Hari sabtu+Ranjang=Tarik selimut, yuk balik tedor!
Suara deringan ponselku. Kujamah benda tipis persegi panjang. Menyipit, mengeser tombol merah. Jangan ada yang berani ganggu aku!
Aku tengkurap menutup kepalaku dengan bantal, aku tahu apa yang terjadi selanjutnya.
Tak berapa lama pintu kamarku terjeblak!
"Momaaaaaaaa" bocah bulad aku ganti huruf 't' nya karna memang bulad bundar dan gemoy.
Ia berusaha menaiki ranjangku. Susah payah. Aku mengintip dari tidurku.
Berhasil ia merangkak naik ke atas punggungku. Menduduki dan melompat dalam duduknya kesetanan. "Momma ayooo main ayo main ayoh... ayoh..."
"Huh! Apa ini!" Membuka bantal pada kepalaku. "Benda apa ini bulad dundut dundut ini" Aku meraih kaki gempalnya. Druwdut meronta aku mengelitik bawah kakinya.
"Aaaa...momaaa... geli... kyahhahha"
"Siapa iniiii... momaaa gigit nanti... hmmm enak buat mamam" suara serakku membuatnya makin meronta.
Ia ingin kabur tapi kutangkap kedua kakinya lalu kutarik. Druwdut jadi terlentang kuserang dengan banyak kecupan di mukannya.
"Aaaa... momaa bauu... mandhi mandhiiii" jeritnya kegelian.
Kuserang perutnya, bruruuubb... bruuurb... bruubb... ia memukul-mukul geli.
Aku terduduk. Aku masih memegangi kakinya. Masih dengan acak acakan aku angkat kaki Andruw membawanya keluar dengan sibocah megelantung kepala dibawah.
Bukannya menangis, ini anak malah suka. Sampai ruang televisi aku letakan dia disofa sebelahan dengan emak dan bapaknya.
"Druw druw sini, aaaaaaa" Sang emak menyuapi anaknya yang sudah duduk dengan manis. Membuka mulutnya. Menyuapi puding susu karamel yang ia ambil dari kulkasku.
Aku hanya berdecak. Aku ke pantri, haus rasanya. "Pagi" Suara berat menyapaku.
Sesaat aku terpanah. Malaikat mana yang ada didapurku ini. Aku menelan salivaku. Ia menyerahkan segelas minuman berwarna merah.
"Minum" perintahnya. Seperti kerbau yang dicocok hidungnya, aku ikuti tanpa perlawanan. Aku tandaskan minuman itu.
Ia mendekat. Mengambil gelas itu, meletakkan pada pantri. Jempolnya membasuh sisa minuman yang ada di samping bibirku.
Ia semakin dekat! Merengkuh pinggangku. Merapatkan tubuhku padanya. Kepalanya mendekat. Aku terpaku.
"Aku suka view pagimu" Cayden menenggelamkan wajahnya dan mengecupi curuk leherku.
Aku menegang. Menahan nafasku. Menggigit bibirku. "Aku suka aromamu" Suara serak sensual.
Ia menjauh dari curuk leherku, wajahnya berhadapan dengan wajahku, jarinya menarik bibirku uang aku gigit.
Mengecup bibirku. "Bernafas, Arn" aku menghembuskan nafasku. Agak tersengal. Rona merah menjalar dari pipiku hingga telinga. Panas!
"Ddaaaa" tangan roti sobek bocah kecil lelaki memeluk kaki Cayden.
Cayden melepaskan rengkuhannya padaku, "Hai fluffy" merasa kehilangan.
Ia mengendong Druwdut. "Ayo main" ajaknya pada Cayden. "Okay, suruh moman mandi dulu, bau..." bisiknya ke Andruw. Dengan menutup hidungnya.
"Momaaa bau mandhi" Suruh bocah gemoy itu dengan ikutan menutup hidungnya.
Itu mengembalikan kesadaranku. Menatap kesalnya dan beranjak kekamarku.
Aku melihat suami istri itu menonton drama kami. Sepertinya ini kerjaan mereka, melepaskan Druwdut menganggu keasikanku.
Heh! Arn! Keasikan apa?! Tak rela!
*****
"Bagaimana perkembangannya?" Seseorang dengan ponselnya.
"Cukup bagus"
"Pilihannya hanya dua, bagus atau tidak?!"
"Tunggu hasilnya. Saya jamin tidak akan mengecewakan!"
Ia mematikan sambungan pada ponselnya. Menyeringai licik dengan menatap langit pada dinding kaca ruangannya.
*****
Aku merasa salah kostum sepertinya. Saat melihat kemana tujuan kami. Taman bermain. Dengan heels 12cm. Matilah sayah.
"Ini pake" Cayden menyerahkan sepatu keds padaku. Aku melirik curiga.
"Gak mau!" Tolakku, jangan bilang itu punya pacarnya. Kenapa juga dia menyimpan sepatu ini dimobilnya.
"Ini punya bunda" Jawabnya. Lha tahu dari mana dia, bisa baca pikiran kah dia?!
Cayden menyentil dahiku.
"Aw!" Teriakku lalu kogosok, perih euy. Gak kira tenaganya.
"Sorry sorry... Sakit?" Tanyanya khawatir. Iya mengusapkan jempolnya didahiku.
Ia mengernyit bersalah.
"Maaf ya merah, abis gemes" rajuknya lucu,
Aku tahan senyumku, aku mempertahankan kekesalanku.
"Gemes sih gemes tapi gak pake kdrt juga!"
"Kalo gemes itu disayang kalik!" Ucapku dengan malu-malu. Menahan senyumanku
"Mau disayang seperti apa?" Bisiknya mendekat, entah kapan ia telah melepaskan seatbeltnya.
Cayden membuka seatbeltku. Mengurungku dalam kungkungannya. "Beneran merah!" Ada khawatir di nada suaranya. Hatiku rasanya mau meledak!
Cayden mengecup bekas sentilannya. Lama. Melepaskan kecupannya, ia memandangku dengan tatapan mata yang lembut "Ayo kita menikah"
Cayden menyatukan bibir kami. Aku terbuai. Kecupan manisnya.
Ketukan pada kaca jendela membuat pangutan kami terlepas. Aku menoleh pada kaca jendela. Seringaian jahil terlihat dari Alia dan Mateo. "Untung kita yang gerebeg mobil goyang yang ini ya yang" celetuk Mateo.
Wajahku memerah, bagaimana bisa aku melakukannya disini. Gila Arn!
Tolak lah Arn! Murah betul kau! Lupa sebodoh apa kamu kalo bucin!
Tapi enak! Gimana dong!
Aku berjalan dibelakang, Alia mengandeng tanganku erat. Ingin tahu. Dasar emak emak kepo.
"Gile! Serius!!!, udah gak tahan dia rupanya."
"Mupeng terus mukanya kalo liat kamu" senyuman malu-maluku yang dicibir Alia.
"Terus kamu jawab, iya kan?" Senyumku memudar. Alia tahu, "kamu ragu kenapa?"
Iya aku ragu lebih tepatnya aku takut. Takut mengulang kejadian yang sama. Seperti lalu. Aku takut kecewa.
"Kalau pacaran aku mungkin masih pikirin, tapi ini nikah, aku baru kenal Cayden beberapa bulan"
"Aku tertarik padanya, tapi untuk menikah aku nggak tahu" Aku menyampirkan rambutku dibelakang kuping, gusar.
"Serius cuma tertarik? I don't think so" Alia percaya diri kalau aku sudah jatuh cinta pada Cayden. Tapi aku masih bingung dengan perasaanku sendiri.
"Kamu masih suka si Kala Kala itu?" Tanyanya malas.
Aku terdiam, aku bingung. Aku yakin sudah tak ada perasaan dengan Kala. Tapi saat namanya disebut tempo hari. Entah perasaan sakit itu menghantamku keras. Rasanya marah dan tak nyaman.
*****
Disinilah aku, menemani Druw Druw naik roda raksasa, alias bianglala. Dan ada Cayden yang menimpali pertanyaan-pertanyaan yang keluar dari mulut Druwdut. "Daddaa itu... itu... " Dadda enii... niii..."
Druw berdiri dikursi bianglala memeperhatikan segala yang dia lihat lalu akan bertanya atau memberitahu ke Cayden atau aku.
"Momaaa fly fly" ia melihat kumbang yang tak sengaja lewat. Atau misalnya juga "ddaaa bertdi" sambil menunjuk burung terbang.
Cayden mengambil tangan Andruw, melambaikannya pada burung,
"Say hallo to Mr. Birdy"
"helooo miter bertdi"
"mister, sayang" aku mengelus kepalanya.
"Mistelrl" masih agak susah ngomong r dia,
"Daaa mik haus" Aku memberikan susu yang dibekalkan Alia padaku saat dengan sengaja tadi mendorongku masuk ke bianglala ini.
"Ngantuk dia, kecapean dasar" Aku berpindah duduk disebelah Cayden. Druw-Druw sudah bergelung dipangkuan Cayden dengan botol susu yang setengah habis.
"Soal yang tadi di mobil" aku membuka suara aku ingin meminta waktu untuk berpikir.
"Kamu serius?" Cayden mengangguk.
"Kita baru bertemu" ia tersenyum tahu apa yang akan aku inginkan.
"Take your time, aku gak minta jawabanmu sekarang,"
"Tapi aku harap kamu memikirkannya, aku selalu serius jika menyangkut masa depan"
Aku menatap mata itu, coklat terang, yang membuatku tertarik saat pertama melihatnya.
Mata dengan sorotan hangat yang kadang tak terlihat. Tertutup dengan tatapan datarnya.
Senyuman dibibirnya yang menenangkan, tangannya terulur menyibak rambut sebahuku ke belakang telinga.
Hangat. Aku menyandarkan kepalaku di telapak tangan yang besar. Nyaman, usapan jempolnya membuat getaran aneh didadaku, berdesir di setiap elusanya.
Wajahnya semakin mendekat padaku, fokusku dari mata berpindah ke bibirnya yang merah. Berpindah lagi ke matanya, berulang.
Hingga kurasakan hembusan hangat pada bibirku. Ia berhenti, Menyisahkan jarak. Membuatku tersiksa oleh hasrat. Jika aku bergerak sedikit saja bibir kami pasti bersentuhan.
Aku menahan nafasku. Fokus pada bibirnya. "Bernafas Arn" Kutubrukan bibirku padanya. Ah pertahananku jebol sudah.
Bodo amat! aku ingin merasakan manis bibirnya lagi. Kulumat perlahan. Menariknya lebih mendekat padaku.
Kuperdalam ciumanku. Ia membalas dengan tempo yang sama-sama mendamba, meraih tengkukku, Cayden mengambil alih. Ku gigit bibirnya pelan lalu kutarik agar sedikit terbuka.
Aku membuka mata ingin melihat ekspresinya. Damn! Kok bisa dia seseksi ini. Arn! Sepertinya pilihanmu hanya satu menikahi lelaki seksi ini. Harus Arn! Dan kau akan memilikinya untukmu sendiri!
Aku ingin melanjutkan. "Ddaddaah..." suara Druw-Druw mengigo yang terhimpit olehku dan Cayden. Sial! Kenapa bisa lupa. Kemana otakmu Arn! Maafkan moma Druwdut.
Aku kembali duduk dengan benar. Menunduk malu. Malu benget. Kenapa otakku sehorny ini sih! Gak liat sikon.
Aku memukul bibirku yang perih, aku melirik Cayden. Cayden menatapku dengan mengigit sedikit bibirnya. Lalu tersenyum miring.
Menggodaku. Sialan. Dasar kau perempuan horny tak tau tempat!
"Kamu boleh kayak gitu cuma sama aku" bisikan lirih Cayden membuatku beringsut memepet ke jendela.
Arghhh MALUUUUNYA LORD...