Sudah hampir satu tahun hubungan Kaori bersama Ken. Mereka dipertemukan saat awal memasuki kelas 12-1. Hingga kini hubungan mereka masih sangat erat.
Pagi ini, kelas 12-1 diperintahkan oleh salah seorang anggota OSIS untuk mengisi formulir.
"Saya meminta waktunya sebentar pada kalian. Hari ini kedatangan saya ke sini untuk memberikan formulir yang harus kalian isi," cakap salah seorang dari anggota OSIS itu.
"Nanti kalian pilih kelas yang ingin kalian masuki. Contoh, em... Kaori ingin masuk kelas musik atau apa. Kalian pilih satu kelas saja, ya." lanjutnya.
Perempuan itupun membagi selembar kertas formulir pada masing masing anak. Kaori dan yang lain sudah mulai mengisi.
Tak lama setelah itu, mereka semua selesai mengisi formulir dan memberikannya pada perempuan tadi.
Deng Dong Ding Dong.... bel istirahat berbunyi. Seluruh siswa berlarian menuju kantin untuk makan siang. Kecuali Kaori dan Ken yang hanya diam dikelas berdua.
"Kaori, kau memilih kelas apa?" tanya Ken merasa penasaran.
"Emm... aku sangat suka memasak. Jadi aku memilih untuk masuk ke kelas memasak." jawab Kaori sambil tersenyum ceria.
"Kalau kau?" Kaori bertanya.
"Maaf aku tidak satu kelas denganmu, aku memilih kelas karate." Ken merasa tidak enak karena ia memilih kelas yang berbeda dengan Kaori.
"Ah, tidak masalah. Aku lebih suka pria yang jago bela diri." Kaori meyakinkan.
Mereka pun menghabiskan waktu istirahat berdua dikelas dan saling curhat satu sama lain.
Hari demi hari mereka lewati. Kini telah satu Minggu lamanya mereka sibuk dengan kelas masing masing. Namun mereka tetap bertemu saat jam istirahat kelas. Meskipun tidak sesering sebelumnya.
Siang ini Kaori ada acara kelas memasak dengan temannya. Ia sangat sibuk sampai tidak bisa meluangkan waktu untuk bertemu berdua dengan Ken.
"Kaori, apa kau tidak masalah jika tidak bertemu dengan Ken?" tanya salah seorang teman Kaori yang bernama Misaki.
"Iya. Lagipula Ken bukanlah orang yang mudah tersinggung. Dia selalu mengerti posisiku." ucap Kaori sambil perlahan memotong daging daging yang akan dimasaknya.
"Beruntung sekali ya," sela Misaki dengan wajah tersenyum.
Kaori hanya membalasnya dengan senyuman kecil. Ia memang tidak suka jika banyak mengobrol saat sedang fokus. Apalagi jika sedang memasak.
Waktu menunjukkan pukul 3 sore. Kaori dan Misaki belum juga menyelesaikan masakan yang dibuat percobaan untuk disajikan pada turis turis besok pagi.
"Uh, lama juga ya masak dagingnya. Udah hampir setengah jam belum matang juga." keluh Misaki sembari membuka tutup panci daging tersebut.
"Bagaimana jika kita bermain tiktok? Ada yang sedang trend." ajak Kaori begitu meyakinkan.
"Memangnya boleh jika kita bermain tiktok di dapur? Ini kan khusus kelas memasak... bukan kelas berjoged." tanya Misaki tidak begitu yakin.
"Kita bermain tiktok di lapangan maraton saja. Bagaimana?" ajaknya lagi. Kini Kaori benar benar menarik tangan Misaki dan langsung membawanya ke lapangan khusus kelas maraton.
Di sana mereka asik bermain tiktok sampai sampai lupa dengan tugasnya di kelas memasak.
Mereka bermain di lapangan maraton hampir 2 jam lebih. Namun mereka lupa belum mematikan kompornya.
Bum!! Dar!!! Dar!!! Suara ledakan keras terjadi di kelas memasak. Akibatnya seluruh lantai di sana terbakar dengan api besar yang menyala nyala.
Kaori dan Misaki masih saja disibukkan dengan joged nya itu. Mereka juga sama sekali tidak mendengar ledakan di lantai 2 tepat dimana kelas memasak berada.
Semua anak yang masih berada di kelas masing masing berlarian untuk menyelamatkan diri. Seluruh isi sekolah habis terbakar, termasuk lantai bawah.
Ken yang mengetahui hal itu pun langsung bertindak. Dia sangat yakin kalau Kaori masih berada dikelas memasak.
"Ken! Kau mau kemana?!!" teriak Hiroshi. Ia satu kelas dengan Ken di kelas karate.
"Aku ingin menyelamatkan Kaori! Dia ada di kelas memasaknya sekarang ini!!!" balas Ken tergesa gesa. Air matanya bercucuran, ia benar benar merasa takut jika kehilangan kekasihnya itu.
"Jangan! Berbahaya!!!" teriak Hiroshi yang merasa khawatir pada temannya itu.
Ken tidak tau, kalau ternyata Kaori sedang berada di lapangan maraton bersama Misaki.
Ia malah bertekad untuk masuk kembali ke gedung sekolah untuk menyelamatkan Kaori.
Sampai dikelas memasak, Ken sangat terkejut karena ia tidak melihat Kaori di sana. Ia sangat ketakutan, benaknya mengarah pada hal hal negatif yang sangat ia takuti.
"Kaori!!! Kaori!!! Kau dimana?!!!!" teriak Ken begitu cemas. Ia terus meneteskan air matanya itu.
"Aku harus menyelamatkan Kaori, aku tidak ingin kehilangannya!!!" pikirnya sambil berusaha mencari Kaori.
Namun hal yang sangat tak diinginkannya itu malah terjadi. Sebuah ledakan besar kembali terjadi di kelas memasak yang sudah terbakar itu.
Hasilnya, Ken tewas di tempat sebelum melihat kekasih kesayangannya untuk terkahir kalinya.
Tiga jam telah berlalu. Akhirnya api pun berhasil dipadamkan oleh empat mobil pemadam yang datang.
"Apa yang terjadi?" tanya Kaori pada Hiroshi. Ia baru menyadari kalau sekolahnya itu telah habis terbakar api. Kaori mengenal Hiroshi karena Ken mengenalnya.
"Hai kau! Kau darimana saja?!! Apa kau tidak tau, kalau Ken sedang bersusah payah mencari mu?" Hiroshi kesal dan mengeluarkan seluruh amarahnya.
"Tadi itu kelas memasak terbakar, disebabkan oleh kompor yang masih menyala. Ken pikir kau ada di sana, dia pun mencari mu ke sana! Tetapi ledakan besar terjadi saat Ken masih berada di kelas memasak. Dia tewass!!!" lanjutnya.
Hati Kaori kini tersakiti. Dia merasa bersalah karena telah membuat kekasih kesayangannya itu tewas karena dirinya.
Hingga hari kelulusan sekolah, Kaori masih saja tidak bisa tenang karena dirinya merasa bersalah. Dan dia sangat menyesal atas apa yang telah menimpa kekasihnya itu.