Sebagai orang yang berdarah orang suku Batak pasti mengakui adanya perjodohan antara anak dari kakak laki-laki yang memiliki anak perempuan bisa menikah dengan anak laki-laki dari tantenya sendiri.
Namaku Naumi valery boru.xxxx
Aku bekerja di bidang pertambangan disalah satu dikota tersebut.
Ayahku hanyalah pegawai negeri dan ibuku hanyalah ibu rumah tangga yang baik.
Tidak lain kata dari "Pariban" menurutmu tentang perjodohan kita harus menikah dengan wanita atau laki-laki yang kita tidak inginkan namun sebagai anak Kita harus berbakti kepada orang tua kita bukan?
Seperti yang aku lakukan saat ini aku harus meninggalkan keinginanku begitu saja dan mau tidak mau aku harus menuruti keinginan kedua orang tuaku.
Karena aku harus menikah dengan anak tante yang memiliki anak laki-laki aku tidak menginginkannya Karena bagiku menikah ah dengan Pariban itu sama saja menikah dengan saudara sendiri.
Bagaimana tidak Ayahku adalah kakak dari ibunya sendiri tapi sebagai anak perempuan satu-satunya( Boru Sasada) Ayahku tidak menginginkan aku untuk menikah dengan laki-laki lain karena dia takut jika aku tidak bahagia bersama suamiku nantinya.
Oleh sebab itu Ayahku bersihkukuh untuk segera aku dipinang oleh anak tanteku sebagai wanita yang mandiri .
Aku bekerja perusahaan sebagai staf marketing keuangan di usiaku yang menginjak Cukup dewasa aku harus segera menikah Walau aku tidak menyukainya hari yang telah dijanjikan (Namboru )ku tanteku dan beserta segerombolan dari Marga suaminya telah datang kediamanku .
Baru kali itu aku melihat laki-laki akan menjadi suamiku itu jantungku berdegup dengan kencang membuat aku menjadi salah tingkah dibuatnya wajahnya yang tampan dengan alis yang tebal dan sorot matanya yang begitu tajam sangat mempesona buatku.
Namun laki-laki itu seakan datar dia hanya diam dalam duduknya sehingga aku pun takut untuk menegur atau sekedar berbicara dengannya.
Bagaimana tidak dia lain adalah Bosku berarti selama ini aku telah bekerja di perusahaan yang dibangun oleh suami dari Tante ku sendiri.
Selama aku bekerja tak ada komunikasi antara kami berdua karena itu aku sangat enggan untuk menegurnya.
Tapi setahuku dia memiliki kekasih yang sangat cantik tidak Sebanding denganku mungkin karena itu dia memperlihatkan wajah datarnya itu untukku.
Nama laki-laki itu Sergio dia biasa dipanggil Gio mungkin dia tidak menyetujui akan Perjodohan ini walau begitu Itu Aku telah menyetujuinya sepihak karena di satu sisi aku harus membahagiakan kedua orang tuaku di sisi lain karena aku diam-diam telah menaruh hati padanya saat aku bekerja dengannya walau aku hanya mengaguminya dari kejauhan.
"Gimana inang setujunya kan kau menikah dengan paribanmu itu"Ucap Bapak padaku seraya membaca koran kesukaannya.
"Terserah bapaklah aku menuruti saja apa yang bapak inginkan. Karena bapak pastilah menginginkan yang terbaik untukku"ucapku tenang.
Ibuku tersenyum mendengar percakapan antara aku dengan bapakku.
Dikantor Sergio itu tetap dingin terhadapku dia selalu memperlihatkan wajah datar sehingga membuatku agak muak melihatnya.
Tapi dia adalah calon suamiku. Selang waktu OB menyampaikan sesuatu yang menyuruhku untuk menemui Sergio dilantai atas bahkan paling atas memanh tempat perusahaan tempat aku bekerja ini sangat bagus. Bangunan yang kokoh yang menjulang sampai lantai Tujuh itu. Sementara ruanganku dilantai dasar.
Ada rasa kesal aku melangkah kesana. Apa lagi Liff yang aku ingin naiki penuh jadi aku menunggu lagi.Hingga aku memutuskan untuk naik ke atas memakai tangga manual.
Aku melangkah cepat hingga peluh keluar secara alami ditubuhku.
"Ada apa Bang....?"tanyaku tergesah.
Dia mengawasiku sangat dalam dan Mengernitkan keningnya itu tidak suka padaku.
"Panggil saya bapakkkk"Sergio setengah berteriak padaku membuatku agak takut akan marahnya padaku.
"iya maaf...pak...! "aku gugup dibuatnya kakiku rasanya lemas seakan tak bisa menopang tubuh rampingku.
"Aku sangat menyesal karena sudah menyetujui keinginan orangtuaku untuk segera menikah dengan wanita sebodoh kamu!"Hardik Sergio padaku hingga mataku berembun karenanya.
Diruangan yang dingin itu aku menangis tanpa sebab dan akibat dia memarahiku hanya karena aku memanggilnya dengan sebutan Abang aku memang salah dan aku tidak tahu menempatkan diriku lagi berada dimana.
"Ada apa pak, Bapak memanggil saya"ucapku profesional walau suaraku berubah parau karena aku menangis.
"Aku memang akan menikahimu tapi kau harus merahasiakannya karena aku tidak mau sampai orang mengetahuinya"Sergah Sergio datar
"Bapak pikir saya juga menginginkannya anda sudah salah pak, ini hanya demi orang tua saya pak"ucapku tegas walau aku menginginkannya tapi demi harga diriku aku seakan tidak menyukainya.
" Kau boleh kembali bekerja tapi ingat sepulang bekerja kau harus menunggu aku pulang karena aku akan mengajakmu ke sebuah butik untuk memilih baju yang akan kita pakai dipernikahan kita nanti "ucap Sergio datar seperti wajahnya. Dia datar dan aku sangat membencinya walau aku sudah mencintainya entah Kapan perasaan itu datang dan tumbuh di hatiku.
Aku bekerja seperti biasanya tak ada yang muluk-muluk yang kulakukan hari itu lagi pernikahan yang sebentar lagi itu yang dirahasiakan oleh dia karena tidak menginginkan awak Awam mengetahuinya jadi aku pun tidak ingin bercerita walau pun sedikit kepada teman sekantor ku.
Sepulang bekerja aku memang harus menunggunya.Aku tidak mau jika nanti bermasalah untukku nanti.Terlihat pria itu sudah selesai bekerja dan langsung menuju keruanganku.
"Ayoo"ajaknya dingin
Aku pun berjalan di belakangnya hingga akhirnya aku masuk kt dalam mobil pria dingin itu.
Kami langsung ke tempat tujuan ada 3 baju yang harus jajahkan ke tubuh rampingku. Dia masih tampak dingin tak ada respon darinya bagus atau tidak tak ada keluar dari mulutnya .
Aku juga tak menginginkannya aku berpikir bagaimana nantinya caraku menyikapinya saat aku menjadi istrinya.
Akankah dia masih seperti ini, apa aku bisa membuat dia jatuh cinta kepadaku. Semua itu berkecamuk dalam rongga pemikiranku sendiri.
Kami mampir ke sebuah restoran di sana Kami makan bersama dengan diam tak ada yang spesial darinya dia memang laki-laki yang dingin.Aku juga tak banyak bicara menatapnya saja aku bisa membuat buku kudukku berdiri.
Dia mengantarkanku pulang ke rumah dia yang membawa Paperbag belanjaanku yang dibelinya tadi dia mampir kerumahku Lagipula dia berkunjung ke rumah pamannya sendiri.
Dia memang laki-laki pendiam tak muluk-muluk setelah mengesap teh buatan ibuku dia langsung pamit pulang.
" Papa lihat kamu sudah lebih dekat dengan Gio Papa senang melihatnya nak" Ujar papaku tersenyum aku juga ikut tersenyum miring lalu aku masuk kekamarku.
Aku bingung dengan laki-laki itu bahkan di usia dia yang masih tergolong muda itu perusahaannya telah Merana menjulang tinggi bahkan usahanya berkembang pesat hingga ke luar negeri aku takut nantinya aku tidak bisa mengimbanginya. Karena aku hanyalah Wanita Biasa tidak sebanding dengannya. Aku hanyalah seorang pekerja dan seorang anak rumahan.
Satu minggu lagi aku akan menikah dengannya aku merasa beruntung atau sial entah apalah artinya aku hanya perlu mendoakan hubungan kami bisa bahagia nantinya.
hari yang ditentukan telah tiba pernikahanku denganmu diadakan di Gereja Katedral gereja yang selalu menjadi saksi cinta dimana anak manusia 2 menjadi satu ikatan aku bahagia Tapi aku hanya berperan di sana pernah tak ada manis-manisnya dia padaku
bersambung....