Aku sibuk di dapurku, hari ini aku akan ke mansion keluarga Martines. Makan malam, merayakan hadirnya anggota baru Martines. Si bon bon, Bonita Martines.
Aku menyiapkan, banana bread, risol dan martabak bihun.
Aku menunggu banana breadku matang. Kalau risol dan martabak bihun sudah selesai dari jauh hari. Tinggal aku defrost, lalu digoreng saja.
Selesai, beres-beres, tinggal mandi.
Aku mengambil hoddie oversizeku warna matcha, aku padukan dengan bawahan rok midi rempel, warna coklat. Earthy tone tema acaranya.
Ya kesibukan memasak hari ini, sedikit meredam ingatanku tentang kejadian jahiliah yang menyenangkan itu. Aku mengakuinya.
Setelah si emak dua anak, yang notabene baru brojol tiga hari yang lalu itu, malah datang ke apartemenku.
"Astaga Arn, kau sejelek boneka mampang" heleh si ibuk ini kalo ngomong kok suka bener. Tapi apa tadi? Boneka mampang? Udah nggak jaman kali.
Khawatir keadaanku, dia bilang. Aku menyusahkan banyak orang. Maaf. Tapi aku terharu.
*****
Aku menyerahkan kunci mobil pada penjaga dan mengeluarkan barang bawaanku.
Dari dalam, Miss Elena menghampiri dengan beberapa maid, membantu membawakan barangku.
"Kemana yang lain, Elena?" Sepi.
"Semua berkumpul dikebun belakang Nona" ia membawa makanan yang aku bawa ke dapur.
"Nanti bantu aku membawa ini ya Elena" kataku menunjuk beberapa kotak makanan.
"Iya nona." Meletakan piring disampingku.
Mereka membantuku membawanya, "piring yang itu jangan, itu untuk kalian" aku menujuk piring besar dengan corak warna warni.
"Terima kasih Nona," Miss Elena tersenyum, "okay, tapi elena, aku sudah sering katakan padamu, panggil aku, Arn, cukup" protesku setiap kali aku bertemu dengannya. Jawabannya hanya tersenyum.
"Siang Ma" Aku mendekati wanita paruh baya berdarah spayol itu, Madre.
"Oh sayang, kamu nggak apa apakan?" Pasti Alia ini. Kulirik menyipit padanya. Mengirim signal "lau ngemeng apa aja"
"Bukan gue ya!" Elaknya dengan membawa keponakan baruku. Bonbul, kepadaku.
Kalian tahu seberapa mencak-mencaknya si bapak, nama anak-anak nya aku ganti seenak udelku.
"BONBULNYA MOMAAAAA" Jeritku bersemangat.
Plak!
"Mom!" Kagetku melihat keplakan ibuku didahi, my mother yang suka ilang ilangan sesuka hatinya itu.
Saat aku mendramatisir keadaanku yang merasa dibuang, "Nggak usah drama, kamu udah gede, sana cari kasih sayang sama CEO ganteng-ganteng jangan ngerecokin mommy terus" begitu jawabannya bestai.
"Sini kenalin, kemaren gak sempet, kenalan sama kamu" Mommy menarik tanganku ke wanita yang aku perkirakan seusia mommyku.
"Mak, ini kenalin anak gue"
"Hei Cantik" Sapanya. Matanya biru cantik.
"Ah Tante bisa aja, tante juga cantik" sahutku malu malu.
"Duuhh... sok malu" celetuk mommy, bingung lho aku, ini emak kandung apa emak tiri sik. Julitin terus anaknya.
"Hahaha kalian itu lucu. Oh ya sayang jangan panggil tante, panggil Bunda aja. Bunda Paloma"
"Bun, kapan sampe, eh sama Mommy juga" Alia yang ikut nimbrung, kok mereka Ikrib, aku seperti alien disini.
"Baru, kok" Bunda Paloma, mengambil Bonbul dari gendongan Alia.
"Mommy dari kapan disini? Jangan bilang dari waktu pesta itu. Belum pulang ya Mom?"
"Iya mommy keliling spanyol, yakan Ma, ternyata indah sekali, ikut liat panen zaitun, bagus buat detinasi wisata itu Luisa" Sejak kapan mereka se akrab ini. Aku kira hanya rekanan bisnis.
"Kalian seakrab ini" bingungku.
"Makanya jangan galau kayak zombie, baru juga di kiss," sindiran Mommy yang membuat semua disitu terkekeh.
"Mommy kok tahu?"
"Kamu itu jangan ngeraguin, Mommy ya, mommy punya cctv. Cuma buat liat kamu ngapain aja Mommy bisa."
Ngeri. Tak sepeduli itukan aku selama ini.
"Jadi Mommy tahu kenapa aku disini?" Tanyaku menatap Mommy.
"Hai Bun" Suara yang membuatku bergetar, entah hati, tubuh atau jiwa ragaku. Lebay! Ia mencium pipi Bunda. Aahh meleleh. Kok aku yang meleleh. Pengen. Hush!
Aku melihat pandangan jahil dari Alia, Mommy juga Madre.
"Hei kok siang kamu!" Bunda menatap tajam anaknya.
Iya bun, marahin aja bun dia buat aku galau batinku, yang tak sadar aku suarakan.
"Oh ini yang buat anak Mommy gak mau keluar apartemennya." Celetukan Mommy menyadarkan kebiasaanku, Duh! Aku menipiskan bibirku, tatapan ku bertemu dengan mata itu lagi.
Shit!
Plak! Keplakan didahiku, dari Mommy.
"Arn!" Sentakan Alia dan Madre. Bunda menutup kuping Bonbulku, aku menepuk mulutku.
"Sayang" kekehannya. Duh mas! Please! Aku menggigit bibirku, Malu. Bentar... Apa tadi, Sayang!!!!! Argh... sial... ups, aku melirik kanan kiri,
"Nggak, nggak, kamu nggak keceplosan" kepalanya menunduk, ia berbisik di dekat telingaku, karena tinggi kami yang agak timpang.
dia, Dia, DIA!! YANG NGEBUATKU GALAU,
Argh Mommy... mukaku sudah seperti kepiting rebus. Merah moronyoy.
"Alia, aku sudah bawa pesananmu" aku menyambar Alia sedari tadi pasti dia mengamati kami.
"Melarikan diri aja teros" aku menariknya terus menuju meja yang penuh makanan dengan memelototinya. Dia tertawa.
Aku berdiri di depan meja, menormalkan detak jantungku. "Nih" Alia memberikan piring padaku.
"Mana risol yang kau janjikan Horny girl"
Decakku keras, merauk tiga risol untuknya.
"Hahaha... udah langsung aja. Kalau kangen itu bilang, kemaren aja bilangnya gak butuh P Human" ini lagi satu muncul dari mana dia.
"Sayang mau martabak itu" Mateo, menyodorkan piringnya. Aku hanya merengut.
"Nih" Mateo memberiku piringnya, "Gih sana" aku melebarkan mata. "Maksudnya?" Tetapi tetap kuterima piringnya. "Deketinlah, gak usah jual mahal segala"
Aku melirik kearah Cayden yang sibuk dengan ponselnya. Ragu. Takut. Malu. Perasaan nano-nano ini.
"Bukan jual mahal, cuma takut" menghela nafasku kasar. Trauma itu masih. Menjadi agresif lagi. Entah, lukaku masih basah.
Mungkin benar aku hanya terobsesi dengan Kala. Rasa sakit itu masih ada. Rasa tak percaya, karena sebegitunya mereka tak suka denganku. Membuatku trauma dan banyak berpikir.
"Gak makan?" Aku menengok. Ck! Suami istri itu melambai dan menyemangatiku dari tempat duduk mereka ditengah sana.
Sejak kapan. Cepat sekali.
"Ini aja" Aku mengambil piring kosong ditangan Cayden, memberikannya piring penuh yang diberikan Mateo padaku tadi.
"Hahaha Sebanyak ini? Bisa kita sharing" aku melongok melihat tumpukan makanan. Dasar si Mateo!!
Aku mengangguk pasrah mengikutinya dari belakang. Cayden menarik kursiku. Aku menatap sengit Mateo yang tertawa melihatku.
Cayden duduk di kananku, "Piring kamu kosong, lho itu," Mommy ada di kiriku.
"Sharing sama aku Mom" Jawab Cayden, aku menenggok padanya, Ah, Bunda Paloma juga menyurukku memanggilnya Bunda.
Cayden berbicara tentang bisnis dengan mateo, sepertinya serius, dan aku tak mengerti.
Aku mengambil botol mineral yang memang disediakan di tengah meja.
Cayden mengambil botol itu dari tangan ku dan membuka tutupnya, lalu meletakkan didepanku.
Tanpa menghentikan perhatiaannya pada Mateo yang sedang berbicara. Merasa aku pandangi. Ia menatapku dengan mata coklat terang itu. Kelakuan yang manis sekali.
"Kenapa?" Tanyanya, aku hanya menggeleng. Ia melanjutkan obrolannya dengan Mateo. Aku menunduk menyembunyikan pipiku yang merona juga senyumanku.
Ponsel Mommy berdering. Kuperhatikan. "Hai Rita apa kabar?" Aku menengok cepat kearah Mommyku. Nama itu.
"Oh baik, ada apa ya" aku tahu Mommy melirikku, aku sedang berusaha mengatur emosiku. Rasa sakit, cemas, dan marah menyeruak begitu saja.
Kuremas tanganku diatas paha. Aku mengantur nafasku. Memandang kedepan.
"Arnas? Baik. Kala apa kabar?" Aku melirik dengan sudut mataku. Saat nama itu disebut. Tak nyaman. Lebih mengeratkan genggamanku. Hangat.
Aku menurunkan pandanganku kearah tanganku. Tangan besar itu menyelingkupi tanganku. Membalik tanganku dan menautkan jari-jarinya padaku. Ku tatap mata itu terang terangan. senyumnya menenangkan.
Menyalurkan kehangatan disana. "It's okay, ada kami disini" bisiknya. Tanganku mengeratkan genggaman kami. "Percaya, aku disini." Ucapnya, dengan senyum yang menular padaku. Apa aku bisa mempercayakan hatiku sekali lagi. Padanya?
Aku mengangkat kepala menatap muka-muka disana. Tersenyum hangat padaku. Aku melarikan pandanganku pada mommy yang juga tersenyum, juga usapan sayangnya pada ku.
Tak tahu kapan ia selesai dengan telpon yang membuatku mengacaukan suasana acara.
"Ginda Dluw mau itu lagi" celetukan Druwdutku. Membuat suasana kembali ceria.
"Gak kenyang kamu, heh! Abis tiga lho, ini perut jadi dung dung lho nanti" Bunda Paloma menepuk perut Druwdut, sebelum memberikan potongan banana bread keempatnya.
"Ginda kata dada Dluw flllllaaafy, no dut no dut" Dengan mengunyah kuenya. Semenjak dia bisa ngomong fluffy, penekan pada huruf l nya selalu di panjangkan. Gemas.
Aku merasakan remasan lembut Cayden pada tanganku. Iya tangannya selalu mengenggam tanganku sedari tadi.
Bisa banget buat aku salting lho ini orang.
"Gak sabar punya satu" lirihnya. Duh Moomm... gimana ini... ketar ketir jantung eike. Aku mengigit bibirku. Rasanya pengen meluk. Astaga heh! Tahan horny girl. Dasar kau Alia!!