Flashback
Ponselku berdering, ku raba segala penjuru ranjang. Tak menemukannya hingga bunyinya hilang. Aku melanjutkan tidurku.
Kemarin kuhabiskan waktu bermain dengan Druwdut. Aaakh... rasanya pegal mengejar anak 3 tahun yang sedang aktif-aktifnya itu. Tapi sangat mengemaskan.
Deringan ponselku, kembali berbunyi. Dengan kesal kududukan badanku, dengan rambut singa menutupi seluruh wajahku.
Masih menyipitkan mata, malas untuk terbuka.
Mencari sumber suara. Kuangkat bantalku, ketemu! Om Mario, aku berdecak, Kulihat jam yang ada di ponsel.
Hell!
Masih pukul 4 pagi. Aku masih pengen tidur ya Lord. Kugeser tombol hijau.
"Hmm..." Gumanku serak.
"Nanti sore dijemput, ikuti saja"
"Hmm..." kumatikan ponselku. Dan melanjutkan tidurku.
*****
Aku sangat malas jika harus berdandan.
Aku memainkan ponselku, berbalas pesan dengan group baruku.
Ya Martines ladies. Nama groupnya.
Aku ikut saja, saat Alia memasukanku ke group ini. Ponselku berdering. Madre.
"Hai Sayang"
"Hai Ma" sapaku
"Sedang apa, Sayang?" Madre, ibu Mateo. Luisa Martines. Bisa bahasa indonesia. Ia belajar dari menantunya. Alia.
"Mmm sedang disalon Ma" Dua orang yang mendandaniku telah pamit "Grazie" mereka menunduk kemudian keluar.
"Okay Madre susul ya, sekalian dinner gimana" tanyanya
"I'm sorry Ma, i'm in italy now" jawabku menyesal.
"Yah sepi, Pa juga ke italy, tapi Ma malas ikut, oke sweetheart, nanti kalau kamu pulang, kamu harus kerumah! love you honey"
"Oke Ma love you too" memandang kekaca didepanku, senyumku mengembang. Hangat menjalar dihatiku. Keluarga Martines sangat merangkulku.
Madre dan Padre, Rafael Martines, menganggapku seperti Ramona Martines, adik, Mateo. Jangan sedih, dia sebelas duabelas kelakuannya dengan Alia.
Mona juga sering datang ke apartemenku, subuh-subuh untuk menginap. Kalau dia pulang dari club. Agar tak kena marah Madre.
Ntahlah mereka mungkin bisa gila kali ya, buat menunggu matahari terbit untuk bertamu ketempat orang. Khususnya ke apartemenku.
Suka banget dateng waktu jam kunti. Oh aku lupa mereka kan sebangsa dajal.
Aku menceritakan tentang mengapa aku bisa terdampar disini pada Alia. Bahkan semua keluarga Martines mengetahuinya.
Ibu hamil yang labil itu, tersulut esmosinya. Katanya kalau ketemu dengan dua orang itu, ia akan ketapel pake zaitun busuk.
Aku terpingkal. Iya Alia sedang gandrung sekali memainkan ketapel punya Druw. Kesian Mateo menjadi sasarannya. Pandangan menusuk aku dapatkan, Ia menyalahkanku.
Aku menggeleng dengan menaikan bahu, apa salahku? Aku memberi mainan yang aku temukan di toko asian itu awalnya untuk Druwdut kok, eh yang keranjingan malah emaknya.
"Scusami"
"Si" aku melihat wanita dengan rambut pirang masuk membawa kotak, ada dua orang lagi dibelakangnya membawa tas kertas dengan logo brand terkenal.
Tumpukan kotak juga sudah tertata di sofa tengah. Aku mendekat. Membuka kotak-kotak itu. Dua orang pamit keluar, menyisahkan si rambut pirang.
Gaun panjang semata kaki berwarna hitam, dengan potongan v pada dada. Dres tanpa lengan, Dengan lacenya indah.
Si rambut pirang menghampiriku, menyerahkan kotak yang berisi perhiasan lengkap. Dengan bentuk sederhana namun manis.
Ada kotak lebih kecil dimeja, kuraih, berisi sebuah topeng, berwarna emas. Si pirang membantu mengikatkan topeng itu. Pesta topeng.
*****
"Silakan Nona" Seorang valet parkir membukakan pintu mobil. Aku keluar melihat gedung megah. Hotel milik Om Mario.
Meraih tas juga kartu undangan.
"Nanti kamu tinggal masuk, ada yang mengantarmu ke ruangan Om" Om Mario, Adik angkat, Daddy. Ngomongin orang tua. Tak tahu berada dibelahan bumi mana mereka sekarang.
Sejak aku meninggalkan indonesia. Aku tak pernah bertemu mereka. Tapi aku tahu Om Mario selalu memantauku.
Aku tidak buta. Orang tuaku bukannya lepas tangan. Mereka hanya sibuk. Ya Hella!
Aku sudah biasa.
Aku berjalan, mengangkat sedikit rokku yang menjuntai. Melangkah kearah dimana setiap undangan memeriksakan undangannya.
Ada banyak yang berjaga. Ada dua yang berjaga dipintu masuk, si botak dan si kekar. Ketat juga penjagaannya.
Aku memberikan undanganku, si botak membaca kemudian mengambil ponselnya.
"Kesebelah sini nona" Seorang keluar dari pintu, mengiringku pada pintu yang lain.
Aku ikuti, pria itu tinggi, menggunakan taxedo yang pas dibadannya. Melihatnya dari belakang seperti enak dipeluk dari belakang.
Bah! Ar kau harus fokus. Kau tak tahu apa yang akan menantimu didepan sanakan.
Kita sampai di depan sebuah pintu kayu kokoh. Ia mendorong pintunya. "Silahkan nona" ia menahan pintuku, "Grazie" yang dianggukinya. Aku memasuki ruangan.
"Sudah datang?" Sapa Om Mario.
"Gimana perjalanannya?" Om Mario berdiri dari kursi kerjanya, berjalan kearah sofa kulit di tengah ruangan. Aku duduk di salah satu sofa itu.
"Ya biasa. Apa yang akan aku lakukan disini om?" Tanyaku tanpa basa basi.
Om Mario terkekeh. "Tak sabaran, ini dia keponakan om" aku memutar bola mataku, malas. Mengahadapi basa basinya.
"Sepertinya kamu betah di Barcelona, sampai tak mau pulang!" Seorang pria paruh baya, masuk.
"Daddy?" Aku tak menyangka, "Hei miss you, pumpkin" Yah inilah Daddyku. Rama Ilario, sebenarnya sangat sayang padaku.
"Mommy mana? Tumben sendirian" aku celingukan melihat kebelakang punggung Daddy.
"Tadi ketemu teman lama, gak tau lalu kemana"
"Oh jadi aku kesini cuma buat ketemu daddy" Ucapku
"Kamu nggak kangen sama kita" aku menggeleng. "Udah biasa" yang mendapat pandangan sedih dari Daddy dan Om Mario.
"Jadi pesta siapa ini" kataku membuyarkan suasana yang tak enak ini.
"Kamu" jawab kompak Om Mario dan Daddy. Huh!
"Pestaku?" Bingungku "Untuk?" Tanyaku.
Ya masa ulang tahun. Kan udah lewat setengah tahun yang lalu.
"Memperkenalkanmu pada dunia" kerutanku semakin jadi.
"Nanti ada yang mau daddy dan mommy jelaskan padamu"
"Apa?" Penasaran
"Aku bukan anak daddy mommy?"
"Aku anak angkat?"
"Daddy mengambilku dari jalanan?"
"Hei hei girl... girl... chill Arn" Om Mario terkekeh. Aku memanyunkan mulutku. Lagian kenapa tiba-tiba begini.
"Apaa?? Penasaran daddy..." aku berjalan ke sofa daddy.
"Apa ini ribut ribut, Rama!" Suara lembut namun tegas memasuki ruangan.
"Sayang, kamu seksi lho, anak mommy memang the best!" Aku masih kesal.
"Kenapa manyun ini" mommy menoel bibir manyunku.
*****
Aku ditengah aula. Bersama keluargaku juga keluarga Martines. Mereka saling kenal.
Yang nggak aku duga. Ini adalah pertemuan para pembisnis. Aku tahu. Harusnya Om Mario memberitahuku dari jauh hari. Bukannya tadi subuh.
Aku sangat gugup. Ini pesta megah. Semua menggunakan topengnya. Setiap keluarga memiliki topeng khasnya. Mereka menggunakan topeng berpasangan. Ada sensor setiap topeng.
Ini adalah acara tahunan. Bisa dibilang juga ajang cari jodoh, topeng pasangan menikah dengan pasangan cari jodoh berbeda. Kata seseorang yang tak bisa dipercaya. Karna sampai sekarang masih jomlo. Siapa lagi kalau bukan Om Mario.
Mereka telah mengenalkanku. Akupun ikut daddy dan mom memutari aula sebesar lapangan bola ini, menyapa siapapun. Dan mengenalkan diri lagi.
Aku menyelinap. Aku tak kuat!
Jalan gontai tak tahu mau kemana yang paling penting bukan di aula itu.
Aku melangkah cepat saat melihat bangku taman. Jalanan berbatu yang ditata cantik, suasana temaram. Perfect.
Kududukan badan ini. Membuka topeng, Melempar heels kemana saja.
"AW!" Seru kencang.
Aku menengok. Waduh! Sial betul itu orang. Aku berlari mendekat.
"Maaf... maaf" kataku sambil membukuk. Aku salah. Gimana ini. Udah bikin masalah aja. Ya Tuhaaann...
"Ini" aku takut-takut mengangkat kepalaku. "Caden Massimo" ucapku "iya" kulihat alisnya menaut. Ah dia mana ingat. Itu sudah sebulan lalu.
Aku mengambil sepatuku dari tangannya. Tapi ditahannya. "Ah orang yang butuh sperma tapi nggak butuh lelakinya, apa kabar Moma Druw" Tanpa sadar, aku menarik keras sepatuku, lalu kabur dari sana.
"Kok bisa, dia ngerti bahasa, damn it!" Makiku lirih
"Aku tak suka cewek yang suka berkata kasar" suara lirih dan dalam menyentakku. Dia mengejarku. Aku menambah kecepatan pada langkahku, walau masih perih ini kaki.
"Maaf, Nona tolong di pakai topengnya" Ucap penjaga, aku kembali ke aula, ingin mengajak pulang momku.
"Shit!" Desisku, dengan susah payah mengikat topengku.
"Aku tak suka cewek memaki" mengambil alih ikatan topengku. Lalu mengikatnya.
Cepat. Aku kabur masuk ke aula mencari orang tuaku, ah itu Om Mario. Duduk di bar menikmati pesta.
"INILAH YANG DITUNGGU-TUNGGU KAUM HIGH QUALITY JOMBLO" suara mc bergema diseluruh ruangan.
"Om, Om... mana daddy sama Mommy" Teriakku
"SEPERTI TAHUN SEBELUMNYA, TAHU ATURANNYA KAN"
"YAAAA" jawaban serentak di aula.
"Balik ke Singapura. Mommymu sudah pulang ketempat temannya, katanya mau reunian" Aku lebih mendekat ke Om Marko, suaraku dan Om Marko teredam, hinggar binggar aula.
"OKAY KITA COUNTDOWN, SEKARANG! 5... 4... 3... 2..."
Om Mario merogoh sakunya. "Ini cardnya nginep aja disini, Om masih banyak kerjaan jadi kayaknya gak pulang ke mansion"
"1" Gemuruh serempak.
Aku menerimannya. Aku melangkah.
BLEB!
Seketika gelap dan sunyi. Aku menengok kiri dan kanan gelap gulita. Kenapa ini?
Kemudian sorotan kuat lampu tembak menyorot kearahku. Silau. Sangat menyakitkan mata. Aku menutupi mata dengan tangan.
Menyipit. Melihat cahaya lain, menyorot di arah depanku. Seorang duduk dengan menikmati winenya.
Ia menatapku, mengangkat winenya kearahku. Dengan senyum tipisnya. "Cayden Massimo"
BLEB!
"SELAMAT BUAT COUPLE TAHUN INI" Gemuruh pesta terdengar lagi. Beberapa orang panitia, bergerak cepat memberiku microphone.
Yang terpaksa aku terima.
Melihat muka bengongku terpampang nyata di layar besar didepanku.
"SILAHKAN, KALIAN TAHUKAN ATURANNYA, EM...NONA..." mc bertanya padaku dari panggung.
"Ar... "
"AH... NONA ARNAS, WOW TUAN RUMAH ACARA, SIAPA PRIA BERUNTUNG ITU" mc menyelaku. Mengesalkan sampai kapan akan ditanya begini.
"WOAH TUAN CAYDEN MASSIMO, MOST WANTED. JOMBLOWATI PATAH HATI NASIONAL INI" Gemuruh ruangan membuatku ngeri.
"PASANGAN YANG FENOMENAL TAHUN INI"
"APA YANG KALIAN TUNGGU?" Cayden melangkah keatas panggung. Apa aku harus juga?
"Sana naik" Om Mario mendorongku. Mau tak mau aku berjalan naik kepanggung.
"OKAY KITA PERSILAHKAN PASANGAN TAHUN INIIIII... " Persilahkan apa? Aku memandang kedepan. Bingung, emang mau ngapain.
"Maaf persilahkan apa ya?" Tanyaku ke mcnya.
"OH NONA BELUM TAHU ATURANNYA" Aku menggeleng.
"LALU TUAN CAYDEN, PASTI SUDAH TAHUKAN." Ia menngangguk.
"ATURANNYA, PASANGAN TERPILIH HARUS MENGESAHKAN HIBUNGAN MEREKA DISINI DENGAN SEBUAH CIUMAN, TAK BISA DITOLAK!" Sorak sorai tepukan tangan undangan memenuhi aula.
"Gila siapa pula yang mencetuskan permainan seperti ini, otaknya didengkul" dumelku dengan bahasa, aku senyumi aja muka cengok ini mc.
"Orang tuamu" Tatapan tak percayaku.
"Serius?!" Cayden hanya mengangkat bahunya. Nanti aku pastikan akan bertanya pada Daddy.
"SILAHKAN!" Cayden maju ke tengah panggung. Ia menungguku.
Aku masih ditempat, kok deg degan.
Menelan salivaku dengan susah payah. Aku maju perlahan. Berhadapan lagi dengan manik mata coklat terang itu.
Tercekat. Sorot mata dibalik topeng seperti menembusku.
Tiba-tiba terlintas ide brilian. Aku menatapnya. Ia tahu perubahan tatapanku. Aku tahu dibalik topengnya, dahinya mengernyit heran.
Okay. Aku mengambil nafas panjang. Ya sekarang Arn!
Aku mengalungkan tanganku ke lehernya lalu kutarik pelan dan kucium cayden dibibirnya. Tepat diatas topengnya.
Aku tersenyum saat aku berciuman dengan topeng Cayden, kamu jenius Arn! Pujiku bangga pada diri sendiri.
Okay cukup.
Aku menjauhkan wajahku dari Cayden. senyum sumir didepannya.
"Belum cukup" Cayden menarik tengkukku, ia mengangkat topengnya, mempertemukan bibirnya dengan bibirku.
Sangat cepat. Aku merasakan sudut bibirnya yang naik, kemudian mengulum bibirku, perlahan. Manis anggur dan hangat.
Aku berusaha memberontak. Tanganku ditariknya menuju dadanya. Aku remas kemejanya. Cayden memperdalam menciumannya, Aku terbuai.
Tangan Cayden merangkul pungunggungku agar tetap berdiri. ia tahu kaki ku ini tak lagi bisa menopang badanku sendiri.
aku mempererat pelukan dileher Cayden, hingga "Son, get a room!" Tepukan dibahu Cayden, membuatnya melepaskan pangutan basah kami.
"Hai Dad!" Sapa Cayden membuatku triple kaget, pertama ciuman dasyat, setelah ciuman Cayden mengulurkan tangannya meraba bibirku, aku masih linglung pun terkejut Cayden menyebutan "Dad" pada seseorang yang menghentikan aksi kami.
MALU!!
*****
"Ya" Jawaban disebrang sana
"Kita harus mempercepatnya"
"Okay"
ia menutup ponselnya. Melihat hal tadi, ia harus mempercepat rencananya. ia meninggalkan tempat itu dengan senyum terukir disana. Misinya akan berhasil.