kamu, candu
aku, merindu
andai kita adalah madu
aku tak akan menjadi selirmu
Sore ini hujan, tentu karena ini musim penghujan. Tak ada orang yang datang, dan hanya ada sedikit pemasukan hari ini.
'Ahh pekerjaan ini semakin lama semakin membosankan. Hanya diawal saja menguntungkan, lama kelamaan aku merugi karena ditipu oleh pemilik toko dan terpenjara dalam kontrak kerja.'
Seharusnya RUU Omnibus Law jangan disahkan. Orang-orang kecil sepertiku akan selalu merugi, kapan kita akan bahagia jika untuk makan duitpun tak punya. Harusnya aku ikut demo kala itu, akan aku bakar gedung DPR beserta isinya.
'Ahhh andai aku Captain Marvel.'
Aku membersihkan karpet didepan toko, tiba-tiba seorang lelaki datang dan meneduh.
'ahh siapa sih ini lelaki, basah kuyup berantakan menghalangi jalan'
"maaf mbak, saya numpang neduh bentar, mau pulang tapi hujan makin deras"
lelaki itu menghadapkan tubuhnya padaku, rambut yang ia sibakkan, bibir merah muda, mata sayu, alis tebal, dan hidung dengan presisi sempurna.
Amboiii cantik sekali anak lelaki ini.
Sesaat aku baru tersadar, ia adalah anak pemilik toko. "ohh mas Rio, saya kira siapa, habis darimana kok lari-lari begitu"
"Iya nih mbak, dari rumah temen gatau dijalan ternyata hujan deres banget lupa bawa payung"
"Kenapa temennya ga nganter sampe rumah mas?"
"Gapapa, gasuka aja mbak. Mbak boleh minta tolong ga?"
"Minta tolong apa mas?"
"Tolong ambilin saya handuk dong, dari stok juga gapapa biar nanti saya bilang papah. Dingin nih mbak"
"Oh iya mas, sekalian saya ambilkan baju?"
"Iya boleh deh mbak"
Aku keluar membawa handuk dan satu kaos. "Mas, mau masuk ke dalam dulu? Diluar dingin, biar saya buatkan teh anget."
"Boleh mbak"
Toko ini tidak terlalu besar, hanya seukuran warung kelontong biasa dengan ruangan istirahat karyawan jaga menyatu dengan ruang persedian stok toko. Dan sejauh ini, hanya aku satu-satunya karyawan jaga disini. Jadi, ya tempat ini mirip seperti kost kedua untukku, karena memang aku tidak memiliki teman untuk bertukar shif.
Mas Rio berjalan didepanku memasuki ruang belakang, tiba-tiba ia berhenti dan menoleh padaku. "mbak aku mau ke kamar mandi dulu ya, pintu toko ditutup aja, takut ada orang datang"
Aku pun mengiyakan dan berjalan kembali ke depan untuk menutup pintu toko dan menguncinya dari dalam.
Aku kembali ke ruang belakang, mendapati mas Rio sudah berganti baju dan duduk di antara kardus" stok barang toko.
"saya buatkan teh dulu ya mas"
"iya mbak"
Aku membawakan satu gelas teh hangat pada mas Rio yang sedang melamunkan sesuatu.
"ini mas teh nya"
"makasih mbak, mbak kok betah sih kerja disini, tempat kecil gini, sendirian lagi"
Aku duduk disamping mas Rio
"ya gimana lagi mas, namanya juga udah kontrak kerja. Gabisa kemana-mana."
"emang kontrak kerjanya habis berapa bulan lagi mbak?"
"dua bulan sih mas"
"wahh lama juga ya, pasti mbak tertekan banget ya kerja disini? apalagi sama kelakuan papah?"
"enggak kok mas, saya mah orangnya nyantai"
"gausah bohong mbak, lagian saya juga tau banyak karyawan ga betah disini karna kelakuan papah yang suka seenaknya sendiri. Saya anaknya aja males mbak ngadepin papah"
"ya begitu juga kan, pak Aryo papahnya mas Rio, yang penting tetep manut dan dihormati aja"
"mbak ini dari desa ya? logatnya gak kaya orang sini"
"iya mas, saya dari desa. Ya cuma orang kecil yang berusaha bertahan hidup di kota, nyari keberuntungan. Siapa tau bukan cuma dapet rejeki tapi juga jodoh"
"kenapa ga kerja di desa aja mbak? kan lebih enak pasti, daripada di kota"
"ya pengen nambah pengalaman aja mas, meskipun saya cuma lulusan SMA, seenggaknya saya punya pengalaman ketemu orang-orang baru"
"kalo ketemu orang jahat gimana mbak? apa ga takut?"
"amit-amit mas, jangan sampe sih saya ketemu orang jahat"
"kalo saya orang baik atau jahat mbak? hehe"
"ya pasti baiklah mas, ga mungkin mas Rio orang jahat"
"mbak bisa aja, nih ya mbak ga semua orang yang mbak kira baik itu baik beneran. Bisa jadi dia orang jahat yang lagi nunjukin sisi baiknya. Jadi, jangan terlalu percaya sama orang mbak"
"hehe iya mas, kata-kata mas bisa jadi pegangan saya"
"mbak pernah punya pacar belum ?"
"belum mas, lagian siapa juga yang mau jadi pacar perempuan dekil kaya saya"
"emm enggak dekil kok, menurutku mbak itu cantik, cuma terlalu gampang percaya aja sama orang. jadi jatuhnya gampang dibodohi"
"aduh, cantik darimana sih mas? enggak sama sekali"
"hehe karena mbak cantik jadi harus pinter jaga diri, jangan sampe terlena sama omongan manis lelaki. Ya meskipun saya lebih muda dari mbak, tapi saya tau betul laki-laki itu seperti apa. Dunia ini gak aman untuk perempuan seperti mbak"
"iya mas, pasti saya bakal jaga diri kok"
"satu lagi, kalo besok mbak bisa lepas kontrak kerja kurang dari seminggu, mbak harus berterima kasih sama saya ya"
"kenapa saya harua berterima kasih sama mas?"
"ya pokoknya, kalo nanti ada sesuatu. Mbak harus inget kata-kata saya tadi"
"iya mas, saya pasti inget kok"
Kami saling memandang, dan memberikan empati. Aku tau betul mas Rio anak yang paling disayang tapi juga paling badung dari anak-anak pak Aryo yang lain. Mungkin karena dia anak bungsu juga.
Tiba-tiba Mas Rio mencium pipiku, dan berbisik "aku tau hubungan mbak sama mas Hari, jangan khawatir aku bakal simpan rahasia ini dengan rapat"
Mataku terbelalak, kaget mendengar kalimat yang keluar dari mulut mas Rio. Bagaimana dia bisa tahu hal itu?
"mbak ini orang baik, jangan mau dijadikan wanita simpanan orang, apalagi hanya karna dia kaya. Seorang lelaki yang baik ga hanya memberikan mbak harta, tapi juga cinta, menjaga harga diri mbak sebagai wanita"
Mas Rio menatapku kembali, dan meletakkan kedua tangannya dipundakku.
"saya tau betul mas Hari itu seperti apa, saya adik kandungnya, dan sebagai sesama lelaki, saya bisa pastikan mas Hari itu bukan lelaki baik. Jadi jangan terlalu berharap sama dia ya mbak. Jaga diri baik-baik, saya pamit pulang dulu."
Mas Rio beranjak pergi, dan meninggalkanku sendiri. Aku masih mematung ditempat, tidak tau harus bereaksi seperti apa. Kaget, takut, bercampur aduk semua perasaan itu. Namun aku tetap berusaha tenang dan tidak berpikir negatif. Semua akan tetap aman.
Tiga hari kemudian ketika aku sedang berjaga toko, karyawan administrasi yang biasa mengurus stok barang datang untuk mengerjakan tugasnya. Namun tiba-tiba dia bercerita.
"neng, kayanya besok kita bakal dipecat deh sama Pak Aryo"
"lah kenapa bang? emang kita ada salah?"
"iya engga, emang neng belom denger kabar kalo mas Hari anaknya pak Aryo kena narkoba? Kemaren ditangkep sama polisi di rumah. Hari ini depan rumah rame bener, tetangga pada kepo."
"kok bisa kena narkoba gimane critanya bang?"
"ga tau dah, pokoknya denger-denger dia juga bandar. Kasian banget ya keluarganya, anak istri makan duit panas. Dan tau ga neng? yang laporin si Hari itu, anaknya pak Aryo yang paling bontot. Gila ya tuh keluarga ancur banget. Ga berkah asli mereka idupnya."
"yaampun ga nyangka bang keluarga pak Aryo bakal berantakan kaya gitu. ngerih"
"iya kan neng, makanya ati-ati aja sama orang jaman sekarang. yang keliatannya baek mah aslinya belom tentu, bisa jadi itu cuma cover"
"iya bener lu bang"
Aku hanya menatap kosong jalanan di depan, setelah mendengar berita yang baru saja kudengar. Tidak ada pikiran lain, selain berpikir betapa naifnya aku selama ini memandang dunia fana sebagai tempat yang menyenangkan. Nyatanya tempat ini jauh lebih buruk dari neraka.