Hujan pagi mengguyur bumi pertiwi, membuat sebagian orang yang sedang terlelap semakin enggan untuk terbangun, sebagiannya lagi harus terpaksa demi rutinitasnya atao tugasnya yang tidak bisa di tinggalkannya, sebagiannya lagi memilih untuk tidak menjadikan hujan maupun panas menjadi penghambat untuk tetap dapat bersemangat bangun pagi.
Defaz terbangun, bagi dirinya tidak ada alasan untuk bermalas malasan, meskipun di hari libur dirinya tetap terbangun seperti sediakalanya. Diluar rincik hujan masih begitu terasa, dinginnya cuaca di pagi hari membuat seakan menusuk ke tulang tulang rusuk. Defaz berdiri memandangi alam luar di balik jendela kamar, teringat dalam benaknya bagaimana keadaan Mira, wanita yang menjadi pujaan hatinya. Sementara Zidan masih tertidur pulasnya, mungkin karena semalam dirinya bergadang seorang diri hingga kantuk masih melandanya dan guyuran hujan semakin menina bobokannya hingga tubuhnya merasa hangat dan enggan tuk dapat terbangun pagi.
Defaz keluar kamar meninggalkan sahabatnya yang masih tertidur, di tujunya dapur untuk membuat segelas kopi sebagai penghangat tubuhnya. Sambil menunggu sahabatnya terbangun, Defaz melakukan gerakan gerakan kecil untuk membugarkan tubuhnya. Setelahnya Defaz terduduk di depan teras menikmati rinciknya gerimis yang membasahi dedaunan sekitar rumahnya dan rumah orang tuanya.
Mata Defaz nampak lurus kedepan, entah apa yang ada dalam pikirannya. Sontak dirinya terkejutkan dengan kehadiran Zidan yang tiba tiba sudah berada di sampingnya.
" Faz masak apa pagi ini, hujan gini bawaannya laperr" ucap Zidan.
" Loe ya udah ngagetin gua, yang di tanya malah makanan lagi, gua sengaja gak masak, kita sarapan di rumah nyokap gua aja pagi ini, tadi gua udah kirim pesan sama orang di rumah, kalao kita akan sarapan disana, makanya gua nungguin lo juga ini, yuk kita kesana sekarang?" ajak Defaz.
" Ok aja, ayooo, rumah ini gimana mo di kunci gak?, ada payung gak, masa mo ujan ujanan?" sahut Zidan.
" Kunci saja rumah ini, takutnya kita malah lama di sana, lo ambil payung ada di dasana," sahut Defaz sambil menunjukan telunjuknya ke arah dimana payung tersimpan. Setelah rumah terkunci keduanya berjalan menuju rumah orang tua Defaz, cuman butuh waktu beberapa menit saja, jarak rumah orang tuanya dengan rumah kecil yang di tempati Defaz.
*Kediaman orang tua Defaz.
Defaz dan Zidan sampai di rumah orang tuanya Defaz, keduanya menghampiri penghuni rumah tersebut, sudah tidak asing lagi memang, keduanya langsung saja menuju ruang makan, di sana di meja makan sudah tersaji beraneka macam hidangan masih tertata sengaja belum di rapikan. Ibunya sudah tahu kalao Defaz dan temannya Zidan akan sarapan di situ.
Setelah keduanya selesai sarapan, di hampirinya ibu dan ayahnya di ruang keluarga, hujan membuat mereka tidak melakukan aktifitas di luar rumah. Ketika mereka bergabung, mereka pun melakukan obrolan hingga terlihat akrab.
" Bu,, Defaz pergi dulu ya?" setelah sekian lama berinteraksi ngobrol kesana kemari dengan keluarganya akhirnya Defaz dan Zidan pun undur diri, pamit untuk kembali ke tempat tinggal Defaz.
" Faz, gue ntar nyampe rumah langsung pamit ya, gue mo ketemu Hanna mo kasihin hadiah kemaren," sahut Zidan sambil berjalan menuju tempat Defaz.
" Ok terserah lo aja ," balas Defaz.
Sesampainya di tempat Defaz, Zidan langsung bergegas ke kamar Defaz, mengambil sesuatu hal, kemudian mengeluarkan motornya, dan berpamitan kepada Defaz yang tengah asyik bersantai ria di ruang keluarga sambil menonton tv, selanjutnya keluar dan pergi dengan mengendarai motornya. Sejenak setelah kepergian Zidan nampak Defaz tetap asyik menonton tv menikmati kesendiriannya, baginya sudah terbiasa jika tidak sedang ada temannya yang menemaninya, lama kelamaan rasa bosanpun terasa, seketika suasana nampak senyap, dirinya beranjak melakukan kegiatan rutinitas sehari hari, baik itu menyapu, atao sekedar mencuci baju dan lain sebagainya.
Setelah semuanya di rasa sudah selesai, di rebahkannya tubuhnya untuk melepas lelahnya, kemudian kembali beranjak untuk mengambil ponselnya.
" Triing, ting, ting " suara kalao pesan yang di ketiknya dikirim.
" Met pagi Mir ?".
" Sekarang gimana dengan kesehatanmu ?".
" Aku kangen sehari tak jumpa dengan mu emoji tersenyum,".
" Aku ingin bisa ketemu dengan mu Mir?".
Diletakannya kembali ponselnya.
" Drrrr Drrrr ," ponsel Defaz bergetar, di ambilnya ponselnya hatinya sungguh senang, karena Mira membalas pesannya.
" Pagi juga ".
" Aku sudah agak baikan, ".
" Besok kayanya aku ke kampus juga,".
" Kita ketemu besok, di kampus ya emoji senyum,".
Membaca balasan Mira demikian, hatinya sungguh merasa bahagia meskipun sebenarnya dirinya sangat ingin menemuinya di rumah Mira, tetapi dirinya berusaha menjaga imejnya,
" Yesss," serunya sambil menggerakan tangannya.
Dirinya tidak dapat menemui pujaan hatinya di hari liburnya, akhirnya dirinya memutuskan untuk keluar rumah menghabiskan hari liburnya.
* Dikampus.
Di kampus Defaz menunggu Mira dengan gelisahnya, rasanya dirinya sudah sangat lama tidak bertemu dan berkencan dengan sang pujaan hati yang sampai detik ini masih bersetatus teman saja, baginya setatus taklah menjadikan sebuah alasan terpenting baginya bisa merasa bahagia bisa dekat dengan Mira.
Wanita yang sejak pagi di tunggunya akhirnya datang bersamaan dengan Rima.
" Wihhh pangeran sudah menunggu saja," celoteh Rima tersenyum, sementara orang yang dimaksud sudah sangat mengerti dan membalas dengan tersenyunm juga.
" Ya sudah aku duluan ya masuk kelas," Rima menoleh ke arah Mira setelahnya menoleh ke arah Defaz, Mira dan Defaz sama sama membalasnya dengan senyuman, Rima pun berlalu, tinggal keduanya saling bertatapan, jauh dari jarak keduanya Vino menatap tajam ke arah mereka, ada rasa cemburu di dalam hatinya, apalagi kabar yang berseliweran di hari Mira tidak masuk kampus karena sakit, membuat hatinya sedikit ragu kalao Mira dan Defaz benar benar tidak ada hubungan seperti apa yang dikatakan Mira, dirinya kini mulai termakan dengan gosip yang selama ini mengira kalao Defaz dan Mira adalah sepasang kekasih.
" Mir kamu yakin, sekarang sudah baikan?" tanya Defaz.
" Iya kenapa gto, ko kamu natapnya begitu sih, ada yang salah ya," jawab Mira agak sedikit kikuk.
" Cuman mastiin saja, aku kangen tao, memangnya gak boleh," timpal Defaz tersenyum dan sedikit cengengesan.
" Ke kantin yuku, masih ada waktu, sebelum masuk kelas," ajak Defaz sambil meraih tangan Mira dan menariknya pergi menuju kantin. Vino semakin di bakar api cemburu melihat sikap Defaz dirinya terus mengamati dari jauh dan mengikuti pergerakan keduanya, hingga membuntutinya pula ikut ke kantin.
Di kantin keduanya duduk dibangku panjang hingga pososi keduanya berdekatan sejajar, dipesannya minuman hangat dan makanan untuk sekedar pengganti sarapan pagi, walao keduanya sudah sarapan sebelum berangkat ke kampus. Keduanya asyik bercengkrama ngobrol, sikap Defaz kali ini nampak agresif membuat Mira merasakan sesuatu yang membuat hatinya juga merasa rindu, Defaz diam diam menjatuhkan tangan kirinya dan meraih tangan kanan Mira, hingga membuat Mira merasa grogi tidak karuan, buih buih rindu seakan ingin meyakinkan kalao keduanya memiliki prasaan sama, pandangan Defaz tetap pokus kedepan tanpa melirik ke arah Mira dan nampak tenang, sementara tangan kirinya tetap menggenggam erat tangan kanan Mira, Mira berusaha untuk melepaskannya namun Defaz seakan memberi sinyal untuk tidak dilepaskan, akhirnya Mirapun menyerah dan membiarkan semuanya berjalan apa adanya dan mengikuti aliran jiwa yang berkecambuk dalam dada, Mirapun mengeratkan genggaman tangan Defaz dan bersikap tenang sebagaimana yang diperlihatkan Defaz, keduanya secara diam diam saling berpegangan di bawah meja. Vino yang dari tadi membuntutinya semakin di bakar api cemburu, melihat keduanya nampak tenang namun dibawah meja yang mereka hadapi justru mereka sedang berpegangan tangan. Vino tidak bisa berbuat apa apa hanya bisa menyimpan rasa kecemburuannya dalam dadanya seorang diri saja.