Di sebuah hotel yang telah di boking untuk acara pernikahan banyak orang bergotong-royong mendekorasi aula seperti sesuai keinginan pengantin wanita. Pengantin wanita juga menawarkan dirinya untuk ikut mendekor acara pernikahannya.
"Yang ini taruh di pojok sana aja mas," ucapnya yang langsung dilakukan oleh pria itu. "Mas, itu miring, iya kanan dikit op segitu aja. Nahh bagus."
"Aduh, Ceca, sayang kenapa kamu masih di sini?" tanya wanita paruh baya menatap heran keberadaan Ceca.
"Hehehe Mamah, aku lagi ngedekor Mah." jawab Ceca cengegesan.
Wanita paruh baya itu menggeleng-gelengkan kepalanya, "Sudah biarkan saja mereka yang mendekor, kamu siap-siap ganti baju nanti teman Mamah dateng untuk make up-in kamu."
"Tapi Mahh.." belum Ceca selesai berbicara, Mamah sudah memotongnya terlebih dahulu.
"No, no, no. Tidak ada tapi-tapian buruan suami kamu aja sudah siap." Mamah mendorong Ceca keluar dari aula.
"Ihh, calon suami!" ralatnya dengen penuh penekanan sedangkan Mamah hanya terkekeh geli dengan anaknya. "Iya udah aku ganti pakaian dulu, bye Mahh." ucapnya sambil berlari menuju ruangannya.
"Padahal baru saja kemarin melahirkan anak itu, sekarang udah mau nikah aja." gumamnya heran, pikirannya mengulang memori di saat ia melahirkan putri bungsunya.
Flashback on
"Ardhan!! Mas Ardhan, bangun mas." Mamah ceca-Vani menggoyangkan tubuh suaminya yang tertidur nyenyak di sampingnya. Vani memegangi perutnya yang membesar dan mengelus-elus perutnya.
"Eghh, kenapa Van? Ini masih malam, lanjut tidur aja." balas Ardhan tanpa membuka matanya dan ia menarik Vani agar tertidur di dalam pelukannya.
Vani mencubit lengan Ardhan membuat pria itu mengaduh kesakitan, "Aghh, sakit tauu." sontak Ardhan membuka matanya dan mengusap lengannya yang kemerahan karena cubitan Vani.
"Mas aku mau sate kelinci, tapi jangan di bakar kelincinya, kasihan." rengek Vani sambil bergelayutan manja di lengan Ardhan.
"Yang bener aja, ini jam dua pagi mana ada yang jual sate kelinci tapi kelincinya engga di bakar, bukan sate kelinci namanya."
"Sate kelinci! Ayoo belii!!" ujarnya sambil menarik-narik jari Ardhan.
"Engga mending tidur aja, besok beli sate kelincinya ya?" Ardhan mengelus rambut hitam Vani.
"Huwaaa maunya sekarang," tangis Vani pecah saat itu juga membuat Ardhan mengusap wajahnya kasar, ia harus ekstra sabar dengan istrinya.
"Besok aja ya, beli yang banyak deh." ucapnya sambil mengusap air mata yang mengalir di pipi istrinya.
"Engga mauu, maunya sekarang."
"Iya udah aku beli sekarang," akhrinya Ardhan pasrah dari pada Vani akan semakin nangis membuatnya pusing dan mulai beranjak untuk membeli keinginan Vani.
"Mas Ardhan, aku maunya kamu yang buat ya?" mendengar itu Ardhan membelablakkan matanya. Apa ia tidak salah dengar? Dia membuat sate kelinci? Yang benar saja!
***
Setelah banyak rayuan yang Vani keluarkan agar Ardhan membuatkannya sate kelinci di saat jam 2 pagi akhrinya Ardhan mau membuatkan sate kelinci walau ia tidak memakai daging kelinci, justru ia memakai danging ayam hanya itu yang ada di kulkas.
"Mas, enak ini. Mau gak?" tawarnya sambil menyondorkan sate yang di buat Ardhan. Pria itu membuka mulutnya lalu memakan sedikit sate buatannya. Ardhan melebarkan matanya, ia berlari ke wastafel dan membuang sate yang berada di mulutnya lalu meminum air.
"Ini engga enak sama sekali!! Buang aja!" Ardhan yang hendak mengambil piring yang berisi sate itu sudah lebih dulu Vani menariknya kedalam pelukannya.
"Engga ini enak!!"
"Engga enak!!"
"Enak!!"
"Eng—"
"Aghhh, Ardhan perut aku sakitt." Ardhan mendekati Vani, ia melihat air ketuban yang mengalir di paha Vani. Pria itu segera membawa istrinya ke rumah sakit.
Sesampai di rumah sakit, Vani di bawa ke ruang persalinan dan Ardhan menunggu di depan ruang. Ia hampir lupa mengabari kedua ornag tuanya dan orang tua Vani, setelah ia mengabari bahwa Vani akan melahirkan dokter memanggil Ardhan mengabari bahwa Vani telah memasuki pembukaan 10 artinya Vani siap untuk melahirkan.
Beberapa menit kemudian terdengar suara bayi dari ruang persalinan, ke-empat paruh baya yang menunggu di luar mengucapkan banyak-banyak terimakasih kepada Sang Maha Kuasa karena telah melancarkan proses melahirkan Vani.
Flashback off
***
Di atas pelaminan terdapat kedua pengantin yang sedang mengucapkan penjanjian suci, setelah selesai pengantin pria di perbolehkan mencium kening sang istri. Para tamu bertepuk tangan karena perjanjian suci telah selesai saatnya bersalaman dan foto bersama bareng pengantin, sebagai kenangan.
10.00 Acara pernikahan telah selesai kedua pengantin juga telah selesai mengganti pakaiannya. Kini Ceca dan Markus makan bersama keluarga Markus dan Ceca. Di meja makan tidak ada yang angkat bicara hanya ada dentingan sendok dan piring. Hingga Bunda Markus berbicara.
"Cepat-cepat buatin Bunda sama Mamah cucu ya, Ca." celetuknya begitu tiba-tiba membuat Ceca yang sedang meminum air tersedak dengan perkataan Bunda.
Spontan Markus mengusap punggung Ceca dan memberikannya air miliknya. Ceca meneguknya hingga landas, ia beralih menatap Markus dengan tatapan memohon bantuan untuk menjawab ucapan Bunda.
"Udah Bun, tenang aja secepatnya aku sama Ceca kasih kalian cucu." ucap Markus tanpa pikir panjang membuat mata Ceca melebar. Melihat itu, Markus hanya terkekeh.
***
Tiga tahun kemudian...
Markus dan Ceca telah memiliki anak laki-laki mirip sekali dengan Ayahnya. Sebenarnya ini tidak adil bagi Ceca, karena ia lah yang telah merawat Gava sedari Gava di kandungannya hingga Gava bisa berada di dunia ini.
Hari ini Markus, Ceca dan Gava ingin berkunjung ke rumah Vani dan Ardhan. Dengan antusias Gava berlari masuk kedalam rumah Vani setelah mereka sampai di perkarangan rumah Ardhan.
"Nenekk!! Kakekk!!" teriak Gava saat melihat Vani dan Ardhan yang sedang menonton televisi di ruang keluarga.
Gava masuk kedalam pelukan sang nenek dan memeluk Vani erat. "Nenek Gava kangen." rengeknya yang masih di dalam pelukan sang nenek. Gava dengan Vani memang sangat akrab, dan tidak bisa di pisahkan.
"Ohh Gava cuma kangen sama nenek aja nih? Sama kakek engga?" ucap Pria paruh baya di sebelah Vani.
"Gava juga kangen sama kakek!!" Gava beralih memeluk Ardhan sangat erat, membuat Ardhan terkekeh dengan ke antusiasan Gava kepadanya.
Cucu nenek udah besar, cita-cita Gava mau jadi apa?" tanya Vani pada Gava. Gava berusaha berpikir keras karena ia belum memikirkan cita-citanya seperti apa.
Tiba-tiba ide bagus baginya muncul di pikirannya, "Gava mau jadi Spiderman!!" ucapnya sambil memperagakan gerakan Spiderman.
"Mamah, Papah aku pulang!!" pekik Ceca sambil membawa barnag belanjaannya begitu juga dengan Markus yang berada di belakangnya.
"Kamu habis dari mana? Kok banyak bawa belanjaan?" tanya Ardhan.
"Ini Pah ada rejeki jadi aku sama Ceca memutuskan untuk membelikan bahan-bahan dapur untuk bulanan." jawab Markus sambil duduk di samping Ardhan.
"Mamah sama Papah udah tua, mungkin umur kita tidak akan lama lagi." Tiada angin, hujan, badai, tiba-tiba saja Vani berkata seperti itu seakan benar-benar ingin pergi.
"Apaan sih Mah!! Ngak usah ngaco kalau ngomong!!" Ceca sangat tidak suka dengan perkataan Mamahnya, walau ia tau tuhan bisa saja mengambil kita di kapan hari.
"Apa yang di ucapka Mamah kamu benar Ca." ucap Papah menyetujui ucapan istrinya. Mereka sudah tua, umur mereka sudah tujuh puluhan, mereka juga sering kelelahan, tidak kuat untuk mengambil aktivitas yang berat.
"Udah ngapain ngomong yang enggak penting! Mamah sama Papah belum makan kan? Aku buatkan makan siang dulu." ucapnya lalu beranjak pergi ke dapur. Ceca sangat tidak suka topik pembicaraan itu.
"Papah mohon kalau Papah sama Mamah udah engga ada, tolong jaga Ceca baik-baik. Dia putri kesayangan Papah dan anak satu-satunya Papah." ucap Papah, menepuk pundak Markus lalu pergi ke dapur menyusul Ceca. Begitu pula dengan Vani dan Gava mengikuti Ardhan dari belakang.
"Kepergian memang tidak bisa di pastikan, bisa esok, minggu depan, bulan depan, tahun depan. Kita tidak mengetahuinya hanya Tuhan yang tau, dan kematian adalah rahasia Tuhan."
~TAMAT~
Sayangi orang tua kalian selagi ada, bahagiakan mereka selagi kalian bisa membuat mereka tersenyum. Sekecil apapun usaha kalian untuk membahagiakan mereka, mereka akan bangga dengan usaha kalian. Karena orang tua tidak pernah menekankan kalian untuk selalu harus menjadi yang terbaik. Kesuksesan selalu muali dari nol.
Jangan lupa like dan komen ya!! Lop sekebun❤️❣️💕💓💞💗💖💛💝💜♥️🤎💙🤍🖤🫂