Sorak sorai bergemuruh menyambut pangeran tampan Defaz, yang baru saja masuk ke ruang kelas. Teman temannya tampak kompak histeris memberikan guyonan bahkan tepuk tangan yang begitu ramai membuat ruang kelas semakin gaduh.
Pasalnya, Defaz rela tidak mengikuti mata kuliah pada saat jam pertama, padahal dosen yang bersangkutan hadir, hanya karena mendapat kabar jika Mira tidak masuk kuliah karena sakit, bahkan dirinya langsung tancap gas menemui Mira dan mengantarnya ke dokter.
Bagaimana rekan rekannya tidak memojokannya kali ini, selama ini hubungan Defaz dan Mira nampak simpang siur, mereka mempercayai kalau Defaz dan Mira adalah pasangan kekasih termasuk Dosen pun berpikir demikian, karena selama mereka saling mengenal, mereka selalu saja berdua, tidaklah jarang ada momen yang mereka lewatkan, baik dalam mengerjakan tugas kelompok, maupun tugas lapangan yang notabeninya berkelompok, pasti keduanya akan menjadi satu time, dan di mata teman temannya Defaz dan Mira kerap memperlihatkan ke romantisan juga saling memberikan pengertian di antaranya.
Namun, terkadang jika ada rekan yang bertanya serius akan hubungan keduanya, terkesan keduanya menutupi dan mengatakan tidak ada hubungan layaknya kekasih. Pernyataan itu bagi mereka hanya omongkosong saja, mereka tidak percaya kalao Defaz dan Mira cuman teman, lebih tepatnya mungkin mereka TTM alias teman tapi mesra.
Namun, kali ini kejadian dimana Defaz lebih memilih mengantar Mira ke dokter, dari pada berangkat ke kampus, tentu saja seolah menjadi jawaban bagi rekan rekannya, kalao kenyataannya Defaz dan Mira memang menjalin hubungan.
" Cicieehhh".
" Hmmm".
" Cieh, ciehh".
Beberapa rekannya melemparkan kata kata sindiran dan gurauan, sementara Defaz hanya cengengesan dan diam saja.
" Sakit kenapa tuh yayangnya, kayanya sebegitu paniknya, sampe sampe langsung capcus tuhh," timpal seseorang.
" Jangan jangan karena takut sakit yang gak biasa hahahaaa," lontarnya lagi, bahkan di ikuti gelak tawa, sampai ada yang terpingkal pingkal.
" Lah kalao sakitnya yang gak biasa tuh giman bro," celetuk yang lainnya lagi, masih dalam gelak tawa dan bising.
" Brisik amat cih kalian, pingin tahu aja urusin orang hadechhh," Rima menepuk jidatnya, dirinya merasa risih dengan sorak sorai di kelasnya, meskipun dirinya tahu teman temannya mengolok ngolok Defaz hanya sekedar mengajak Defaz bercanda dan menikmati saat ruang kelas kosong dengan mata kuliahan.
* Defaz tidak menghiraukan mereka, bahkan tidak menggubris sedikitpun, bagaimanapun juga bagi Defaz tidak akan ada yang percaya klopun dirinya harus menjelaskan, sama halnya dengan kedekatannya dengan Mira meskipun mereka sudah memberi klarifikasi kalao mereka cuman berteman, tetap saja rekan rekannya tidak mempercayainya, jadi untuk kejadian hari ini pun rasanya percuma juga kalou Defaz harus memberikan penjelasan, maka jalan satu satunya ya membiarkannya saja.
*Zidan menghampiri Defaz yang dengan santainya duduk di bangku dan membaca sesuatu, sepertinya catatan hasil dari mata kuliahan pertama yang tertinggal, mungkin Defaz mendapatkannya dari salah satu rekannya.
zidan menepuk pundak Defaz, hingga Defaz terkagetkan.
" Mira beneran sakit, sakit apaan sih, sampe loe bela belain demi dia, malah loe mau anterin dia bribat segala?" celetuk Zidan sambil ikut terduduk di depannya hingga saling berhadapan.
" Ya beneran sakitlah, masa pura pura sakit, emangnya lu yang suka pura pura sakit dan bolos kuliah," timpal Defaz dengan gaya cueknya.
" Ya loe mah malah ngeledekin gw lagi faz, memangnya sakitnya parah, sampe loe sebegitu paniknya?" tanya Zidan.
" Cuman masuk angin, kayanya gara gara kemarin itu, pas ada tugas pagi, Mira kan datang telambat, dan Mira tidak sempat sarapan, katanya lagi semalamnya Mira tuh gadang," terang Defaz menjelaskan.
" Oohhh begitu rupanya, pantesan aja sekarang Mira tumbang," sahut Zidan sambil manggut manggut.
" Rupanya rupanya palak lo, jangan jangan loe juga mikirnya ngeres kaya yang lain," celetuk Defaz sambil memukul pelan kepala Zidan dengan catatan yang Defaz pegang.
*Zidan teman Defaz yang bisa di bilang paling dekat di kelasnya, dan paling ngertiin Defaz ketimbang yang lainnya, meskipun yang lainnya juga tergolong dekat dan mengenal Defaz, itu karena sikap dan krakter Defaz yang mudah bergaul dan berbaur dengan orang orang sekitar, dirinya tidak pernah pilih pilih orang dalam berteman, Defaz sendiri orangnya sangat asyik, sehingga kemanapun sosok Defaz dapat di terimanya, dan tentu saja kpribadian Defaz banyak di sukai para wanita.
" Faz, entar gw ikut kerumah loe ya,?" pinta Zidan.
" Mau ngapain loe kerumah gw, entar loe yang ada gangguin gw lg," celetuknya Defaz acuh.
" Ya loe, segitu amat, gw mau nginep dirumah loe boleh kan?" tanya Zidan.
" Hmmm enggak boleh, boleh dong heheheee, timpal Defaz yang awalnya acuh, mimiknya kini berubah tersenyum sengaja godain Zidan.
* Sepulang kuliah Defaz dan Zidan pulang beriringan nampak keduanya kompak saling melemparkan candaan, keduanya saling tertawa.
" Faz,,, mampir dulu ya ke toko Accesoris?" pinta Zidan. " Mau ngapain, loe aja sendiri," jawab Defaz.
" Pleaseee,, bantuin gw cariin sesuatu buat kado Faz?" mohon Zidan.
" Gue gak mau sebenarnya, tapi demi loe, ya sudah gue temenin, loe kan sukanya maksa maksa," balas Defaz, sambil berlalu melanju ke tempat accesoris.
Setelah yakin, keduanya tampak memarkirkan motornya masing masing, depan toko Accesoris. Awalnya mereka berdua cuman celingak celingukan merasa kebingungan, dan sedikit merasa kikuk.
" Loe bisa sekalian Faz cari hadiah buat Mira, entar gua yang bayarin," sahut Zidan.
" Gak usah, lain kali aja, kalou gw beneran jadian sama Mira," timpalnya sambil nyengir.
" Ya elo sampai kapanpun juga gak bakalan nembak Mira," selorohnya Zidan, sementara Defaz hanya garuk garuk kepala yang tidak gatal.
Keduanya nampak asyik berkeliling mencari sesuatu yang akan diberikan Zidan sebagi hadiah ulang tahun untuk pacarnya.
Seketika keduanya nampak diam dan saling pandang memandang ketika melihat sesuatu yang dipikirnya sangat menarik, Defaz menunjukan telunjuknya sambil tersenyum ke arah topeng wanita yang cantik rupawan dan memberikan isyarat kepada Zidan, kalao yang mereka lihat sangat unik.
Segera Zidan bergegas ke tempat dimana terpampangnya topeng topeng cantik itu berada.
" Faz lihat ini, " sontak Zidan mencium topeng tersebut. Defaz nampak geli, namun dirinya nampak jahil ingin ngerjain temannya.
" Wachh bagus sekali,,, loe coba dech sekali lagi cium tuh topeng, gue pingin lihat topengnya kalao di cium sama loe terlihat beneran gak sih," perintah Defaz dengan hati yang terpingkal pingkal, dan bibir menahan senyum. Dengan serta merta Zidan kembali mengulang mencium beberapa topeng, sementara Defaz dengan sigapnya menggunakan ponselnya memoto setiap adegan Zidan ketika mencium topeng topeng cantik, Zidan nampak asyik baginya hanya bercanda dan tidak mengetahui kalao Defaz sedang menjahilinya.
" Gila juga lo Zidan", gumannya pelan, membuat penasaran Zidan.
" Lo ngapain sih lihat ponsel sebegitu gelinya, jangan jangan loe terima pesan dari Mira ya," celoteh Zidan, namun yang di tanya malah mesam mesem.
"Aapaan sih,," Zidan mendekati Defaz dan merebut ponsel Defaz.
" Brengsek lo Faz, loe ngerjain gua ya, mao loe apain ini foto?" hardik Zidan sambil memutar mutar poto poto yang hendak di hapusnya, namun Defaz dengan gesitnya merebut kembali ponselnya dan berlalu.
" Gue mo posting, dan mo kasih keterangan saat loe berciuman dengan topeng kareng loe sedang kangen pacar loe hahahaa", Defaz tertawa puas sambil terus berjalan melanjutkan mencari sesuatu yang Zidan pinta.
Jidan mengejar Defaz dan keduanya kembali saling berbisik pelan. " Faz awas loh, kalo sampe lo beneran mosting tu poto, lo berarti temen yang jahat, entar gue balas loe tahu rasa, gue bilangin sama Mira kalou lo ancam Vino hihihii," bisik Zidan balik jahilin Defaz, sebenarnya keduanya juga yakin di antara mereka tidak akan melakukan hal hal konyol tanpa sepengetahuan dan seizin keduanya.
* Lama ke duanya berkeliling memutar mutar toko accesoris, keduanya tetap kebingungan dan kesulitan mendapatkan kado yang sesuai selera pacarnya Zidan, Defaz terdiam nampak berpikir kemudian setelah dirasa mendapatkan ide dengan cepatnya dia berjalan dan menarik tangan Zidan menuju ke tempat penjaga toko. Zidan akhirnya mengerti tanpa menunggu perintah Defaz akhirnya Zidan bertanya dan meminta saran dari penjaga toko Accesoris tersebut. Akhirnya keduanya bisa tersenyum senang, dan kembali mencari sesuatu sesuai arahan dan saran sang penjaga toko. Setelah keduanya mendapatkan apa yang di carinya, keduanya pun berlalu meninggalkan toko Accesoris, dan melanjutkan perjalanannya menuju rumsh Defaz.