Apa yang terlintas dipikiran kalian, saat mendengar nama ayah?
Kalau aku, pasti teringat bayangan masa kecilku bersama ayahku, yang penuh suka cita.
Abah, begitu aku memanggil ayahku. Abah sangat menyayangiku, abah selalu menuturkan harapan-harapan baiknya pada hidupku kelak.
Sama halnya dengan ayah-ayah lain pada umumnya, yang selalu ingin yang terbaik bagi putra dan putrinya.
Abah adalah sosok yang sangat sederhana, abah juga mendidik dan menanamkan kesederhanaan dalam hidup, pada kami putra putrinya.
Meski begitu, abah tak pernah sedikitpun menunjukkan pada kami untuk hidup miskin dalam bersikap. Sedari kecil kami dididik untuk bahagia dan selalu bersyukur bagaimanapun keadaan kami, entah dalam kekurangan atau dalam kecukupan.
Hal itulah yang selalu aku tanamkan dan aku pegang teguh dalam diriku hingga kini.
Abah adalah orang yang masih menempuh perjalanan jauh dengan berjalan kaki, saat kebanyakan ayah yang lain sudah pergi dengan menaiki kendaraan.
Ya tentu saja, bukan karena abah tidak ingin seperti yang lain, melainkan karena abahku memang tidak memiliki semua itu.
Andaipun memiliki uang lebih untuk membayar jasa ojek atau kendaraan umum lainnya, abah lebih memilih memberikan uang itu sebagai jajan tambahan pada kami.
Seperti dulu, saat hendak menghadiri rapat wali murid di sekolah menengah pertamaku, yang berjarak sangat jauh dari rumah. Maklum saja, kami tinggal dipedesaan yang saat itu belum memiliki fasilitas atau bangunan gedung sekolah yang dekat.
Kami harus menempuh jarak kurang lebih 100Km, melewati hutan, bukit dan sungai, untuk sampai di sekolah kami.
Saat itu aku mendapat tumpangan dari temanku, untuk naik sepeda motor bersamanya. Diseparuh perjalanan, aku melihat abah yang sedang berjalan kaki untuk menuju ke sana, hanya dengan beberapa orang ayah dari temanku saja, karena yang lain pergi dengan menaiki sepeda motor.
Tak tega melihat abah yang berjalan kaki, aku meminta temanku untuk berhenti dan menurunkan aku. Atas permintaanku itu, temanku pun langsung memghentikan laju sepeda motornya tepat didekat abahku.
"Abaaah..." Kataku berteriak memanggil.
Lalu abah menoleh ke arahku dan merekahkan senyumnya.
"Kok turun nak, nanti kamu telat lho, udah sana naik lagi sama Udi (temanku). Abah gak apa-apa, kan abah ada temennya." Bujuk abah menyuruhku untuk tetap naik sepeda motor bersama temanku.
"Gak apa-apa bah, Tia mau jalan aja sama abah." Ujarku sembari mengekor di belakang abah.
Namun kembali abah membujukku, untuk naik sepeda motor bersama temanku.
Tak ingin membuat abah khawatir dan sedih, akupun menurutinya untuk naik sepeda motor kembali bersama temanku.
Udi yang sedari tadi memang masih menungguku, langsung setuju pada abahku, dan dengan berat hati aku meninggalkan abah yang berjalan kaki.
Dengan senyuman lega, abah terus memerhatikan laju sepeda motor yang aku tumpangi hingga aku luput dari pandangannya.
Aku tahu sebenarnya abah lelah, namun ia menyembunyikannya dariku.
Kalian tahu rasanya seperti apa? Rasanya tak kurang menyakitkan dan membuat hatiku nelangsa.
Bagaimana tidak? Aku pergi dengan menaiki kendaraan, sementara abahku berjalan kaki.
Sepanjang perjalanan menuju sekolahku saat itu, ingin sekali aku menumpahkan tangisku, namun aku merasa malu pada temanku, akhirnya aku memilih menahannya. Dan itu membuat sebak didadaku.
Meski aku bukan seorang murid dengan prestasi yang tinggi, namun aku juga bukan murid yang tak pandai atau tertinggal.
Abah selalu meyakinkanku bahwa aku pasti bisa, dengan keterbatasan pendidikan yang abah miliki, abah memang tak pernah mengajariku seperti layaknya seorang guru.
Namun lebih dari itu, abah selalu menanamkan nilai-nilai kehidupan dan memberikan contoh-contoh yang baik pada kami.
Abah mengajari kami untuk tetap berbagi rezeki, bahkan saat kami dalam keadaan yang kurang.
Abah mengajari kami untuk tidak membalas perbuatan jahat orang lain, kecuali dengan kebaikkan.
Abah yang mengajarkan kepada kami pentingnya mewujudkan jiwa yang taat, untuk meraih imam dan taqwa kepada Allah SWT.
Abah mengajarkan kami putra putrinya, pelajaran hidup yang tak bisa kami dapatkan dimanapun.
Secara tidak langsung, abah ingin mengajarkan kepada kami untuk hidup dengan sederhana tapi jangan menjadi miskin. Kurang lebih begitulah yang dapat aku pelajari.
Suatu hari, dengan kesederhanaan hidup kami, ibuku atau emak, begitu aku memanggilnya.
Pagi itu emak membuat telur dadar untuk lauk sarapan. Dua butir telur yang tentu saja tidak cukup jika harus dimakan beramai-ramai.
Saat aku hendak mengambil bagianku, akupun bertanya pada abah...
"Bah! kok abah cuma makan nasi pakai sambel? kenapa gak makan telur? Kataku.
"Abah gak doyan telur nak, kamu makan saja." Jawab abah singkat.
Akupun mengangguk dan segera melahap sarapanku, jujur saja saat itu aku ragu, apakah benar abah tidak menyukai telur? atau hanya meredam keinginannya agar anak-anaknya makan dengan cukup.
Tahun demi tahun berlalu, akupun telah lulus menyelesaikan pendidikan di tingkat SMP.
Aku melanjutkan sekolahku di sebuah SMA swasta, itupun dibiayai oleh orang lain. Singkatnya, setelah lulus SMP aku pergi ke kota untuk bekerja menjadi pembantu, dan itu artinya aku harus berpisah dengan abah dan emakku untuk beberapa waktu.
Namun saat melihat ijazah SMP ku yang memiliki nilai cukup baik, calon bosku itu tertarik untuk menyekolahkan aku, dengan syarat aku harus tinggal disana untuk membantu beberapa pekerjaan, namun tanpa gaji, karena aku disekolahkan.
Aku yang ingin bersekolahpun tak keberatan dengan hal itu, meski suka dan duka harus aku lalui sendiri.
Tinggal dengan orang lain tak bisa sesuka hati seperti tinggal dengan orangtua sendiri.
Aku melewatkan masa remajaku, untuk bekerja layaknya orang dewasa. Meski aku disebut sebagai anak angkat, namun aku cukup tahu diri, aku tak ingin mengambil kesempatan dalam kesempitan, aku tetap bekerja layaknya seorang pekerja, kecuali saat waktu sekolah , aku pun menjelma menjadi anak sekolahan.
Saat dirumah aku menjadi seorang asisten rumah tangga, dan menjadi siswi SMA saat di sekolah.
Akupun sempat berpikir, apakah hidupku beruntung? Atau justru menyedihkan?.
Aku sering menangis dalam diam saat waktu pulang sekolah tiba, aku merasa iri melihat teman-temanku pulang dengan dijemput oleh ayahnya, sementara aku tidak.
Bahkan untuk bertemu dan melihat wajah abah setiap haripun sudah tidak.
"Abah Tia kangen sama abah." Batinku sembari sekuat tenaga menahan genangan air mata yang memenuhi kelopak bawah mataku.
Andai abahku orang yang berada, tentu saja abah takkan membiarkan aku bekerja menjadi pembantu, hanya untuk membiayai sekolahku sendiri.
Bahkan saat teman satu kelasku mengajakku untuk bermain, aku selalu menolaknya, aku khawatir orangtua asuh atau bosku akan marah.
Masih segar dalam ingatanku, saat itu setiap jam istirahat sekolah, teman-temanku sering mengajakku ke kantin untuk makan, namun aku selalu beralasan bahwa aku sedang puasa sunnah. Padahal saat itu aku tak punya uang untuk jajan.
Setiap bulannya aku diberi uang sebesar seratus ribu rupiah oleh orangtua asuh atau bosku.
Delapan puluh lima ribu aku gunakan untuk membayar SPP sekolah, sementara sisa uang lima belas ribu lagi aku gunakan untuk membeli keperluan atau perlengkapan mandiku.
Habis sudah uangku, mana mungkin aku bisa jajan seperti teman-temanku yang lain.
Sedikit teman yang mengetahui keadaan dan ceritaku saat itu, mereka sering membelikanku minum atau mengajakku memakan jajan bersama.
Terkadang aku merasa malu pada mereka dan menolaknya, namun tak jarang aku menerimanya karena mereka memaksa, mungkin mereka merasa iba padaku.
Ketahuilah teman-teman, aku tak sanggup bercerita tentang bagian hidup yang ini lebih dalam lagi, karena aku tidak ingin mengenang masa-masa paling menyedihkan yang aku alami dalam hidupku kala itu.
Hari yang aku tunggu-tunggupun telah tiba, akhirnya aku lulus sekolah juga, aku menyelesaikan Sekolah Menengah Pertamaku dengan baik.
Tak bisa aku gambarkan rasa bahagiaku, aku akan segera pulang ke kampung halamanku, menemui abah dan emak.
Singkat cerita akupun pulang ke kampung halamanku. Setibanya dikampung, aku tidak mendapati abahku disana.
Kata emak, abah pergi merantau ke tanah sebrang.
Rinduku pada abah yang sudah menumpuk, ternyata tak bisa aku obati dengan kepulanganku saat itu. Abah pergi ke tanah sebrang untuk mencari segenggam rupiah untuk menghidupi keluargaku.
Beberapa minggu berselang, aku memutuskan untuk kembali ke kota dan melamar pekerjaan disana.
Satu bulan kemudian, aku diterima bekerja di sebuah restaurant sebagai waitress.
Sampai beberapa tahun, dan aku sempat berpindah-pindah pekerjaan, dari mulai menjadi waitress disebuah restaurant, juga menjadi waitress disebuah outlet cake ternama, sampai menjadi SPG disebuah galeri operator handphone.
Dan aku bertemu dengan seorang laki-laki yang menjadi jodohku.
Aku mengabari keluargaku di kampung halaman, bahwa aku akan dilamar dan akan segera menikah.
Akupun pulang membawa calon suamiku menghadap orangtuaku. Namun tahukah kalian? Itu bukanlah akhir dari kisah sedihku.
Sesampainya disana, ternyata abah masih belum pulang dan tidak bisa hadir diacara pernikahanku, hari dimana seorang ayah seharusnya hadir menjadi wali pernikahan untuk putrinya.
Namun saat itu keadaannya memang tengah sulit dan tidak memungkinkan, abahku tak bisa pulang dari tanah sebrang, perwalianpun akhirnya diserahkan pada pakde ku, atau kakak laki-laki dari abahku.
Sepanjang akad nikah, saat prosesi ijab qobul berlangsung, emak ku tak henti-hentinya menangis, meratapi nasibku.
Menikah tanpa dihadiri seorang ayah yang padahal masih hidup.
Apakah aku sedih? Tentu saja, tak dapat aku gambarkan betapa pedih dan nyerinya perasaan batinku saat itu.
Apakah aku menyalahkan dan membenci abahku? Tentu saja tidak, bagaimana mungkin aku menyalahkan apalagi membenci abahku. Yang aku tahu, pasti saat itu abah pun merasa terpukul dengan keadaan itu, bahkan mungkin, abahlah yang paling terluka.
Aku adalah putri kesayangan abahku, mana mungkin abah tega dengan sengaja melewatkan hari terpenting dalam hidupnya, yaitu menjadi wali nikahku.
Tahun demi tahun berlalu, aku tinggal bersama suamiku dan telah memiliki seorang anak laki-laki yang lucu.
Saat usia anakku 4 bulan, abah datang menemuiku, betapa bahagianya aku, bisa melihat lagi wajah abahku, wajah yang selalu aku rindukan.
Abahpun kini memutuskan untuk tidak pergi merantau ke tanah sebrang lagi, abah memilih untuk bertani dan menghabiskan waktunya bersama emak di kampung halamanku.
Sementara aku, tentu saja aku tinggal dirumahku bersama suami dan anakku.
Aku masih sering pulang ke rumah abah dan emak, setiap hari raya atau hari-hari besar lainnya, bersama anak dan juga suamiku.
Dan aku melahirkan anak keduaku, di tahun ke lima pernikahanku.
Sampai tiba disebuah keadaan yang menggemparkan di selurih dunia, yakni wabah penyakit yang melanda setiap negara dan seluruh penjuru negeri.
Mungkin kala itu, bukan aku saja yang merasakan penderitaan yang sama, tak bisa pulang menemui kedua orangtuaku bahkan di hari-hari besar, yang semestinya menjadi waktu yang tepat untuk berkumpul bersama keluarga.
Hampir dua tahun lebih wabah penyakit itu melanda, wabah yang mengharuskan masyarakat menjaga jarak dan segala tetek bengeknya.
Lagi-lagi aku harus menumpuk segudang kerinduanku pada abah dan emak.
Sampai kabar baik memberikan angin segar, keadaan dunia kini sudah berdamai dengan sang wabah, kita sudah boleh pulang kampung lagi.
Mendengar emak dan abah sakit, aku dan anak-anakku pun pulang kampung untuk merawat abah dan emak, sementara suamiku tidak bisa ikut karena ia harus bekerja.
Singkat cerita akupun sampai disana, bersama kedua putraku yang lucu.
Teriris rasa hatiku menyaksikan keriputnya kulit kedua orangtuaku yang semakin menua, dalam sakitnya mereka menampakkan wajah bahagianya melihatku pulang.
Dua minggu ku habiskan waktu bersama abah dan emak, meski aku masih melihat, sedikit penyesalan yang masih tersisa diwajah abah, karena tak bisa menyaksikan pernikahanku, putri kesayangnnya secara langsung kala itu.
Andai waktu dapat terulang, jauh dari lubuk hati yang paling dalam, tentu saja abah menginginkan dirinya yang menjabat tangan suamiku diprosesi ijab qobul saat itu dan bukan pakde ku.
Namun semua itu bukanlah kehendak abah, melainkan keadaan yang harus demikian dan tentu saja, semua iti adalah jalan takdirku.
Aku tak ingin abah terus merasa bersalah, saat keadaan abah dan emak mulai membaik dan sehat, aku berkata pada mereka, bahwa aku ingin melihat padi di sawah abah dan emak yang sudah mulai menguning.
Dengan antusias abah mengiyakannya, sementara kedua anakku tak mau ikut, mereka memilih tetap tinggal dirumah bersama emak.
Setibanya disawah, setiap kali mendapati jalanan yang sangat licin dan berlumpur, dengan sigap abah mengambil sebilah kayu atau apapun yang bisa dijadikan pijakan kaki untukku, agar aku tak kesulitan.
Abah menuntun tanganku, memperlakukan aku seolah aku masih putri kecilnya yang dulu.
Sepulang dari sawah, saat kami melewati sebuah sumur tempat biasa warga mengambil air atau mandi, abah mengajakku berhenti untuk membersihkan kaki yang kotor karena lumpur.
"Sini nak, biar abah basuh kaki kamu, kamu gosok saja kakimu biar bersih." Kata abah seraya mengguyurkan setiap cidukan air yang ia ambil ke kakiku.
Sungguh bagi abah, aku yang kini telah sedewasa ini, tetaplah seorang putri kecil dimatanya.
Aku bangga pada abah, tak ada yang aku sesali mengenai hidupku ini, berulang kali aku mengucap syukur kepada Allah, memiliki ayah yang begitu mencintai kuluarganya dengan sempurna.
Andai ada ajang perlombaan untuk kategori ayah terbaik diseluruh dunia, pasti abahkulah pemenangnya.
Aku bangga menjadi putrimu abah.
Inilah sepenggal kisahku, tentang abah yang yang sangat menyanyangiku.
Terimakasih ya, sudah membaca cerpen pertamaku, dan jangan lupa untuk mampir dikaryaku yang lain ya.
Ada "Melati diujung harapan" dan juga "The power of Bojong Kenyot.
With love:
Author