Terkenal sebagai pria paling ketus di kantor, aku memiliki seorang junior yang sangat pecicilan. Dia baru bergabung di perusahaan ini tiga bulan lalu. Dia sangat usil padaku.
"Senior... Aku lelah, ayo kita makan! Sudahi dulu pekerjaannya~" rengeknya lagi-lagi muncul secara ajaib didepan ku. Aku yang sedang mencetak beberapa dokumen jadi merasa terganggu.
"Kau duluan saja, apa kau tidak melihatku sedang sibuk sekarang?!" jutek ku.
"Aaaa, tapi ini sudah malam! Senior harus makan atau senior akan sakit! Lhily nggak mau sampai senior Claude sakit~"
Aku berdecak, "Kau hanya ingin aku mentraktir mu lagi, bukan? Rayuanmu takkan berpengaruh padaku Lhily!" celetukku beranjak meninggalkan mesin pencetak dan gadis itu. Aku memasuki ruangan manajer tanpa mempedulikan Lhyli yang mengekor di belakangku.
"Ayolahhhh senior... Aku hanya ingin makan makanan street food malam! Senior Claude!"
"Ini data yang anda minta pak," sengaja mengabaikan bujukan Lhyli yang tidak kenal malu merengek di ruangan manager, aku menyerahkan dokumen yang diminta pria itu.
"Terimakasih nak Claude, seperti biasa semua hasil pekerjaanmu sangat memuaskan!" pujinya menelisik data dalam dokumen yang kuberi. Aku sedikit tersanjung, dan malu karena tidak sepantasnya pria berusia 35 tahun sepertiku dipanggil "Nak" oleh beliau.
Tapi sudahlah.
"Kalau begitu saya permisi, pak." aku yang telah selesai dengan tugas pun berniat meninggalkan ruangan, namun.
"Nak Claude!"
Langkahku terhenti diambang pintu. "Iya, pak?" ucapku menatap pak manajer yang menampil raut sendu. Maniknya melihat tanganku yang memegang lengan baju Lhyli.
"Nak, kau tidak perlu lembur, kau bisa mengambil cuti. Jangan memaksakan diri dengan bekerja. Kau nampak sangat letih," tawar beliau, lantas menahan nafasku beberapa saat kala mendengarnya. Aku tersenyum ringan.
"Saya baik-baik saja pak, saya hanya belum makan malam, saya akan ke street food sekarang," jawabku.
"Kalau begitu biar bapak temani, yah?"
Aku menggeleng seraya melepas peganganku pada Lhyli. "Terimakasih banyak pak, tapi seseorang sudah memaksa saya untuk lagi-lagi mentraktirnya," dengusku menunjuk Lhyli yang langsung mengukir senyum.
"Jadi, aku di traktir? Kita akan ke street food senior?!"
Aku mengangguk, dan tak membutuhkan waktu lama bagiku beranjak dari ruangan manajer setelah itu. Kumasuki lift menuju lantai bawah, bergegas menuntaskan janjiku mentraktir Lhyli di street food malam seperti biasa. Hah, entah sejak kapan gadis ini membuatku selalu mentraktirnya.
"Ini!" Seporsi dimsum aku serahkan pada Lhyli yang menunggu bangku taman. Dia duduk sendirian menatap jalan raya.
"Terimakasih, senior Claude~"
Aku menghela, "Sudahlah, cepat habiskan dan kembali bekerja. Kulihat akhir-akhir ini kau banyak bermalasan, Lhyli! Kau akan di pecat jika terus begini!" gerutu ku mengambil duduk disebelahnya.
Lhyli mendengus, "Apa maksud senior? Aku kan sudah melakukan semuanya hingga akhir. Lhyli bahkan lebih detail ketimbang senior. Ingat dokumen yang tertinggal di Resto dan hanya Lhyli yang mengingatnya?" bantahnya memapar Kecerobohanku. Akupun tergelak.
"Benar... Kau sudah mengerjakan semuanya hingga akhir, Lhyliana. Kau sudah..." sahutku pelan. Tatap mataku mengarah pada pemandangan lampu merah di depan kami.
"Kalau aku usil ke senior, artinya aku sudah selesai bekerja! Aku takkan mengganggu senior jika pekerjaanku masih menumpuk!"
Kepalaku terangguk. "Baguslah. Terus saja lakukan sesuka hatimu. Kau suka menganggu ku, bukan? Aku takkan keberatan," candaku.
Lhyli namun terdiam.
Meredupnya sinar matanya memberitahuku bahwa dia enggan menjawab kalimat barusan. Alisnya menurun. "Jangan bicara begitu senior... Hidup terus berjalan apapun yang terjadi. Aku akan berhenti menganggu senior setelah senior mengikhlaskanku,"
"..."
Suara-suara disekitar taman memudar, menyisakan hanya deru nafasku saja yang terdengar hidup di bangku itu. Akupun menelaah orang-orang disana, melihat mereka sedang menatapku bagaikan orang gila yang berbicara sendiri ditengah keramaian.
Aku mengabaikannya. Melengkung senyum saat tangan Lhyliana menyentuhku, mengingatkanku pada kenyataan lewat suhu tubuhnya yang tidak lagi sama denganku.
"Senior... Sudahi terpuruknya, yah?" pinta gadis itu.
Senyap-senyap suara ambulance pun terdengar, membuat inderaku mencium simbahan darah membanjiri aspal dan keramaian orang yang menjeda lalu lintas didepan. Semua terputar bagai kaset rusak. Berulangkali menampilkan insiden tabrak lari yang menewaskan seorang karyawan perusahan kami.
Netraku kini, pun kembali memandang gadis yang juga menyaksikan tempatnya meninggal dihadapan kami.
"Jika senior belum mengikhlaskanku, aku akan terus menganggu senior, loh..." Lhyli terkekeh menampik senyum indahnya yang sentiasa terukir. Dia melanjutkan dengan suara serak.
"Senior gak boleh terpuruk terus! Bukan salah senior aku pergi lebih awal jadi, ikhlaskan aku... Agar aku tenang perginya~ Senior Claude!"
Kepalaku tertunduk menahan air mata yang menetes ke atas celana kerja. Aku tak kuasa mendengar suaranya memintaku merelakan, hingga menangis meski wujudnya bukan lagi manusia.
Demikianpun aku tak pernah takut dengannya. Dia adalah Lhyliana... Juniorku!
"Senior... Biarkan Lhyli pergi dengan tenang... Hiks!"
Rahangku mengeras. "Lhyli--"
Puk.
Namun memotong kalimatku, seorang pria paruh baya hadir bersama rekan kerja lainnya di belakang kursi taman. Manikku terbelalak menyaksikan mereka juga meneteskan air mata disana.
"Jangan menanggung semuanya sendirian nak Claude, Lhyli takkan senang melihatmu seperti ini. Bukan salahmu Lhyli tiada."
Tenggorokanku tercekat.
Tanpa menjawab kalimat pak Manajer, akupun kembali melirik Lhyli yang sudah beranjak dari bangku taman. Jantungku berdebar mengetahui apa yang akan Lhyli lakukan dengan menghampiri lampu merah. Akupun ingin bangkit dan menggapainya tapi, senyum manisnya mencegahku tetap berada disana. Membuatku hanya membisu melihat kepulan asap menghilangkan raganya setelah sebuah mobil melintas.
Lhyli...
"Aku takkan usil lagi. Jangan terburu-buru menyusulku~"
Gema lembut suaranya menghilang bersama udara malam itu. Meninggalkanku dengan satu permintaan terakhirnya.
"Untuk terus menjalani hidup,"
***
~Kilas~
"Ya ampun! Senior, apa senior meninggalkan dokumen penting kita di restoran?"
Menepuk dahinya seraya menghentikan langkah, Claude menoleh. "Aku lupa. Bisa tolong kau ambilkan untukku? Aku ada janji bertemu manajer sekarang."
Gadis berusia 23 tahun itupun mengangguk dengan senyum cerianya.
"Tapi senior harus mentraktirku street food malam, yah!"
Claude berdecak.
Tanpa merespon selain sebuah angguk, ia bergegas menuju pintu masuk kantor meninggalkan Lhyliana yang memutar arah menuju resto. Mereka baru mengadakan pertemuan dengan seorang mitra perusahaan disana. Lalu lintas pun terlihat sepi dari kendaraan.
"Hari ini sangat damai..."
Drrtt drrtt.
"Halo? Iya pak manajer, saya sedang menuju ke--"
BRAKK!
Claude yang hampir memasuki gedung kantor menghentikan langkah, menoleh kebelakang melihat jasad Lhyliana hancur didepan matanya.
"Lhy...li?!" Lututnya melemas. Tiada yang menduga kedamaian itu membawa kabar duka.
"LHYLI !!!"
(End)
***