Pukul setengah sembilan malam terjadi perbincangan di serambi depan rumah salah seorang warga kampung Suka Jaya. Perbincangan itu tentunya melibatkan dua orang lelaki dewasa yang beranjak manula, kurang lebih dua puluh tahun lagi dah, itu juga kalau mereka diberikan umur yang panjang, kalau nggak, iya wassalam.
"Dag...Dig...Dug....Dag...Dig...Dug... Kira-kira begitulah bunyinya."
"Bunyi apaan!?"
"Iya bunyi degup jantung! Masak iya bunyi petasan kondangan!"
"Apa ceritanya bunyi degup jantung bisa se-rawan itu!?"
"Iya, apalagi kalau bukan karena cerita yang diobrolkan sama si Derry di pos ronda kemarin malam, perihal Malam Jumat Kliwon ntuh."
"Malam Jumat Kliwon!? Emang napa!?"
"Eh, setan belau bewok sudah ubanan kayak gini masak loe masih nanya?! Emangnya loe dulu berojol dimana sih!?"
"Di Toilet."
"Pantesan loe kagak mudeng! Otak loe kayak si kuning yang mengambang sih! Ini malam kan malam Jumat Kliwon, ini malam adalah malam yang sangat amat teramat menyeramkan sekaligus menakutkan, loe tahu kenapa?! Karena malam ini adalah malam di mana para hantu, setan, dan dedemit bakal menampakkan batang hidungnya!"
"Lah, setan cuma nampak batang hidungnya seram bin menakutkan dari mana?!"
"Emang loe kagak takut!?"
"Cuma nampak batang hidung doang, takut dari mana? Dari Hongkong...!"
"Eh, Semprul gimana kalau tuh setan dan tuh hantu juga tuh si dedemit kompak-an mencekik loe, apa loe kagak takut!?"
"Gue tuh lebih takut kalau loe hutangi..!"
"Lihat aja ntar, bukannya hari ini loe yang jadi petugas ronda kampung!?"
"Sama loe kan?"
"Sorry gue resign!"
"Gimana ceritanya!?"
"Faktor 'U'!"
"Umur? Loe kan... Udah tua juga sih, secara rambut loe juga udah pada resign kayak gini, mana bohlam mana kepala, salah-salah orang bisa salah tendang ini."
"Uang bego!"
"Maksudnya!?"
"Gue udah kasih pelicin ke si Ramdan supaya nama gue dihapus bukukan dari tugas ronda di kampung Suka Jaya, selama setahun, hebat gak gue!?"
"Kok bisa!?"
"Ingat peribahasa orang tua kita dulu, 'Hepeng do namangatur nagaraon,' ada doku semua rebes!"
"Bayar begituan loe bisa, bayar hutang ke gue, loe mundur terus. Loe tuh ibarat kata tata bahasa, ' Antara mulut dan perbuatan loe kagak akur!"
"Maksud loe apaan!?"
"Lah lihat aja tuh mulut loe, apa gigi loe kagak bisa loe jadikan bukti. Gigi loe kemana perbuatan loe kemana!?"
"Setan...!"
"Lah ntuh loe benar, terus buat apa gue mesti takut, sejuta kayak loe, gue jabani."
"Maksud loe, gue yang setan gitu!?"
"Lah pake diperjelas."
"Ntar loe kalau ketemu yang beneran pasti loe lari terkencing-kencing..."
"Berarti loe KW dong!?"
"Udah ah cabut loe, gue mau indehoy dulu sama yayang gue..."
"Yayang?! Bukannya bini loe balik ke rumah orangtuanya, karena loe..."
"Gak usah pake diomongin! Masih ada bantal guling noh!"
"Gigi loe noh diompongin...!"
"Sayonara! Selamat bertugas! Ganbate.....!"
"Eh, utang loe gimana nih!?"
"Ntar, habis lebaran tokek!"
Pukul setengah dua dinihari, berlokasi di pos ronda kampung Suka Jaya, para petugas ronda terlihat lagi sedang asyik berdiang mengelilingi nyala api unggun yang berkeriap kesana kemari. Berkawan seteko kopi yang dibantu dengan beberapa lembar roti tawar serta sebongkahan singkong rebus mereka pun mencoba untuk bertahan dari dinginnya malam sekaligus kantuk yang kian menjajah.
"Si Jupri akalnya ada aja iya?"
"Emang kenapa Dul?"
"Secara dia nyogok si Ramdan biar gak ronda lagi."
"Lah kata si Ramdan, si Jupri ijin sakit."
"Sakit kepala loe baru gue dari rumahnya."
"Lah kagak percaya tanya nih si Bahar. Benar gak Har kalau si Ramdan kata si Jupri ijin sakit."
"Kebalik bego!"
"Ya tinggal diputar aja susah amat."
"Sakit hati karena ditinggal bininya."
"Tuh orang udah ngebohongi loe. Si Jupri sehat walafiat. Gue lihat pake mata kepala gue sendiri."
"Sialan si Ramdan."
"Kita mesti protes ini ke Pak lurah."
"Protesnya besok aja. Sekarang gimana kalau kita kerjain si Jupri."
"Kerjain gimana maksud loe!?"
Abdul pun kembali menceritakan apa yang telah ia alami di rumah Jupri selepas isya tadi. Kedua kawan merespon dengan manggut-manggut sambil pula tertawa kecil.
"Boleh juga ide loe!"
"Ayo buruan!"
"Serang.....!"
Mereka serempak bangkit berdiri berjalan bergegas ke satu arah, sepertinya menuju ke rumah Jupri. Tapi di pertigaan salah seorang dari mereka menghentikan laju.
"Gue ambil bedak bini gue dulu."
"Sekalian taplak meja berwana putih."
"Asiaaap...."
"Kita tunggu di depan teras rumah si Jupri."
Dua orang kembali berjalan meninggalkan seseorang yang siap berbelok ke kanan jalan. Ada beberapa menitan mereka menunggu.
"Lah si Bahar amat dah."
"Keburu subuh ini..."
"Lihat tuh kamar si Jupri nyala lampunya terang banget. Takut dia tuh..."
"Lampu seratus Watt kali ya..."
Tak ayal mereka pun tertawa bareng. Hingga salah satu pundak dari kedua orang tersebut ditepuk dari belakang.
"Sialan kaget gue, Har. Penampilan loe sama bedak loe... Udah kayak pocong beneran aja. Siapa yang rias ini? Bini loe? Gak percuma dia bukan salon. Gila persis amat loe, Har."
"Buruan loe ketok tuh jendela kamar si Jupri." Abdul menunjuk ke satu kamar. Disahut dengan anggukan kepala. Jarak kamar dengan mereka menunggu tak kurang selemparan batu. Si pocong pun manggut lalu pergi menuju ke arah jendela sambil meloncat-loncat.
"Si Bahar secara tuh kamar cuma sejengkalan doang dianya pake loncat. Gila persis bener daah."
Abdul ngikik. "Ndak percuma dia jadi artis lenong. Tuh peran dijiwai bener."
Si pocong mengetuk daun jendela.
"Iya alah pake diketuk mau bertamu apa!?"
"Siapa!? Loe Rat?! Katanya baru lusa baliknya, kok nggak konsisten sih!" sahut orang yang di dalam kamar. Ternyata dia sudah bangun, atau barangkali memang juga tidak bisa tidur. Daun jendela diketuk lagi, dua kali. "Udah langsung ke pintu aja deh loe, ntar, gue buka." Sahut orang yang di dalam. Mendengar hal tersebut si pocong pun mengangguk, balik kanan ia pun berjalan meloncat-loncat ke arah pintu rumah. Dua orang yang telah menjauh dari rumah, yang kini sedang bersembunyi di balik batang pohon mangga tertawa melihat lagak si pocong yang berjalan meloncat-loncat itu. "Ya alah si Bahar diresapi bener dah perannya." kekeh Abdul.
Si pocong mengetuk pintu. Abdul yang bersembunyi masih juga terkekeh malah kian parah kalau tidak mulut tidak ditahan oleh kawan di sebelahnya mungkin-mungkin mereka ketahuan. "Gila mau bertamu beneran dia..."
'Plaaak...' Seseorang memukul pundak Abdul dari belakang, keras, sambil bertanya, "siapa yang bertamu jam-jam segini...?"
Abdul nyahut, "Itu si...." Tapi berselang kemudian ia menghentikan omongannya, perlahan-lahan ia melongok ke belakang. Karuan dia kaget, begitupun kawan di sebelahnya. "Kuntilanak..."
"Gue Bahar..." Seru si pemukul pundak sambil melepaskan rambut palsu yang dikenakannya. "Gue gak ketemu taplak, tapi gue ketemunya ini nih, properti lenong gue sekalian sama bajunya. Gue udah pas jadi Kuntilanak belum."
Abdul dan kawan di sebelahnya saling melirik, tubuhnya menggeletar dari ujung kaki sampai ujung kepala, gigi-gigi pun menggemeretak. "Loe berdua kenapa!? Kayak ketemu hantu beneran aja, gue nih, Bahar." Bahar menuding dadanya.
"Trus ntuh siapa!?" Abdul, dengan keringat dingin menuding ke arah pintu. Sementara kawan di sebelahnya sudah tak kuat menahan rembesan di balik celananya. Karuan Bahar membelalak, kaget dia. "Siapa tuh...?"
"Pocong!" Abdul dan kawan di sebelah merespon dengan bersuara lirih dan gemetar. Bahar sekonyong-konyong balik kanan, pasang langkah seribu, ia lari terkaing-kaing. Begitupun kedua lainnya, sambil berseru lirih, "Har, tunggu Har, jangan tinggalkan kita, Har..."
Pintu dibuka. Sontak Jupri bereaksi. "Setan Bedebah! Eh, Dul, kalau loe mau becanda kira-kira dong." Jupri pun pasang kuda-kuda. Tapi si pocong tetap berdiri teguh di muka pintu. "Nantangin loe, loe jual, gue beli..." Geram Jupri, dan tak sampai hitungan detik bak si Pitung ia pun beraksi dengan Kanuragan, tinjunya pun menghujam ke dada si pocong. Si pocong tersungkur jatuh. Jupri melanjutkan aksi silatnya kini jambul si Pocong yang ia cengkeram, bersiap menghujamkan lagi tinjunya, yang jadi sasarannya sekarang adalah wajah si Pocong. Untungnya si pocong keburu buka suara. "Ampun, Bang, Ampun, Bang... Saya beneran pocong, Bang..."
"Pocong kepala loe...!"
"Beneran pocong, Bang, kalau ndak percaya ini nih surat tugas saya..." Kata si pocong sambil memberikan secarik kertas.
Di secarik kertas tersebut tertulis, kalau malam ini si pocong bertugas untuk menakuti para petugas ronda di kampung Suka Jaya. Kalau si Pocong berhasil menjalankan tugasnya, maka dia pun akan segera dibebaskan dari masa trainingnya dan akan diangkat menjadi salah seorang staf di jajaran departemen Perpocongan. Di bawah ada notulen yang menyatakan kalau si Pocong sudah menjadi pocong kurang lebih dua bulan setengah. Dan di ujung kanan bawah kertas juga terdapat tanda tangan dari si pemberi tugas.
"Tertanda Setan Dajjal..." ucap Jupri. Dan sesaat setelah Jupri mengucapkan kata tersebut. Secarik kertas itu pun raib dari tangannya. Jupri kaget, meringis ketakutan. "Benarkan Bang saya Pocong,"
Jupri lari lintang pukang ke arah jalan besar sambil berseru teriak sekeras-kerasnya. "Pocong... Di rumah gue ada Pocong...."
"Sialan bukannya minta maaf sudah main pukul anak orang, bukannya bantuin gue berdiri, lah dianya malah lari... Kampret loe..." Seru si Pocong yang menghilang tiba-tiba sedetik kemudian.