PRANGG!!
"LO MAU BUAT GUA MATI?!"
Pria berbaju kemeja putih di lapisi dengan jas hitam itu membuang piring yang berisi masakan istrinya ke lantai begitu saja. Wajah pria itu memerah menahan amarahnya, ia tidak habis pikir dengan istrinya yang memasak makanan asin dan tidak layak untuk di makan.
Wanita yang terkena amukan dari suaminya itu hanya bisa menundukkan kepalanya, menahan air mata yang sudah bergenang di kelopak matanya. Ia takut pada suaminya kalau sedang dalam mode marah seperti ini, walau memang setiap hari ia terkena amarah dari suaminya ketakutan terus muncul di saat suaminya marah.
"Maaf mas, akan aku buat makanan yang baru." ujar wanita itu yang tidak lepas dari menundukkan kepalanya, dia Aira Maheswara wanita yang di jodohkan oleh kedua orang tuanya empat bulan lalu. Pernikahan yang lancar bukan berarti rumah tangganya juga lancar.
Pria itu berdecak kesal, "Ck, mending gua makan di luar dari pada makan masakan lo, bisa mati gua." sarkas Rendy Maheswara, pria itu mulai melangkahkan kakinya pergi meninggalkan dapur dan membiarkan Aira yang membersihkan pecahan piring.
"Maaf mas," cicit lirih Aira. Seketika air matanya yang ia tahan sedari tadi tumpah, mengalir di pipinya dirinya tidak kuasa menahan air matanya. Ia ingin menyerah. Ia juga berhak bahagia bukan?
"Kenapa rumah tanggaku seperti ini? Mah, Pah aku mau pulang, aku engga mau disini dia jahat sama aku Pah." batin Aira. Tangannya terulur untuk membersihkan percikan piring yang di lempar oleh Rendy.
"Shh" rintihnya saat jarinya tidak sengaja terkena ujung pecahan dan berakibat jarinya mengeluarkan darah, ia menghisap darah yang mengalir di jarinya seraya memungut kembali pecahan piring.
"Apa aku boleh menyerah?"
***
Siang hari Rendy telah pulang dari kantornya, tapi ini pertama kalinya Rendy pulang awal dan Aira tidak mengetahui apa alasan Rendy pulang awal. Tanpa Aira sangka Rendy pulang tidak sendirian, pria itu justru membawa kekasihnya kerumahnya. Aira tidak habis pikir dengan jalan pikiran Rendy, apa pria itu tidak memikirkan perasaan istrinya?
Kini Aira berada di kamarnya, ia pisah kamar dengan Rendy sejak awal pernikahan. wanita itu termenung menatap jendela yang di hiasi dengan bulan dan bintang yang menemaninya saat malam. Mereka memang indah tetapi mereka tidak bisa di gapai, seperti cinta Aira pada Rendy.
Wanita itu mulai mengeluarkan handphonenya, mendengar ada getaran dari sakunya. Layar hp tertara nama Mamah yang meneleponnya, Aira gelagapan kalau Mamah menanyakan Rendy ia harus jawab apa? Tidak mempedulikan itu Aira langsung menekan tombol hijau.
"Halo Mah?"
"Halo Ai, gimana sama keadaan kamu?"
"Aku baik-baik aja, seperti yang Mamah lihat. Mahh aku kangen aku ingin pulang."
"Kamu tidak bertengkarkan dengan Rendy? Mamah sudah pernah bilang, kalau kamu ada masalah dengan Rendy selesaikan dengan kepala dingin jangan kabur dari masalah ingat."
"Engga Mahh, aku engga ada masalah sama Rendy. Masa anaknya kangen gini gak di bolehin pulang?"
"Hahaha, ya sudah besok pulang saja kerumah. Oh ya Rendy mana? Dari tadi Mamah engga lihat Rendy."
"Ohh itu, mas Rendy lagi kerja Mah, iya lagi kerja."
"Oh ya sudah kalau begitu Mamah tutup yah."
"Iya Mahh."
***
Di suatu tempat yang tidak jarang di kunjungi oleh masyarakat. Di dalam ruangan terdapat dokter dengan wanita yang sedang berbicara serius.
"Keadaan ibu semakin parah apa lagi sekarang ibu sedang mengandung. Ibu harus banyak-banyak istirahat dan harus menjaga pola hidup ibu, jika tidak penyakit ibu akan tersebar luas."
"Baik dok, terimakasih." jawabnya, wanita itu adalah Aira entah kenapa wanita itu kerumah sakit.
"Kalau ibu dari awal mengikuti tawasan saya mungkin saja penyakit itu tidak akan semakin parah seperti ini. Setelah ibu melahirkan ibu harus di operasi."
"Tidak perlu dok, terimakasih, kalau begitu saya permisi." Aira mulai beranjak dari duduknya lalu meninggalkan ruangan itu.
Dokter itu hanya bisa menggelengkan kepalanya. "Kasihan nasib anaknya.., ia hidup tanpa ibu."
***
Sembilan bulan kemudian..
Usia kandungan Aira sudah menginjak 9 bulan, wanita itu tidak sabar ingin melahirkan anaknya ini. Ia tidak mengetahui jenis kelamin anaknya karena ia ingin tahu di saat ia melahirkannya, biar surprise begitu. Selama Aira hamil Rendy mulai baik dan menjaga Aira, tapi hubungannya dengan Kekasihnya masih pacaran karena kekasih Rendy tidak ingin putus dengannya.
Malam hari ini Aira ingin membuat pisang goreng. Akhir-akhir ini Aira selalu ngidam dengan pisang, jangan-jangan anaknya akan mirip seperti... tidak-tidak itu hanya pikiran negatif Aira saja. Selesai memasak Aira mulai duduk di samping Rendy yang fokus dengan laptopnya.
"Mas, pisang mau?" tawar Aira pada Rendy. Pria itu menggeleng menjawabnya.
"Tidak, kamu saja yang makan." jawabnya tanpa mengalihkan pandangannya dari laptop.
Tidak lama kemudian, Aira merasakan kontraksi dari sang bayi membuatnya meringis sakit. Mendengar itu Rendy mengalihkan matanya dari laptop ke Aira. Pria itu mengelus perut Aira dengan lembut, ini bukan pertama kalinya Rendy mengelus perut Aira. Selama hamil Aira selalu meminta Rendy mengelus perutnya saat ia ingin tidur, entah mengapa itu sangat nyaman.
Tiba-tiba air berwarna bening sedikit berwarna kekuningan mengalir di paha Aira.
"Mas Rendy, sakit mas." Aira menguatkan cengkraman di bahu Rendy.
Rendy gelagapan, ia menggendong Aira dan berteriak memanggil bodyguardnya untuk mengendarai mobil. Selama di mobil Aira terus mengeluh kesakitan, Rendy selalu menintah bodyguard agar cepat mengendarai mobil.
Sesampai di rumah sakit Aira di bawa keruangan persalinan atau bisa disebut VK. Saat Aira di bawa masuk Rendy menyempatkan diri untuk menelepon kedua orang tuanya dan mertuanya untuk kerumah sakit karena Aira akan melahirkan.
***
Oekk Oekk
Suara bayi terdengar hingga di luar ruangan, tepat dengan datangnya orang tua Aira dan Rendy mereka langsung mengucapkan syukur karena Aira telah melahirkan. Sementara di dalam ruangan, nafas Aira menggebu-gebu setelah melahirkan anaknya yang sangat cantik.
Rendy mengecup kening Aira dan mengucapkan terimakasih karena telah melahirkan anaknya kedunia dengan selamat dan merawat anaknya selama di dalam perutnya.
"Mas tolong jaga anak kita dengan baik, aku bahagia bisa melahirkan anak aku dengan keadaan yang sehat. Maaf aku tidak bisa bertahan lebih lama lagi.., maaf. Aku akan melihat anak kita dari jauh.., Jangan sakiti anak kita mas." suara Aira melemah di akhri kata, matanya mulai terpejam, nafasnya mulai melemah, ia tersenyum untuk terakhir kalinya dan menghembuskan nafas terakhirnya.
Rendy yang melihat Aira tidak sadarkan diri mulai berteriak memanggil dokter. "DOKTERR!! DOKTER!!"
Tidak butuh waktu lama dokter masuk dan langsung memeriksa Aira. Suster meminta Rendy untuk keluar dan membiarkan dokter memeriksa Aira.
Tidak lama dari itu dokter keluar dari ruangan persalinan, menatap sedu Rendy. Pria itu tambah panik dengan dokter.
"Gimana keadaan istri saya dok? Dia baik-baik saja kan?" tanya Rendy.
"Maaf kami tidak bisa menyelamatkan ibu Aira. Kangker ibu Aira sudah sangat parah, dan sangat mustahil untuk menyelamatkan ibu Aira."
Mendengar itu, Mamah Aira tergeletak pingsan di lantai Papah menggendong Mamah dan membawanya keruangan yang kebetulan kosong. Sedangkan Bunda Rendy menangis di pelukan suaminya. Rendy, pria itu tidak percaya dengan ucapan dokter dan berlari masuk kedalam.
Langkah pria itu terhenti kekita melihat istrinya yang sudah di tutupi kain. Ia ingin menghampiri istrinya tetapi kakinya sangat sulit untuk di gerakkan. Air matanya lolos mengalir di pipinya. Perlahan-lahan ia mulai mendekati Aira. Ia membuka sedikit kain itu, menampakan muca pucat Aira.
"Airaa, bangun. Kamu janji sama mas untuk merawat anak kita bersama-sama. Ayo bangun!!" lirih pria itu, air matanya tiada henti terus mengalir.
Tidak kuasa melihat istrinya seperti itu, ia menutup kain kembali seperti posisi semula. Ia berharap ini hanya mimpi. Hanya mimpi. Kenapa tuhan mengambilnya sangat cepat? Ini sangat tidak adil.
Rendy mengusap kasar air matanya. "Selamat tidur istriku."
"Dia akan pergi di saat ia merasa benar-benar perjuangannya telah selesai di dunia ini. Perjalanan hidupnya memang begitu sulit dan penuh tangisan, berharap bisa untuk bisa membahagiakannya tapi ia telah pergi."
~TAMAT~
Kok aku yang nangis ya? Maunya buat kalian nangis kenapa jadi aku gitu?😭😭🙏
Jangan lupa like dan komen ya!! Lop sealam buat kalian💛💚💜🤎♥️💘💝💖💗💞💓💕❣️❤️🧡
Say Byee gaiss!!