Alena mondar mandir di depan pintu masuk utama Mall terbesar di kota. Sesekali ia melirik ke jam tangan nya. Dibelakangnya ada butik yang terkenal langganan Stefie sepupunya, dia sudah menelponnya untuk janjian mereka mencari dress-nya untuk keperluan pesta weekend ini.
"Sorry... sorry...tadi macet ada kecelakaan di..." Belumlah selesai Stefie berbicara sudah ditinggalkan oleh Alena memasuki butik tersebut.
Langsung menghampiri pelayan yang berjaga dan memintanya membantu mencari dress yang diperlukan. Tidak lama mereka mendapatkan apa yang mereka cari.
"Ok. Kamu bawa semuanya ! Besuk sehabis dari kantor aku langsung menuju ke apartemenmu. O, ya aku tinggal bawa sisanya nanti. Bye.." Alena langsung melangkah pergi meninggalkan Stefie begitu selesai berbelanja. Gadis itu hanya mengangguk pasrah. Baginya sudah satu langkah kemajuan Alena bersedia ikut party.
Karena ini adalah kedok saja, sebenarnya dia diminta kakaknya Revans untuk mengenalkan Alena kepada sahabatnya Alexandre yang tidak sengaja melihatnya di taman rumah mereka. Alexandre berada di kamarnya Revans kala itu. Kejadiannya saat masih mereka kuliah. Yang ada Alena yang tidak berminat, gadis itu sangat ilfil sama cowok semenjak putus dengan pacarnya saat tahun pertama mereka kuliah. Semenjak kejadian itu dia lebih aktif bisnis dan kerja part time. Padahal tanpa itu mereka masih tercukupi kebutuhan sehari-hari bahkan uang saku juga berlebih.
Alena memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju ke kantor. Untung dia masih mempunyai waktu untuk persiapan meeting siang itu. Ibu Asri sedang berhalangan hadir karena ijinnya merawat suaminya di rumah sakit. Untung dia menjalin hubungan kerja sama dan hubungan sosial dengan rekan-rekan kerjanya terjaga. Sehingga dia dapat menyelesaikan pekerjaan dengan baik.
Suasananya meeting begitu suram pasalnya CEO baru itu terkenal perfeksionis dan sangat disiplin waktu. Dia sendiri yang ikut meeting paling muda sendiri dan wanita juga jadi kelihatan sangat menonjol. Hatinya kalang kabut harap-harap cemas bukan kapasitas dia ikut hadir dalam meeting, masalahnya rekan-rekannya enggan berurusan langsung dengan sang pimpinan. Takut kena amukan sang CEO. satu persatu anggota yang hadir melaporkan hasil kerjanya demikian juga Alena yang mewakili divisi Pemasaran ia mempresentasikan dengan lancar dan mampu menguasai dan menjawab pertanyaan-pertanyaan dari anggota divisi yang hadir, demikian juga sang CEO terlihat puas atas hasil kerjanya.
Tiba hari yang dijanjikannya pada Stefie, ia pulang kerja mampir ke apartemennya setelah membersihkan dirinya ia langsung mengenakan dress-nya dan memoleskan make up yang tepat untuk kode party masquate. "Wow..you sexy." Komentar Stefie.
"Ya.. what's ever " Jawabnya dengan memutar bola matanya menatap wajah Stefie. Kemudian mereka menggunakan mobil Stefie, awalnya Alena menolak namun alasannya Stefie bikin tidak enak hati. Karena jujur saja semenjak dia bekerja sangat jarang hangout bareng.
Suasana party mewah itulah kesan pertama di tangkap Alena. Dia sendiri tidak tahu siapakah tuan rumah party nya. Stefie bilang itu tidak penting yang terpenting dapatkan cowok yang mapan untuk masa depannya sendiri. Daripada dijodohin sama ortu.
Mereka berjalan beriringan masuk kedalam ruangan banyak sekali ruangan sudah penuh undangan pesta.
Dilantai dua.
"Dia sudah datang." Bisik Revans.
"Mhmm" , Alexandre hanya berdehem.
Mereka memandangi kedua gadis yang mengenakan gaun kuning emas dan merah maroon keduanya sudah di awasi gerak-geriknya tanpa mereka sadari.
Di pesta itu ada yang duduk-duduk bergerombol dengan wine dan berbincang, ada yang berdansa mengikuti iramanya music.
Alena merasakan gerah sebenarnya ia tidak begitu nyaman dengan suasananya lebih enak tiduran di ranjang besar dengan nonton film drama, pikirnya.
Alena memperhatikan Stefie ikut bergabung dengan kerumunan orang yang berdansa. Dia juga ditarik oleh seorang pria berbadan besar mengajak nya berdansa. Sedikit jengkel karena lelaki itu sengaja menggesekkan penisnya di pantat nya sedangkan tangannya memeluk pinggangnya posesif. "Permisi" . Dia berusaha melepaskan diri dari lelaki itu.
Tak lama dia pun dapat terbebas atas bantuan dari dua orang lelaki, dia dibawanya ke sebuah lorong jauh dari keramaian hingga ke sebuah ruangan dan kini hanya mereka berdua.
"Maafkan aku, Aku harus kembali." Alena bermaksud keluar namun ditahannya. Tangannya digenggam erat.
"Tuan?" Alena menegaskan lewat tatapan mata. Namun pria itu hanya tersenyum sekali sentakan Alena dalam dekapannya dan lelaki itu mencium bibir Alena. Sebuah ciuman sekilas dan ringan. Alena merasakan nafasnya pepermint bercampur wine dan juga aroma maskulin lelaki itu begitu menggoda. Sudah lama dia tidak merasakan sentuhan lembut dari seorang lelaki. Ya, jujur dia tergoda. Persetan dengan semuanya. Pikirnya.
Ditariknya jas pria itu dengan kedua tangan nya dan mereka saling memagut bertukar Slavia mengeksplore isinya. Lelaki itu mendekapnya erat-erat dan sangat dekat.
Hingga keduanya terlepas menghirup udara segar karena kehabisan pasokan.
Mereka saling menatap.
"Alexandre " katanya.
"Alena" gadis itu mengangguk keduanya serempak tersenyum mereka kemudian memutuskan kembali ke dalam pesta. Stefie menghampirinya.
"Kemana saja?" Tanyanya.Dia juga melihat lelaki yang berjalan dibelakangnya. Alena hanya menggelengkan kepalanya.
"Ayo pulang saja, kepalaku pusing." Kilahnya. Stefie setuju saja. Mereka pun kembali ke apartemennya.
Keesokan harinya di kantor Alena kembali berkutat dengan pekerjaannya. Alena beberapa kali berpapasan dengan CEO lelaki itu melempar senyum manis namun Alena kebingungan pasalnya Lelaki itu juga terkenal dingin.
Alena mengendarai mobil dengan kecepatan sedang hingga memasuki rumah orang tuanya. Dia memasuki ke dalamnya terdengar suara tawa dari ruangan keluarga. Dia menghampiri mereka.
"Papa." Sapanya memberikan cipika-cipiki pada lelaki paruh baya itu. Dia satu-satunya putrinya yang manja namun sangat mandiri.
"Senangnya kamu mau pulang sayang" Katanya dengan mengelus punggung sang putri.
Alena membelalakkan matanya saat gadis itu menoleh. Sang CEO sang big Boss ada disini? Kenapa ? "Papa?" Alena memandangi Papa nya.
" Dia sahabat Revans. Revans sedang ke toilet. Namanya Alexandre ". Jawabnya dengan mengangkat dagunya ke arah lelaki itu.
Alexandre ? Sepertinya di pernah mendengar nama itu, batinnya. Mereka saling berpandangan lekad.
"Alena." Mereka bersalaman. Alena teringat pesta Minggu lalu.
"Kamu yang.." Belum selesai dia berbicara pria itu tersenyum dan mengangguk.
"Kenapa sayang?" tanya Papa
"Tidak ada. Hanya dia pernah menolongku Papa. Dan dia adalah CEO di kantor aku ." Jelas Alena tertunduk malu, bodoh nya dia sudah berciuman dengan ganasnya namun tidak mengenali wajah sang pria.
"Kamu lemotnya sudah tidak tertolong." Sahut Revans tergelak duduk di sampingnya Alexandre.
"Kamu sudah pulang sayang? Ayo kita makan !" Ajak Mama semua nya duduk mengitari meja makan. Suasana hening hanya ada pembicaraan Revans dan Papa. Ini weekend kenapa sepupunya kemari ? Bukannya pergi kencan gitu? Batinnya bermonolog dalam hati.
Hingga selesai Alena hanya tersenyum tipis.
"Om Tante, saya kemari mewakili sahabat ku. Dia ingin mengenal Alena jika diijinkan juga langsung menikah juga boleh." Revans mulailah berbicara.
Alena terkejut melihat ekspresi wajah Revans yang santainya. Demikian juga sebaliknya Alexandre.
"Kami tidak keberatan. Bagaimana dengan kamu Alena?" Tanya Papa pada putrinya. Alena menatap Alexandre yang tak berubah ekspresi wajah nya.
"Alena terima Papa."
"Baguslah. Sekarang aku pamit pulang karena masih ada yang aku lakukan. Om Tante saya permisi." Revans pun pulang.
Papa dan mamanya meninggalkan tempat itu.
Kini hanya mereka berdua saling menatap satu sama lainnya penuh arti.