Hiruk pikuk perkantoran di pagi hari. Suara keyboard laptop dan komputer terus berbunyi, dan suara printer tiada henti mencetak huruf demi huruf di kertas dokumen.
Itulah yang biasa di lakukan semua karyawan di bagian kantor. Tidak kecuali, perempuan bernama Raena Kartika. Perempuan berusia 30 tahun itu, konsen dengan layar monitor laptop kesayangan. Dia sesekali meneguk minuman yang ada di sebelahnya.
"Rae, kau tidak istirahat?" tanya rekan satu timnya.
"Kau duluan saja, aku masih nanggung." ucapnya tanpa lepas dari laptopnya.
Teman satu Timnya hanya menghela nafas, melihat perilaku Raena. Menurut mereka, Raena terlalu menyiksa dirinya sejak orang yang selalu memberikan hadiah untuk Raena menikah dengan pilihan orangtuanya.
"Kau tidak istirahat, Rae?" Raena menghentikan aktivitasnya dan memandang ke arah sebelahnya.
Raena langsung memejamkan matanya, dan berharap ini hanya halusinasinya saja. Setelah membuka matanya, tenyata itu benar hanya halusinasinya saja. Raena menghela nafas, dan menyandarkan bahunya di sandaran kursi.
"Dia sudah bahagia dengan pilihan orang tuanya, Raena. Jangan di pikirkan dia lagi..., " ucap Raena pada diri sendiri.
Raena teringat, 3 tahun yang lalu saat dia menjadi karyawan baru di kantor itu. Seorang pria bernama Jin Mahendra, selalu menyambutnya saat dia absen. Awalnya dia tidak menggubris pria itu, karena tingkah konyol dia membuat Raena kadang ingin menendang kaki pria itu.
"Kau tahu, segelas coklat hangat itu bisa merubah mood seseorang," ucap pria itu meletakkan secangkir coklat hangat di meja milik Raena.
"Terima kasih, Pak." ucap Raena sedikit bingung memanggil pria yang di sebelahnya memanggilnya dengan sebutan apa.
"Hei, walau di jam kerja aku Bosmu. Tapi, di jam istirahat aku bisa jadi kawanmu untuk bicara. Jadi, jangan panggil aku Pak di jam istirahat. Wahai kulkas berjalan yang cantik," ucap pria itu biasa di panggil Jin.
Raena sedikit sebal, karena orang yang di sebelahnya ini memanggilnya kulkas berjalan. Itu kan panggilan dirinya dari semua karyawan di kantor ini. Kenapa dia bisa tahu dengan panggilan itu.
"Kau jangan menjadi perempuan workaholic, Rae. Tidak baik untuk kesehatanmu," omel Jin sesekali kepada Raena yang hampir tidak pernah ikut istirahat dengan Karyawan yang lain.
Raena hanya tersenyum, ketika masih ada memperhatikannya di kalah dia sibuk dengan pekerjaannya yang menumpuk itu. Karena selama ini, tidak ada pria seperhatian itu kepadanya selama ini.
Namun, setahun kemudian. Raena merasa aneh dengan Bos sekaligus kawannya mengobrol itu. Setiap jam istrahat, dia duduk di sebelah Raena sambil memberikan setangkai bunga mawar di hadapan Raena.
"Kau mau apa dengan bunga itu?" tanya Raena kepada Jin.
"Aku memberikan ini karena kau spesial, Rae." ucapnya sambil tersenyum, dan itu membuat jantung Raena berdebar.
"Hah! Spesial? Kita kan, hanya teman mengobrol. Apa spesialnya dariku?" Raena merendah.
Jin meletakkan bunga itu, di meja Raena dan memutar kursi Raena agar berhadapan dengannya.
"Karena kau perempuan sangat spesial dalam hidupku, Raena Kartika." ucapnya serius.
"Deg"
Jantung Raena seperti berhenti berdetak, ketika melihat ekspresi Jin menjadi serius.
"Mulai saat ini, tidak hanya coklat hangat yang aku antarkan untukmu. Namun bunga juga, yang selalu aku antarkan untukmu setiap jam istirahat." ucap Jin dan membuat Raena tidak bisa berkata apa - apa.
Sejak saat itu, Jin sering ke tempat meja kerja milik Raena setiap jam istirahat kerja. Banyak karyawan perempuan iri, melihat bos mereka sering menghampiri Raena yang sering tidak pernah ikut ke kantin setiap jam istirahat karena keasikan kerja. Mereka kira, Raena sedang ada hubungan spesial kepada Jin. Meskipun Raena diam - diam suka kepada Jin, perempuan itu tetap bertingkah seperti biasanya kepada Bosnya itu. Karena menurutnya Karyawan seperti dia, tidak pantas untuk seorang Jin Mahendra pemilik perusahaan ini.
Akan tetapi, hal itu hanya berlangsung beberapa bulan. Sebelum akhirnya Jin, datang ke meja kerja Raena memabawa satu buah undangan dengan wajah sendu.
"Orang tuaku menjodohkan aku dengan perempuan lain, Rae." ucapnya meletakkan undangan pernikahannya di meja Raena.
Sejenak Raena menghentikan pekerjaannya, dan menatap undangan itu dengan hati yang sakit.
"Padahal aku sudah berharap, kau yang akan aku tunjukkan kepada kedua keluarga besarku. Namun, Keluargaku tetap pada pendiriannya untuk menjodohkan aku dengan orang lain." ucapnya sedikit bergetar.
Raena ingin sekali menangis, dan berkata bahwa dia juga berharap Jin menjadi orang spesial untuknya. Namun dia mencoba tenang, dan menatap pria yang selama ini selalu menghiburnya dengan tingkah konyolnya. Sampai Raena memiliki rasa lebih kepada pria di sebelahnya ini.
"Selamat, semoga pernikahanmu lancar. Pak Jin..., " ucap Raena mengulurkan tangannya kepada Jin.
"Apakah kau datang ketika pernikahanku?" tanya Jin sebelum membalas uluran tangan Raena.
"Pasti, aku pasti akan datang," ucap Raena menahan air matanya agar tidak jatuh.
"Kau memang perempuan spesial untukku, Rae." ucap Jin langsung memeluk tubuh Raena dengan erat seperti tidak ingin melepasnya.
***
Raena hanya mengusap air matanya tiba-tiba jatuh saat mengingat hal itu. Meskipun sudah tiga tahun berlalu. Raena masih berharap Jin, selalu datang di saat jam istirahat berbicara seperti biasanya, dan menanggapi tingkah konyol pria itu. Namun itu, hanya tinggal kenangan baginya.
Sejak pria itu menikah, tidak ada lagi orang yang di sebelahnya yang mengingatkannya untuk istirahat sejenak. Tidak ada lagi orang yang dengan tampang konyolnya membuat Raena sedikit tertawa. Karena sejak menikah, Jin seperti menghindarinya dan lebih memilih sibuk di ruangannya yang tidak jauh dari ruangan Raena.
Raena hanya memandang, kursi di sebelahnya. Kursi biasa Jin duduk di sebelahnya setiap jam istirahat, dan jam menjelang pulang jam kerja. Sesekali Raena menghela napasnya dalam. Berharap, kenangan itu bisa cepat hilang. Walaupun sampai sekarang Raena belum bisa membuka hatinya lagi.
"Cobalah melupakannya, Raena. Anggaplah itu hanya kenanganmu dengan dia." ucap Raena dalam hati.
Tak terasa jam menunjukkan jam pulang, Raena bergegas membersihkan meja kerjanya dan memasukan laptopnya dalam tas.
"Kau mau pulang, seperti orang kesetanan saja." Raena hanya menghembuskan napasnya karena teringat kenangan itu lagi.
Setelah sudah beres, Raena bergegas menuju lift. Namun saat pintu lift tertutup, seorang menahannya dan langsung masuk ke dalam. Raena yang terkejut siapa yang masuk lift bersamanya hanya bisa terdiam, dan terpaku melihat wajahnya.
Orang yang selama ini, menghindarinya ketika jam kerja. Kini selama 3 tahun, tidak pernah bertemu walau satu kantor. Sudah di hadapannya, dengan wajah seperti kurang terawat karena banyak bulu tipis di sekitar wajahnya. Dulu wajah itu mulus, dan terawat dengan menunjukkan ketampanannya. Kini seperti orang, tidak pernah merawat dirinya sendiri.
"Kau pulang lembur lagi?" tanya orang itu memecah keheningan.
"Iya, pak. Masih ada satu laporan yang belum selesai tadi." jawab Raena menahan kegugupannya.
"Selama 3 tahun ini, apa saja kau lakukan?" tanya pria itu tadi.
"Seperti biasa, pak. Kerja sampai lembur, membuat laporan untuk di serahkan kepada editor." balas Raena seadanya.
Raena merasa lift yang mereka tumpangi berjalan lambat, dan berharap lift ini bisa segara sampai basement kemudian dia mengambil motornya di parkiran, setelah itu pergi. Agar dia tidak bersama orang yang di sebelahnya.
"Hai, kau tidak bertanya selama 3 tahun aku bagaimana?" tanya pria itu tak lain adalah Jin.
Jin bertanya seolah-olah, mereka seperti dulu. Mengobrol bersama dan bercanda seperti dulu.
Raena hanya bingung dengan sikap, orang di hadapannya itu, dan dia memilih diam
"Ting"
Akhirnya lift itu sampai basement, sebelum Raena menjawab.
"Saya duluan, pak. Permisi...," ucap Raena dengan cepat keluar dari lift itu dan tidak mau berlama-lama dengan orang yang memberikan banyak kenangan.
Raena tidak mau menangis lagi dalam diamnya. Biarkan dia menetralisir hatinya, dan menyimpan semua kenangan antara dia dan Jin Mahendra itu. Sementara Jin, hanya terdiam melihat Raena berjalan cepat meninggalkannya.
"Andai kau tahu Raena, selama 3 tahun ini kau tetap perempuan spesial untukku. Kau kenangan terindah untukku. Kau tahu, saat ini aku sudah bercerai dengan istriku. Karena aku tidak mencintainya, dan dia memilih selingkuh di belakangku. Sebenarnya banyak sekali, yang aku ingin ceritakan kepadamu. Namun aku tidak sanggup, malah menghindar darimu. Maafkan aku, Raena Kartika. Jujur, sebenernya aku sudah terlanjur cinta kepadamu. Namun lidah ini sangat keluh untuk mengatakannya" ucap Jin dalam hati masih terus memandang ke arah Raena mengambil motor sport miliknya dan meninggalkan gedung kantor.
Sedangkan Raena, di balik helm full face miliknya. Dia tiada henti menitikan air matanya, dan fokus mengendarai motor miliknya.
"Maaf, biarkan kisah kita berdua menjadi kenangan. Jujur di dalam hatiku, masih ada namamu Jin Mahendra. Namun, aku harus pendam itu semua karena kau milik orang lain." ucap Raena dalam hati.
Raena menambah kecepatan motor miliknya, dan meluapkan semua isi hatinya. Biarkanlah semuanya pada dirinya menjadi tinggal kenangan untuk dia dan Jin Mahendra.
~ Tamat ~
jangan lupa, kalau udah baca like, comment dan share. Biar author semangat buat cerpen lagi.
makasih...