Andre menatap keluar jendela melihat padatnya lalu lintas di jalan raya, dihelanya nafasnya. Sudah beberapa tahun berlalu tempat ini juga berubah, mall terbesar di kota Semarang sudah tutup di jalan Pemuda itu. Saat ini dia duduk di balik kemudi mobilnya di pinggiran jalan melihat-lihat tak lama ia pun memutar haluan mobilnya menuju ke kota lama.Di sana dia memarkirkan kendaraan kemudian berjalan menyusuri tempat itu. Mengenang masa lalu.
Bel tanda usai sekolah berbunyi bersamaan Kerumunan anak-anak keluar dari kelasnya. Depan gerbang sekolah Andre sedang menunggu di atas motor matic miliknya. Memperhatikan anak-anak SMK Tunas Harapan bubaran. Nampak dari jauh Shanum berjalan beriringan dengan kawan-kawan nya tertawa ceria.
"Cie..yang dijemput.." Celetuk Sava.
"Enaknya udah ada si doi." Sahut Mai.
Shanum memandang sekilas ke arah Andre namun dia berjalan melewatinya segera Andre mendekat belum dia angkat bicara sudah...Duk. Duk. Beberapa tendangan mengenai tulang kering kakinya.
"Sudah kubilang jangan jemput aku lagi !" Hardiknya. Dengan wajah cemberut.
"Maaf. Namun aku ingin selalu jemput kamu, kan aku sekolah pagi. Dan kami sekolah sore kalau kemalaman kan bahaya. Ayolah jangan cemberut lagi. Hilang Lo nanti cantiknya." Bujuknya.
Andre adalah putra sahabat ibunya Shanum, keduanya bersahabat saat kuliah di Jogja kemudian berpisah karena mau bekerja di kampung halaman mereka. Entahlah takdir atau apa keduanya dipertemukan pada saat ajang kompetisi taekwondo kakaknya Shanum. Yang tak lain juga satu sasana. Sejak saat itulah mereka kembali merajut persaudaraan. Dan Andre sendiri entah kenapa sering antar jemput Shanum. Namun gadis itu risih diperhatiin seperti itu. Masalahnya kedua kakaknya tidak pernah memperlakukannya seperti itu.
"Hari ini ada keramaian pasar malam. Bukannya pasar malam ini adanya cuma menjelang ramadhan saja? Ayo kita pergi." Andre masih mengacuhkan mode marah Shanum. Pemuda itu langsung menggandeng tangan nya dan menyerahkan helm. "Pegangan kuat-kuat". Titahnya
Motornya melaju menuju pasar malam. Banyak stand makanan, bom bom car, tong setan, Komidi putar, bianglala dan juga wahana lainnya. Mereka berjalan beriringan berdua melihat-lihat suasana pasar malam di petang hari.
"Lihatlah banyak sekali suasana dan warna di sini." Bisiknya sambil tersenyum. Tangannya Andre menggenggam erat tangan Shanum. Mereka berjalan beriringan menuju stand makanan.
"Aku mau permen kapas." Kata Shanum dengan menatap penjual permen kapas itu. Andre membelikan sebuah permen kapas sedangkan Andre memilih makan siomay yang ditaruh di plastik. Mereka makan sambil mengitari berbagai stand dan juga naik ke berbagai wahana yang diinginkan oleh mereka.
"Lihatlah indahnya pemandangan sore ini. Ada cinta penuh warna." Tunjuk Andre dengan dagunya ke arah sepasang suami-istri dengan menggandeng anak kecil sedangkan balita yang digendong sang istri karena rewel.
"Menunggu waktu." Bisiknya dengan menunjuk ke arah lelaki penjual makanan tradisional yang menunggu pembeli.
"Cinta sepanjang masa." Lagi-lagi dia menunjukkan dengan dagunya ke arah sepasang lansia yang duduk di bangku taman pasar malam.
"Dan disini...." Shanum menolehkan kepalanya ke arah Andre, menatapnya. Cup. Cup. Dua kali kecupan ringan mendarat di bibir mungil Shanum. "Cinta pandangan pertama. Manis. Sangat manis." Lanjutnya kemudian dia mundur dua langkah. Shanum memandang tak berkedip menatap ke arah Andre.
Andre menggenggam tangan gadis itu dan terus melangkah menuju ke stand makanan lainnya. Mereka berjalan beriringan di tempat ini tanpa suara, dan hanya sesekali melempar senyum. Andre mengantar Shanum pulang ke rumahnya, dan kemudian ia langsung pulang ke rumah. Sebelumnya Andre meminta izin kepada orangtuanya Shanum untuk mengajaknya jalan-jalan ke pasar malam. Karena besuknya hari Minggu libur sekolah makanya mereka diizinkan untuk bermain bersama.
Satu pekan kemudian. Andre terpaku di depan rumah gadis yang dia hantar Minggu lalu. Bangunan itu kosong yang ada hanya tulisan yang menempel bertuliskan " RUMAH INI DI JUAL" CEPAT. Lewat perantara hubungi Bapak Taufik Telp. xxxxxxxxx . Dengan seragam putih abu-abu Andre menatapnya tak percaya.
"Andre?" Sebuah suara menyapa di telinganya. Pemuda itu menoleh menatap seorang anak laki-laki berdiri tak jauh darinya dengan menenteng gitarnya. Andre mengangguk dan pemuda itu pun mendekat.
"Aku David tetangga Shanum. Kakaknya bilang agar aku mengatakan ini sama kamu. Keluarga mereka pindah hari selasa. Mendadak memang, namun mau bagaimanapun lagi ? Ayahnya menadapat wasiat untuk meneruskan usaha orang tua lalu mereka pindah begitu saja. Surat-surat sekolah saja Ayahku yang mengurusi hal itu dan juga penjualan rumah ini. Shanum kelihatan sedih waktu pindahan, dan katanya bilang "Maafkan saya" hanya itu pesannya. Ga ada surat atau semacamnya." Katanya. Andre hanya mengangguk sambil tersenyum ia pun pamit pulang. Cinta yang baru mulai bersemi harus gugur layu sebelum berkembang, batinnya.
Dia melihat bangunan tinggi dan kuno di depannya dengan senyuman ia ingat dijalanan ini mereka berjalan bergandengan tangan. Menikmati jajanan pasar tradisional di pasar malam. Andre memilih duduk di bangku taman kota lama.
"Andre ? " Suara seorang lelaki menyapanya. Lelaki menatap ke arah depannya. Seorang lelaki seusianya berdiri didepannya. Menatapnya lekat serta berkata," Aku Noval temanmu? Kakaknya Shanum?" Andre berdiri seketika, ia ingat jika Damar memiliki saudara kembar Noval. Damar adalah kakak Shanum temannya berlatih taekwondo.
"Apa kabar mu? Maaf, aku lupa kamu!" Serunya bersemangat. Ini keberuntungannya akhirnya doanya sekian lama dikabulkan.
"Baik. Kebetulan anak-anak minta piknik jadi ya kesini aja yang mumer." Lanjutnya seraya menunjuk ke arah gerombolan seorang wanita dan anak-anak berjumlah empat.
"Anakku kembar, dua kali persalinan dua-duanya kembar", Katanya menjelaskan.
"O." Hanya itu yang keluar dari mulutnya.
"Shanum sudah menikah dengan kakak kelas sewaktu kuliah di Bandung dan menetap di Lembang. Dia menangis waktu itu saat kami pindahan ke Solo, dia bicara tentang kamu sama Damar pada saat kami berangkat pindahan."
"Iya aku mendapatkan pesannya. Aku maafkan aku juga sudah menetap di Jakarta. Aku mendapatkan kontrak kerja di sana salamkan saja padanya. Aku ke sini hanya mengenang masa-masa yang dulu. Orangtuaku masih tinggal di tempat yang sama." Jawab Andre menjelaskan.
"O, begitu. Aku menetap di Solo, Damar di Kalimantan dan Shanum di Lembang." Jelasnya mereka saling berbincang hal-hal yang ringan tanpa melibatkan tentang Shanum.
Gadis manis yang pernah menjadi tambatan hatinya pertama kali. Rupanya dia sudah menikah dan bahagia. Baguslah dia tidak merasakan bersalah karena dirinya juga sudah bertunangan. Nasib cinta pertamaku memang harus kandas sebelum di mulai, asalkan dia bahagia maka aku juga bahagia. Toh cinta tak harus memiliki.