Bruk....
"Ah.... Leganya." ku rebah kan tubuh ku setelah segar sehabis mandi dan hendak bersantai sejenak.
Hari ini aku pindah tempat kos lagi, karena di tempat yang lama kurang nyaman dan banyak hal sangat mengganggu ku.
Setelah selesai membereskan semua barang ketempatnya aku pun ingin beristirahat sejenak lalu setelahnya akan mencari makan malam di luar karena aku belum mebeli bahan makanan sama sekali.
Tak sengaja ternyata aku terlelap ketiduran karena kelelahan, tiba-tiba aku terkejut terasa seperti ada anak kecil lari - lari diatas kepala ku.
"Ah... Apa itu?" tanya ku terkejut.
Namun ku lihat sekeliling kok gelap sekali....
Seketika bulu kuduk ku Meremang.
"Apakah aku sudah mati?" tanya ku dalam hati.
Eh tiba-tiba aku terkejut lagi ada getaran aneh didalam tubuh ku.
"Ada apakah ini?" aku sangat ketakutan.
"Ah.... Jangan - jangan ada jin genit di sini," gumam ku.
Drrrttt... Drrrttt... Drrrttt... Drrrttt
"Astagfirullah... Dasar halu kelewatan ini kan ponsel ku yang bergetar di dalam saku hoodie," ah dasar aku sehari - hari jomblo akut jadi sering over thinking.
Heheh maklum usia sudah menginjak. Kepala satu namun belum juga ada yang meminang, mungkin karena latar belakang keluarga ku yang tidak jelas makanya banyak laki-laki yang enggan meminang ku.
Ya bagaimana mana tidak, aku waktu kecil di temukan oleh pengurus pondok pesantren di depan gerbang pondok. Aku di besarkan di sana hingga dewasa, setelah aku mandiri mereka melepas ku. Kini aku bebas melakukan apapun dan hidup mandiri, sesekali jika luang aku selalu berkunjung ke pondok membawa beberapa oleh- oleh makanan untuk anak-anak pondok. Hanya merekalah keluarga ku yang ku tahu.
Gruuuukkkkk...Gruuuukkkkk ...
Suara perut meronta - ronta kelaparan dan tak bisa di ajak kompromi.
"Ah ternyata memang aku belum makan dari tadi siang wajar begitu lapar, mana belum ada bahan makanan lagi," gerutu ku.
Akhirnya aku bersiap mengganti pakaian ku, untuk pergi ke supermarket terdekat untuk membeli berbagai kebutuhan sehari - hari yang belum sempat ku beli.
Sewaktu aku keluar dari kamar kos, aku melihat ada anak kecil cantik banget kira - kira usianya 4 tahun memakai dress merah selutut, kulitnya yang putih sangat cocok dengan gaunnya. Ia melihat ku dan aku tersenyum padanya lalu aku menghampiri anak itu.
"Hai dede cantik, kamu ngapain disini sendirian?" tanya ku dan mendekatinya. Namun ia sepertinya ketakutan.
Mungkin karena aku orang asing sehingga ia nampak takut begitu, pikir ku.
Karena aku sangat suka dengan anak kecil ku coba mendekatinya lagi dan berusaha seramah mungkin agar ia gak takut.
"Jangan takut... Nih kakak punya permen banyak, kamu mau?" tawar ku untuk mencairkan suasana.
Dengan ragu - ragu ia mengambil permen itu.
"Orang tua mu di mana?" tanya ku lagi.
Ia terdiam lalu menunjukkan pintu kamar kos di sebelah tempat ku.
"Oh... Kenapa kamu main sendirian diluar?" tanya ku lagi namun anak itu hanya diam saja.
" Oh ya... Kakak punya jepit rambut imut , kamu mau?" aku menawarkan jepit rambut kesayangan ku untuknya, entah lah sepertinya aku sangat menyukainya. Ia sangat menggemaskan.
Dia tersenyum untuk pertama kalinya pada ku dan sepertinya nampak wajah ketakutan tadi sudah ceria lagi. Aku senang sekali gadis kecil itu sudah tersenyum manis sekali.
"Ooo... Iya nama kamu siapa?" tanya ku kembali.
"Aku Aira Winata...," ucapnya malu - malu.
"Hai Aira, nama ku Zoya Arzeta," ku perkenal diri ku.
"Kak Zoya mau kah main dengan ku setiap hari?" tanya Aira ragu.
"Boleh setelah kakak kerja ya," ucap ku lagi, senangnya punya teman main anak kecil jadi aku tidak kesepian.
"Ya sudah kakak pergi dulu ya, mau belanja Aira mau di beliin apa?" tanya ku.
Ia hanya menggelengkan kepalanya tandanya tak ada yang diinginkan.
Saat hendak pergi meninggal kan tempat itu, Aku melihat ada seorang pria keluar dari pintu kamar kos yang ditunjuk Aira tadi.
Pria maskulin, potongan rambut yang rapi, pakaiannya juga rapi sekali.
"Pasti ini ayahnya Aira, wah ternyata Ayahnya lumayan juga... Astagfirullah." pikir ku mulai kacau.
"Mas kenalkan saya zoya tetangga sebelah, baru pindah tadi pagi," ucap ku mengulurkan tangan.
Namun, ternyata pria itu sombong sekali tanpa bicara apa - apa atau menyambut jabatan tangan ku. Dia pergi meninggalkan ku begitu saja dan tanpa melihat ke arah Aira sungguh cuek sekali.
"Hei... Tunggu," ucap ku mengejarnya dan Ia berhenti nampak kesal di wajahnya tetap tak mengucap kan sepatah kata pun.
"Hei Bapak yang sombong ku beritahu ya, kalau punya anak itu jangan di biarin main sendirian di luar," ucap ku.
Wajah pria itu nampak seperti orang bingung.
"Anak?" tanyanya heran.
"Iya... Anak mu tuh dari tadi main di luar sendirian, nanti kalau di culik orang gimana?" ucap ku kesal masa Bapaknya lupa sama anak sendiri.
"Maksud mu Aira?"tanya seperti kebingungan.
"Iya," ucap ku lagi.
"Dimana Aira sekarang?" tanyanya lagi.
"Tadi ada di depan kamar kos ku, anda ini aneh sekali masa tadi tidak melihatnya di situ," ucap ku kesal.
"Oke terima kasih infonya dengan mba siapa?" tanyanya.
"Oh panggil aja Aku Zoya," ucap ku.
"Oke Zoya nama ku Pandu Winata panggil saja pandu," ucapnya sambil tergesa - gesa kembali ke kosan.
"Oke pandu," ucap ku lagi sambil berteriak dan melambaikan tangan.
Aku pun melanjutkan aktivitas ku yang tertunda terutama perut ku sudah sangat lapar. Setelah makan di restoran terdekat langsung ku lanjutkan berbelanja bahan makanan dan kebutuhan lainnya di supermarket dekat dengan kosan ku. Kosan ku berada dekat dengan pusat perbelanjaan walaupun harganya sedikit murah tapi akses untuk umum sangat mudah di jangkau.
Saat aku akan membuka pintu kos ku, tiba-tiba ada yang menarik tangan ku dengan kasar lalu mendorongku masuk ke kamar kosnya.
Saat Aku sadar ternyata dia Pandu raut wajahnya seperti ingin menelan ku hidup - hidup.
"Heeessshh... lepasin apaan sih kamu ini." Aku berusaha melepaskan cekalan tangannya.
"Zoya... Nama yang cantik tapi tak secantik prilaku orangnya," ucapnya dengan nada menahan amarahnya.
"Apa maksud mu?" tanya ku bingung.
"Oh jadi pura-pura tidak tahu ya?" ucapnya lagi buat aku makin bingung.
"Kau tadi mempermainkan ku kan, Kau di bayar berapa oleh Winda hah?" tanyanya kasar sambil menyentak tubuh ku ke tembok lalu kedua tangan ku diangkat keatas, tubuhnya menempel pada ku.
"Astagfirullah... Apa yang dia lakukan ini sangat kurang ajar," gumam ku.
"Jangan - jangan ia ingin memperkosa ku," ucap ku dalam hati.
"Dasar laki-laki mesum...," ucap ku lantang lalu menendang perutnya. Saat dia lengah aku lari menuju pintu tapi dia menahan ku lalu membopong ku ke kamarnya.
"Ya Allah dasar pria bejat mau apa dia membawa ku ke kamarnya," lirih ku hampir menangis.
"Dengarkan baik-baik, kau berusaha mempermainkan ku kan?" tanyanya lagi.
"Mempermainkan mu bagaimana?" tanya ku geram.
"Berapa Winda membayar mu untuk mempermainkan ku?" tanyanya dan hendak melepas pakaian ku.
"Eitsss... Tunggu dulu Winda itu siapa?" tanya ku bingung sambil menahan tangannya agar tak membuka pakaian ku, jangan sampai aku ternodai.
"Pura-pura polos tak kenal, rupanya kau dibayar mahal olehnya," ucapnya mulai menggila.
"Apa kau ingin ku tiduri sehingga membohongi ku." ucapnya yang makin rada tidak waras ini.
"Eh... Jangan sembarangan ya walau pun kau tampan bukan berarti aku murahan asal mau dengan mu," ucap ku kesal dan berusaha melepaskan cengkraman agar lari tempat ini.
"Jika di lihat - lihat mantan istri ku pandai sekali memilihkan umpan untuk ku," ucapnya yang tak tahu malu.
"Eemhhhmmm... Eemmhhhmm," dia melumat bibir ku yang masih perawan sungguh mesum sekali.
Aku memberontak sekuatnya sehingga terlepas dari ciumannya, dan berusaha melarikan diri. Tetapi tetap saja tubuh kecil ku ini tak mampu melawannya.
"Huhuhu... dasar kau pria keparat... bajingan kau sudah mengambil ciuman pertama ku yang sudah ku jaga untuk calon suami ku ." Teriak ku sambil menangis.
"Ck... Tak usah berdrama dengan ku, kau pikir sudah berapa wanita yang dikirim Winda untuk menjebak ku mereka pura-pura lugu tapi ternyata binal," ucapnya dengan kilatan matanya yang tajam membuat ku benar-benar ketakutan.
"Ku mohon lepaskan Aku....,"mohon ku agar Ia mau berbaik hati pada ku.
"Aku ini anak yatim piatu tak punya keluarga, masih kah kau tega melakukan hal itu tanpa memberikan ku penjelasan," Aku berusaha memohon belas kasihannya.
"Jadi kau memohon ampunan ku, katakan di mana Winda membawa anak ku Aira," ucapnya menggila.
"Aku tadi bertemu putri mu didepan pintu kamar kos ku," ucap ku gugup takut menatap matanya.
"Lalu ku beri Ia permen dan jepit rambut, ku pikir kalian orang tua yang ceroboh membiarkan anaknya bermain di lorong sendirian ," ucap ku lagi.
"Lalu kau keluar dari kamar kos yang di tunjuknya tadi, aku menghampiri mu untuk mengingatkan tetang putri mu malah kau pergi dengan angkuh begitu saja." cerita ku berharap dia mengerti dan tidak salah faham.
"Jadi kau pikir aku percaya cerita mu," ucapnya ketus.
"Sumpah demi ALLAH Aku tak membohongi mu."Aku berharap Ia benar-benar percaya.
"Baiklah ku anggap percaya dengan omongan mu," ucap dan melepaskan cengkraman tangannya.
"Ini uang ganti rugi ciuman dan perlakuan ku tadi," Ia memberi ku sejumlah uang yang lumayan banyak lalu pergi begitu saja meninggalkan ku di kamarnya.
Segera aku membetulkan pakaian dan hijab ku kembali lalu menghampirinya yang sedang duduk santai di kursi tamunya.
"Ini uang mu ambil kembali, Aku bukan pelacur yang kamu perlakukan seperti itu," aku melemparkan uang itu ke padanya lalu pergi keluar dari kamar kosnya.
Pandu terkejut melihat tingkah Zoya, lalu mengambil uang dan hendak menaruh uang itu dalam nakas tiba-tiba ia melihat ada sebuah permen dan jepit rambut. Sejenak ia tertegun teringat ucapan Zoya tadi, ia merasa bersalah kepada Zoya.
*********************
Aku kembali ke kamar kos ku, meringkuk di kamar menangisi kejadian tadi.
"Apa salah ku sampai ada orang melakukan hal tidak senonoh pada ku," ucap ku lirih.
"Kak Zoya... Maafkan Ayah ku ya?" tiba-tiba ada suara anak kecil sepertinya tidak asing. Tapi mengapa ada di dalam apartemen ku.
"Kamu siapa sebenarnya?" saat ku lihat ternyata Aira.
"Mengapa Ia bisa masuk apartemen ku?" tanya ku dalam hati dan ketakutan.
"Kamu kok bisa masuk apartemen ku?" tanya ku heran.
"Tadi aku masuk karena Kak Zoya lupa menutup pintu," ucapnya membuat aku bingung.
Ku menyentuhnya, terasa dan seperti manusia biasa. Berarti bukan hantukan wajahnya tidak pucat, kakinya menapak tidak seperti hantu yang di film atau cerita - cerita horor lainnya.
Aira nampak seperti gadis kecil lainnya, yap dia bukan hantu. Mungkin benar katanya Aku kan memang ceroboh kadang suka lupa mengunci pintu.
"Kak boleh ya, Aku tinggal disini sementara waktu," pinta nya membuat ku ketakutan dan kebingungan.
"Mengapa tidak tinggal sama Ayah mu saja?" tanya ku heran.
"Aku ingin jauh dari mereka sementara waktu," ucap Aira menunduk.
"Tapi Aku takut Ayah mu akan marah jika tahu kamu tinggal disini, nanti kakak di tuduh menculik mu gimana?" tanya ku agar dia mengerti keadaan ku.
"Kakak tenang aja, Ayah dan Bunda ku tak akan tahu kok," bujuknya.
"Jika kakak tak mengizinkan ku, lebih baik Aku tidur di kolong jembatan," ancamnya.
Aku berpikir sejenak bagaimana jika anak ini beneran tidur di kolong jembatan, lalu di bawa orang dan dilecehkan atau di jual di perdagangan manusia.
"Oke kamu boleh tinggal sementara disini, tapi ingat tidak boleh keluar atau berjalan kemana-mana sendirian," ucap ku mengalah.
"Siap bos....," ucapnya senang.
"Ayo bersihkan badan mu dulu," aku mengajaknya mandi sebelum tidur.
"Oh ya kamu tak punya baju ganti," ucap ku menepuk jidat.
"Ya sudah kamu bersihkan saja tangan, kaki dan wajah mu besok kakak belikan beberapa pakaian ganti untuk mu," ucap ku lagi.
Saat kami hendak tidur, tiba-tiba ada yang mengetuk pintu.
"Aira jangan ikut keluar dari kamar ini ya, kakak mau keluar dulu sebentar," Aku menyuruhnya tetap diam di kamar takut yang mengetuk pintu itu Pandu.
Dan benar saja dia Pandu dan membawa beberapa kantung plastik.
"Ini belanjaan mu tertinggal," ucapnya dingin.
"Terima kasih," ucap ku lalu mengambil plastik itu dan segera menutup pintu..
"Hei Aku minta maaf soal perbuatan ku tadi..." teriaknya di depan pintu namun ku abaikan saja.
"Itu Ayah ya kak?" tanya Aira.
"Iya, Aira mau pulang ketempat Ayah mu?" tanya ku,Ia hanya menggelengkan kepalanya.
"Aira ngantuk kak," ucapnya sambil mengucek mata.
"Ayo kita tidur ini sudah larut malam," ucap ku langsung menggendongnya menuju kasur lalu ku pasangkan selimut untuknya dan membelai rambutnya terasa aku begitu menyayanginya.
"Andaikan Bunda ku sayang seperti kak Zoya, mungkin selama hidup akan bahagia,"ucapnya membuat hati ku pilu.
Sebagai anak yatim piatu aku mengerti banyak rasa kurangnya kasih sayang, walaupun di pondok banyak yang menyayangi ku namun rasanya ada yang kurang bila tak mendapatkan kasih sayang kedua orang tuanya seperti ada ruang hampa di dalam hati.
"Selamat malam Bunda, bolehkan Kak Aku pangginl Bunda?" tanya Aira polos membuat ku tersentuh.
"Boleh sayang, asalkan Aira senang," ucap ku terharu lalu memeluknya terasa nyaman disana seperti ruang kosong di hati terisi penuh menghangat.
Aira sudah tertidur lelap, Aku berkutat di laptop mencari informasi tentang keluarga Pandu winata.
Dari informasi yang ku dapatkan Pandu dan Istri nya bercerai 3 tahun yang lalu berarti saat Aira berusia 1 tahun,perceraian mereka terjadi karena Winda Rensia ketahuan selingkuh disaat suaminya mengalami masa bangkrut karena tertipu rekan kerjanya.
"Ck... Sungguh malang nasib mu Aira," gumam ku dalam hati.
Saat sedang asyik melihat lihat info tetang Pandu, tiba-tiba ada notif pesan masuk. Ternyata dari perusahaan tempat ku bekerja mereka meminta ku revisi laporan desain produk yang akan ditayangkan minggu depan.
"Hemm... bagaimana besok aku kerja, masa Aira mau ku tinggal sendirian di rumah," pusing aku memikirkannya.
"Apa ku minta izin aja ya sama Sonya dia kan sahabatku paling the best," gumam ku.
["Halo Sonya... Aku rindu pada mu...," telpon ku.]
["Hemm... biasa jika sudah bicara rindu ini pasti ada maunya, " ucapnya di seberang sana.]
["Hehe... tau aja deh, kamu memang sahabat terbaik ku," ucap ku cengingisan.]
["Huh giliran gini sahabat terbaik, giliran pindah kos tidak memberi tahu kukan," ucapnya terdengar kesal.]
["Ya maaf, bukan tak mau kasih kabar, tapi kamukan lagi di luar kota sayang ku bestie," ucap ku.]
["Oh iya lupa, hehe..," ucapnya.]
["Huh dasar... Oh ya besok aku bawa anak kerja boleh gak?" tanya ku deg degan.]
["Apa kamu punya anak?" tanyanya heran.]
["Sejak kapan kamu hamil, baru juga ku tinggal seminggu kau sudah menggila ya,"ucapnya lagi.]
["Bukan begitu, ini gimana ya jelasinnya besok aja deh aku jelasin langsung ke kamu gimna?" ucap ku berharap di izinkan.]
["Ya sudah bawa aja deh tuh anak mu," ucapnya kesal.]
["Uuuhhhhh.. Makasih bestie ku eeemmuach...," ucap ku lalu menutup telpon.]
Leganya hati ku, beruntungnya punya sahabat seperti Sonya bos perusahaan tempat ku kerja saat ini.
Keesokannya Aku membawa Aira ke kantor, sebelum ke kantor aku membeli kan beberapa pakaian untuknya.
karena perusahaan ku termasuk perusahaan yang berkerja memenuhi kebutuhan anak dan ibu makanya terasa lenggang dan santai di sana ada ruang khusus anak - anak bermain.
"Aira kamu santai disini dulu ya, banyak mainan dan disana ada rak cemilan," Ucap ku.
"Nanti saat makan siang Bunda kesini lagi oke, kamu jangan kemana-mana ya," ucapkan ku lagi dan hanya di tanggapi anggukan.
Aira terlihat sangat senang di sana, Ia memainkan permainan lalu mengambil beberapa camilan dari yang ku beri tahu tadi.
Aku menemui Sonya membahas masalah revisi produk dan lainnya setelahnya kami membahas tentang Aira. Menurut Sonya aku tak boleh lama - lama menahan Aira,jika ketahuan maka permasalahannya akan panjang mengingat cerita ku tentang perlakuan pandu.
Saat makan siang aku menemui Aira dan mengajak makam siang di kantin. Memperlakukan dia seperti anak sendiri membuat Sonya terharu.
"Ku rasa mungkin tak apa Ia tinggal beberapa hari dengan mu," ucap Sonya memecahkan suasana.
"Karena ku lihat sepertinya memang Ia kurang kasih sayang mentalnya kasihan," ucapnya lagi, memang Sonya juga punya kepribadian ke Ibuan dan Dia lulusan Dokter psikologi.
"Ku rasa begitu, diusianya begini sudah banyak masalah orang tuanya yang egois,"ucap ku kesal.
*******,,,,,,,,*******,,,,,,,,******
Pagi ini aku harus kekantor lagi, sebagai bagaian devisi editor periklanan maka kami akan diadakan pembagian team,kali ini ku dengar desas - desus akan ada anggota baru dari kantor pusat yang akan ikut bergabung di team kami.
"Selamat pagi semua." sambut Sonya bersemangat.
"Pagi....," Sambut kami serentak.
"Di team kalian akan ada tambahan anggota dari kantor pusat," ucap Sonya membuat kami semua penasaran.
"Silahkan perkenalkan diri anda kepada anggota team." Sonya mempersilahkan seorang pria nampak tak asing lagi yang membuat ku terkejut.
"Baik Bu Sonya," ucap pria bejat itu sok kalem.
"Perkenalkan saya Pandu Winata, cukup panggil saja pandu mohon bantuannya," ucapnya singkat lalu duduk di sebelahku.
"Ehem... Ternyata kau kerja disini." Bisiknya membuatku risih.
Setelah beberapa diskusi kami lakukan akhirnya waktunya aku pulang, ku pacu motor matic butut ku membelah jalanan sambil menggerutu masalah pandu yang suka sekali curi pandang.
"Kenapa sih harus ketemu di di kantor juga?"
"Untungnya gak setiap hari aku harus kekantor," gerutu ku selama di perjalanan.
Dan beruntungnya Aira tidak ikut aku hari ini, ia ku titipkan pada mbok Minah yang tinggal di depan gang arah masuk ke kosan ku, mbok Minah adalah penjaga dan yang bertugas menagih uang kamar kos.
****,,,,,,,, *****,,,,*****
Beberapa hari ini aku selalu pergi kekantor untuk diskusi penting tetang iklan produk yang benar-benar harus teliti karena produk ini tentang kosmetik dari perusahaan besar. Jadi akhir - akhir ini Aira ku titipkan pada mbok Minah.
"Assalamu'alaiku Mbok...." panggilku sambil mengetuk pintu.
Namun tak ada jawaban sama sekali, aku bingung dan sedih karena tetangganya bilang mbok Minah jatuh sakit dan langsung di jemput oleh anaknya pulang kekampung. Bagaimana dengan Aira....
Aku bertanya apakah mereka melihat anak kecil, yang ku titipkan pada mbok Minah. Mereka hanya menggelengkan kepala dan bilang mereka tidak melihat anak yang ku maksud. Aku kebingungan mencari Aira di sekitaran gang kompleks dan sampai di kolong jembatan sekitar bahkan ku telusuri setiap jembatan, rumah kardus bahkan tempat - tempat yang sekiranya di kunjungi anak - anak terlantar.
Seharian lamanya pencarian aku tak menemukan jejak Aira sama sekali, rasa bersalah kian menjadi tanpa pikir panjang aku akhirnya menceritakan semuanya pada Pandu.
"Kamu... jangan bercanda Zoya...." bentaknya pada ku sambil mencengkram bahu ku kuat, aku tak melawan hanya pasrah dan merasa bersalah.
"Ayo... Ikut aku kita datangi rumah Winda." ajaknya sambil menarik tanganku memeasuki mobilnya.
Kami saling diam selama perjalanan hingga mobil berhenti di depan gerbang rumah mewah namun terlihat sepi tak ada penghuninya.
"Windaaaa...." teriak Panduk.
Krrreeeeiiiitttt....
Derit gerbang terbuka otomatis, pikiran ku emang ada sistem gerbang yang otomatis terbuka sendiri, namun berbeda dengan raut wajah Pandu yang terkejut.
Pandu langsung menerobos masuk memanggil nama Aira berkali-kali. Namun tak ada sahutan dari dalam sama sekali, Pandu berusaha mebuka paksa pintu saat terdengar suara tangisan anak kecil didalam. Akupun panik dan khawatir ikut membantu Pandu mendobrak pintu.
Saat pintu didobrak ruangan pengap, gelap dan berbau Anyir, ada bekas darah mengering didekat pintu suatu kamar. Pandu mendobrak kembali pintu itu betapa terkejutnya kami melihat tubuh mayat anak kecil bergaun merah hampir membusuk persis pertama kali aku bertemu Aira.
"Airaaaaaa...." teriak ku tak tahan lagi penuh sesak didada.
"Airaaaaa, maafkan Ayah Nak...." Pandu tak kalah terluka melihat hal buruk menimpa putrinya.
"Gak mungkin ini Aira," ucap ku tak percaya pasalnya ia bersama ku beberapa hari ini.
"Pandu ini gak mungkin Aira, dia tinggal bersama ku beberapa hari ini bahkan tadi pagi ia masih ku mandikan," ucap ku sambil mengguncang tubuh pandu yang lemas tak berdaya dekat mayat anaknya.
"Kamu jangan bercanda Zoya," ucap Pandu tak percaya.
"Ini buktinya," aku menunjukkan foto ku bersama Aira, terlihat di foto wajah Aira pucat pasi dan pudar.
"Kita harus mencari Winda," ucap Pandu geram.
"Sabar Pandu, kita harus menghubungi polisi dahulu agar mudah menangkap Winda." saran ku pada Pandu.
***,,,, ***,,,,,, *****
Setelah kami melakukan laporan terhadap polisi, akhirnya Winda tertangkap dengan suami barunya yang tengah asyik berpesta narkoba.
Winda mengakui tak mengurus Aira dengan baik, lalu tak sengaja membunuhnya karena merajuk terus menerus meminta bertemu ayahnya. Aira yang sedang menangis lalu di pukulnya bagian kepala lalu ditinggalkan begitu saja didalam kamar dalam ke adaan sekarat.
Hal ini membuatku marah dan emosi, mengapa tidak dari dulu saja aku bertemu Aira sehingga ia tak akan mati mengenaskan begini.
****,,,,,,,, *****,,,,, *****
Setelah kejadian itu, aku selalu menghindari Pandu sampai tugas proyek kami akan berakhir dan Pandu akan kembali ke kantor pusat.
Tok... Tok... Tok...
Terdengar suara ketukan pintu.
Saat ku buka ternyata Pandu, terilhat ia sudah membawa tas besar dan beberapa koper.
"Zoya... Terima kasih ya sudah memberitahukan tentang Aira," ucapnya dengan raut wajah sedih.
"Dan terima kasih sudah membantu ku waktu itu, maaf jika aku sudah berlaku kurang ajar pada mu," ucapnya lagi.
"Ia tak apa lupakan saja, aku sudah memaafkan mu,"
"Selamat jalan, dan hati - hati," ucap ku begitu berat.
Entah apa ada rasa aneh yang mengganjal di hati begitu berat melepas kepergian Pandu.
*****,,,,,, *****
Setelah satu minggu kepergian Pandu dan kenangan bersama Aira, kini hati hampa dan selalu mengurung diri di rumah.
"Zoya...." panggil Sonya mengejutkan ku.
"Sonya... Bikin kaget aja sih."
"Ucap salam kek, kalau masuk rumah orang," ucap ku kesal.
"Ye... Dari tadi aku sudah ucap salam, kamunya aja suka melamun tidak dengar," sahut Sonya kesal.
"Ngapain sih, pasti ngelamunin Pandu nih ye...." ledeknya sambil mencubit pelan bahu ku.
"Huft... iya nih, entah kenapa aku kok makin kesini kepikiran sama dia ya,"
Aku memang tak pernah menutupi tentang perasaan pada Sonya, karena ia yang paling bisa di percaya.
"Eh... Seandainya tiba-tiba Pandu melamar mu bagaimana?"
"Dih... Makin ngaco nih omongan mu," sahutku kesal.
"Serius Zoy...." ucapanya serius.
"Oke... Aku bakalan terima karena obat rinduku pada Aira ada di Dia, habisnya wajah mereka mirip," jawab ku malu - malu.
"Alah... Bilang aja kamu juga dah jatuh cinta sama Pandu," ucap Sonya mengejek.
"Dah... Ngapain sih bahas si Pandu, lagian tuh oranganya udah pergi balik keasalnya," sahut ku kesal.
"Kamu yakin bakal terima lamaran ku,?" tiba-tiba terdengar suara yang ku rindukan tepat di hadapan ku berdiri seorang Pandu Winata dengan sebuah cincin yang di ulurkannya pada ku.
"Kamu yakin mau ngelamar aku?" tanya ku balik tak yakin ia akan menerima statusku yang tak tau siapa mazhabnya.
"Aku akan menerimamu apa adanya dan bagaimana kondisi mu," ucapnya serius membuat ku terharu.
Akhirnya aku menerima lamaran Pandu dan tak hutuh waktu lama jarak satu bulan akhirnya kami melangsungkan pernikahan sederhana, hanya teman kerja dan anggota keluarga pondok yang sudah merawatku.
Setelah pernikahan berlangsung, aku mangajak Pandu mengunjungi makam Aira bidadari kecilku.
"Terima kasih Aira, berkat mu kini ku temukan cinta yang mau menerima kekurangan ku," ucap ku sambil mengusap batu nisannya.
"Terima kasih ya Nak, berkat mu aku tak kesepian lagi, kehadiran mu waktu itu menjadi kenangan paling manis dalam hidup Bunda," ucapku sambil meneteskan air mata tak tertahan lagi.
Pandu memeluk ku penuh kehangatan keluarga yang aku rindukan selama ini.
Tuhan memberikan segala kebaikannya untuk ku atas segala kesulitan yang sudah ku alami.
~ Tamat ~
Jangan lupa bantu like dan komentar nya ya
Terima kasih sudah mau mampir