* Kediaman Defaz.
Defaz dan Zidan akhirnya telah sampai di rumah Defaz. Keduanya memarkirkan motornya masing masing secara berbarengan, setelahnya mereka memasuki rumah, Zidan menuju ruang tamu, sementara Defaz langsung menuju ke kamarnya menyimpan tas juga membersihkan diri dan berganti baju. Setelahnya dirinya menemui Zidan di ruang tamu.
" Zi,, sebaiknya lo bersihin dulu tuh badan, jangan sampai nanti lo tidur deket gue, nanti gue tidak bisa tidur karena bau badan lu," serunya.
" Bentar,, memang lu Faz nggak capek apa, gua mah masih capek tao," pungkas Zidan.
" Ya sudah,,, gue mo masak mie dulu lapar," serunya lagi sambil menuju ke dapur.
" Sekalian gua juga bikinin ya," teriak Zidan.
" Tidak mau, bikin sendiri saja," sahut Defaz sama berteriaknya.
" Kebangetan dech sama temen sendiri," gerutunya, kali ini Zidan sambil menghampiri Defaz di dapur.
" Kenapa sih tidak sekalian saja," seru Zidan yang sudah nampak batang hidungnya di dapur.
" Lu bersihin dulu tuh badan, nanti baru bikin mie sendiri, biasanya juga kan begitu, jangan manja lu, udah numpang juga ," kekehnya Defaz
" Gua udah lapar pake banget, mana capek keliling bantuin lo cari kado segala hadehhh," ucapnya Defaz sambil menepuk jidatnya dan berlalu menuju ruang keluarga seketika di santapnya mie buatannya. Sementara Zidan hanya melongo menyaksikan temannya sebegitu teganya.
" Ya sudah dech, nadib begini kalao orang numpang," seloroh Zidan sambil geleng geleng kepala, dia berlalu mengikuti arahan Defaz untuk membersihkan diri sebelum membuat makan malam tuk dirinya sendiri.
* Dirumah Defaz memang tidak ada siapa siapa, sengaja dirinya memisahkan diri dari keluarganya, seperti anak kosan saja, makanya Zidan selalu menginap dan menemani Defaz. Sementara rumah orang tuanya tidaklah jauh dari rumah Defaz hanya butuh beberapa langkah saja bisa terhubung dengan rumah orang tuanya. Biasanya kalao Defaz dirasa malas untuk memasak sendiri, dirinya tentu akan mendatangi rumah orang tuannya, hanya sekedar makan makan atao bercengkrama dengan keluargannya, namun karena dirinya terlalu kecapean dan sudah larut malam jadi dirinya merasa enggan mendatangi rumahnya.
Setelah habis menyantap mie, Defaz kembali ke dapur kali ini dirinya ingin membuat kopi, tak berselang lama Zidan datang dengan kondisi badan yang sudah segar dan wangi. Tanpa menunggu persetujuan tuan rumah, dirinya berkutat memasak untuk dirinya sendiri, kali ini Zidan ingin mencoba membuat nasi goreng.
" Nasinya ada kan Faz?" tanyanya.
" Ada,, lo cek aja sendiri, gak usah pake tanya, cari saja apa yang lo butuhkan, tuh di kulkas cari bahan bahannya ," titah Defaz.
Zidan sebenarnya sudah terbiasa melakukan sesuatu dengan sendirinya di rumah Defaz, karena keduanya sudah lama bersahabat jadi sudah tidak merasa canggung lagi, apalagi sebelummnya ibunya Defaz selalu memintanya untuk menemenin Defaz biar suasana rumah menjadi hangat.
Kali ini Defaz dan Zidan sudah berada di ruang keluarga, Defaz dengan asyiknya menonton tv sambil menyeruput kopi, sesekali membaca komik yang tersedia di sana.
" Zi,, entar motor lo yang masukin ya, gua kayanya mo tidur cepat, mata gua udah sepet nichh, makanya gua bikin kopi juga," titah Defaz.
" Soal motor tenang sajoh, beres pokonya," celotehnya sedikit berseloroh gurau.
" Tapi jangan sampe nunggu larut malem lo masukinnya, nanti kelupaan," balas Defaz, yang memang nampak sudah terlihat loyo, dan sepertinya sudah tidak bisa lagi untuk sekedar bercanda pun.
" Siappp, " balas Zidan sambil menyantap nasi goreng bikinannya.
Defaz bergegas kekamar, sebenarnya pikirannya teringat Mira, ingin menghubunginya dan menanyakan kabarnya, " besok libur kuliah, apa aku besok kerumah Mira saja," pikirnya.
Dilihatnya ponsel ingin diketiknya sebuah pesan untuk Mira, di urungkannya kembali niatnya itu.
" Achhh brukkk," badannya di hempaskannya ke atas kasur, di tariknya napas dalam dalam, rasa penatnya di buangnya jauh jauh dan kemudian di pejamkannya matanya, sepintas waktupun seakan berputar bagaimana dirinya menemui Mira karena sakit, menemaninya brobat bahkan pertemuannya sama Vino nampak membayanginya.
" Faz beneran lo mo tidur cepat,, besok kan libur, gadang yuk?" ajak Zidan yang secara tiba tiba muncul, dan membuyarkan pikiran Defaz.
Kali ini Defaz nampak serius mimiknya tak dapat lagi tuk dibawa bercanda.
" Gua mo istirhat, capek gua, lo saja gadang sendiri, sana lo nonton tv saja sambil telponan sama pacar lo biar tidak merasa sendiri," titah Defaz, sambil memiringkan badannya.
" Jangan lupa konci pintu," titahnya lagi.
Zidan yang melihat sahabatnya kehilangan gairah, sudah sangat mengerti, kalaopun di paksanya tidak akan baik. Dibiarkannya Defaz tertidur sendiri di kamar, sementara dirinya yang belum merasakan kantuk, kembali menuju ruang tamu, seperti saran Defaz dirinya pun menghubungi pacarnya kali saja belum tertidur pikirnya dalam hati.
Di pindahkannya Chanel televisi, sontak Zidan kegirangan sendiri namun sedikit menciutt
" Wah film susana," gumannya.
" Hallo sayang, aku sudah mo tidur ini," sebuah suara merdu di balik telpon, suaranya nyaring sedikit memales, efek orang yang sedang di landa kantuk.
" Kirain belum ngantuk, mo minta temenin ngobrol," seru Zidan.
" Aku ngantuk sayang, memangnya kamu belum ngantuk, ini sudah larut malem sayang," jawab pacarnya Zidan
" Belum,, lagi seru ini, tapi gak ada temen," ucapnya.
" Memangnya seru apanya," suaranya nampak parau terpaksakan.
" Seru film susana, tapi agak tegang kalao nontonnya sendirian, makanya temenin dong," pintanya Zidan.
" Apaan Film susana iihhh,,, aku gak mau, malam malam gini nonton film horor sendirian lagi,, iihhh seremm, memangnya Defaz gak ikut nonton," balas pacarnya.
" Defaz sudah teparrr, agaknya kecapean," ucap Zidan.
" Sudah achhh, kamu nonton saja sendiri jangan ajak ajak aku, aku jadi takut ni mo tidur, udah dulu ya sayang, selamat bersenang senang bareng film susana sendirian, di tengah tengan malam lagi hehee," timpal pacarnya di balik telpon, tak menunggu lama telponpun terhenti.
Zidan menarik napas dalam,, karena matanya belum juga merasa ngantuk, mau tidak mau dirinya kembali terfokus dengan film horornya, walaopun harus menonton film horor seorang diri di tengah malam, baginya tidak masalah, walaopun tidak memungkiri dirinya sesekali di buat tegang juga.
Film horor pun berakhir, dirinya belum juga merasa mengantuk di lanjutnya menonton tayangan yang lainnya, sampai sang kantuk menyerangnya, barulah dirinya merasa kalao matanya sudah pantas untuk di pejamkan, di matikannya televisi, dan di tujunya kamar Defaz, di sana terlihat Defaz dengan pulasnya tertidur, Zidanpun akhirnya ikut terbaring di samping Defaz dan di tenggelamkannya dalam impian, sampai dirinya benar benar hanyut dalam mimpi panjang mengikuti Defaz.