Suasana jamuan makan siangnya berubah suram bagi Anggun. Wanita cantik itu hanya tersenyum tipis melihat ekspresi semuanya yang hadir. Angin yang berhembus semilir tidak dapat mengurangi rasa perih dihatinya. Begitu mudahnya mereka berbicara memang ada kalimat lidah tak bertulang sangat lemesnya mereka mengucapkan.
Suaranya yang melengking tajam ditelinga Anggun.
"Nungguin apa lagi kan sudah mapan semua, rumah ada, mobil juga pekerjaan tetap apalagi duit kan berlipat-lipat. Kapan nih, program hamilnya?" Suara Budhe Sri yang mengawali pembicaraan yang pedas itu.
"Proses sih, lancar aja namun siapa sangka tempatnya bocor jeng ?" Sahut Tante Nurul dengan melirik ke arah Anggun sinis.
"Rumahku kali bocor melulu!" Fenny ikutan nimbrung menimpali pembicaraan mereka.
"La si Lisa ga punya rumah anaknya berjibun tiap tahun nambah melulu. Sampai dokter bilang harus steril demi keselamatan nya." Budhe Nuraini menimpali.
"La mungkin ditunda dulu kali, pengennya Suasana honey moon dulu..." Ejek Lisa.
"Mau sampai kapan jeng?" Sahut Fenny.
"Ya sampai karatan kali ha...ha...ha..." Celetuk Siska
"Emang besi pakai karatan...ha...ha...ha..." Sahut Lisa ditengah keasyikan mereka terbahak-bahak.
"La mungkin kan. Kalau lahan subur ya seperti Fenny sekali sentuh jadi deh." Sahut Budhe Sri.
Anggun hanyalah menunduk badannya bergetar menahan emosi dan sedihnya selalu dua tahun terakhir ini dirinya dijadikan sebagai bahan olok-olok di keluarga besar suaminya. Arkan lelaki itu bersama dengan anggota keluarga yang lelaki duduk-duduk di teras samping rumah. Yah, dari segi finansial suaminya mampu memberikan dukungan moril selama ini dan juga memberikan rumah atas kepemilikan namanya. Rumah besar dengan lima kamar dan tiga kamar untuk pembantu mereka mempekerjakan dua pelayan. Anggun sendiri bekerja di tokonya, usahanya toko bunga. Dan kebetulan tokonya maju dikelola olehnya. Wanita itu menghela nafasnya ada lirikan mata dari pembantu yang juga merasakan kasian padanya, majikannya itu selain sabar dan murah hati juga penolong. BI Ranti memegang tangan sang majikan yang matanya berkaca-kaca, wanita cantik itu hanya menunduk saja di samping meja besar pantry yang diperuntukkan untuk meracik dan menata sajian.
"Saya ke toilet sebentar, Bi " Katanya lesu dan berlalu.
"Kasian Nyonya Bi. Tahun lalu saya mengadu sama Tuan. Ku katakan sepupunya itu pencuri dan rampok." Ujar Sulastri Bi Ranti menepuk pundaknya sambil melotot.
"Stss. Pelan kan suaramu ! Nandi Tuan dan Nyonya Besar mendengar." Hardiknya.
"Biar saja. Sudah dikasih sajian enak-enak, eh minta nambah. E ..Masih ngambil tas branded Nyonya. Ish, Amit-amit ada ya orang tidak tahu diri begitu ! " Sulastri sambil nyinyiran terus mengangkat baki minuman keluar.
Tak jauh dari sana Bu Sastra mertua Anggun berdiri dengan mengepalkan tangannya. Urat-urat di pelipisnya sampai terlihat dengan ekspresi wajahnya yang emosi. Di belakangnya wanita paruh baya itu sudah berdiri Arkan. Di elusnya punggung ibunya agar mereda emosinya.
"Mulai kapan dia mengalami semua ini?" Tanyanya gusar.
Tiga tahun lalu Bu. Dia tidak mau mengatakannya hanya dari pembantu dan penjaga rumah Mereka datang awalnya hanya meminjam uang lalu menjadi kebiasaannya mencuri hal yang remeh lalu terakhirnya adalah koleksinya barang-barang branded pemberian mama atau aku. " Jelasnya.
"Bagaimana dengan perhiasan?" Tanya wanita itu dengan memejamkan mata.
'Aman Bu. Sekarang dia memindahkan di kantornya. Ada brankas tersembunyi, bahkan karyawannya tidak mengetahui itu." Lanjutnya.
Tak lama muncullah Anggun dari toilet dekat pantry. "Ibu?" Wanita itu bingung melihat tingkah lakunya keduanya. "Sudah waktunya makan ya?" Tanya Ibu Sastra dengan tersenyum. Anggun hanyalah mengangguk. Mereka berjalan beriringan keluar membawa lauk pauk dibantu Arkan.
"Enaknya di bantu neh sama mertua dan suami jadi ringan dong pekerjaannya " Seru Tante Nurul.
"Tentu dong. Kita pasti jagain harta berharga kami." Jawab Bu Sastra.
"Jika yang dijaga batu permata seh bukan mengapa jeng, tapi jika yang dijaga itu Batu biasa ..ya gimana ?" Budhe Sri mulai lagi. Sekarang semuanya sudah duduk bersama dan berkumpul dengan pasangannya masing-masing.
Dibawah meja Arkan menggenggam jemari istrinya. Wanita cantik itu tersenyum manis menatap sang suami.
"Tak mengapa batu kali, kan dapat ditempa dan dibentuk bisa digunakan seperti cobek dan alat untuk menumbuk nya. La kalau memelihara ular bisa bahaya kan ? Kelihatannya jinak namun masih nyembur dan matok sana sini", Sinis Bu Sastra menatap semua anggota keluarga besarnya.
"Satu lagi ada pepatah dikasih hati malah minta ampela Pepatah Jawa ada benarnya juga Lo jeng. Sudah ditolong eh malah maling barang yang minjamin uang. Gila kan Yah orang itu? Gak tahu diri banget!" Bu sastra mengompori karena kesal sedari tadi. Pak Sastro yang mendengar hanya manggut-manggut, "Benar-benar tidak tertolong mental orang itu! Apa. orang tuanya tidak mendidiknya dengan cara yang baik?" Pak Sastro mengomentari.
"Buah kan jatuh tak jauh dari pohonnya." sahut Bu Sastra judesnya.
Semua terdiam Anggun tersenyum tipis melanjutkan makannya. Arkan masih saja menggenggam tangan nya.
"Manusia adalah makhluk yang sama dimatanya. Namun bedanya hanya amalan dan perbuatannya. Kenapa mesti mencuri ? Meminta baik-baik saja bisa kemungkinan diberikan walaupun tidak seperti yang diinginkan. Jika ingin mempunyai ya harus berusaha lebih keras lagi. Toh kami juga tidak iri dengan mereka yang memiliki banyak anak. Kebahagiaan bukan cuma memiliki anak. Namun juga ada kebahagiaan tercipta karena adanya kenyamanan." Papar Arkan dengan pandangan mata menyapu semuanya yang duduk bersama di meja besar itu. Hening.
"Silahkan tambah lagi." Anggun mempersilakan.
Tak lama terdengar suaranya Sulastri berteriak. " Nyonya ada anak-anak nakal kompleks mencuri mangga kita. Sudah besar-besar enak saja mencuri ! Awas saja tak viralkan di sosmed biar malu ! Belum tahu ya kalau Tuan sudah pasang CCTV-NYA sudah lama. Biar mampus malu seumur hidup." Ujarnya sambil melenggang ke arah pantry. Arkan menahan tawa dengan menggigit pundak istrinya. Karena kursinya berhimpitan semuanya. Anggun hanyalah menepuk pundaknya karena malu diperhatikan semuanya. Bu Sastra tertawa kecil melihat tingkah laku anak dan pembantunya. Sulastri memang sedikit berani melawan dan menjawab namun anaknya jujur.
Sedangkan anggota yang disindir tersedak menahan malu. Karena mereka tadi sempat melakukan itu.
"Emang ada CCTV to mas?" Tanya Beno suami Lisa.
"Ada setiap penjuru, pakai CCTV di pendam yang kecil itu agar si pencuri tidak tahu. Dan mungkin aku akan memakai cara Sulastri tadi. Idenya boleh juga. " Jawab Arkan.
"Memangnya ada yang dicuri ya?" Tanya Pak sastra.
"Ada pak. Pokoknya nanti jika merekamnya maka aku pastikan akan meviralkan nya dan tentunya lapor polisi." Lanjutnya enteng. Sepele sebenarnya namun meresahkannya juga karena tambah menjadi kelakuannya." Lanjut Arkan.
Suasananya berubah menjadi tenang tidak ada suara sumbang lagi hingga acara selesai.
Rumah sudah bersih sedia kala dan tenang orang tua Arkan juga pulang sesudah tamu pulang semuanya.
Di kamar Arkan memberikan handuknya kepada Anggun dan langsung tiduran di pangkuannya. Tangannya lalu mengelus rambutnya untuk mengeringkan. "Sayang...mulai sekarang kamu jangan manja-manja begini lagi, nantinya malu dilihatnya." Kata anggun
"Siapa sayang?" Tanya Arkan bingung.
"Iya dia disini.." Jawab Anggun lirih dengan matanya memandang ke sisi perut. Arkan mengernyitkan dahinya.
"Kamu ?" Anggun mengangguk sambil tersenyum tipis Arkan terbangun dan menciumi bibir wanita cantik itu.
"Ini baru 5 mingguan, makanya aku minta.." Anggun mengulurkan tangannya dari belakang punggungnya menunjukkan benda pipih.
"Pelan-pelan dan lembut. Manis sekali" Sahut Arkan menerima hasil testpack positif itu dan sesekali menciumi bibirnya. Anggun hanyalah menunduk malu.
"Alhamdulillaah aku jadi Ayah".