Pak Marcel adalah seorang guru olah raga sekaligus pembina OSIS di sekolah ku.
Tampangnya begitu tampan namun cukup dingin terhadap apapun diluar urusan sekolah
Hari itu kami mengadakan kamping ke gunung Pancar.
Namun dari mulai sampai hingga sore hari hujan turun dengan lebat.
"Aduh! Hujan salah jadwal amaat ya. Masak musim kemarau ujan. " Ucap seno
"Hey, sompret suka-suka yang bikin lah lo pikir matematika dijadwal? "
"Ya ampun kalian ini! huft... " Suara nafas kasar Pak Marcel terdengar.
"Jadi gimana nih Pak? masa jauh-jauh kesini cuman duduk menatap hujan, kalo cuman gini mah mending dikamar saya, menatap hujan berbalut selimut dengan segelas coklat panas. Beeeh.. Pak! Nikmat tak terdustakan. "
Ku tunjukan jempol ku pada Pak Marcel yang hanya berwajah datar.
"Malam ini kita akan tidur di aula saja agar tidak kehujanan. Yang laki-laki di aula kanan dan yang perempuan aula itu. "
Ia menujuk sebuah bangunan yang lebih mirip sebuah kelas tanpa bangku lalu pergi meninggal kan kami menuju bangunan di sebelah kanan kami.
Di pagi harinya tampak langit masih sedikit mendung namun tak ada tetesan hujan disana hingga Bu Susi tampak bingung dan bertanya tentang Asih pada semua orang hingga mbuat kami berkumpul dan ternyata Asih tak ada di aula teman dekatnya pun sudah mencari kemana-mana namun tak ditemukan.
Pak Marcel datang dan memutuskan untuk mencari Asih namun karena kami berdiri berdekatan akhirnya aku dan pak Marcel berdua mencari kami mencari dekat sebuah gua.
Hingga tanpa kami sadari entah lubang apa yang tak sengaja kami injak membuat kami jatuh terperosok kedalam nya.
"Yah Pak kita jatuh gimana ini Pak? Ana teriak aja
ya pak biar ada yang bantu. "
"Tolong... Tolong.. Tolong.. "
Kami berteriak bersama namun tak seorangpun mendatangi kami bahkan sampai kering tenggorokan kami ini.
"" Tenang Ana, kita pasti ditemukan tempat ini dekat dengan jalan kok? " Ucap pak Marcel menenangkan ku.
"Bapak ga bawa hp gitu? "
"Ga tadi hp saya sedang di cas Na! "
"Yah gimana pak masa kita cuman nunggu aja sih pak? "
"Kamu naik dipundak saya saja Na! "
Aku naik di atas pundakanya dan berusaha meraih permukaan lubang namun tak bisa. Lubang nya terlalu tinggi.
Aku sudah lelah, aku duduk di dasar lubang tanpa alas. Pak Marcel memberiku air minum aku meminumnya sedikit, kemudian dia pun meminumnya.
Haduh Bapak ga salah apa ya tuh botol bekas bibirku main emut aja haduh.
"Kenapa kamu liatin saya? "
"Ga pak! " Ku tatap langit yang memdung hingga gerimis pun menetes.
"Haduh pak ujan gimana ini bisa-bisa kita kelelep disini Pak! " Pak Marcel hanya diam seperti berpikir lalu melepaskan jaketnya
"Nih tutup kepala kamu nanti sakit lagi! "
Kulihat wajah tampan dengan begroun hujan rintik membuatku terpana, sosok tinggi berkulit putih itu mengingatkan ku pada Opa-opa K-pop.
"Ini pake malah ngelamun! " Me nutup kepalaku dengan kasar dengan jaketnya.
Suasana di dalam lubang ini membuatku dapat melihat wajahnya dari jarak yang dekat.
"Duar.. "
Suara petir membuat ku memdekat ke arahnya dan dia hanya diam namun tangan kanannya menyentuh pundak ku.
"Jangan salah faham ini bukan pelukan tapi ini saya lakukan agar kamu tak takut atau pun kedinginan. "
Namun lengan hangat itu tak hanya terasa di punggung sampai dada saja tapi juga berhasil menyentuh hati ku.
Aku yang kedinginan di dalam dekapan hangat membuat ku nyaman dan tertidur.
Begitu bangun kulihat Pak Marcel juga tertidur dengan kepala yang menyentuh kepala ku.
Refleks ku dorong tubuhnya hingga.
"Aduh! Anaaa kenapa kamu ini? "
"Maaf pak Ana ga sengaja, Ana kaget bangun dipelukan Bapak.
Kudekati Pak Marcel dan menarik tangan nya agar bisa duduk nyaman lagi namun tanah yang ku pijak ternyata licin hingga tubuhku jatuh tepat di tubuhnya dengan wajah yang saling menatap.
Kupandangi mata tegas Pak Marcel yang begitu tebal dan tegas. Hingga sebuah benda hangat menyentuh bibirku.
Ah.. Angan ku melayang tinggi merasakan debaran yang tak menentu.
"Maaf Ana, saya... Tak bisa menahan diri. "
"Bapak! "
"Jujur setiap hari saya selalu menjauhi kamu dan bersikap sok tak peduli itu sebenarnya cara saya agar tak terbawa perasaan.
Sebenarnya saya suka sama kamu! "
Kupandangi wajahnya dan berusaha mencari kebohongan disana, namun tak ku temukan. Bahkan yang kulihat hanya tatapan yang tulus yang membuat ku semakin tak karuan.
"Apa Bapak serius? Bapak ga bohong? "
"Sudahlah lupakan! " Kudekati Pak Marcel dan memeluk lengannya
"Bapak tau saya selalu mencari kesempatan buat deketin Bapak selama ini bahkan saya ikut kegiatan OSIS dan aktif menjadi wakil OSIS itu karena Bapak pembimbing nya. "
Diam sesaat
" Tapi biar rasa diantara kita ini hanya kita saja yang tau ya Pak ga enak kalau sampai terjadi sesuatu pada Bapak karena saya. " Ucapku meneruskan.
Hingga akhirnya terdengar suara rombongan lewat dan kami berteriak minta tolong. Kami terselamatkan dan saat kembali ternyata Asih tidak hilang dia hanya ketiduran di dalam tenda sendirian.
Setelah saat itu aku dan Pak Marcel sepakat untuk menjalin hubungan diam-diam.
Hingga disiang itu saat rapat OSIS. Pak Marcel duduk disampingku mendengarkan laporan dari ketua OSIS. Akupun menyimak setiap yang ketua ku itu ucapkan, namu dibawah meja tangan ku terasa hangat.
Saat ku lihat kearah tanganku ternyata Pak Marcel tengah menggenggam jemari ku namun tatapannya tak berubah sama sekali hingga saat ia menoleh ke arah ku ia tersenyum sambil kembali menatap ketua OSIS hatiku jedakjeduk bak irama musik DJ.
YaTuhan kuatkan hatiku hingga 7 bulan kedepan. Akan ku pastikan untuk memasang hak paten pada mu Pak setelah lulus nanti.