Pagi itu masih gelap, Subuh pun belum lewat. Aku bertengkar hebat dengan ibu tentang kegiatan kampusku yang akan dilaksanakan di sebuah dataran tinggi, kegiatan outdoor dan ibu tidak mengijinkan aku pergi.
"Aku bukan anak kecil lagi, Ma!" Seruku.
"Fella, kamu ingetkan waktu SMA kamu pernah jatuh tergelincir dan kaki kananmu itu patah sewaktu kegiatan outdoor kayak gitu juga, untung cuma patah ringan jadi bisa pulih lagi. Jangan ambil resiko, Nak!" Ujar ibuku lembut.
"Aku bisa jaga diriku sendiri!" Bantahku lagi sambil berjalan cepat keluar rumah sambil membanting pintu. Aku yang sedang gusar pergi dari rumah tanpa tujuan.
Hingga matahari terbit sepenuhnya, aku baru merasa bingung. Aku mau ke mana, pikirku. Mau pulang tapi gengsi. Akhirnya aku kembali melangkahkan kaki menuju sebuah taman yang tak jauh dari komplek perumahan tempatku tinggal.
Pada sebuah kursi taman aku menyandarkan bahuku, mencoba mengatur nafas,
berusaha menguraikan benang kusut dari pikiranku.
Ah, aku lupa membawa ponsel. Apa yang harus kulakukan sekarang, kalau ada ponsel kan enak, aku bisa memainkannya, keluhku.
Saat aku sedang terdiam menatap langit yang baru saja cerah diterpa sinar mentari, tiba-tiba ada anak kecil yang berlari menabrak kakiku. Seorang anak perempuan berwajah imut dengan kuncir rambut dua seperti telinga kelinci.
"Hallo." Sapaku. Anak kecil yang usianya mungkin sekitar 4 tahun itu tampak bingung sambil menggigit jarinya.
"Kamu lagi main ya? Main apa? Kakak ikut dong." Ujarku lagi.
Adik kecil itu menyodorkan setangkai bunga yang sejak tadi dipegangnya padaku.
"Oh, ini buat kakak? Tanyaku "Sini, duduk sebelah kakak sini." Ujarku sambil menepuk-nepuk area kosong dari kursi taman di sampingku. Adik itu mendekat ke arah kursi dan mulai memanjat dengan cara menggemaskan ala-ala anak balita pada umumnya.
"Kamu tau ini bunga apa? Ini bunga krisan, ini salah satu bunga kesukaan kakak loh, karena dia punya banyak jenis warna dan bagus." Kataku.
Adik kecil ini tersenyum, tersenyum sangat lebar hingga terlihat barisan gigi-gigi kecilnya yang baru tumbuh itu. Aku merasa gemas dan aku mulai bercerita panjang lebar karena aku tau dia sepertinya tertarik mengobrol denganku.
"Kamu pernah lihat angsa?" Tanyaku, si adik kecil kembali menjawab dengan senyumannya." Kamu kalau ketemu angsa jangam panik, jangan jahil, karena nanti bisa-bisa kamu dikejar."
Aku lantas memperagakan bagaimana dulu sewaktu aku kecil di kejar angsa, aku memeragakan seekor angsa dengan lenganku dan memberi gambaran bagaimana cara angsa 'mencubitku' dulu. Sesekali aku mengayunkan tangan yang sedang berperan sebagai seekor angsa dan memcubit lembut pipi adik kecil ini.
Si adik kecil ini tertawa terbahak-bahak, sungguh perasaan kacau, marah dan kesalku seketika hilang melihatnya tertawa dengan riang. Lantas, aku kemudian menceritakan banyak hal padanya, semua kisah konyolku di waktu kecil.
"Kamu siapa namanya?" Tanyaku.
Belum sempat si adik menjawab tiba-tiba terdengar suara seorang wanita berteriak "Rayya..." Wanita itu kemudian menghampiri kami, ia mengusap lembut kepala dari adik kecil yang dipanggilnya Rayya ini.
Si Ibu kemudian menatap mata Rayya, kemudian menggerak-gerakkan tangannya dengan berbagai macam gerakan, lalu Rayya pun mengangguk dan turun dari kursi menghampiri Ibunya.
"Maaf kalau anak saya merepotkan, tadi saya ajak dia olahraga pagi sebetulnya, eh kok dia malah lari duluan dan nggak taunya ada di sini." Ujar si Ibu.
"Oh enggak, nggak ngerepotin kok, Bu. Justru saya senang ada dek Rayya di sini, jadi ada teman cerita." Sahutku yang kemudian disusul dengan senyum merekah di bibirku.
"Cerita?" Si Ibu tampak bingung sambil menatap buah hatinya. "Mbak, sebetulnya Rayya ini ada gangguang pendengaran, dokter mengatakan dia ini tuna rungu."
Aku jujur, sangat terkejut mendengar kalimat ini. Kutatap Rayya yang sedang menggenggan tangan ibunya itu, wajah mungilnnya yang menggemaskan. Rayya kecil harus menghadapi ujian kehidupan yang cukup berat.
"Saya sedang mengusahakan pengobatan untuk Rayya, agar ia dapat mendengar dengan normal, sampai saat ini saya masih berdoa pada Tuhan agar muncul keajaiban." Kata ibu Rayya dengan penuh harap
"Maaf, Bu. Saya tidak tau." Sahutku.
"Tidak apa-apa, Mbak. Terima kasih Rayya nya sudah ditemani. Kami pamit dulu." Kemudian si Ibu kembali memberi isyarat pada Putrinya itu.
Rayya kemudian berjalan ke arahku, meraih tanganku dan memberi kecupan pada punggung tangan, dia sedang salim untuk berpamitan. Ia lalu kembali tersenyum sambil melambaikan tangan. Aku membalas lambaian tangannya dan kemudian Ia dan ibunya pergi meninggalkan taman. Meninggalkanku sendiri lagi di sini.
Rayya, aku pikir setiap kali ia tersenyum, tertawa, itu karena merespon setiap ceritaku. Beribu pertanyaan muncul di benakku. Senyum cerianya masih terbayang dalam ingatanku.
Dia ada keterbatasan dalam mendengar, tetapi ia terasa seperti seorang pendengar yang baik. Lalu aku? Aku, manusia normal, terlalu acuh dengan orang lain, tidak mau mendengar nasihat orang tua, bukan pendengar yang baik bagi sahabat-sahabatku.
Aku masih menatap mereka hingga menghilang dari pandangan. Aku yang justru harus belajar mendengar.