"Kau adalah surgaku, hidup dan matiku. Mungkin hanya ini yang bisa aku katakan padamu, karena cintaku sangat suci seperti bunga mawar ini.
- KTH -"
Seorang perempuan membaca stikynote yang selalu dia dapatkan di meja kerjanya.
"Brak...! " perempuan membuang bunga itu di tempat sampah ruangannya.
"Mendapatkan bunga lagi, Rae?" tanya Ryan sahabatnya sekaligus tim satu divisi kantornya.
Perempuan di panggil Rae itu hanya menganggukan kepalanya dan duduk kembali ke meja kerjanya.
"Siapa lagi yang suka perempuan es batu berjalan seeprtimu itu?" tanya Ryan berjalan.
"Mana aku tahu, yan. Mungkin ada orang kurang kerjaan," balas Raena cuek.
"Sudah tanya kepada Deni OB kantor?" Raena memutar kursinya dan menatap sahabatnya.
"Kata Deni setiap pagi bunga itu selalu ada di meja. Mau di buang dia takut tanpa seijinku." ujar Raena.
"Atau jangan - jangan kau yang menaruh bunga itu, Yan?" tebak Raena.
"Heh! Es batu bejalan, suka nonjok muka orang. Kalau menebak di kira - kira, dong. Aku sudah punya Elisa, tahu." kesal Ryan kepada Raena.
"Ya, siapa tahu kau ingin praktek romantis kepada Elisa. Terus sasarannya kepadaku," goda Raena
"Sembarangan saja kalau bicara kau, Rae." ucap Ryan kesal.
"Kan, aku hanya bilang siapa tahu kau mau praktek romantis dengan Elisa. Tapi prakteknya denganku...," ujar Raena.
"Sekali kau bicara seperti itu, mouse di hadapanku bisa melayang ke jidat mulusmu itu. Sudah sana kerja, " ancam Ryan kesal.
Raena hanya bisa tertawa, dan kembali melanjutkan pekerjaannya.
Tidak mudah memang menjadi seorang Desain Grafis dan Photograper profesional seperti mereka berdua. Di divisi mereka, hanya mereka berdua yang mengisi. Sementara sampai saat ini, belum ada yang bisa menambah orang di divisi mereka karena terlalu sulit untuk di capai.
***
Sementara itu di ruangan penuh dengan layar monitor cctv. Ada seseorang menggebrak mejanya, karena kesal melihat di monitor Raena membuang bunga pemberiannya.
"Sial, kenapa harus di buang lagi, sih?" geramnya.
"Padahal itu bunga favoritnya, kenapa harus di buang cantik...," omelnya sendiri.
sedangkan orang yang bersama dengannya menjabat sebagai sekretaris hanya menggelengkan kepalanya.
"Salah sendiri, kenapa kau tidak jujur. Sudah tahu perempuan yang kau incar seperti batu Es Berjalan." ucapnya kepada orang itu.
"Diam kau, May. Selesaikan pekerjaanmu..., " ucapnya kesal.
" Iya, pak Presedir Kim Taehyung alias KTH..., " ucap Mayang kim kesal dan keluar dari ruangan itu.
"Mayang Kim, awas kau...!" teriaknya kesal.
Sementara yang di teriaki, hanya tertawa dan kembali ke ruangannya untuk melanjutkan kerja.
***
Ke esokan harinya, suasana di kantor yang awalnya ceria menjadi tegang dan mendebar. Bagaimana tidak, pagi - pagi Predir mereka marah besar sambil menyeret perempuan yang menurut mereka pakaiannya terlalu menggoda itu di tunjukkan kepada semua karyawan tak terkecuali Raena dan Ryan.
"Utari? kenapa dia, Yan?" bisik Raena kepada Ryan.
"Sudah diam, jangan buat semakin tegang." balasnnya.
"Ini buat kalian semua, terutama para karyawati. Kalian jangan sekali - kali mencari kesempatan atau perhatian kepadaku di saat jam kerja, PAHAM....!" ucap Presedir tegas.
"Paham, pak...," ucap mereka semua.
"Siapa juga tertarik dengan Presedir galak seperti dia, " gumam Raena dan perutnya di sikut oleh Ryan.
"Yan, sakit...," bisiknya.
"Sekali lagi kau bicara, bukan perutmu yang aku sikut. Kakimu yang aku potong juga, paham...," ucap Ryan kesal karena di situasi seperti ini Raena banyak bicara.
"UTARAI! MULAI HARI INI KAU DIPECAT!" ucap Presedir dengan nada tinggi membuat Raena dan Ryan sedikit merinding.
"Pak, maafkan saya. Saya suka sama bapak, tolong jangan pecat saya..." ucap Utari memohon.
Namun permohonan itu tidak di hiraukan oleh Presedir, justru memanggil Satpam agar mengusir perempuan itu.
"Pak, saya mohon. Jangan pecat saya, pak. Pak...!" ucap Utari sambil menangis dan di seret oleh satpam kantor keluar dari gedung itu.
Setelah kejadian itu, mereka bubar dan masuk ke Ruangan masing-masing. Namun membuat Raena dan Ryan heran, melihat satu buket mawar putih cantik berserta catatan note di tengahnya.
"Jangan buang Bunga ini, karena membuat hatiku sakit. Simpanlah Bunga ini sebagai tanda suci cintamu kepadamu.
- KTH -"
Raena dan Ryan membaca isi catatan itu bersama, dan saling pandang.
"Wah, ada yang tidak benar ini orang. Kenapa dia tahu kau sering membuang bunganya?" ucap Ryan.
"Biarkan sajalah, anggap saja ini orang gila. Nih, bunganya kasihkan Elisa kekasihmu itu," ucap Raena memberikan bunganya kepada Ryan.
"Tumben bunganya di berikan kepadaku, biasanya sudah kau lempar di tempat sampah." ucap Ryan senang dalam hatinya lumayan tidak beli bunga lagi untuk kekasihnya.
"Nanti mubazir jika aku buang ke tempat sampah." balas Raena sambil meremas kertas catatan itu.
Sementara di ruang lain, sang pemberi bunga langsung menundukkan kepalanya ketika melihat monitor CCTV.
"Kenapa bunganya di berikan kepada sahabatmu itu, cantik. Ya Tuhan...," ucapnya kesal.
"Apakah aku langsung melamarnya, atau di ajak menikah saja? Tapi bagaimana caranya?" tanyanya pad diri sendiri.
"Kau jangan gila, langsung main melamar anak orang. Kau tidak ingat kejadian beberapa bulan yang lalu dia hampir meninju hidung mancungmu?" protes Mayang tiba - tiba masuk ke ruangannya.
"Karena gara-gara itu, May. Aku jatuh cinta kepadanya. Kau tahu sendiri, dia beda seperti perempuan yang lain merendahkan harga dirinya demi perhatian dariku," jelasnya kepada sepupu sekaligus sekretarisnya itu.
"Ya, aku akui dia beda dengan perempuan yang lain. Sifatnya hampir sama dengan Ibumu, Tae." ujar Mayang.
"Tapi, kalau kau begini terus bisa - bisa perempuan itu gerah juga. Kau harus jujur kepadanya, masalah cinta atau tidaknya itu urusan belakangan, " jelas Mayang.
"Itu yang aku takutkan, May. Biarkan aku seperti ini, ya? Menjadi pengagum rahasianya dia," balasnya Taehyung.
"Terserah, kalau kau begini terus. Sainganmu, manajer Tomi akan semakin di depan mengajak perempuan pujaanmu kencan." Mayang mencoba menakut-nakuti Taehyung.
"Manajer Tomi?" Mayang hanya menganggukkan kepalanya.
"Aku dengar dia juga suka kepada Raena. Tapi, dia masih takut kepada perempuan es batu berjalan itu. Karena sempat dia kena hajaran Raena. Sudah ah, fokus kerja dan tanda tangan dokumen ini." ucap Mayang memberikan dokumen penting yang harus Taehyung tanda tangani.
Setelah membaca dan menandatangani dokumen itu, Taehyung masih memikirkan sesuatu. Sehingga Mayang semakin dengan Pak Presedir?" tanya Ryan.
"Aku rasa tidak ada masalah, terakhir beberapa bulan yang lalu aku hampir menonjok wajahnya. Apalagi tadi Ibuku ke sini lagi," balas Raena gusar.
"Ibumu? Mau apa ke sini tadi? Enggak biasanya?" tanya Ryan dan Raena hanya mengangkat bahunya saja.
"Apalagi dia bertemu Ibunya pak Presedir lagi." lanjut Raena.
"Apa jangan - jangan, kau di jadikan calon mantunya mungkin," tebak Ryan.
"Sembarangan kalau bicara, mungkin ada hal lain." protes Raena.
"Lalu, bunga yang selalu di meja mau kau apakan?" Ryan melirik bunga yang menumpuk di samping meja sahabatnya itu.
"Mau aku buang ke kuburan. Lumayan berta'ziah ke makam orang." jawab Raena kesal.
"Cletak..., " Ryan menjitak dahi Raena.
"Yan, sakit...," Raena mengusap dahinya karena jitakan sahabatnya itu.
"Sepertinya otakmu perlu di refresh, Rae." ucap Ryan meninggalkan Raena.
Jarum jam terus melaju, tak terasa waktu menunjukkan jam pulang. Ryan dengan senang gembira membereskan barangnya ke dalam tas. Sementara Raena masih berkutat dengan laptopnya karena dia mendapatkan jatah lembur.
"Rae, aku duluan ya. Bye...," pamit Ryan kepada Raena yang masih cemberut.
"Iya, hati - hati...," jawab Raena sedikit datar.
Setelah Ryan dan karyawan lain pulang, suasan kantor menjadu sangat sepi. Hanya Raena yang masih di kantor, masih berkutat dengan laptop kesayangannya.
"Lembur, mbak." ucap Deni mengejutkan Raena yang sedang konsentrasi.
"Ya, ampun Deni. Nanti aku jantungan bagaimana?" kesal Raena.
"Maaf, mbak. Saya cuma mengantarkan cappucino yang mbak pesan tadi. Sekalian sama pamit pulang, mbak." jawab Deni meletakkan minuman milik Raena.
"Ya, sudah. Terima kasih, Den." ucap Raena.
"Iya, mbak. Sama - sama, saya pamit dulu mbak." ucapnya.
Raena hanya menganggukan kepalanya sebagai balasan.
Setelah Deni pergi, suasana kembali sepi dan Raena tidak peduli asal tidak ada namanya lampu mati. Karena kerjaannya belum selesai.
***
Jam menunjukkan pukul 22.30, akhirnya kerjaan Raena selesai juga. Namun saat dia membereskan barangnya. Dia merasakan ada yang memperhatikannya.
"Kayak ada yang memperhatikanku dari belakang, tapi siapa?" tanya Raena penasaran.
Pada saat Raena membereskan barangnya, tiba - tiba lampu padam dan membuat Raena terkejut.
"Ah, mau pulang ada saja halangannya." ucap Raena kesal.
Di suana gelap seperti ini, Raena mencoba melangkah hanya dengan bantuan senter ponsel miliknya. Dia terus berjalan sambil sesekali melihat kebelakang. Karena dari tadi, ada mengikutinya dari belakang.
Sesampai di dekat pintu keluar, tiba-tiba ada yang membekap mulusnya dari belakang dan menyeretnya masuk kedalam kantor.
Raena sempat memberontak, namum tenaga orang itu telalu kuat dan terus menyeretnya. Di dalam gelap Raena berusaha menghubungi satpam kantor namun tangannya di cekal. Sampai akhirnya, dia di dorong ke sofa ruangan itu.
"Pak Yono...! Tol...!" teriakanya pun terhenti ketika ada benda kenyal bernama bibir membungkam mulutnya.
"Aku suka kau ketakutan seperti ini cantik," bisik orang itu di telinga Raena sebelum memperdalam ciumannya.
Dengan tenaga yang tersisa, Raena menendang orang itu sampai melepaskan ciumannya, dan bersamaan lampu kantor kembali menyala.
"Pak Taehyung?!" Raena terkejut siapa yang dia tendang tadi.
"Aish, ketahuan akhirnya...," kesalnya mencoba berdiri.
"Ken.. kenapa anda di sini?" Raena terbata sambil menetralisir rasa takutnya.
"Kau tidak sadar? aku yang menciumu tadi. Baru mau sampai puncak kau tendang," ucap Taehyung kesal.
Raena menarik nafasnya agar tenang, dan apa yang di maksud atasannya itu.
"Maksud pak Taehyung?" tanya Raena tidak mengerti.
"Heh! Dengar, ya perempuan es batu berjalan. Selama ini, yang sering menaruh bunga mawar putih dan kau buang itu. Aku yang menaruhnya paham...," ucap Taehyung sambil menahan sakitnya.
"Hah!" Raena masih mencerna ucapan Presedir yang dianggap galak itu.
"Dan hari ini, rencana aku langsung mau melamarmu. Namun bibirmu yang menggoda itu, aku tidak tahan ingin menciumnya," ucapnya panjang lebar.
"Hah!" Raena masih tidak percaya membuat Taehyung sebal.
"Hah, heh, hoh, terus. Sudah, aku tidak mau penolakan kau harus menerima lamaranku. Kalau tidak, hari ini juga kita menikah." cercah Taehyung tanpa memberikan Raena celah untuk berbicara.
"Tapi, pak...," Raena ingin menolak Taehyung sudah menatapnya dengan tajam, dan meraih tangan Raena lalu memasukkan cincin di jari Raena.
"Tidak usah tapi - tapian, mulai saat ini kau jadi calon istriku." ucapnya sambil tersenyum dan membuat Raena tidak percaya.
***
Sejak saat itu, Raena hanya menghela nafasnya dan sedikit kesal kepada Presedirnya. Bagaiamana tidak kesal, kali ini Taehyung sendiri secara langsung memberikan bunga mawar putih kepada Raena. Mau menolak pun Taehyung tetap merecoki pekerjaannya. Mau marah, Raena takut di pecat oleh Taehyung. Sementara Ryan, hanya menepuk pundak Raena. Karena mungkin ini takdir Raena menjadi calon Nyonya Taehyung. Dan mencoba menyuruh Raena membuka sedikit hatinya untuk Presedir itu.
Sempat Raena pulang, merengek ke Ibunya kalau ada Taehyung ke rumahnya usir saja. Namun apa daya, restu ibu Raena sudah di dapatkan oleh Taehyung. Mau keluar dari kantor dia berkerja, itu berarti sama saja Raena siap menikah dengan Presedir galak, namun romantis di depan Raena. Untuk masalah hati Raena kepada Taehyung, entahlah hanya Raena dan Tuhan yang tahu. Bagi Raena yang jelas sekarang, dia sudah tahu siapa yang menaruh bunga mawar putih di meja kerjanya, dan dia tahu siapa yang menjadi penggemar rahasianya selama ini.
- selesai-