“Eh tumben anak Nyak pagi-pagi begini udah bangun, biasanya kan kalau liburan begini bangunnya nunggu matahari terik dulu!!” gurau Nyak-nya Chalik ketika Chalik keluar dari kamar mandi pagi ini.
“Ach Nyak bisa aje.. sarapan apaan kita hari ini Nyak?” tanya Chalik berbasa-basi sambil duduk bergerak ke meja makan masih dengan handuk tergulung menyerap air sisa keramas pada rambutnya.
“Nasi uduk neh yang dibawa dari rumah Kumpi kemaren, udah Nyak angetin sama gorengan neh..” jawab Nyak-nya dengan sepiring gorengan yang masih panas di tangannya dan kemudian diletakkannya di atas meja makan berdampingan dengan sambal goreng ati, perkedel, ayam goreng, telur dadar iris dan sekaleng kerupuk.
“Panggil Abah loe gih di depan sono! Biar kita sarapan bareng, jarang-jarang kan anak Nyak ini bisa bangun pagi.. Trus jemur handuknya di jemuran handuk, biar ga apek dan berjamur!” kata Nyak Chalik lagi sambil mendorong anak bontotnya itu ke arah teras.
“Siap bos!” jawab Chalik jenaka.
“Abah..” Chalik memanggil ayahnya yang sedang duduk di bangku kayu di teras depan rumah mereka, lalu ketika melihat tolehan kepala ayahnya melanjutkan berkata: “Dipanggil Nyak buat sarapan bareng noh..” sambil ku langkahkan kaki menuju jemuran handuk di pinggiran teras depan ini.
“Nah loe sendiri mau kemana? Tumben bener pagi-pagi udah mandi bersih?” tanya Abah, melipat koran yang sedang ia baca dan melangkah ke arah ruang makan.
“Kaga kemana-mana Abah, emang aneh banget ya Chalik mandi pagi-pagi? Kog pertanyaan Abah ga jauh beda sama Nyak seh?” jawabku dengan suara yang aga keras, sambil menjemur handuk yang baru saja ku pakai untuk mengeringkan rambut.
“Itu namanya Nyak loe dan Abah udah sehati, sebahasa juga..” Abah menjawab sambil mendekatkan diri ke arah Nyak yang sedang menyendok nasi uduk ke piring, mencium belakang kepalanya dan sambil membawa piring dari Nyak, ia duduk di kursi kebesarannya, yaitu di kepala meja makan ini.
“Aish, Chalik bisa mulai terbiasa neh ngeliat kemesraan-kemesraan Abah dan Nyak..” kataku sambil duduk dan menerima piring berisi nasi uduk dari Nyak, yang pipinya terlihat aga memerah.
“Kalau udah muhrim ya sah-sah aja lah Chal.. dilarang sirik ya..” jawab Abah tersenyum, sebelum memasukkan gorengan dan mengunyahnya perlahan.
“Idih, siapa juga yang sirik?” jawabku nyengir.
“Ini anak ga jauh beda sama bapak-nya ya? Suka bener deh adu argumen pagi-pagi.. udah pada makan dah!” kata Nyak Chalik sambil bergerak ke belakang lagi. Kali ini ia kembali membawa potongan timun, lalapan selada segar dan sambel kacang.
“Duduklah Nyak, katanya mau makan bareng..” perintah Abah yang langsung dituruti Nyak, ia mengambil piring dan menyendok nasi uduk untuk dirinya sendiri lalu duduk di kursi samping Abah.
“Nah Chalik, ada yang mau loe omongin?” tanya Abah kemudian, yang sempat membuat Chalik tersedak kaget.
“Minum dulu Chal, baru ngomong..” tambah Nyak seakan memberikan semangat kepada Chalik.
‘Ini Abah seperti pembaca pikiran ajah, tau-taunya Chalik mau ada yang diomongin..’ batin Chalik sambil meminum teh tawar hangat di gelasnya.
“Itu ‘Bah, nanti siang ada temen Chalik yang mau namu ke sini. Boleh kan?” tanya Chalik akhirnya setelah menandaskan tehnya.
“Temen laki ya? Sekedar temen aja apa dedemenan?” tanya Abah lagi, terlihat mulai serius tanpa senyum di wajahnya.
“Temen ‘Bah..” jawab Chalik cepat.
“Yah kalau cuman temen aja seh, dateng mah dateng aja, kaga perlu izin juga kan biasanya.. masa iya akan gw usir?” ujar Abah mulai terlihat santai lagi.
“Iyah ‘Bah, temen Chalik ini dari Banyuwangi sono, tempat Chalik nginep sama temen-temen waktu ke gunung Ijen kemaren itu.” Kata Chalik lagi.
“Itu die yang dateng kemaren trus langsung loe ajak keluar itu ya?” tanya Nyak kemudian.
“Iya Nyak, Chalik kaget aja tiba-tiba dia dateng kaga ngasih kabar dulu sebelumnya. Lagian kan Chalik ga mau ngerusak acaranya Kumpi..” jawabku lagi, tidak menyangka ternya Nyak sempat melihat kedatangan Weli sehari sebelumnya.
“Bilang aje loe males diinterogasi sodara-sodara loe kan!” kata Abah lagi dengan tersenyum, sambil menambahkan sambel kacang ke atas gorengan tempe yang ia makan dan setelah menyuap makanannya ia kembali berkata: “Jadi loe bawa kemana ntu anak kemaren?”
“Ke rumah Ian ‘Bah, temen seangkatan Chalik yang dari Jakarta juga.. dia, namanya Weli, nginep di rumah Ian selama liburan di Jakarta.” jawabku kemudian.
“Jadi nanti siang, Weli ini akan dateng bareng Ian?” tanya Nyak lagi.
“Ga tau juga deh Nyak, kemaren cuma bilang Weli mau dateng ke sini gitu, sekitar jam makan siang, mau ketemu Nyak dan Abah..” jawabku, entah mengapa mulai merasakan bulir-bulir keringat dingin di beberapa bagian tubuhku.
“Kedengerannya kog serius yak? Apa perlu Nyak panggil Mpok loe sekeluarga dan Nyaik ke sini buat nerimain si-Weli ini?” tanya Nyak lagi.
“Kaga perlu lah Nyak, dia juga bilangnya cuman mau ketemu Abah dan Nyak ajah, bukan yang lain-lain..” jawabku cepat.
“Ya udah, abisin deh sarapannya trus ‘ntar bantuin Nyak ngecet rambut yah, udah banyak banged inih uban Nyak..” kata Nyak Chalik lagi sambil akan mengangkat piringnya dan juga piring Abah yang sudah kosong.
“Iyah Nyak, udah deh biarin, Chalik aja yang beresin bentarlan lagi. Nyak dan Abah duduk-duduk santai aja di depan!” jawabku dengan cepat menghabiskan sisa makanan di piringku dan mengambil piring kotor dari tangan Nyak-nya.
***
“Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh..” sebuah sapaan terdengar dari arah depan rumah Chalik.
Abah dan Nyak, yang sedang duduk santai sambil menonton berita di ruang keluarga, membalas salam tersebut bersamaan: “Wa’alaikumsalam Warahmatullahi Wabarakatuh.”
Lalu Nyak bergerak ke pintu depan yang terbuka dan mendapati seorang pemuda gagah berambut cepak yang tampak bersih dan segar, tersenyum ke arahnya.
“Maaf apakah ini rumah orang tua Chalik ya bu?” tanyanya kemudian.
“Iya kaga salah dah.. ini nak Weli ya? Temennya Chalik kan?” jawab Nyak Chalik dengan ramah.
“Iya Bu, saya Weli, temannya Chalik dari Banyuwangi.. ini ada sedikit oleh-oleh Bu, tolong diterima..” kata Weli menyerahkan seplastik besar buah jambu Cristal.
“Aduh pake repot-repot nak.. hayu duduk dulu deh.. ini kenalin Abahnya Chalik..” kata Nyak ketika Abah keluar dan dengan sigap Weli menarik tangan Abah untuk salim. Abah hanya mengangguk dan mempersilahkan Weli duduk dengan isyarat tangannya.
Weli duduk dalam diam dan dengan sikap sempurna di samping bangku Abah, sampai akhirnya Nyak datang kembali membawa toples dan piring di atas nampan panganan berisi: Kembang Goyang dan kue cucur serta jalabia.
(Keterangan: Jalabia adalah kue yang mirip dengan kue gemblong khas sunda, namun adonan dari Jalabia ini menggunakan ketan hitam dan campuran kelapa parut. Dalam pembuatannya, kue jalabia dibentuk mirip seperti donat. Hanya saja, ukurannya lebih kecil karena tidak mengembang seperti donat. Setelah matang, jalabia akan direndam dengan gula merah yang sudah dicairkan. Gula merah inilah yang membuat jalabia memiliki rasa yang manis. Karena terbuat dari ketan, teksturnya kenyal dan adanya campuran kelapa parut membuat rasanya menjadi gurih. Makanan ini cocok untuk teman minum teh atau kopi di pagi atau sore hari).
Di belakang Nyak, Chalik menyusul juga membawa nampan berisi teko bening dengan saringan teh di dalamnya, 4 cangkir bening bersama piring kecil di bawahnya dan sebuah mangkuk kecil berisi beberapa bungkus gula saset kecil.
“Hi Weli, naik apa tadi ke sini?” tanya Chalik berbasa-basi sambil duduk di samping Weli dan menuangkan teh ke dalam keempat cangkir, lalu pertama ditaruh di meja depan Abah, kemudian di depan Nyak, Weli dan akhirnya untuk dirinya sendiri.
“Tadi sempat diantar Ian, tapi karena dia ada keperluan lain jadi hanya ngedrop saja..” jawab Weli dengan senyum penuh makna.
“Hayu diminum dan dimakan kue-kue khas Betawi ini nak Weli!” ujar Nyak sambil memberikan kode ke Chalik untuk kembali mengisi teko teh yang sudah kosong.
Chalik pun bergerak kembali ke dalam dengan teko dan kedua nampan.
“Nah diminum dulu deh tehnya!” kata Abah sambil menyesap teh-nya sendiri, lalu kembali berkata: “Kalo kurang manis, ini ada gula saset ya, silahkan kalau mau ditambahkan!”
“Terima kasih pak, ini sudah cukup manis..” jawab Weli dengan hormat, setelah meminum hampir setengah isi cangkirnya.
Ketika Chalik kembali bergabung, mereka banyak berdiskusi mengenai kondisi alam di gunung Ijen yang memang sedang ramai diberitakan. Dan ketika waktu sudah menunjukkan jam makan siang, dengan semangat Nyak Chalik mengajak mereka berpindah ke meja makan untuk menikmati Nasi kebuli yang sudah dipesan Nyak sebelumnya.
(Keterangan: Nasi kebuli memang perpaduan antara makanan Indonesia dengan cita rasa Arab, sehingga populer di kalangan orang Betawi keturunan Arab. Makanan ini sangat kaya rempah karena dimasak dengan berbagai bumbu yang membuat aroma dan rasanya sangat kuat. Yang menjadi ciri khas dari makanan ini yaitu penggunaan kaldu kambing, susu kambing dan santan sehingga memunculkan rasa gurih. Biasanya nasi kebuli disajikan dengan tumis daging kambing dan asinan nanas sehingga nikmat untuk menjadi hidangan berat).
Setelah mereka menyantap makan siang tersebut, Nyak dan Chalik merapikan meja dan menghidangkan kopi bersama dengan cemilan khas Betawi, sama dengan hidangan di meja depan sebelumnya.
Duduk di kepala meja seperti biasanya, setelah menghirup kopi hitamnya, Abah kembali bertanya kepada Weli, yang duduk di samping Chalik: “Jadi nak Weli ini datang untuk bertemu kami pasti punya maksud dan tujuan kan? Bukan sekedar untuk berbasa-basi soal berita dan sebagainya kan?”
Weli yang aga kaget mendengar pertanyaan Abah kembali mengambil sikap duduk siap dan menjawab dengan sikap takjim: “Iya pak, saya mau minta izin Bapak dan Ibu untuk boleh mengenal Chalik lebih dekat lagi..”
Mendengar kalimat itu, tangan Chalik yang ada di pangkuannya diam-diam bergerak ke arah tangan Weli yang terkepal di samping badannya. Dan merekapun bergandengan tangan di bawah meja, siap mendengarkan keputusan Abah.
***