Oleh Indah Satriani
‘Wuss ...’
Angin berhembus kencang dikawasan sekitaran Taman Malam Las Vegas. Dedaunan kering terus beterbangan dengan sombongnya. Gadis-gadis jalang berdiri di sisi jalan dengan angkuhnya, menunggu siapa yang cocok untuk menjadi santapan.
Las Vegas, kota yang sering disebut-sebut orang sebagai kota terseram pada abad ke-20. Kota yang memiliki pemandangan malam yang indah namun mencekam seperti kuburan. Siapa yang menyangka, bahwa kota ini adalah kota paling berhantu dan tercatat dalam sejarah.
‘Hiks... hiks... hiks...’
Seperti lebah yang bergerombol keluar dari sarangnya untuk menyengat siapa saja yang mengganggunya, namun disini berbeda lagi, masyarakat bergerombol ke rumahnya masing-masing, menutup rapat semua jendela dan pintu. Mereka takut, jika kesekian kalinya akan ada korban lagi setelah nyaringnya sebuah tangisan.
Satu siluet tersisa di tengah Taman Malam itu. Siluet seorang gadis dengan tatapan kosong. Gadis itu tampak seperti orang yang memiliki banyak beban. Wajahnya... pucat. Seragam SMA lusuh melekat pas ditubuhnya. Ia masih marah pada takdirnya. Ia... merasa perlu sesuatu.
Tap-tap-tap!
Suara langkah kaki mengisi malam yang lenggang, gadis itu menoleh, lalu meyeringai kejam.
Bruk!
Tubuhnya ambruk seketika, dalam hati dia tersenyum, sebab rencananya berhasil.
“Nona ... nona ... anda tidak papa?” ucap suara seorang pemuda berusaha membangunkanya. Pemuda itu merasa heran, sebab tubuh orang yang ada dihadapanya sangat dingin. Persis seperti es.
‘Shhh ...’
Pura-pura ia meringis lalu bangun dari dari drama yang dibuatnya. Dilihatnya pemuda itu yang bernafas lega, gadis itu merasa... dejavu.
“Nona tidak papa?” tanya pemuda itu.
“Eeeh aku tidak papa.”
Pemuda itu mengulurkan tanganya, “Aku Farma, siapa namamu?”
Gadis itu mengernyit sesaat, sebelum membalas salam perkenalan dari sosok yang ada dihadapamya, “Fiskal....”
***
Gadis cantik dengan rambut dikepang dua tampak asyik dengan novel yang berada di genggamanya. Kegiatanya terhenti saat mendengar bel rumahnya berbunyi. Dia mendegus, kemudian berjalan ke arah pintu.
Senyuman manis terbit di bibirnya saat melihat sepupu kesayanganya berdiri di depanya. Namun, matanya langsung membelalak kaget saat melihat sosok yang ada di samping sepupunya.
“Dania, kenalkan ini Fi--” ucapanya terhenti saat--
“Bawa dia pergi dari sini!” teriak Dania garang, lalu berlari masuk ke rumahnya seraya menarik Farma. Mereka meninggalkan Fiskal di luar.
“Dania!” gertak Farma, ia kesal karena teman barunya tidak disambut baik.
“Farma, dia bukan manusia! Dia sosok yang selalu membuat masyarakat disini resah! Dia juga sosok mematikan di kota ini!” ucap Dania, berusaha menjelaskan.
“Ckckck ... tahayul saja kamu percayai!” degus Farma seraya meninggalkan Dania sendiri di ruang tamu.
Dania menggeleng-gelengkan kepalanya. Tekatnya sudah bulat, dia akan memisahkan Farma dari sosok itu, bagaimanapun caranya. Tanpa Dania ketahui, sosok itu tengah melayang di atap ruang tamu dengan wujud asli dan seringai kejamnya.
Disisi lain.
Farma benci, dia tahu dan sangat yakin jika Fiskal adalah manusia. Kakinya melangkah ke arah pintu, lalu keluar. Namun ... sosok teman barunya sudah tidak ada disana.
Brak!
Dengan perasaan dongkol, Farma berlari ke arah kamar yang biasa ditempatinya jika bermain ke rumah sepupunya ini.
***
Teng... Teng... Teng!
Malam sudah semakin larut, udara kian menusuk. Jam sudah menunjukkan pukul dua dini hari. Farma mengeratkan selimut yang membalutnya. Dia kedinginan, namun rasanya aura dingin yang mendominasi kamarnya terlihat berbeda.
Sementara disisi lain, Dania juga merasakan aura yang sama. Matanya terbuka, tanganya mengepal erat sampai buku jarinya memutih. Dia tahu aura apa ini. Matanya menelusuri habis setiap bagian dari kamarnya, hingga ... berhenti pada satu titik.
Tok... Pletak!
Sudut atap kamar sebelah kanannya berbunyi, bunyi itu semakin lama terasa mendekat.
Tok ... Pletak!
Tok ... Pletak!
Shh... hah ...!
Bulu kuduk Dania meremang, kepalan tangannya semakin mengerat. Dihembuskannya nafas sekali, lalu mendongkakkan kepalanya ke atas. Matanya membelalak, sebab ... Tak ada apapun disana.
Wajahnya menampilkan raut lega, namun matanya kembali membelalak sempurna saat sebuah sosok mengerikan terlihat di hadapanya.
“Aaaaa...”
Dania sontak berteriak, teriakan terakhir sebelum sosok dengan wajah hilang separuh itu membunuhnya. Menyisakan jasad malang Dania di kamarnya sendiri yang kedap suara.
***
Kukuruyuk ...!
Bunyi ayam berkokok menandakan bahwa hari sudah pagi. Farma bangun dari tidurnya, tubuhnya terasa sakit, kakinya melangkah ke kamar mandi. Setelah 15 menit berada di kamar mandi, kini dirinya sudah siap dan memutuskan untuk turun ke bawah. Dia ... tidak sendirian, sebab ada satu sosok yang bergelayut manis di pundaknya.
“Dania...” panggil Farma pada saudara manisnya itu.
Tak ada sahutan.
Keningnya mengernyit saat melihat ruang tamu yang gelap gulita, karena gorden belum dibuka. Farma merasa aneh.
Dengan langkah pelan, Farma membuka penutup gorden itu, cahaya matahari pun langsung masuk dengan bebasnya. Ruang tamu pun tak sepengap tadi.
Farma memijat bahunya yang terasa berat, dia mendesah. ‘Mungkin ini karena aku salah tidur ya,’ batinya, lalu mengangguk.
Farma pun memutuskan ke kamar Dania, karena tak kunjung menemukan sepupunya itu sejak tadi, padahal dia sudah mencari kemanapun.
Ceklek!
Matanya terbuka lebar saat melihat apa yang ada dihadapnya saat ini. Tubuhnya langsung terduduk di lantai. Disana, di tempat tidur, sepupunya berbaring dengan wajah hancur dan bola matanya sendiri berada di genggamanya. Bibirnya tersenyum lebar, seolah-olah rahangnya akan patah. Sementara sosok yang bergelayut di pundak Farma tersenyum puas.
***
Berita kematian Dania sudah menyebar luas di seluruh penjuru kota Las Vegas. Masyarakat kembali dibuat resah dengan adanya kabar ini. Mereka takut jika korban selanjutnya adalah salah satu dari mereka.
Sementara di sisi lain.
Sejak kepergian Dania tujuh hari yang lalu, Farma seolah-olah hampir kehilangan hidupnya. Untung saja pada saat itu sosok teman barunya muncul dan sering menghiburnya. Gadis itu, Fiskal.
Kematian Dania secara tiba-tiba itu pastinya membuat Farma shok! Bagaimana tidak, kematian yang dialami Dania sangat mengenaskan. Berdasarkan hasil otopsi jenazah Dania dua hari yang lalu, Dania dikatakan meninggal karena bunuh diri. Farma merasa tidak yakin dengan hasil itu, ia lebih percaya bahwa Dania mati karena dibunuh. Siapa yang membunuh dan untuk apa tujuanya membunuh, itu yang tidak diketahui Farma.
***
Tik... Tik... Tik!
Suara gemericik air mengusik Farma yang sedang asik dengan film baratnya. Bulu kuduknya tiba-tiba berdiri. Dengan langkah pelan, ia berjalan ke dapur.
Deg... Deg... Deg...!
Jantungnya berdegup kencang saat jarak tempat ia berdiri dengan dapur semakin dekat. Nafasnya memburu, ia mencengkram erat remote tv yang berada di genggamanya.
“Aaaa...”
Farma berteriak kencang saat melihat sosok meyeramkan duduk di atas keran air di dapur. Sosok itu tampak tersenyum dengan rahang membelah. Tidak, sosok itu bukan tersenyum, melainkan sosok itu wajahnya terluka dari pipi hingga ke rahang. Mengerikan!
Huh... huh... huh...!
Nafas Farma naik turun setelah sebelumnya berlari dari dapur ke lantai atas. Matanya membelalak sempurna saat mendengar derap langkah kaki seseorang yang menaiki tangga. Rasa takut menguasainya, sehingga tanpa sadar dia memasuki kamar Dania. Ditutupnya rapat pintu kamar itu. Tanpa disadarinya, seseorang menunggunya di sana.
Dor-Dor-Dor!
Kaki Farma melangkah mundur saat pintu itu digedor. Tubuhnya gemetar hebat, ia pun berbalik dan... matanya kembali membelalak ketika menyadari dimana saat ini dia berada., kamar Dania.
Sret... Sret... Sret...!
Suara seperti benda diseret terdengar di kamar itu. Farma memegang area dadanya yang bergemuruh hebat. Dia sangat takut sekarang. Dia merasa ... akan ada hal buruk yang menimpanya.
Sekelebat bayangan tiba-tiba melintas dihadapanya. Jendela kamar yang awalnya tertutup rapat kini terbuka dan bergerak-gerak disertai bunyi decitan engsel jendela yang berkarat karena sapuan angin yang kencang.
Jantung Farma semakin berdegup kencang, tubuhnya tambah bergetar kuat, Farma beringsut ke arah lemari baju milik Dania, lalu masuk ke dalamnya.
Dor-Dor-Dor!
Lemari yang dimasuki Farma digedor dari luar. Farma menutup kedua telinganya dengan dua tanganya. Hingga akhirnya suara yang ada di luar lemari berangsur-angsur hilang, suasana kembai sunyi.
Fiuh!
Farma mendesah lega.
“Apa kau takut?” tanya sebuah sosok di sampingnya.
Farma menoleh, Raut wajahnya berubah pucat. Pandanganya memburam, Farma pun pingsan.
***
Paginya, berita mengejutkan kembali tersiar di seluruh kawasan kota Las Vegas. Berita yang sama seperti tujuh hari yang lalu.
Seluruh masyarakat kota itu berharap bahwa tak akan ada lagi korban yang mati setiap tujuh hari sekali. Mereka juga berharap bahwa bayangan gadis cantik bernama Fiskal itu takkan menampakkan wujudnya dihadapan siapapun lagi, untuk kembali mengambil korban.
SELESAI
.
.
.
Tinggalkan jejak ya, supaya author bisa update cerita lagi besok malam di jam yang sama. Sebab, author akan lihat seberapa baik respon yang didapat untuk cerita ini. Terima kasih 😊