Aku Larasati, dan aku memiliki sahabat yang paling mengerti duniaku. Aku adalah gadis tomboy, sementara sahabatku ini adalah gadis yang sangat feminim. Sebut saja namanya adalah Amelia, dia adalah sahabat terbaik yang pernah aku temui di muka bumi ini. Sahabat kecil yang selalu ada untukku, dikala aku sedih, ataupun senang. Hingga satu waktu aku harus menerima kenyataan pahit bahwa dia berubah. Dia tak pernah ada untukku lagi, dia tak pernah berkomunilasi lagi, dia sangat sibuk untuk di temui, semenjak dia punya pacar dia selalu sibuk dengan dunianya sendiri. Mungkin kesalku bukan tanpa alasan, semenjak dia sibuk dengan waktunya aku kesepian tanpa hadirnya. Maka, aku putuskan untuk menelphonenya saat itu dan ingin mengatakan bahwa aku begitu sangat merindukannya.
Tut...tut...
Lagi, aku harus menghela napas tatakala telephone dariku tak pernah terangkat. "Sedang apa dia kira-kira hingga telephone dariku selalu saja di abaikan?" aku bermonolog sendirian.
Aku ulangi sekali lagi, dan tetap sama. Tidak ada jawaban telephone.
Aku tidak mengerti mengapa aku sangat begitu merindukannya melebihi hari-hari yang aku lalui, memang aku selalu merindukannya setiap waktu karena kami jarang berjumpa. Tapi, hari ini adalah hari yang paling parah karena rindu ini sudah sangat ingin di obati.
Aku kesal dan marah, sebegitu tidak maunya dia di ganggu olehku? semenjak dia punya pacar dia berubah, jika aku bisa memilih lebih baik dia tak perlu punya pacar agar aku bisa terus bersamanya. Tapi, aku juga sadar bahwa dia pun berhak untuk itu.
"Kau terlalu sibuk dengan pacarmu, sementara waktu untuk sahabatmu sudah habis tanpa sisa!" gerutuku seraya bangkit dari posisi duduk.
Aku masuk kedalam kamar, menghempaskan tubuhku ke tempat tidur. Menatap langit-langit kamar dengan perasaan bimbang, resah, dan perasaan aneh yang merayap dalam dadaku. Tidak biasanya aku merasakan perasaan yang tidak masuk akal seperti ini, padahal aku sering sekali mengalami kekecewaan karena Amelia sering mengabaikanku.
Aku merogoh ponsel, membuka aplikasi whatssApp dan mengirim chating pada Amelia.
~Amel kau dimana? segera kabari aku jika ada di tempat ya!~
Chat itu aku kirim, semoga Amel segera membalasnya. Sementara ku letakan ponsel di sampingku, dan tanpa sadar mataku terpejam. Sepertinya aku kelelahan karena sepulang dari rumah nenek aku sibuk membantu nenek masak-masak untuk keperluan hajat. Dan Ibuku juga masih ada disana.
Kedua indra pendengaranku langsung diserbu dering ponsel yang menggema, rasanya mataku enggan terbuka karena masih mengantuk. Aku mendesah kesal karena dering ponsel sama sekali tak berhenti berbunyi, hingga akhirnya aku terbangun dari tidurku. Ku raih ponsel di sampingku dan ku lihat nama si penelphone di layar, aku mengucek mataku untuk memastikan. Rupanya yang menelphone adalah mamanya Amel.
"Tumben sekali mama Amel telephone," pikirku.
Tak berpikir terlalu lama akhirnya aku menggeser simbol berwarna hijau itu keatas, menempelkan telephone di telingaku.
"Hallo?" sapaku seraya menguap lebar, karena rasa kantuk yang masih saja menyerang.
Tidak ada balasan dari sapaanku, dahiku menyatu dari tengah karena keheranan. Dan pada detik itu pula aku mendengar tangisan yang begitu mengguncang duniaku, seketika aku merasa jantungku ikut bertalu-talu.
"Hallo, ada apa tante?" tanyaku setengah panik, aku yakin betul yang menelphone itu adalah mamanya Amel, tapi mengapa sambil menangis? Itu sebabnya aku kebingungan.
"Kesini, Ras!" pintanya disela isakan.
"Memangnya ada apa, Tan?" tanyaku semakin penasaran.
"Kesini saja!" seru nya sambil sesegukan.
Tut...
Seketika telephone itu dimatikan secara sepihak, aku langsung bangun dari posisiku dan bergegas untuk pergi kerumah Amelia.
Jarak rumahku dan Amel tidak terlalu jauh, tujuh menit aku sampai di depan rumahnya. Seketika mataku terbelalak, langkahku terhenti secara mendadak, dan jantungku serasa akan berhenti berdetak saat ini juga. Bendera kuning terpasang di tralis pagar rumah Amel.
"Siapa yang meninggal?" desisku penuh tanda tanya.
Sementara suara orang mengaji terdengar dari dalam, segera aku langsung melanjutkan langkahku dengan cepat untuk masuk kesana.
Aku berdiri di ambang pintu, jantungku bertalu-talu menyakitkan. Aku mengedarkan pandanganku ke sekitar, dan aku mendapati sosok kedua orang tua Amel sedang menangis di pojok sana.
Seketika pikiranku langsung terpusat pada jenazah yang sudah di titup kain jarik disana, bibirku bergetar sangat hebat. Setetes air mata berlinang tanpa dipinta, dengan mudahnya duniaku hancur saat ini juga.
Aku sudah bisa menebak siapa dia, dengan cepat aku berlari menghampiri jenazah itu. Napasku tersenggal, tanganku bergetar hebat saat aku mulai membuka kain jarik itu. Mataku terbelalak seolah ingin loncat dari tempatnya, bibirku terperangah lebar, dadaku sesak dan aku mulai menangis tanpa suara.
"A-amel," lirihku tak percaya.
Aku menggeleng samar, berusaha meyakinkan diri bahwa semua ini hanyalah mimpi.
Plak!
Aku menampar pipiku berkali-kali dan rupanya berdenyut nyeri. Seketika aku menangis keras dan berulang kali memanggil namanya. Ini kenyataan ternyata, bukan mimpi.
"Amel... Amellll.. Amelll..." panggilku sambil menangis.
Aku merasakan tubuhku di peluk, rupanya yang memelukku adalah mamanya Amel. Aku menatapnya lamat-lamat berusaha bertanya apa yang sebenarnya terjadi.
"K-kenapa Amel jadi seperti ini, Tan?" tanyaku dengan terbata-bata karena tak kuasa bersuara sedikitpun karena masih terkejut dengan apa yang baru saja terjadi.
"Amel kecelakaan lalu lintas saat sedang bersama dengan pacarnya, Ras. Sementara pacar Amel masih kritis di rumah sakit." jawab mama Amel terisak-isak.
Aku langsung menjerit sambil bercucuran air mata, tak sanggup aku menerima kenyataan pahit ini bahwa sahabat masa kecilku harus pergi di usia muda seperti ini.
Aku menangis dan meronta-ronta layaknya bayi yang sedang kesakitan. Beberapa pelayat menenangkan aku karena aku begitu histeris, bagaimana bisa aku kehilangan sahabat terbaikku secepat ini, meskipun aku tahu bahwa beberapa minggu ini hubungan kami sedikit buruk karena aku dengannya berselisih paham karena tak ada waktu untuk bertemu.
Mataku di usap oleh air, hingga akhirnya aku merasakan duniaku sangat gelap. Dan aku tidak ingat apapun lagi.
Hingga aku merasakan bahwa aku kini sudah berada di atas kasur yang sangat empuk, aku beringsut duduk di tepi kasur. Mengucek mataku dan mengedarkan pandangan bahwa kini aku berada di tempat yang tidak asing. Ini adalah kamar Amelia, aku langsung terperanjat menyadari sesuatu. Aku baru ingat bahwa aku tidak boleh melewati momen menguburkan jenazah. Dengan cepat aku berlari dan membuka pintu kamar, aku melihat ada Ibuku disana yang tengah duduk bersama Bibinya Amel.
"Dimana Amel?!" tanyaku lantang, sementara dua orang yang sedang duduk itu langsung berdiri dan berekspresi terkejut mungkin karena melihatku yang sudah sadarkan diri.
Aku melihat sekeliling yang sudah mulai sepi, aku sudah tak karuan. Maka, aku memutuskan untuk pergi dan berlari.
"Laras, mau kemana?!" aku mendengar teriakan Ibu namun aku sama sekali tak berhenti untuk berlari.
Aku berlari, aku menangis, dan aku tak bisa menerima semua ini. Aku harus pergi ke pemakaman Amel, aku masih belum ingin berpisah dengannya sebelum kami berbaikan.
Disaan aku sedang berlari, bayang-bayang itu terputar lagi di kepalaku. Saat kami tertawa bersama, melewati berbagai masalah yang terjadi pada masing-masing tapi kami saling memberi solusi, kami selalu bergurau dan menghabiskan waktu hanya berdua. Sederhana, tapi sangat berkesan hingga aku tak bisa lagi membendung segala perasaan yang begitu sakit ini.
Langkahku terhenti dengan napas terengah-engah, rupanya sesi pemakaman sudah usai. Kini aku melihat kuburan Amel telah dipenuhi bunga-bunga yang bertaburan. Dadaku sesak dan tak berhenti sesegukan. Satu persatu pelayat pergi, menyisakan aku dan orangtua Amel. Aku berjalan dengan gamang untuk menghampiri batu nisan itu, aku menangis lagi tidak tahu sebarapa banyak buliran air mata yang menetes. Yang aku rasakan hanyalah kesedihan dan kehilangan teramat besar.
"Amel," panggilku dengan suara parau, khas orang yang baru saja menangis.
"Ras, maafkan Amel jika Amel punya salah, ya. Amel sempat bercerita sebelum Amel pergi dengan pacarnya pagi tadi. Dia bilang dia ingin membelikan kado special untukmu, sebagai ungkapan maaf karena akhir-akhir ini Amel tak ada waktu bertemu denganmu. Amel bilang dia menyesal karena membuat kamu marah. Begitupun dengan Robby ia ikut merasa bersalah karena telah memisahkan kalian berdua, sebelum napas Amel berhenti ia menitipkan ini untukmu," papar mama Amel seraya berlinangan air mata dan menyerahkan sesuatu padaku.
Tanganku bergetar hebat saat aku menerima sebuah kado yang ukurannya sangat kecil itu, aku pun tidak bisa menebak apa isinya.
"Buka saja disini, Ras." ujar papa Amel sementara aku mengangguk.
Aku membuka kado kecil itu tepat disamping kuburan Amel, setelah membukanya ada kotak berwarna biru kesukaanku yang berukuran sangat kecil lagi dibanding bungkus kadonya. Aku buka kotak itu, terlihat jelas isinya adalah sebuah kalung yang sangat cantik dan berkelap-kelip. Lagi, dadaku sangat sesak. Aku menghapus air mata dengan cepat dengan punggung tanganku, tapi mustahil rasanya karena air mataku sama sekali tak ingin berhenti membasahi pipi.
Ku temukan sepucuk surat yang menyelip disana, dilipat-lipat sangat kecil. Jika tidak teliti mungkin aku tidak akan menemukannya. Dan akhirnya aku baca dalam hati yang semakin menambah beban kesedihan untukku.
~Hallo, Laras. Salam ceria dariku, aku dan Robby minta maaf padamu. Terutama aku karena aku mungkin mengabaikanmu, tapi apa kamu tahu, bahwa setiap hari aku selalu memikirkanmu. Hm, rindu rasanya. Hari ini aku ada disampingmu, dan kau juga sedang membaca ini tentunya. Dan aku membelikan kalung ini sebagai kenang-kenangan, kalungnya bukan kalung platinum favoritmu. Sekarang aku ingin melihatmu feminim dengan kalung ini, pakai ya. Semoga suka, hihi. Nanti kita jalan-jalan lagi ya, ke tempat yang sering kita kunjungi berdua. Aku menyayangimu sahabat kecil terbaikku, miss you. Maafin aku ya :)~
Setelah membaca surat itu aku langsung mengusap batu nisan Amel, aku menangis dengan penuh luka dan luka.
"Amel, terimakasih. Aku akan pakai kalung ini, Amel aku juga minta maaf padamu, aku mungkin egois." lirihku sambil menghapus air mata. "Semoga kamu tenang di sisi Allah ya, aku akan selalu mengirimi mu do'a. A-aku, harap kita akan selalu bertemu meskipun hanya dalam mimpi."
Aku tak kuasa lagi, aku sesegukan dengan dada yang terasa sakit. Mama Amel menghampiriku, memelukku dari samping sementara aku bersandar di bahunya sambil meratapi nama Amelia yang tertera di batu nisan.
Aku tak percaya, Amel pergi secepat ini. Jika ada kesempatan aku ingin memeluknya untuk terakhir kali, ingin berbincang dengannya sambil tertawa. Mungkin aku akan semakin merindukannya, dan tak mungkin bisa aku sentuh dengan tanganku lagi. Hanya do'a yang bisa aku panjatkan dan Amelia akan selalu dalam kenanganku, kenangan yang begitu indah dalam pikiranku. Dan akan aku simpan di hati yang terdalam. Sungguh aku menyayangimu Amel, salam hangat dariku Larasati.