Duduk di kepala meja seperti biasanya, setelah menghirup kopi hitamnya, Abah kembali bertanya kepada Weli, yang duduk di samping Chalik: “Jadi nak Weli ini datang untuk bertemu kami pasti punya maksud dan tujuan kan? Bukan sekedar untuk berbasa-basi soal berita dan sebagainya kan?”
Weli yang aga kaget mendengar pertanyaan Abah kembali mengambil sikap duduk siap dan menjawab dengan sikap takjim: “Iya pak, saya mau minta izin Bapak dan Ibu untuk boleh mengenal Chalik lebih dekat lagi..”
Mendengar kalimat itu, tangan Chalik yang ada di pangkuannya diam-diam bergerak ke arah tangan Weli yang terkepal di samping badannya. Dan merekapun bergandengan tangan di bawah meja, siap mendengarkan keputusan Abah.
“Saya pada dasarnya ga akan menghalangi kebahagiaan anak sendiri. Saya percaya Chalik sudah cukup dewasa untuk bisa menutuskan apa yang terbaik buat dirinya sendiri. Tapi memang, untuk menunjukan kesungguhan dan keseriusanmu mendekati anak bontot saya ini, ada sejumlah hal yang perlu nak Weli tunjukkan kepada kami.” jawab Abah dengan perlahan. Tidak tampak raut marah atau jengkel pada wajahnya dan hal tersebut membuat Chalik dan Weli aga tenang.
“Namun, nak Weli mungkin pernah mendengar kalimat bijak: ‘Yang didapat mudah adalah murahan dan akan mudah pula dilepaskan’, nah anak bontot kami ini bukan anak murahan, jadi nak Weli perlu menunjukkan keseriusan dan kesungguhan hati untuk bisa mendapatkan Chalik. Kami perlu nak Weli yakinkan, bahwa nak Weli ini benar-benar niat membahagiakan anak kami.” tambah Abah lagi.
Nyak dan Chalik hanya mampu terdiam. Menyadari dan mensyukuri kebijaksanaan Abah. Sementara Weli aga kebingunngan dengan apa yang harus dia katakan dan lakukan untuk meyakinkan kedua orang tua Chalik tentang kesungguhan hatinya.
“Baik pak, saya siap melakukan apapun yang bapak dan ibu perintahkan dan memenuhi semua persyaratan yang diminta, selama itu tidak melanggar ajaran agama dan ketentuan hukum yang berlaku” akhirnya Weli bisa berkata.
“Tidak ada cara mudah dan cepat untuk meyakinkan kami nak Weli. Kepercayaan itu bukan hal yang instan. Akan terbentuk sendiri seiring waktu. Cuma perlu saya ingatkan, Chalik ini berasal dari keluarga besar yang sangat menyayangi dan melindungi satu sama lain. Kalau saja suatu saat ada yang mendengar kabar, anak kami ini tidak diperlakukan sebagaimana seharusnya dan entah bagaimana ia merasa disakiti, maka bukan hanya saya sebagai Abah-nya yang akan turun tangan, tapi juga segenap keluarga. Jadi mumpung belum ada hubungan apapun di antara kalian berdua, sebaiknya nak Weli pikirkan lagi matang-matang akan dibawa kemana hubungan kalian nantinya. Supaya tidak ada salah paham dan kami juga tidak mengharapkan yang tidak seharusnya.” Abah kembali berujar dengan panjang dan lebar.
“Baik pak, kalau boleh jujur, saya sudah memikirkan matang-matang tentang niat saya mendekati Chalik. Setelah mengenal Chalik dan sifat serta sikapnya, saya mulai mempertanyakan bagaimana saya bisa hidup selama ini tanpa Chalik dan saya juga merasa tidak akan bisa hidup normal lagi tanpa Chalik pak. Mungkin terkesan gombal, tapi saya sudah pernah memohon dan mendapat Hidayah ketika berzikir setelah Sholat Tahajud, saya tidak mau kalau hanya mengikuti jiwa muda dan ketertarikan fisik semata. Wajah Chalik muncul mengikuti doa saya mengenai pasangan ideal yang saya panjatkan. Lalu saya juga sudah memohon doa restu orang tua saya dan mereka meminta saya mengecek sendiri bagaimana kondisi dan keadaan Chalik serta keluarganya, yang saya temukan adalah kesempurnaan, baik dari sisi hartawan, rupawan, keturunan mulia dan yang paling utama adalah kuat agamanya.” jawab Weli dengan sungguh-sungguh membuat hati Chalik semakin berbunga-bunga.
Abah berpandangan dengan Nyak sekilas dan ia pun mengangguk-angguk, namun tetap tidak kuasa untuk memalingkan wajahnya kepada anak bontot-nya dan bertanya: “Nah loe sendiri bagaimana Chalik? Loe demen sama anak ini?”
“Seperti yang Abah dan Nyak tau, selama ini Chalik belum pernah dekat sama laki-laki di luar keluarga kita. Kalau ditanya perasaan, Chalik memang suka sama Weli, selama ini dia baik sama Chalik dan ga pernah kasar sama siapapun. Keluarganya juga baik dan taat sama agama. Kalau Abah dan Nyak ga ada masalah, Chalik seh mau aja mencoba mengenal Weli lebih dekat lagi.” jawab Chalik perlahan dengan pipi yang memerah.
“Yah, kalian manfaatkanlah kepercayaan yang kami kasih ini ya! Semoga Tuhan memberkati niat baik kalian berdua, kalau emang jodoh ga akan kemana katanya..” akhirnya Nyak bersuara juga dan dengan tersenyum memandang Abah yang kemudian beranjak masuk ke dalam kamar bersama. Mungkin untuk sholat Ashar bersama.
“Mau sholat Ashar bareng? Ada Musholah di dekat sini. Kita sholat di situ yuks! Abis dari situ kita ke pasar malem di dekat-dekat sini juga, kemaren penyelenggara pasar malem minta izin sama Abah dan sepertinya diizinkan asal tetap jaga trantibum..” ajak Chalik kemudian.
***
“Kita naik itu yuks Chal!” ajah Weli menunjuk ke arah kincir ria sederhana yang walau terlihat sederhana namun tetap kokoh berdiri.
“Aman kah itu Weli? Kog seperti yang mencurigakan ya keamanan-nya?” tanya Chalik meragu.
“Anggap uji nyali aja.. lagian kan ada Weli yang akan melindungi Chalik kalau memang ada apa-apa..” jawab Weli.
“Hadeuh ada yang narsis bin ujub neh..” ujar Chalik menanggapi.
(Keterangan: Ujub adalah perilaku atau sifat yang mengagumi diri sendiri dan juga membanggakan dirinya sendiri. Sifat ujub ini merupakan sifat tercela yang harus dihindari setiap orang terutama umat muslim, karena bisa membuat seseorang menjadi sombong dan riya).
“Enggak lah Chal, bergurau aja saya.. kalau memang Chalik ga mau naik itu, ya ga apa-apa juga.. saya cuma ngerasa permainan kincir ria itu romantis aja. Konon kalau kita bisa berciuman di tempat tertinggi pada kincir ria, cinta kita katanya akan abadi.” sanggah Weli semakin mendekatkan diri pada Chalik dan menyampaikan kalimatnya dengan setengah berbisik di telinga Chalik, yang membuat semburat merah menghiasi wajah cantiknya.
Dan di sinilah mereka, di puncak tertinggi kincir ria sederhana ala pasar malam di daerah Kramat Jati, Jakarta Timur.
Kedua tangan Weli menggenggam kedua tangan Chalik dan mereka duduk berhadapan, karena memang bangku pada kincir ria sederhana ini relatif sempit. Hanya muat untuk 2 orang dewasa. Mendekati posisi tertinggi pada kincir, Weli menarik tangan Chalik agar wajahnya semakin mendekat.
Dan ketika sudah dalam jangkauannya, tangan kanan Weli menyentuh dagu Chalik dan mereka pun berciuman dengan sungguh-sungguh, sampai membuat darah keduanya memanas, walau udara tetap sejuk terasa di kulit mereka.
***