Pulang dari kantor, biasanya aku selalu di sambut hangat dengan Naya di depan pintu, dengan senyum merekahnya membuat lelah ku seketika lenyap.
Tok tok tok.
"Assalamualaikum, Naya... aku pulang nih." aku mengetuk pintu dan mengucap salam, tapi kali ini aku tidak mendengar suara langkah kaki Naya mendekati pintu untuk membukakan aku pintu.
Tok tok tok.
"Nay, buka pintu dong... aku pulang nih." ucap ku lagi.
Akhirnya aku mengambil kunci cadangan yang selalu aku bawa dan ku buka sendiri pintu rumah.
Di ruang depan aku tidak melihat Naya, aku masuk ke kamar pun tidak mendapati Naya.
"Kamu dimana Nay?" aku memanggil Naya berharap mendengar suaranya, aku menaruh tas kerja ku di atas sofa.
Aku melangkah kan kaki ke dapur, untuk menghilangkan tenggorokan ku yang terasa haus.
"Naya!" aku tercengang mendapati Naya berada di lantai dengan bersandar dinding.
"Kamu ngapain di sini?" ku pegang keningnya, terasa panas suhu tubuh Naya.
"Kamu udah pulang? aku cuma masuk angin, kaki aku lemes." ucap Naya lemah.
"Ya ampun Naya, kamu buat aku khawatir aja, kenapa kamu tiba-tiba masuk angin gini sih?" omel ku yang langsung menggendong tubuh Naya dan membawanya ke kamar, ku baringkan ia di atas ranjang.
"Apa sih? orang cuma masuk angin, ngomel-ngomel gitu." Naya mencubit pinggang ku.
"Iya maaf, aku ke dapur dulu ya!" aku meninggalkan Naya di kamar.
Aku ambil kain dan air dingin di baskom, aku gunakan kain itu untuk mengompres kening Naya dengan air dingin, berharap dia akan baik-baik saja.