Rasti menata tas kerjanya, mengecek dompet, phonsel, id card, card reader park RS. Dia menghela nafasnya panjang. Melirik jam tangannya sepintas dan menatap ke arah pintu masuk apartemennya. Tak ada tanda-tandanya Stefie pulang padahal jam sudah pukul 17.00, ya sudahlah tidak pulang lagi dia kelihatannya, batinnya dalam hati.
Rasti dan Stefie bersahabat dari high school hingga colige dan walaupun bidang pendidikan yang mereka ambil berbeda namun mereka satu kampus Stefie mengambil bidang manajemen sedang kan Rasti memilih di bidang kedokteran dan memutuskan memiliki apartemen bersama setelah mereka bekerja. Akhirnya dengan terpaksa dia pergi bekerja, ya dia dapat shift malam Minggu ini. Dia pun berjalan menuju parkiran dan mengendarai mobilnya menuju ke RS.
Setibanya di RS dia berganti seragam jaga pasalnya dia mendapatkan giliran berjaga di IGD dengan rekan-rekannya. Kebetulan pasien membanjiri IGD dari pasien yang sakit ringan hingga sakit berat. Ini weekend jadi banyak anak-anak muda keluar mencari hiburan. Ada kecelakaan yang terjadi dan juga kericuhan konser berakibat baku hantam. Sudah 5 orang dia menjahit lukanya. Ada seorang lagi pemabuk namun tidak mau disentuh dan dirawat. Bikin kesal Rasti dan terpaksa merayunya dan mengajaknya diskusi.
"Tuan. ijinkanlah saya menolong."
"Jangan pernah kau menyentuh aku!"
".........."
"Aku hanya ingin dokter pribadiku yang merawat aku."
"Jika demikian kenapa datang IGD, mhmm? Pulang saja langsung bawa ke dokter nya kenapa ke sini?" Jawab Rasti Santai duduk di sampingnya.
Lelaki itu hanya terdiam.
"Darahmu sudah keluar banyak jika masih menunggu..."
"Apa?"
"Terserah pada anda. Namun saya sarankan jangan mati di hadapan saya!"
Lelaki itu terbelalak menatap gadis itu karena kesal atas ucapannya. Mereka duduk bersama dan terdiam saling menatap satu sama lainnya.
Lelaki itu ditemani oleh dua orang pria yang berdiri di belakangnya tepat di tempatnya mereka duduk. Tak berselang lama lelaki itu tumbang Rasti berteriak memanggil rekannya membawa masuk ke dalam ruangan tindakan menolongnya. Semula pergerakannya dicegah. "Apa kamu masih mau menunggu ? Yang ada dia akan mati kehabisan darah. Lukanya dalam dan butuh penanganan serta transfusi darah !" Teriaknya lantang. Keduanya saling menatap dan melepaskannya.
Setelah proses penyelamatan yang lama akhirnya mereka berhasil. Waktu menunjukkan pukul 11.30 hampir tengah malam, pikirnya. Dia berjalan menuju ke ruang jaga. Rekan-rekannya sudah bersandar pada kursinya masih-masing keletihan karena banyaknya pasien waktu lalu. Dia memutuskan untuk kembali berjalan menyusuri pasien-pasien tadi memeriksa lagi karena dia belum mengantuk seperti rekannya yang tertidur karena keletihan dan ada rekannya berbincang untuk menghilangkan Kantuknya, dan ada juga membaca serta menyalakan ponsel beserta headset.
Rasti berjalan menuju ke arah depan IGD yang sepi. Tak ada sekuriti ataupun pengunjung yang menemani pasien. Karena ada larangannya untuk bergerombol di sana. Diambilnya kursi yang ada di depan pintu IGD tersebut dan dibawanya ke lorong samping ruangan itu. lorong itu sepi karena akan ramai jika di waktu siang harinya karena itu jalan penghubung antara IGD dan kamar inapnya pasien.
Dia menggulirkan smartphone nya. Berseluncur di dunia Maya. Akhirnya di putuskan untuk menonton film saja dia mengenakan headset di telinga. Antara film drama romantis, action, atau horor. Dia pun memilih filmnya horor. Dan mulailah menonton. Dia fokus pada apa yang ditontonnya.
Di awali dengan adegan pembunuh dengan sadisnya. Belum lama dia menonton ekor matanya menangkap sosok anak-anak berlarian seperti bermain kejar-kejaran di dekatnya Rasti menghentikan acara menonton. Dia melihat tingkah laku anak-anak itu.
"Adik-adik dilarang untuk berlarian di koridor ya? Mana orang tua kalian? Ayo...masuk! Ini bukan tempat untuk bermain ya?" Nasehatnya pada saat di sudah mendekat kepada keduanya dan ia juga berjongkok mensejajarkan tingginya. Mereka sepertinya anak kembar, batin Rasti. Keduanya hingga tersenyum kemudian berlari di ujung koridor yang ternyata ada seorang wanita dengan gaunnya yang panjang. Mereka saling melambaikan tangan kemudian mereka berbalik badan. Rasti juga kembali ke tempat duduknya.
Memulai menonton lagi dan berkonsentrasi pada smartphone nya. Filmnya cukup menyeramkan dan juga efek dari background music dan thriller nya. Membikinnya sport jantung saat mengikuti alur film.
"Nak.. tolongin kakek." Seorang lelaki berusia lanjut duduk di sisinya sontak Rasti bangkit dari tempat duduknya. Beralih ke arahnya dengan berjongkok di depannya.
"......... ? " Rasti kebingungan hendak mengatakan apa dan harga bertindak bagaimana.
" Kakek kurang enak badan." Keluh lelaki berusia lanjut.
"Kakek harus melakukan pemeriksaan terlebih dahulu, kemudian kami akan menganalisa lebih lanjut." Akhirnya Rasti mengangkat bicara.
"Kakek letih mendengar mereka bertengkar terus menerus dan hanya bersitegang tentang harga. Kakek kesepian nak." Lagi-lagi kakek tua itu berbicara.
"Apa tidak ada yang menemani kakek?" Tanya Rasti.
"Ada cucu kakek yang paling kecil."
"Kenapa kakek tidak tinggal saja sama dia? Kan cuma dia yang sayang dan tinggal bersama dengan kakek. Dan yang menjagamu kakek." Hiburnya.
"Gadis baik. Terimakasih. Lain kali jangan berjaga malam sendirian. Carilah teman nak. Jangan menyendiri. Luka ya biarkan saja lukanya. Nanti juga akan sembuh dengan sendirinya. Jangan pernah berhenti untuk terus belajar dan maju." Kata-kata nasehatnya yang lama tidak terdengar lagi di telinganya. Karena dia sudah lama menyendiri jauh dari keluarga. Rasti tersenyum menatap sang kakek.
"Iya kek, Rasti akan mencobanya. Terimakasih."
Tak lama terdengar suara sirene ambulance masuk ke pelataran parkir IGD. Rasti bangkit dan berjalan menuju serambi IGD menunggu dengan menarik brankar pasien.
Mereka bergegas bergerak membuka pintunya dan begitu terbuka nampak seorang wanita berlumuran darah di dorong di atas brankar mereka bergerak masuk ke ruang tindakan. Ditelinga nya masih mendengar suara sirene ambulance lainnya yang juga baru datang.
"Korban kecelakaan ibu dan anak-anak. Kecelakaan tunggal, si pengemudi mobil menghindari arah mobil yang melaju kencang mengambil jalurnya." Seru petugas ambulance kepadanya saat membantu memindahkan ke brankar. Rasti hanya mengangguk.
Tidak berselang lama dia keluar dari ruangan dengan ekspresi wajah sedihnya. Karena pasien tidak tertolong. Demikian juga di ruangan sebelah kanannya munculnya rekannya yang memiliki ekspresi wajah yang sama.
"Baru saja masuk 10menit dia sudah tak tertolong. Sedangkan saudara sudah tidak bernyawa saat dibawa ke sini." Katanya sendu
"Kembar? Atau kakak adik?" Tanya Rasti.
"Kembar. Kurang lebih lima tahun usianya." Lanjutnya. Rasti berjalan masuk hatinya ingin melihat pasien tersebut.
Persis seperti anak-anak yang dilihatnya beberapa waktu lalu. Mendadak sendinya terasa lemas sempat ia terhuyung. "Dokter baik-baik saja?" Tanya suster di sampingnya. Rasti hanya tersenyum tipis kemudian dia berjalan keluar ruangan itu. Duduklah dia di kursi penunggu dihelanya nafasnya.
"Korban sepertinya dari luar kota, dok. Dari catatan keterangan identitas diri, malam-malam begini sendirian menyetir mobil bersama anak-anak pasti ada sesuatu yang mendesak dia untuk melakukan hal itu." Kata petugas kepolisian yang duduk di bangku sampingnya.
Tak lama terdengar decitan ban mobil nyaring. Seorang remaja berteriak lantang." Dokter bantu saya. Kakek tolong kakek saya.." Tangisnya terdengar pilu.
Perawat berlari membawa brankar mendekati mereka bersamaan Rasti dan petugas medis lainnya. Memeriksa denyut jantungnya. Dan yang lainnya.
"Apa keluhannya?" Tanya dokter jaga
""Sesak nafasnya katanya dadanya nyeri." Jawabnya tersedu-sedu.
"Tenanglah berdoa saja". Kata Rasti membawanya masuk juga petugas yang lainnya.
Remaja itu di tepuk-tepuk punggungnya oleh petugas keamanan yang kebetulan di sana.
"Berdoalah Nak!" Hiburnya.
Tak lama dokter jaga keluar memberikan kabar duka dan remaja itu merosot tubuhnya di lantai tangisnya terdengar menyayat. Badannya dipeluk petugas keamanan itu memberikan dukungan.
Rasti hanya mematung memandangi sosok kakek yang berdiri di depan pintu IGD itu tersenyum dan melangkah menuju entahlah kemana. Dua kali dia mengalami kejadian aneh di tengah malam batinnya.