu kami memang sempat bertemu dan ia menawarkan obat diet. Seminggu setelah itu aku memang merasa kecanduan, gelisah dan tidak percaya diri jika tidak meminum obat darinya, tapi setelah kembali menghubungi Andrean justru memintaku membayar seharga 2 juta untuk beberapa butir obat saja, aku menyanggupi demi jiwaku.
"Maksudnya Andrean pengedar narkoba?"
"Betul mba." sahut polisi lain yang tercatat nama Gustian di seragam coklat keabuan itu. Aku kaget dan tertawa geli merasa semua ini seperti lolucon, aku tidak percaya teman baikku justru menjebak kepada kebusukan, lalu siapa Key yang kurekam gambarnya itu, siapa aku dan kenapa aku? Aku mengikuti kedua bapak polisi tua tanpa memberontak sedikitpun, aku pasrah meski senyap senyap kudengar suara tangisan mama yang begitu pilu dan menahan kepergianku menuju mobil polisi yang sudah disediakan. Aku melupakan segalanya, memulai hidup baruku di tempat di mana banyak orang yang tidak mengenali dirinya sendiri. Aku berakhir dengan tidak lagi mengingat masa lalu juga tujuan masa depanku. Mama, om Bayu dan bibi mendatangiku yang sedang menyendiri menghirup udara segar di bawah pohon rindang, mereka tersenyum sambil membawakanku oleh-oleh dari luar, aku diam tanpa respon, aku merasa malu. Kulirik seluruh permukaan taman dan kulihat Key melambay dibalik tanaman hias tak jauh di belakang om Bayu, aku ikut melambai menyantuni sapaannya.
“Hai Key, kamu ikut? Sini!”
Tamat.