"Panen telah tiba. Panen telah tiba. Panen telah tiba." Suaranya terdengar riang, menambah kemeriahan di kebun yang tampak ramai, menggantikan lirik lagu 'Libur Telah Tiba' dengan liriknya sendiri. Seperti kodok, ia meloncat ke sana-ke mari sembari mencomot serampangan buah kopi di kanan-kirinya. Senyumnya sumringah, menampakkan dengan jelas sederet gigi seri bawahnya yang ompong. Anehnya, itulah yang membuatnya terlihat lucu.
Aku berjalan cepat, mengahampirinya. Menangkap tubuh mungilnya yang terus saja bergerak gesit. Umurnya baru genap 10 tahun waktu itu. Terpaut 1825 hari dari umurku. Tapi ia tubuh subur. Beratnya bahkan hampir sama dengan setengah karung kopi hasil panen yang sering kupanggul.
"Bukan gitu cara metiknya, Icut Sayang," kataku kemudian, gemas lalu mengangkatnya tinggi-tinggi bermaksud mencegah ia jatuh karena ia terus saja meronta-ronta. Sempat kudengar ia tertawa lebar, sebelum kemudian suara para orangtua menginterupsi, memintaku untuk menurunkannya.
"Bang Win, buah kopi banyak. Icut suka liatnya. Jadi pengen makan," seruannya kembali terdengar.
Aku tertawa seraya merapikan helai rambutnya yang berterbangan. "Berdiri di sini, ya. Abang ajarin cara metik yang benar."
Icut mengangguk berulang-ulang. Aku terkekeh geli. Kemudian, tanganku bergerak memetik beberapa buah kopi yang berwarna merah lalu kuulurkan ke arahnya. Icut mengerjap, bingung.
"Buka tangan kamu," pintaku.
Tanpa berkata apa-apa, ia menuruti. Kuletakkan buah kopi tersebut ke telapak tangannya yang kecil, mungkin hanya muat tiga atau empat buah saja. Kudengar lagi ia berseru senang.
"Hore! Icut dapat buah kopinya." Ia melompat lagi, mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi, seolah sedang memamerkan hasil pekerjaannya.
Bertahun-tahun setelahnya…
"Bang Win, berapa tahun kita nggak bertemu, ya?"
Suara merdu Icut bergema di kebun kopi yang tampak sunyi. Saat itu tidak ada lagi lirik yang dengan asal digantikannya. Karena ia datang bukan di saat musim panen kopi. Juga tidak ada lagi loncatan ala kodoknya yang mengundang tawaku, karena ia bukanlah Icut sepuluh tahun lalu. Yang berdiri di sampingku saat itu adalah Icut berumur 20 tahun. Cantik dan modis dalam balutan gamis syar'i yang membungkus tubuh mungilnya. Berapa ya kira-kira berat badannya saat itu?
"Sepuluh tahun, kayaknya," jawabku kemudian.
Icut menoleh, tersenyum lebar ke arahku. Senyumnya masih sama seperti sepuluh tahun lalu. Mengundang desir liar di jantungku.
"Wah, udah lama banget, ya. Pantas, Icut lupa-lupa ingat tentang kebun kopi ini."
"Nggak masalah. Asal kamu nggak lupa sama aku aja," gumamku pelan, nyaris serupa bisikan.
"Nggak kok. Icut nggak lupa sama Abang. Orang pertama yang ngajarin Icut cara metik kopi."
Aku terkejut, tentu saja. Menatapnya tak berkedip. Dan senyum itu kembali mengaduk-aduk ritme jantungku. Kulihat Icut mengalihkan tatapannya pada hamparan hijau kebun kopi. Entah apa yang ada di pikirannya tapi senyum itu tak lekang di wajahnya.
"Selain Icut, apa Bang Win punya orang lain lagi yang diajarin cara metik kopi?"
Aku menatapnya lama. Pertanyaan tiba-tiba. Tak tertebak. Tapi aku tahu kemana arahnya.
"Nggak," jawabku tegas.
"Benarkah?"
"Tentu saja. Kamu yang pertama dan terakhir."
Kudengar ia tertawa. Renyah. Kupastikan tawa itu akan jadi favoritku.
"Bang Win, jangan serius gitu, ah. Kalau pun ada, nggak masalah juga," jawabnya terdengar skeptis seraya menoleh lagi ke arahku.
"Aku serius, Icut. Mau aku buktikan hal pertama lain lagi yang bisa aku lakukan untukmu?" Aku mencoba peruntunganku kali itu.
Kulihat Icut mengerutkan keningnya. "Apa?" tanyanya pelan setelah sesaat terdiam.
Aku menarik napas panjang. Lalu, sedikit mendekat ke arahnya. Angin kebun yang bertiup sedikit kencang menggerak-gerakkan kerudungnya. Tanganku sedari tadi sudah gatal ingin merapaikannya. Namun terus kutahan tetap di tempatnya. Aku menatap lekat mata cokelat madu di hadapanku. Tiba-tiba hatiku membuncah rindu. Berapa tahun ya yang harus kutunggu hingga akhirnya waktu berpihak padaku?
"Melamarmu menjadi istriku," jawabku mantap.
Kulihat Icut melebarkan pandangannya. Raut terkejut, jelas terpeta di wajahnya yang ayu. Mungkin ia tak menduga atau tak menyangka aku akan sampai pada kalimat itu. Apapun itu, aku merasa sebagian pundakku terasa ringan. Sekarang tinggal menunggu reaksinya, apa ia akan bahagia seperti pertama kali aku mengajarinya memetik kopi.
"Kalau itu, Bang Win harus lebih dulu menghadap ayahku."
Beberapa tahun setelahnya…
"Waktunya makan siang. Kalian istirahatlah dulu."
Para pekerja yang mendengar seruanku, segera saja bergegas pergi meninggalkan kebun kopi yang semula ramai lalu mendadak menjadi sunyi, menyisakan diriku sendiri. Aku berdiri, mengitari isi kebun yang jauh lebih besar dari sebelumnya. Sejauh mata memandang, hamparan kebun kopi dengan buahnya yang serentak memerah menarik perhatian. Aku bangga impianku menjadi nyata. Menjadi salah satu pengusaha kopi tersukses di Pantan Cuaca yang merupakan salah satu kecamatan di kabupaten Gayo Lues dengan ribuan hektar kebun kopi yang panen melimpah setiap tahunnya.
Namun adakah yang tahu jika hatiku hampa? Semua kesuksesan itu, semua kemegahan itu seakan tak berarti untukku ketika semesta mengambil kembali penyemangatku, sumber kekuatanku, cintaku, hidupku, isteriku. Kurasakan napasku mendadak terasa sesak. Tanpa sadar airmata mengalir membasahi wajahku.
Hari ini aku berdiri di tempat sama, sendiri bersama kenangan yang tak ingin kuusir pergi. Hari ini, tak ada lirik asal yang disenandungkan pemilik hatiku, tak ada tawa merdu yang menggetarkan hatiku. Hanya ada aku. Seorang diri bersama kenangan masalalu.
Kuangkat wajah, menatap awan biru di kejauhan. Sebaris kalimat terlontar pilu dari bibirku, "Icut, istriku Sayang, aku kangen. Kangen banget."
Bertahun-tahun waktu telah berlalu. Namun hadirnya masih nyata di dekatku. Dan kebun kopi selalu menjadi penawar rinduku.
Rist in peace, my first and forever love. I'll see you soon.