Aku Mitha aku sekarang berusia 16 Tahun, Aku saat ini sedang belajar di sebuah sekolah menengah atas di Jakarta.
"Mitha Apa kau sibuk hari ini?" Tanya Allan teman sekelas ku. Dia selalu mengejar ku, Aku merasa jijik dengan sikap nya yang tidak pernah menyerah mengajak aku bertemu atau mengikutiku.
"Maaf Allan ! Aku sudah bilang aku tidak ingin kamu terus saja mendekatiku!" Ucapku sambil melempar buku ke atas meja belajarku. Ya, Sekarang aku sedang berada di kelasku.
"Mitha! Aku sangat mencintaimu! Aku tidak akan menyerah!" Ucap Allan membuat aku Frustasi, lalu aku menyimpan ransel ku di atas meja dan duduk tanpa memperdulikan Allan.
Allan yang merasa di abaikan pun pergi begitu saja seperti biasanya.
"Oh ayolah Mitha! Apa kamu tidak kasihan dengan Allan? Dia sudah mengejarnya dari lama!" Ucap Aretha teman sebangku ku.
"Huh, Ayolah Ar aku benar benar lelah! Kau tahukan aku menyukai Denis!" Ucap ku tersenyum sambil melihat ke arah Denis yang sedang bermain basket diluar.
"Hey dia itu playboy! dari sudut manapun Allan lebih bagus dari si Denis itu!" Ucap Aretha.
"Heyy! Dari mana kau melihat itu? Lihatlah Denis begitu tampan, Tinggi! Dan juga dia pandai bermain basket, Sedangkan Allan?" Tanyaku pada Aretha.
"Hey Allan itu sempurna! Dia bahkan pandai dalam semua pelajaran! Dia juga cukup tampan jiga dipoles sedikit!" Ucap Aretha sambil terkekeh.
"Sudahlah Aretha!" Ucapku pada Aretha mengakhiri obrolan kami karena guru sudah memasuki kelas kami.
__
Sepulang Sekolah.
"Mitha pakai ini!" Ucap Allan memakaikan jaket di pinggangku. Aku ingin sekali melempar jaket milik Allan namun Allan berlalu dengan cepat.
"Huh sudahlah!" Akupun menggunakan jaket Allan di pinggangku setiba di rumah aku ke kamar mandi dan.. "Yg Sial!" Ucapku melihat tamu bulanan sudah datang. Akupun segera mengecek rokku dan terlihat bercak merah disana. Akhirnya aku mengerti apa yang di lakukan Allan.
Seminggu sudah berlalu setelah kejadian hari itu, Dan itupun sudah seminggu aku merasa tenang karena tidak ada Allan yang selalu menggangguku, karena sudah seminggu Allan tidak masuk sekolah.
Aku bertanya pada teman Allan kemana dia karena aku ingin mengembalikan jaket milik Allan. Namun semua temannya tidak ada yang tahu.
Dan begitulah setiap hari sehingga aku merasa kehilangan sesuatu, Seperti kosong. Biasanya setiap pagi ada yang mengatakan perasaan cinta yang konyol dan siang hari akan mengajak makan atau jalan bersama, sedangkan sekarang tak ada orang itu.
"Huh" Aku menghela nafas kasar melihat ke bangunan sekolah milikku. Aretha yang berada di sampingku pun bertanya.
"Kau kenapa? Apa sekarang kau menyesal karena Allan tak ada? Kau merasa kesepian hah?" Tanya Aretha meledekku.
"Sudahlah Ar kau benar benar menyebalkan! Lebih baik bantu aku cari si Allan itu agar aku bisa mengembalikan jaket miliknya!" Ucapku kesal.
Kami pun menanyakan alamat Allan ke wali kelas dan wali kelas pun memberikan kami alamatnya dengan syarat harus melaporkan apa yang terjadi dengan Allan dan kamipun setuju.
Setiba di rumahnya terlihat sebuah bangunan putih megah dengan halaman yang luas.
"Seriously? Ini rumah Allan? wahhhhh besar sekali!" Ucap Aretha semangat. ya akupun tidak tahu kalau Allan merupakan orang kaya karena di selalu berangkat ke sekolah menggunakan sepedanya.
Kami pun memencet bel yang ada disana Dan seorang satpam menanyakan tujuan kami.
"Kenapa Dek?" Tanya satpam tersebut.
"Pak saya mau bertemu dengan Allan! apa benar ini rumah Allan?" Tanyaku pada satpam tersebut.
"Ah pasti teman den Allan ya?" Ucap satpam itu namun ekspresinya berubah sedih seketika.
"Iya pak kami teman Allan, apa Allannya ada?" Tanya Aretha.
"Den Allan sedang di rawat di rumah sakit, Ia belum pulang sudah seminggu, jika adek adek ini mau melihat den Allan bisa langsung ke rumah sakit CN dan kalau tidak salah den Allan sekarang berada di ruang anggrek!" Ucap satpam itu.
Aku langsung mendadak lemas, Allan sakit? Kerumah sakit? apa yang terjadi pikir ku. Aku tidak tahu Allan sakit.
Setibanya kami di rumah sakit tepat di depan kamar anggrek dan disana terlihat Allan yang sedang terbaring tak berdaya, Aku pun meneteskan air mata.
Aku hendak memasuki ruangan itu namun di tahan oleh seorang wanita paruh baya.
"Nak? Siapa kamu? kenapa kamu mau masuk ke ruangan anak saya?" Tanya ibu itu, Ya aku mengerti, dia ibunya Allan.
"Halo Tante, aku Mitha dan ini Aretha, kami kesini ingin melihat kondisi Allan karena sudah seminggu ia tidak masuk sekolah!" Ucapku.
"Ah kamu yang bernama Mitha ya, Oh ya Allan memang sudah sakit sejak kecil, Sebenarnya kami baru saja mengurus surat keluar Allan dari sekolah, Oh iya Tante punya sesuatu untuk Mitha dari Allan!" Ucap ibu itu sebari merogoh tasnya dan mengambil selembar kertas dan menyuruhku untuk membacanya sendiri.
Kami pun berpamitan pulang pada ibu Allan. Setibanya di rumah aku langsung ke kamarku dan membaca surat yang di berikan Allan.
"Halo Mitha, Aku Allan. Mungkin saat kamu membaca ini kamu sudah tahu kondisiku. Mitha, Aku benar benar mencintaimu! Aku ingin kamu menjaga kondisimu dan selalu tersenyum cantik setiap hari! Aku akan selalu bersamamu mau di dunia ataupun disurga. Mitha, Aku mohon simpan jaket yang aku berikan padamu, Aku tidak tahu harus memberikan apa lagi, Haha aku mengatakan ini seolah kamu akan menerima saja! Ya pokoknya kamu mau terima atau tidak aku akan tetap senang dan berdoa yang terbaik untukmu! Mitha semoga kamu bahagia! Aku tidak tahu kapan tuhan akan memanggilku tapi selama aku hidup aku akan tetap mencintaimu gadis cantik dengan rambut hitam panjang yang selalu membuatku kagum, Semoga kamu benar benar tidak memiliki perasaan apapun padaku, Karena aku akan pergi untuk selamanya, Maaf ya sudah mengganggu hari harimu! Jangan lupa bahagia Mitha, Salam terakhir dari penggemar setianya Allan!" Aku pun meneteskan air mata dan menangis memeluk jaket Allan. Aku tidak tahu sejak kapan aku merasa Allan berarti untuk hidupku.
Aku mengambil jaket dan bergegas ke rumah sakit dan setiba nya disana semua orang yang ada di pintu kamar Allan sedang menangis, Aku pun berlari dan bertanya pada ibu Allan.
"Tante, Ada apa dengan Allan?" Ucapku panik.
"Allan sudah tiada! Hiks Hiks" Tangis ibunya Allan pun pecah dan membuat aku terduduk lemas di lantai mendengar hal itu, Aku terlambat. Aku terlambat membalas perasaan Allan, Aku terlambat memahami perasaanku.
Allan aku mencintaimu.Kau pria baik yang selalu menggangguku namun kau pria yang bisa membuatku kehilangan. Allan berbahagialah disana.