"Aku mau kamu berhenti bekerja! "
"Tapi mas, aku anak tunggal tak ada yang bisa menggantikan kedudukan ku mas. "
"Aku hanya mau anak Maya, mengertilah! "
"Mas! bersabarlah mas, mungkin memang belum waktunya mas. "
"Sudah 5 tahun Maya! Begini saja aku kasih kamu pilihan. Pertama kamu berhenti bekerja dan ikut promil atau pilihan ke dua aku akan menikah lagi. "
"Mas... " Aku hanya bisa menangis tanpa bisa berkata apapun tak mungkin aku memilih diantara pilihan itu.
"Sudah aku beri kamu waktu satu minggu pikirkan baik-baik! " ucap mas Arya sambil berlalu pergi.
Pagi yang buruk. Ku pandangi jam di dinding yang menunjukkan pukul 7
Ku basuh wajah ku dan mulai memolesnya dengan tipis lalu ku pacu mobil hitam milikku menuju kantor.
Ku habiskan waktuku hari ini untuk bekerja, bahkan hingga larut malam agar lupa akan segala masalah ku. Ku hubungi pantry
"Halo tolong buatkan saya kopi! "
"Baik bu! "
Tak lama seorang OB muda berparas tampan masuk dan meletakkan kopi di meja kerjaku.
"Terimakasih! Siapa nama mu? "
"Davin bu! " Terlihat wajah lelah dan penampilan yang sudah kusut. Ku pandang jam didinding. Pukul 11.00 malam
"Oh, maaf membuat mu lembur hingga selarut ini. Ayo bantu aku merapikan berkas ini lalu kamu boleh pulang! "
"Baik bu! "
"Kamu pulang naik apa vin? "
"Bus bu! "
"Emang masih ada jam segini? "
"Mungkin masih bu! "
"Ya sudah sana pulang! " Davin meninggal kan ku.
Diluar malam terasa dingin ditambah hujan deras dan berangin
"Aku masuk kedalam mobil dan memacu nya hingga disebuah halte bus kulihat Davin masih duduk menunggu bus.
" Davin mau kemana? "
"Kampung impian bu! "
"Ayo bareng, kita searah! "
"Ga usah bu nanti merepotkan! "
"Ayo masuk kalo ga aku marah loh. "
Akhirnya Davin pun masuk dan mobil pun berjalan namun beberapa saat kemudian mobil tak dapat bergerak, terjebak macet akibat kepungan banjir. Akhirnya kami hanya bisa menunggu
"Bu, ibu capek? "
"Em iya, "
"Biar saya saja yang menyetir bu, ibu istirahat saja."
"Kamu bisa nyetir?"
"Bisa bu. Dulu sebelum keluarga kami bangkrut saya punya mobil sendiri bu. "
"Oh, ok, maaf merepotkan ya! " Saat Davin akan membuka pintu ku hentikan dia, karena hujan turun teramat lebat.
Kami bertukar posisi tanpa turun dari mobil. Namun sebelum Davin berpindah aku terjatuh duduk di pangkuannya.
"Ah, maaf! " Ku angkat tubuhku agar ia bisa bergeser ke kemudi.
Karena lelah tak sengaja aku tertidur hingga saat terbangun aku sudah berada di sebuah kamar yang asing.
Ku buka pintu kamar yang ku tempati dan melangkah keluar. Ku lihat Devin tengah tidur di sofa dengan TV yang masih menyala.
Ku pandangi pria muda itu wajahnya begitu tampan dengan alis tebal membuat wajah tegas dan maco.
"Eh Ibu sudah bangun? " Ucap devin dengan suara serak khas bangun tidur
"Dimana ini? " tanya ku
"Rumah saya bu tadi saya bingung mau bawa Ibu ke mana, jadi saya bawa kemari. Maaf kalau saya salah. "
"Ga apa, saya yang salah. "
Devin menuju dapur dan membuatkan ku coklat panas, terlihat di luar masih hujan. Kami duduk bersama dan bercerita tentang masa lalu devin yang ternyata anak seorang pengusaha namun harus gulung tikar dan menanggung banyak hutang, sehingga ia dan keluarga harus kehilangan seluruh aset berharganya dan itu karena ulah lawan bisnisnya.
Tak terasa hari sudah mulai pagi matahari tampak malu-malu menyapa.
"Hari ini kamu kerja?"
" Iya bu! "
"Kita berangkat bareng aja dev! "
"Ga boleh bu, nanti apa kata bawahan ibu kita sendiri-sendiri saja bu! "
"Oh begitu baik lah. "
Akhirnya aku berangkat kekantor dengan mobilku sedang devin tetap dengan bus.
Ketika di kantor bayang wajah polos dan tampan itu membayangi ku.
Membuat ku tak sabar ingin bertemu, ku hubungi pantry berharap Devin mengantarkan kopi pesanan ku. Dan benar saja.
"Silahkan Bu? " Devin meletakkan segelas teh hangat di hadapan ku
Ku tatap wajah tampannya yang membuat ku gemas.
"Duduk temani aku di sini! "
"Saya takut di marahi mba Sri bu. "
"Udah santai aja! " Ku bawa laptop ku dan mulai mengecek pengeluaran kantor di sofa, lalu disusul Davin yang memilih berdiri di belakang ku
"Naik lagi bu ada yang salah tuh! "
"Mana? " Ia menunjuk sebuah angka di laptop ku. Setelah ku periksa memang ada kesalahan di sana
"Kamu kuliah? "
"Mandek bu ga ada biaya! "
Terlintas ide gila dalam pikiran ku, mas Dimas ingin aku hamil bagai mana kalau dia saja yang menghamili ku.
"Ah, gila. Ga bisa begitu. " Batin ku
"Coba sini kita cek sama-sama! " Ia duduk di sampingku dan mengambil alih laptop.
Dia terlihat lincah, wajah tampannya semakin terlihat mempesona saja saat sedang serius.
"Sudah bu sudah saya benarkan dan sudah saya cek! " Ku lihat layar di depan ku dan kupastikan semuanya benar dan ternyata memang sudah benar semua.
"Makan siang yuk! " Namun saat akan berdiri ternyata Rok payung yang ku kenakan terduduki oleh nya sehingga tubuh ku jatuh di pelukan nya. Mata kami saling berpandangan menciptakan desiran dalam dada hingga semakin dekat bahkan wajah kami hampir saling bersentuhan.
Ku rasakan hembusan hangat napasnya di pipiku. Membuat ku menggila dan ingin semakin mendekatinya hingga tanpa sadar hidungku sudah menempel pada hidung mancungnya.
Dia hanya diam tak menolak membuat ku yang haus akan cinta dan belaian semakin berani. Setelah beberapa saat ku memundurkan tubuh ku dan memandang nya yang juga menatap ku tak percaya akan apa yang ku lakukan.
"Maaf! Aku.. "
"Tak apa bu! Saya mengerti. Saya permisi dulu. "
"Kamu ga ikut? "
"Kemana bu? "
"Makan."
"Tapi saya ga enak sama rekan kerja yang lain bu! "
"Ku tunggu di halte, ok! "
Dia mengangguk dan kami pun makan bersama. Di tengah keheningan ia mulai berbicara
"Andai saja bu! "
Aku hanya menatapnya dengan heran.
"Andai aku pantas buat ibu, pasti sudah ku bawa lari. Sayang... " ucapannya terhenti menyisakan senyum kecut di bibirnya.
"Klo aku yang bawa kamu lari gimana? "
"Jangan! ibu sangat terhormat tak pantas melakukan itu? "
"Kamu tau vin aku tak mau diduakan dan juga tak mau kehilangan perusahaan yang dirintis orang tua ku dengan susah payah. Aku akan bercerai dengan suami ku. Besok pengacara ku yang akan mengurus. Apa kamu mau menemani ku setelah perceraian ini? "
"Tapi bu aku cuma OB! "
"Temani aku, aku butuh seseorang yang bisa membuatku nyaman. "