Langkah tegap seseorang memasuki gedung A-Company. Saat melihatnya, semua karyawan nampak memberikan ruang untuk lajurnya. Nampaknya orang ini adalah orang penting di perusahaan A-Company.
Seorang pria berusia sekitar setengah abad lebih. Sosoknya masih terlihat tampan dan berkharisma walau sebagian rambut putih sudah menghiasi kepalanya. Dialah Akbar Allenzy, Direktur Perusahaan A-Company
Dibelakangnya seorang gadis muda nampak tergesa mengikuti langkahnya.
Layla, seorang gadis berusia dua puluh empat tahun yang sudah setahun ini menjabat sebagai sekretaris direktur. Dari penampilan, Layla terlihat cukup manis dan menarik dengan rambut panjang sebahu.
"La, tolong rangkum hasil rapat hari ini dengan PT Angkasa. Lalu pesankan hotel untuk meeting di Bali. Ohya, sekalian belikan saya kopi dan donat di kedai seberang." Kata Akbar sambil terus melangkah menuju lift khusus direksi
"Baik pak." Jawab Layla singkat. Segera gadis itu mengutak-atik iPad di tangannya untuk melaksanakan perintah boss besarnya. Lalu gadis itu berbalik hendak menuju kedai kopi di seberang gedung A-Company
"Baru pulang rapat, La? Mau kemana lagi? Sibuk terus sepertinya ya."
Layla mendongak mendapati Dimas, seorang manajer di divisi pemasaran. Layla tersenyum
"Iya pak, ini mau ke seberang beliin bapak kopi sama donat." Kata Layla sambil terus berjalan. Dimas pun nampak mensejajari langkah Layla
"Saya temenin ya. Saya juga mau beli sesuatu di seberang."
Beberapa orang nampak berbisik-bisik melihat Dimas dan Layla berjalan bersama. Sudah menjadi rahasia umum kalau Dimas tertarik pada Layla. Namun Layla hanya menanggapi biasa layaknya hubungan profesional antar rekan kerja
"Layla beruntung ya. Posisinya bagus, cantik, di puja oleh manajer pemasaran pula."
"Eh katanya pak direktur pun sayang banget lho sama Layla. Jangan-jangan mereka ada main dibelakang bu Risa."
"Ngaco, Pak Akbar kan bucin banget sama bu Risa. Etapi nggak tahu juga ya secara kalau kemana-mana yang diajak kan si Layla."
Beberapa omongan sempat tertangkap di telinga seseorang yang menatap tajam ke arah punggung Layla dan Dimas yang kian menjauh
***
Layla tergesa mendorong pintu besar di depannya. Dirinya merutuki mesin kopi yang sedikit error tadi sehingga membutuhkan waktu 10 menit untuk memperbaikinya.
"Pak, maaf terlambat." Ucap Layla saat menyerahkan kopi dan donat di meja Akbar.
Akbar hanya tersenyum sambil mengangguk. Layla bersyukur selama bekerja, Akbar tidak pernah sekalipun memarahinya. Mungkin karena pekerjaan Layla selalu diselesaikan dengan baik oleh gadis itu sehingga beberapa kesalahan kecilnya bisa termaafkan di mata Akbar
Akbar tidak sendiri di ruangan. Terlihat Liam, putra dari sahabat Akbar tengah duduk santai di sofa. Tampaknya mereka sedang membicarakan sesuatu yang serius. Layla mengangguk sambil tersenyum ke arah Liam yang dibalas anggukan dan senyuman dari pria itu
Nampak pula seorang OB yang sedang membereskan beberapa berkas tidak terpakai di lemari dokumen Akbar. Beberapa saat Layla dan OB itu bertatapan
"Kamu mau kerja atau mau ngeliatin sekretaris saya, Bam?" Tanya Akbar yang mengejutkan keduanya.
"Maaf pak." Kata Ibam, si OB. Segera Ibam membereskan pekerjaannya. Sejenak diliriknya Layla yang terlihat mengulum senyumnya
"Kamu masih disini? Mana rangkuman rapat yang saya minta?" Tanya Akbar saat melihat Layla masih berdiri di depannya
Gadis itu sedikit tergagap karena Akbar kembali memergokinya
"Ah eh iya, ini sudah saya tulis di iPad saya. Silahkan pak." Layla menyodorkan iPad nya ke arah Akbar.
Akbar menganggukkan kepalanya. Sejenak matanya melirik ke arah Ibam yang masih membereskan dokumen-dokumen di lemarinya dan Liam yang sedang menatap ke arah Layla. Bibir Akbar menyunggingkan senyuman
"Tadi beli kopinya sama si Dimas ya?"
"Hah?" Layla sedikit bingung mendengar pertanyaan Akbar. Pria berusia setengah abad lebih itu dengan santai menyesap kopinya
"Tadi sebelum masuk lift saya lihat kamu ke kedai kopi bareng Dimas." Kata Akbar lagi. Kali ini sambil menggigit donatnya dengan santai
Layla sedikit salah tingkah karena merasakan sepasang mata menatapnya tajam seolah hendak mengulitinya. Gadis itu menggigit bibir bawahnya untuk menghilangkan kegugupan di hatinya
"Ng, itu kebetulan. Pak Dimas juga mau beli kopi.."
"Ooh.. pantesan lama." Kata Akbar sambil tersenyum jahil. Tampaknya Akbar juga sedang menggoda seseorang yang sedang menatap sebal ke arah Layla
"Ng, saya boleh kembali ke meja saya pak?" Tanya Layla mencoba melarikan diri dari situasi yang membuatnya sedikit tidak nyaman
Akbar terkekeh kecil sambil mengangguk. "Ya sudah, ini saya periksa dulu."
Layla mengangguk cepat. Gadis itu bergegas keluar. Sampai di luar, sejenak di sandarkan punggungnya pada pintu besar ruangan Akbar sambil menarik nafas panjang. Untung di lantai ini hanya dirinya yang ada sehingga tindakan Layla tidak memancing kecurigaan. Gadis itu melangkah menuju toilet untuk menunaikan hajat yang sedari tadi ditahannya
"Aah.." Layla menjerit kaget saat keluar dari bilik kloset dan mendapati sosok seorang pria yang tengah berada di toilet sambil bersedekap.
"Ngapain disini?! Ini toilet perempuan." Kata Layla sambil menuju wastafel mencuci tangannya. Sebetulnya bisa dibilang ini toilet pribadi milik Layla karena hanya Layla yang menggunakan toilet di lantai ini
Pria itu malah mengunci pintu toilet membuat Layla menatap horor ke arahnya
"Ng-ngapain di kunci?" Tanya Layla gugup. Pria itu tidak bersuara. Dirinya hanya mendekati Layla hingga Layla tersudut ke dinding toilet. Tangan pria itu menyentuh dinding untuk menahan bobot tubuhnya dan mengurung tubuh Layla
"Kamu janjian pergi sama Dimas tadi?" Tanya pria itu tajam. Hembusan nafasnya menerpa wajah Layla membuat gadis itu sedikit gugup
"Itu nggak di rencana..hmmph.." Layla belum selesai berbicara, pria itu sudah me****t kasar bibirnya. Tangan kekar pria itu menahan tengkuk dan pinggul Layla membuat gadis itu tidak bisa bergerak
"Kamu sengaja ya bikin aku cemburu?" Bisik pria itu dengan nada berat di sela-sela l***tannya
Susah payah Layla mendorong tubuh pria itu dari tubuhnya, seakan mendorong pintu besi karena tubuh pria itu sama sekali tidak bergerak
"Please, ini di kantor..." Bisik Layla terengah-engah sambil berusaha menjauhkan bibirnya dari bibir pria itu. Pria itu menjauhkan wajahnya sambil menatap Layla
"Aku tau ini dikantor. Memang kenapa?" Tanya pria itu sambil menaikkan alisnya. Sedetik kemudian bibirnya kembali menyerbu bibir Layla. Tubuh Layla bergetar saat lidah sang pria masuk dan mengabsen geliginya. Tangan pria itupun mulai bergerak menyusuri titik sensitif di tubuh Layla membuat gadis itu mendesah
"Nggh.. bukannya kamu yang minta supaya kita profesional di kantor?" Layla berusaha bersuara di tengah l***tan prianya
Pria itu melepaskan pagutannya. Dahinya menyentuh dahi Layla. Keduanya nampak terengah-engah. Saat nafas mulai teratur, keduanya saling bertatapan. Bibir pria itu tertarik ke atas saat melihat wajah Layla yang memerah. Sangat menggemaskan. Jempol pria itu mengelap jejak salivanya di bibir Layla
"Nanti di rumah aku hukum ya karena sudah berani jalan sama cowok lain dan bikin aku cemburu." Bisik pria itu sambil menghisap daun telinga Layla membuat gadis itu merinding
***
Pagi ini Layla terlihat terduduk di lobby. Dirinya sedang menanti Akbar untuk menghadiri meeting dengan klien. Tangannya sibuk menyusun rundown rapat nanti di iPad miliknya
"Eh pak Liam pagi-pagi udah kesini ngapain ya?"
Sebuah suara memaksa Layla mengangkat wajahnya. Terlihat Liam sedang berjalan masuk. Setiap gerakannya mampu memancing para wanita untuk menoleh atau setidaknya melirik ke arah Liam.
"Ganteng banget pak Liam."
"Masih jomblo ya?"
"Kayaknya punya pacar deh."
Suara-suara itu berhenti saat Liam menghampiri Layla yang duduk di lobby. Layla berdiri menyambut dan tersenyum ke arah Liam
"Pagi La. Pak Akbar ada?" Tanya Liam
"Ada, pak. Sebentar lagi beliau turun untuk meeting dengan Verona Group." Jawab Layla sopan.
"Kebetulan, saya juga mau kesana." Kata Liam. Mata Liam sedikit memicing melihat wajah Layla. Pria itu menempelkan punggung tangannya ke dahi Layla
"Kamu sakit? Kok pucat?" Tanya Liam
Layla menepis tangan Liam lembut. Layla sadar beberapa pasang mata pasti terbelalak melihat perhatian Liam pada dirinya
"Nggak, kecapekan aja." Balas Layla sambil tersenyum. Dalam hati, dirinya merutuki prianya yang semalaman menyentuhnya sampai menjelang pagi membuat tenaganya terkuras banyak.
Liam mengangguk. Perhatiannya teralihkan dengan bunyi handphonenya. Liam membalas senyum ke beberapa pegawai wanita sambil mengangkat teleponnya
"Ibaam, tolong beliin lontong sayur di depan ya." Kata seorang wanita dengan nada manja
Layla menoleh melihat Ibam tampak dikerumuni oleh beberapa wanita. Walau seorang OB, Ibam memiliki wajah yang tampan dan tubuh atletis. Kalau saja berpakaian biasa, tidak ada yang menyangka Ibam adalah seorang OB di A-Company.
Ibam terlihat datar menanggapi beberapa godaan dari beberapa karyawan wanita. Dengan sikap dinginnya itu, justru membuat Ibam lebih memancarkan pesonanya
Layla menghembuskan nafasnya saat melihat Akbar keluar dari lift direksi. Layla segera berdiri untuk menghampiri Akbar. Tiba-tiba lantai pijakannya sedikit bergoyang, pandangannya sedikit mengabur. Sebelum gelap menyergap, terdengar suara teriakan panik dari prianya yang menyebut namanya
***
"Dia demam, sepertinya kelelahan." Samar-samar terdengar suara dokter Nina, dokter keluarga Allenzy. Mata Layla masih terpejam seolah lengket satu sama lain. Tenaganya pun seakan terkuras. Sepertinya dokter Nina memberikan suntikan vitamin yang mengandung sedikit obat tidur untuknya
"Sudah Lyla istirahat saja di sini, Pak." Kembali terdengar suara seorang pria. Prianya. Prianya selalu memanggil Layla dengan panggilan kesayangan 'Lyla'
"Ini pasti gara-gara kamu. Dikira saya nggak tahu kalau kamu cemburu kayak apa?!"
Layla sudah tidak mendengar apa-apa lagi karena gadis itu kembali terlelap
***
Keesokan harinya, rumor beredar. Dikabarkan saat pingsan kemarin, Layla ditolong (tepatnya diperebutkan untuk menolong) oleh tiga pria tampan.
Dan Layla belum mengetahuinya. Gadis itu masih duduk santai di kafetaria sambil menyesap tehnya dan menikmati sandwich isi. Sedikit aneh karena beberapa orang pegawai perempuan menatap cemburu ke arah dirinya
"La.."
Layla mengangkat wajahnya melihat Dimas sudah duduk di hadapannya.
"Ya pak?" Tanya Layla sopan. Dimas tampak canggung, sesekali menggaruk kepalanya
"Ng, kamu udah sehat?" Tanya Dimas berbasa-basi.
Layla tertawa kecil menanggapi ucapan Dimas
"Udah pak. Kalau belum nggak mungkin saya disini." Canda Layla sambil menyesap tehnya
Dimas terkekeh pelan. Sejurus kemudian tangan Dimas menggenggam tangan Layla membuat Layla tersentak dan langsung menarik tangannya
"Eh maaf La, saya.."
Ucapan Dimas terpotong saat mengetahui seorang pria ikut duduk di samping Layla dan menatap tajam ke arah Dimas lalu beralih menatap Layla
"Kamu di godain sama dia La?" Tanya Liam tegas
"Eh?"
"Apa hak anda ikut campur urusan pribadi pegawai, pak Liam?" Tanya Dimas dengan nada tegas
Kedua lelaki itu nampak saling melempar tatapan permusuhan. Layla berdecak sebal. Nafsu makannya hilang. Gadis itu segera berdiri
"Saya permisi, sepertinya pak Akbar tadi menelepon." Kata Layla. Dengan cepat gadis itu beranjak meninggalkan cafetaria. Layla tidak mengejar lift, gadis itu membelokkan kakinya menuju ke arah toilet wanita.
"Hem, jadi perempuan rakus banget sih lo La." Ucap seorang perempuan yang berdiri di toilet saat Layla baru saja keluar dari bilik kloset. Ada tiga orang perempuan yang berada di toilet
"Maksudnya apa ya, Mau?" Tanya Layla sambil mengerutkan keningnya
Maura -nama perempuan itu- berjalan mendekati Layla sambil tersenyum sinis
"Elo tuh udah dikejar-kejar pak Dimas, masih nargetin pak Liam juga ya." Kata Maura sambil memainkan rambut Layla. Layla menepis kasar tangan Maura. Maura hanya tertawa
"Ck, bukan cuma pak Dimas dan pak Liam. Ibam si OB juga diembat sama dia." Kata seorang perempuan berambut keriting yang disambut gelak tawa teman-temannya
"Lo bener Bec. Dia kayaknya kegatelan deh!" Ucap Maura sambil tersenyum sinis. Layla memutar bola matanya. Rasanya malas meladeni tiga perempuan ini
"Saya nggak ada urusan dengan kalian. Permisi!" Kata Layla cepat namun Maura segera menarik tangan Layla dan mendorong gadis itu hingga menabrak wastafel
"Aduuh.." rintih Layla saat pinggangnya terbentur wastafel
"Cindy, Becca. Pegang dia!" Perintah Maura
Cindy dan Becca segera memegang Layla membuat gadis itu tidak bisa bergerak. Maura mengeluarkan gunting kecil dari dalam tasnya dan mengangkat di depan wajah Layla yang menatap horor ke arahnya
"Kamu mau apa?!" Ucap Layla sambil melihat ke arah gunting di tangan Maura
"Cuma mau lihat, kalau kamu botak kira-kira siapa yang bakal ngejar-ngejar kamu?" Kata Maura sinis sambil menarik rambut Layla.
"Aaaah!!" Layla menjerit. Namun pegangan Becca dan Cindy cukup kuat sehingga Layla tidak dapat bergerak
Maura baru saja hendak menggunting rambut Layla saat sebuah tangan kekar menahan pergerakan tangannya. Maura menoleh melihat Ibam yang menatap marah ke arahnya
"Lepaskan istriku!" Kata Ibam dingin dengan sorot mata tajam
"Kamu?! Aah sakiit.." jerit Maura saat Ibam mencengkram tangan Maura kuat-kuat sehingga gunting yang dipegang Maura terjatuh. Maura dan kedua temannya bergegas melepaskan Layla. Ibam dengan cepat menarik Layla ke dalam pelukannya dan membiarkan gadis itu menangis di dadanya
"Kamu nggak apa-apa, Lyla sayang?" Tanya Ibam sambil membelai kepala Layla. Layla menggeleng dalam dekapan Ibam. Dengan cepat Ibam membawa Layla keluar dari toilet. Maura dan kedua temannya terperangah melihat adegan itu
***
Hari ini kembali tersebar berita kalau Layla sang sekretaris direktur adalah istri Ibam si OB. Banyak yang mentertawai Layla karena tidak disangka selera seorang Layla hanya sekelas Office Boy.
Dimas pun mengkonfirmasi kebenarannya langsung dari Layla dan gadis itupun membenarkannya. Dimas pun mundur teratur karena biar bagaimanapun Layla sudah menjadi istri orang
"Kamu udah dengar desas desus di kantor?" Tanya Layla saat Ibam mengantarkan makanan untuk Akbar
"Udah." Jawab Ibam.
Pria itu menarik Layla dan mendudukkan gadis itu di meja kerja Layla sementara tangannya memeluk pinggang Layla. Layla sendiri mengalungkan tangannya di leher Ibam. Ibam menatap Layla sambil membelai kepala gadis itu
"Kamu nggak apa-apa dibilang punya hubungan dengan seorang OB?" Tanya Ibam sambil membelai pipi Layla yang mulus
Layla tersenyum sambil menggeleng "Dari awal aku nggak mau ngumpetin hubungan kita. Kamu nya aja kan yang pengen rahasia-rahasiaan demi misi khusus."
"Harus begitu, sayang. Tapi sepertinya misi ini sudah mendekati garis finish. Mari kita bikin kejutan baru." Ibam terkekeh. Sejurus kemudian menatap mata bening Layla lalu beralih ke bibir Layla yang merekah
Tangan Ibam bergerak menarik tengkuk gadis itu. Bibir keduanya bertemu. Decakan seksi terdengar romantis hingga..
"Hei! Dilarang berbuat mesum di kantor saya apalagi di area publik!" Suara Akbar mengejutkan kedua sejoli itu yang bergegas saling menjauh satu sama lain
***
Berita tentang pergantian direktur A-Company sudah seminggu beredar. Kabarnya Pak Akbar akan digantikan oleh putra semata wayangnya yang bernama Abraham Allenzy. Tidak ada yang pernah melihat wajah putra sang direktur. Kabarnya Abraham Allenzy sangat tampan, karenanya semua pegawai khususnya pegawai wanita sangat menantikan acara pelantikan itu, berharap Abraham Allenzy melirik ke arah mereka
Hari ini Akbar sengaja membuat acara di ballroom hotel mewah dengan mengundang semua karyawan dan rekan bisnisnya untuk memperkenalkan pengganti dirinya
Tampak Layla berjalan anggun memasuki ruangan menggandeng Ibam yang juga terlihat berbeda malam itu. Bohong kalau ada yang mengatakan Ibam tidak terlihat mempesona, dengan pakaian formal yang membungkus tubuhnya serta tatanan rambut yang membuat ketampanan Ibam menjadi berkali lipat
"Gantengnya Ibam.."
"Nggak kelihatan kalau dia OB."
"Percuma ganteng, tetep aja OB."
"Selera Layla rendah juga ya."
"Terpuaskan di ranjang kali.."
Suara-suara sumbang sempat mampir ke telinga Layla. Gadis itu menunduk. Ibam yang melihat langsung menarik pinggang Layla dan memeluknya sambil berjalan menuju kursi yang telah disediakan
"Chill baby.." Bisik Ibam sambil menepuk punggung tangan Layla. Gadis itu hanya tersenyum sambil mengeratkan genggaman tangannya
Acara sudah dimulai. MC acara mulai membuka acara dengan berbagai sambutan dan pengenalan perusahaan singkat. Acara malam ini tidaklah terlalu formal, bahkan sangat terkesan acara kekeluargaan.
Pada acara inti, MC mempersilahkan Akbar untuk memberikan pengumuman pentingnya. Akbar pun maju ke podium
"Selamat malam para hadirin sekalian. Terima kasih telah berkenan hadir di acara ini. Seperti yang kalian tahu, ada beberapa pengumuman yang akan saya sampaikan. Pertama, saya akan menyampaikan kalau A-Company akan bekerjasama dengan Freezebiz yang dipimpin oleh Liam Ferdinand. Liam, naiklah kemari nak." Akbar memanggil Liam untuk naik ke atas panggung
Tepukan bergemuruh membahana. Sudah terlihat kesejahteraan para pegawai ke depannya saat dua perusahaan raksasa saling mendukung satu sama lain. Liam terlihat berpelukan dengan Akbar
"Well, sebetulnya kerjasama ini sangat erat karena kami tidak hanya berhubungan bisnis, tetapi juga kekeluargaan. Karena itu saya meminta adik saya menjadi sekretaris pak Akbar selama satu tahun untuk belajar pada ahlinya tentang seluk beluk perusahaan." Kata Liam sambil menatap ke arah Layla yang tersenyum
Beberapa bisikan terdengar. Sekretaris direktur hanyalah satu orang yang mereka tahu dan menjadi bahan olokan mereka selama beberapa minggu belakangan ini
"Perkenalkan adik saya, Layla Ferdinand." Liam memanggil Layla
Maura, Cindy dan Becca nampak menahan nafas saat melihat Layla maju ke panggung
"Mati kita, ternyata dia boss.." bisik Cindy
"Ah, biar boss kalau suaminya OB tetep aja kan.. Lagipula dia bisa apa?" Jawab Maura tenang, walau hatinya sedikit ketar-ketir
"Sekarang saatnya saya perkenalkan direktur baru untuk A-Company. Bukan orang baru sebenarnya, karena dia sudah memantau perusahaan setahun belakangan ini sehingga sedikit banyak dia tahu tentang perusahaan. Saya harap dibawah kepemimpinan kelak, perusahaan kita akan semakin jaya. Perkenalkan, anak saya Abraham Allenzy."
Semua orang nampak terkejut melihat sesosok pria tampan yang maju ke panggung dan berpelukan erat dengan Akbar dan Liam. Pria itu pun menarik pinggang Layla dan memeluk erat gadis itu
"Perkenalkan saya Abraham Allenzy, biasa dipanggil Ibam.."
Maura, Cindy dan Becca langsung berdesis dengan wajah pucat "Matilah kita..."