Kau sangat mencintai laut, tapi kau tidak sadar bahwa cintamu kepada laut mampu merobohkan janji yang telah kau ucapkan kepadaku.
"Maaf Sar, aku punya cita-cita yang harus aku capai. Aku tidak bisa menikahimu sekarang. Tapi aku tidak bisa menjanjikan sesuatu yang aku sendiri tidak yakin. Aku hanya meminta maaf darimu, dan tolong jaga dirimu baik-baik," kalimat itu diucapkan Musa dengan beratnya, namun Sarah melihat tiada penyesalan di matanya. Sarah tahu betapa Musa ingin menjadi seorang awak kapal, mengarungi samudra dan berkelana dikelilingi ombak yang menari manja didepan mata.
"Baiklah bang, aku tidak mau menjadi penghalang bagi mimpimu. Wujudkan cita-citamu. Jika Tuhan memang menakdirkan kita untuk bersama, tiada kuasa siapapun untuk membantahnya," Sarah tidak kuasa menahan buliran hangat jatuh dipipinya. Tangis Sarah pecah tatkala lengan besar nan kokoh yang selalu jadi tumpuan kepalanya itu mendekap dirinya perlahan ke dada bidangnya.
***
7 tahun kemudian.
"Kak Sarah, ayo kita pulang. Sudah aku bereskan dagangan kita," Rizal bergegas memasukkan peralatan jualan mereka kedalam gerobak kecil. Sarah memandang nanar lautan yang seperti tidak berujung didepannya. Sinar matahari telah masuk ke peraduannya, membuat bayang-bayang kapal yang teronggok disana seolah hidup dan siap menerkam siapa saja yang berani mendekatinya.
"Kak," Sarah terkesiap mendapati adiknya, Rizal menggenggam tangannya.
"Iya, ini kakak juga sudah siap. Ayo," Sarah menghindari tatapan adiknya, dirinya tidak memungkiri kekhawatiran Rizal. Dirinya pun tidak memahami sebodoh apa dirinya. 7 tahun, waktu yang sangat panjang dan tidak sedetikpun wajah lelaki itu hilang dari pikiran Sarah.
Harapannya sangat sederhana, bertemu lelaki itu. Sekali saja. Walaupun untuk yang terakhir kalinya.
_Ah, Munafik_
Sarah tersenyum kecut. Setiap detik gambaran pernikahan dirinya dan Musa berkelebat mengganggu aktifitasnya. Tidak mungkin dengan penantian yang begitu lama, dirinya hanya ingin bertemu sekali? Sangat tidak mungkin. Sarah tahu itu. Alasan itulah yang membuat Sarah mendirikan warung tenda di pinggir pantai sepi itu. Hanya beberapa nelayan yang masih mau berlayar di desa mereka. Namun harapan Sarah mematahkan rasa putus asanya.
***
Musa memasukkan kopernya kedalam bagasi taxi bandara. Dirinya sudah tidak sabar ingin segera sampai.
30 menit perjalanan dari kota ke tempat kelahirannya terasa sangat panjang. Musa tak henti-hentinya mengagumi perubahan kota kelahirannya. Sangat berbeda dari 7 tahun yang lalu. Dirinya membayangkan hal menakjubkan apa lagi yang akan dijumpainya lagi di desanya.
***
Sarah berlari kecil menuju rumah Bu Sri, jantungnya berdegub tidak beraturan. Sarah tidak mampu mengungkapkan perasaannya saat itu. Sangat bahagia hingga membuatnya ingin menangis terisak. Sungguh perasaan yang aneh.
Langkah Sarah terhenti melihat begitu banyak orang di depan rumah Bu Sri. Ternyata bukan hanya dirinya yang menyambut bahagia kedatangan Musa. Semua tetangga bersuka cita menyambut kembalinya orang sukses ke desa.
"Sarah!" Nunung melambai kearah Sarah mengisyaratkan untuk mendekat. Sarah berjalan terhuyung, tidak mampu menahan kerinduannya. Musa, seperti apa gerangan dirinya sekarang. Pertanyaan-pertanyaan itu berebut menguasai pikirannya.
Pandangan mereka beradu. Musa, yang dulu dikenal Sarah sangat tampan dengan tubuh kekar. Tiada yang berubah, sungguh. Hanya terlihat sangat lebih tampan. Dengan tulang rahang yang semakin kokoh. Otot lengan yang menonjol dan kulit kecoklatannya yang begitu memikat.
"Oh, Sarah. Aku baru saja ingin menemuimu," Musa mendekati Sarah dan mengajaknya ke samping rumah. Dari rumah itu mereka dapat melihat Lautan yang tenang hari itu dengan jelas.
Sarah memandang wajah lelaki didepannya, tidak percaya jika itu adalah nyata. Wajah yang selalu muncul diangan-angannya, kini didepannya dan mengenal dengan baik dirinya. Apakah lelaki itu sungguh tidak melupakan dirinya?
"Bagaimana kabarmu? Aku selalu penasaran bagaimana hari ini akan terjadi. Sarah, kamu tampak begitu lelah, apa kamu baik-baik saja?" Musa terlihat khawatir.
"Abang, aku baik-baik saja. Dan sungguh bahagianya diriku hari ini. Kenapa kamu baru pulang?" Sarah menahan agar tidak semua pertanyaan diotaknya keluar begitu saja.
"Maaf, aku sungguh tidak punya sanak saudara untuk disini untuk dikunjungi. Aktivitasku sungguh padat dan hanya beberapa minggu kembali ke darat. Aku pun tidak menentu dimana akan berlabuh. Jadi sungguh baru sekarang aku bisa mengunjungi mamak asuhku," Musa mengajak Sarah duduk di pasir pantai yang masih hangat sore itu. Sarah tidak mampu memalingkan muka dari sosok disebelahnya.
"Kamu sendiri bagaimana aktifitasmu?"
Tringtrilinglingling
"Aku ..."
"Ah maaf, aku angkat telepon sebentar," ucap Musa, Sarah mengangguk mengiyakan. "Iya sayang, abang sudah sampai ini. Sudah ketemu mamak juga. Iya, tidak usah khawatir. Nanti kalau ada waktu lagi abang ajak Melly kesini. Iya, pokoknya Melly tidak bakal menyesal. Indah pokoknya pemandangannya, kalau Andrea sudah besar nanti sekalianlah diajak jalan-jalan, oke sayang. Bye," Musa menutup teleponnya tersenyum.
"Ini istri abang telepon, kebetulan mau abang ajak kesini tapi bayi masih umur 4 bulan. Belum berani diajak pergi jauh-jauh. Kalau kesini sudah pasti abang kenalin ke Sarah," Musa tersenyum simpul.
Sarah merasakan seluruh tubuhnya bergetar. Tulang-tulang tubuhnya seakan melunak, tidak berdaya. Ingin menangis, tapi apa yang perlu ditangisi. Kebodohannya?
"Bang, setelah 7 tahun, baru kali ini Sarah bisa melihat matahari terbenam seindah ini. Kemana saja aku?" Sarah terisak yang kemudian menjadi sedu sedan.
"Sarah, ada apa? Apa kau ada masalah dengan suamimu?" Musa sungguh sangat khawatir. Namun Sarah tidak mampu menghentikan air matanya.
"Tidak bang, ini karena Sarah bahagia," Sarah menangis semakin kencang, Musa yang kebingungan hanya memandangnya dan terdiam.
Sungguh laut dan matahari merupakan perpaduan yang unik. Batin Musa. Membuat siapapun yang memandangnya begitu emosional. Menawarkan pemandangan yang indah tatkala mereka bersatu didua waktu. Musa tersenyum mengerti perasaan Sarah.