Saiapa sangka, sesuatu yang kesar bisa melindingi seusuatu yang lembut. Begitulah pikiranku setelah berhasil merawat bayi cantik, yang kutemukan di tempat sampah 8 tahun yang lalu. Perkenalkan namaku A, panggil saja begitu karena aku malas menjelaskannya, aku siswa laki laki disebuah sekolah yang cukup ternama. Kejadian itu terjadi saat hari kelulusanku, aku melihat sebuah keranjang berisi bayi yang menangis, disamping tempat sampah yang kotor. Setelah melihat beberapa lama dengan wajah kebingungan harus apa, akhirnya aku pura-pura tidak melihat apa-apa dan segera menuju sekolahku yang akan melakukan upacara kelulusan 15 menit lagi.
Di sekolah, seperti biasa aku yang tidak punya teman ini, hanya bisa memandang kumpulan 'cecunguk-cecunguk' yang asyik berfoto dan 'menghabiskan waktu' dengan sesuatu yang tidak penting' sambil menunggu guru kami datang membawa surat kelulusan. Saat guru kami datang, aku segera menurunkan kakiku yang kuletakkan di atas meja.
Satu-persatu murid di panggil, sampai akhirnya giliranku. Guruku memandangku dengan wajah tidak suka dan menyerahkan surat kelulusanku, aku tahu penyebabnya tapi lebih baik aku pura-pura lupa karena marah hanya akan menguras energiku dan aku tidak suka itu.
Setelah menerima surat kelulusan dan di nyatakan 'lulus' aku segera mengambil motorku dan pergi dari tempat yang seperti neraka ini. Akhirnya aku bisa bebas dari tempat itu setelah 3 tahun bersabar. Tapi entah kenapa langit justru tidak setuju dan menurunkan hujan lebat padaku. Aku segera meneduhkan diri di dekat kantin, disana aku bertemu seseorang yang sangat spesial untukku. Dia menghampiriku dan menanyakan apakah aku lulus. Aku hanya tersenyum kemudian pergi, tapi dia menghentikanku seolah tak mengizinkanku untuk hujan-hujanan. Ia kemudian membawaku ke belakang kantin dan memberikan ciuman padaku, sayangnya ciumannya bukan dengan bibir dapi kepalan tangan yang menghantam pipiku. "kamu kira aku akan membiarkanmu setelah apa yang kamu perbuat padaku beberapa bulan yang lalu" ucapnya sambil memandang tajam padaku.
Aku hanya tersenyum dan meninggalkannya, aku harus ingat janjiku untuk tidak berkelahi lagi. Tapi serangan yang ia berikan padaku setelah itu secara beruntun hampir membuatku melewati garis yang sudah aku pertahankan dengan gigih. Untungnya seorang pelayan restoran di dekat sana menemukan kami, dan membuatnya menjauh dariku. "dasar anak gak berguna!" ucap pelayan itu pada orang yang memukulku tadi. Tapi kata-katanya justru membuatku seperti di tusuk tombak. Aku kemudian segera mengambil motorku dan berjanjak pergi karena tidak tahan mengingat kata-kata pelayan itu.
Saat aku menyalakan motorku, pikiranku yang kosong tiba-tiba dimasuki oleh bayi yang aku temukan tadi. Aku segera menyalakan motorku dan menuju tempat bayi itu sambil menerobos hujan. Saat aku melihat keranjang itu, aku mengehela nafas. Aku bersyur tadi sempat meletakkan payungku di atas keranjang itu setelah melihat sedikit awan mendung di langit.
Setelah cukup lama melihat bayi itu, aku kembali menyalakan motorku untuk pulang. Tapi tangisan bayi itu terus menggangguku. Untungnya tidak ada orang disana. Karena tidak tahan dengan sifat kemanusiaanku, pada akhirnya aku membawanya ke rumah. Aku bingung apa yang harus aku lakukan, karena tidak pernah merawat bayi. Dan buruknya lagi, aku tinggal sendiri jadi tidak tahu siapa yang harus aku mintai tolong.
Aku memutuskan untuk membeli makanan yang bisa dia makan di toko dekat rumahku. Di toko tempatku menghabiskan uang untuk bayi itu, aku meratapi uangku yang hanya tinggal 15 ribu untuk satu bulan ini. Aku segera memberi bayi itu susu yang sudah aku beli, untungnya bayi itu mau meminumnya. Sesaat kemudian Bibiku datang.
Bibi membawa makanan yang cukup banyak dan membuatku senang. Kami kemudian makan bersama. Untunglah bayi itu tidak ribut pikirku. Aku berniat menanyakan cara merawat bayi pada Bibi setelah makan, akan tetapi perkataan Bibi membuatku ingin memuntahkan makanan yang aku makan tadi. Bibi mengatakan kalau aku harus segera mencari kerja dan tidak menyusahkan orang tuaku yang kerja di luar kota. Aku hanya tersenyum menahan rasa sakit yang menusuk jantungku.
Aku tahu, aku harus segera bekerja, tapi ini adalah hari kelulusanku, apakah tidak ada ucapan selamat untukku yang sudah berjuang selama 3 tahun ini pikirku sambil menundukkan wajah. Tiba-tiba bayi itu menangis dan menarik perhatian Bibi, Bibi terlihat kaget dan menanyakan dimana aku menemukan bayi itu. Aku kemudian menjelaskan pada Bibi hal yang terjadi sebelumnya.
Bibi terlihat cemas dan menyuruhku membawanya ke tempat dimana bayi itu bisa dirawat dengan baik. Aku kemudian mengangguk dan bersiap membawanya ke suatu tempat. Saat akan menuju tempat yang akan kami tuju, ayahku menghubungiku, aku segera mengangkatnya dan mendengarnya mengatakan "kamu sudah lulus hari ini kan? ayah tidak bisa menyekolahkamu lebih tinggi, lagian kamu tidak bisa apa-apa, lihat tetanggamu yang sudah berhasil dan menjadi orang hebat, jadilah seperti mereka, itu saja yang ayah ingin katakan" ucap ayah sebelum menutup teleponnya.
Dadaku sesak, aku sudah tidak tahan mendengar semua perkataan mereka lagi. Langkahku terhenti dan memeluk erat keranjang yang berisi bayi itu. Bibiku yang berjalan di depanku, menghampiri dan menanyakaan keadaanku. Aku hanya diam menahan air mataku yang ingin jatuh. tanganku yang dingin entah mengapa menjadi hangat setelah bayi itu menyentuhtanganku dengan lebut, ku lihat wajahnya yang polos dan tersenyum padaku.
"Bibi.. boleh aku merawat bayi ini" tanyaku pada Bibi yang dari tadi berada di sampingku. Bibi terlihat tidak setuju dan menanyakan "bagaimama kamu bisa memberinya makan? uang sakumu tinggal sedikit kan? kamu tidak akan bisa melakukannya, kamu juga belum kerja" ucap bibi dengan wajah khawatir.
"aku akan bekerja! aku akan belajar dengan giat! jadi tolong izinkan aku.." ucapku sambil memeluk keranjang itu. "lalu siapa yang merawatnya saat kamu kerja?" ucapan bibi menghentikkan pikiranku. Aku kemudian terdian dan menelan ludahku sebelum berkata "apa.. aku boleh menitipkannya pada bibi.. selama aku kerja?" ucapku memberanikan diri sambil mempersiapkan diri akan ditolak.
Bibi terlihat terkejut dan menghela nafas "kamu janji akan bekerja dengan giat?" tanya bibi yang membuatku sontak mengangkat wajahku yang penuh air mata. " Bibi setuju?" tanyaku heran. Bibi hanya tersenyum kemudian menepuk kepalaku "iya, Bibi percaya kamu akan bekerja dengan giat, karena kamu selalu menepati kata-katamu" ucap Bibi sambil tersenyum.
Mendengar perkataan Bibi entah kenapa hatijunyang tadinya hancur kembali utuh. Mungkin itu adalah kata-kata yang aku tunggu selama ini. Aku kemudian menangis kencang mengeluarkan semua perasaan yang selama ini aku pendam.
8 tahun berllau dengan cepat, aku berhasil menyelesaikan kuliahku sambil bekerja. Bayi kecil itu juga sudah tumbuh dewasa. Bibi membantuku setiap kali aku kerja untuk merawatnya. Dia tumbuh sehat dan ceria membuatku bersyukur dengan pilihanku. Setiap kali aku pulang ke rumah, suara langkah selalu terdengar menghampiriku. ya dia sudah besar sekarang dengan senyuman hangatnya.
dialah anjing kesayanganku yang cantik.